Devan & Nuri

Devan & Nuri
Apa Ada Orang Lain Di Hatimu?



Di kantor Keysa


Keysa mengalami cedera karna terjatuh dari tangga di kantornya sendiri, karyawannya memopongnya ke dalam ruang kerja. Dokter Nazmi menuju ke sana setelah mendapat panggilan. Keysa dibaringkan di atas sofa, Dokter Nazmi mengobati luka memar di siku dan kepalanya sambil diperhatikan oleh Keysa.


Dokter ini tampan juga, sebelas dua belas sama my baby Devan. Boleh kali ya aku coba dikit, paling enggak bisa jadi pelampiasan.


Setiap melihat pria tampan Keysa mulai menggodanya. Dia menarik sedikit roknya sampai tersibak memperlihatkan pangkal pahanya yang berisi dan mulus itu, tetapi Nazmi mengabaikan pemandangan itu bahkan sama sekali tidak berniat melihatnya. Nazmi merasa kurang sedap menangani pasiennya yang agresif ini sehingga dia buru-buru menyelesaikan mengikat perban, karna dia tahu ada yang tidak beres. Setelah selesai Nazmi segera pergi dari sana tanpa meminta uang penanganan. Keysa agak tercengang cowok yang ditemuinya menolak uang pemberiannya. Entah apa alasan Nazmi menolak padahal itu haknya karna sudah melayani pasien.


"Percuma tampan, dia kaku dan tidak punya gairah." kata Keysa sembari menatap kepergian dokter Nazmi.


"Sedangkan Devan, dia punya gairah yang kuat tapi kenapa dia tidak pernah tergoda melihat tubuhku, apa aku kurang cantik dan kurang sexy? Aku bahkan sudah bela-belain oplas dan sedot lemak tapi masih saja tidak dilirik olehnya." Keysa bertambah kesal saat ingat kelakuan Devan.


*****


Keysa mendatangi rumah sakit dan menemui Devan di sana lalu mengajak Devan jalan-jalan. Tentu saja Devan menolak dengan berbagai alasan, bahkan dia tidak mengizinkan Keysa menyentuh kulitnya sedikit pun, Keysa menghentakkan kakinya sangat geram selalu mendapat penolakkan.


Devan meninggalkan Keysa di sana. Keysa menelepon teman-temannya untuk diperintahkan memata-matai kemana pun Devan pergi.


Devan menghentikan mobilnya di toko bakery Nuri. Dia beralasan akan makan siang di sana hanya demi bertemu Nuri. Nuri mulai kesal lagi setiap mereka bertemu pasti akan terjadi sesuatu. Devan meminta Nuri duduk di depannya dan menemaninya makan. Nuri menolak, tetapi Devan benar-benar mencegahnya pergi karna dia ingin memberi sesuatu pada Nuri, sesuatu yang akan menjadi penentu masa depan mereka berdua.


"Dev, kita tidak punya ikatan aku tidak bisa berlama-lama duduk berdua denganmu." tutur Nuri sembari merasa gugup


"Aku tahu Nur, aku juga tidak akan menyentuhmu atau berbuat macam-macam. Apa kau masih tidak percaya, apa aku pernah menyentuhmu setiap kita bertemu? tidakkan Nur." ujar Devan serius. Nuri mengalihkan tatapannya melihat para pelanggan sambil menarik nafas panjang.


"Hmm. Baiklah kau mau apa?"


Devan diam sambil merogoh kotak kecil dari dalam saku celananya kemudian membukanya. Terlihatlah sebuah cincin sederhana tertanam di sana.


"Apa maksud semua ini?" Nuri terkejut dan bingung.


"Nur, aku tahu kau pasti tidak maukan dekat-dekat sama pria yang bukan muhrimmu. Aku juga tidak mau terlalu lama menahan perasaanku." mendadak Devan merasa gerogi untuk meneruskan niat baiknya.


"Baguslah kau tahu, tapi kau mau apa dariku?" tanya Nuri penasaran. Devan berdiri lalu berlutut di hadapan Nuri sambil menadahkan tangan yang memegang kotak kecil itu. Nuri menatapnya risih, sikap Devan membuat Nuri gugup karna semua mata saat itu tertuju pada mereka berdua.


"Maukah kau menikah denganku lagi, Nur? Maukah kau membangun kembali keluarga kita yang pernah hancur?" tutur Devan rasanya Nuri akan melayang mendengarnya.


"Apa kau serius, Dev?" lirih Nuri matanya mulai berkaca-kaca dengan sedikit senyum.


"Bolehkah aku jujur padamu, Nur?"


"Apa?" Nuri sudah bersiap-siap untuk mendengar sesuatu yang paling dia tunggu sejak lama.


"Aku mencintaimu, aku ingin kita bersama seperti dulu." ungkap Devan.


"Oh jadi sekarang kau menyesal dan mengatakan cinta padaku? Selama ini kau kemana saja? Kau menalakku dan pergi tanpa kabar." tetapi rasa sakit di hati membuat Nuri masih dalam dilema walau pun Nuri sudah tahu Devan pergi demi pendidikan. Tetapi bagaimana pun Nuri tetap sakit hati dan kecewa disaat dia benar-benar membutuhkan sosok suami, namun suaminya malah menghilang dan kembali lagi ketika suasana hatinya masih kacau karna di lain sisi Nuri juga terus ditanya oleh orang tuanya kapan akan menikah dengan Nazmi.


"Aku sangat menyesal tapi sekarang tidak ada gunanya penyesalan. Selama kau belum menjadi milik orang lain, aku akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali." begitulah tekad seorang Devan.


"Aku minta maaf Dev, aku tidak bisa menerima lamaranmu." kata Nuri dengan terpaksa, dia berusaha tegar di hadapan Devan agar Devan berpikir bahwa dirinya kuat.


"Kenapa? apa ada orang lain di hatimu?" Devan agak kecewa.


"Ada atau pun tidak ada, kau tidak berhak tahu. Aku hanya ingin kau pulang, tinggalkan aku sendiri."


"Baiklah aku akan pulang. Nur, aku hanya mengatakan perasaan yang sudah lama aku pendam. Sekarang aku memiliki keberanian karna itu aku mengatakannya."


Devan lalu pergi dari hadapan Nuri dengan membawa rasa kecewa setelah lamarannya mendapat penolakkan. Sementara Nuri mulai bimbang dan berlari masuk ke dalam ruangannya, selama ini dia menganggap Devan tidak mencintainya tetapi ternyata pikirannya itu tidak benar. Tanpa mereka sadari ada Grace dan Rani yang sedang membuat rekaman video lalu mengirimnya ke Keysa. Keysa hampir membanting ponselnya saat melihat Devan berlutut menyerahkan cincin untuk Nuri. Sudah dia duga dari awal, Devan pasti bela-belain kembali ke Indonesia meninggalkan karirnya di SWISS hanya demi Nuri. Lagi-lagi Nuri dan selalu Nuri, Keysa tak mengerti sebenarnya dia jauh lebih sexy dan kaya dari Nuri namun di mata pria dia selalu kalah seolah kelebihannya tidak berarti.


Nuri tak ingin larut dalam kebimbangan yang membuatnya sedih, dia bergegas pulang untuk menenangkan pikirannya. Dia memang mengharapkan kejujuran dari Devan dari sejak lama, tetapi kenapa baru sekarang Devan mengatakannnya di saat Nuri berusaha menghilangkan kenangan mereka dari ingatan. Nuri menghempaskan tubuhnya tenaga pun rasanya sudah habis, bingung dan masih konsentrasi, putrinya datang memeluk Nuri. Nuri segera menghapus air matanya lalu bangkit agar tak terlihat oleh Nayla.


"Bunda, ayah akan datangkan?" tanya Nayla.


"Ayah yang mana?" tanpa sengaja Nuri salah bicara yang membuat Nayla tercengang.


"Apa maksud bunda, memangnya Nayla punya ayah selain ayah Nazmi?" tanya Nayla menatap curiga.


"Maaf sayang bunda hanya salah bicara."


"Iya bunda, apa ayah sudah menelepon bunda?"


"Sudah nak, nanti setelah ayah pulang dari rumah sakit dia akan jemput kamu karna nenek ingin kamu menginap di rumahnya."


"Bunda akan ikut kan?"


"Umm. Bunda tidak ikut nak, hanya kamu dan ayah. Kamu mau kan?"


"Berarti ayah tidur sendiri dong kalau bunda tidak ikut, terus kapan Nay akan punya adik jika ayah dan bunda selalu berjauhan."


"Nay mau adik?"


"Iya bunda, kapan ayah akan membuat bunda hamil? ibunya Astri sudah hamil lagi bunda, dia akan punya adik, Nay juga mau."


"Umm. Kapan ya nak? nanti ada waktunya. Tapi untuk sekarang bunda hanya ingin membesarkan kamu dulu, Nayla mengertikan?"


"Hmm. Janji ya bunda setelah Nay besar kasih Nay adik yang lucu!"


"Iya bunda usahakan nak, sekarang packing baju dulu ya. Nay mau bawa baju yang mana ke rumah nenek?"


Nuri dan Nayla membuka almari.


"Baju yang itu saja bunda hadiah ulang tahun dari ayah."


"Pasti cantik bunda, kan ayah lebih mengerti sama Nayla." katanya membuat Nuri hanya bisa tertunduk.


"Hmm. Nay, ingat ya jangan nakal di rumah nenek, jangan buat nenek pusing kepala karna Nay berantakin rumahnya." imbuh Nuri.


"Siap bunda."


"Bagus anak bunda emang pintar." sembari mencubit gemas pipi Nayla.


"Kan seperti ayah, bun." Nayla selalu berkata dia mirip ayahnya tapi Nuri lebih tahu siapa yang Nayla maksud hanya saja Nayla tidak tahu siapa ayahnya sesungguhnya.


Nuri terdiam sambil menatap dalam wajah Nayla, Nayla sibuk bercermin memakai mahkota princess di kepalanya. Semakin hari anak itu semakin persis mirip dengan ayah kandungnya tidak hanya sifat tetapi bentuk wajah dan warna kulit juga menurun dari ayahnya.


Hmm ya, kamu memang seperti ayah kandungmu nak. Nakal dan pintar, kenapa kamu mirip sekali dengannya padahal bunda berharap kamu menurun watak bunda.


*****


Sepulang dari menemui Nuri, Devan mampir ke cafe tempat biasa dia berkumpul bersama teman-temannya sedari SMP. Di sana sudah ada Leo, Albi dan Denis yang menunggunya. Begitu sampai di sana, Devan langsung tiduran di atas sofa tanpa menyapa teman-temannya.


"Kau kenapa, Van?" tanya Denis heran.


Umm


Devan mengerang dan langsung ke posisi duduk.


"Kalian masih minum-minum ya?" tanya Devan.


"Iya Dev, kami sengaja manggil kamu kemari biar kita bisa minum kayak dulu." sahut zleo.


Devan menggeleng sambil tersenyum.


"Aku tidak minum kawan. Organku sudah ada yang rusak, kalian sebaiknya segeralah berhenti minum sebelum menyesal nantinya."


Haha mereka bertiga malah sibuk tertawakan Devan tetapi begitulah persahabatan mereka.


"Devan, Devan. Kamu dokter, kalau penyakit datang kami tinggal berobat sama kamu apa susahnya lagian kenapa kamu takut minum sedikit tidak apa-apa." ujar Leo.


"Tidak. Sudah lama aku tidak menyentuhnya, kalian minum saja." tolak Devan lembut.


"Ya sudah Dev, kamu pesan jus atau apalah." perintah Albi.


Devan hanya memesan air mineral dan dia masih heran melihat kawan-kawannya masih pada doyan minum wine. Dia ikut menyeruput air mineral saat temannya asyik menyuruput wine.


"Kenapa wajahmu kusut lagi Dev?" hanya Albi yang tidak terlalu doyan minum jadi dia lebih memilih menanyai Devan.


"Gimana soal Nuri?" Leo ikut bergabung disusul oleh Denis, semuanya hanya fokus nimbrung pada satu cerita.


"Apa kau berhasil Dev?" tanya Denis.


"Nuri baik-baik saja kok. Tapi, ya begitulah dia masih malu jadi aku ditolak." ungkap Devan hanya bisa tersenyum.


"Wah. Pasti Nuri sudah nikah lagi kan makanya dia nolak." asal bicara si Leo.


"Pasti orang tua Nuri yang menyuruh dia nolak kamu, Dev." diikuti juga oleh Denis yang sepemikiran dengan Leo.


Devan tetap rileks meski dia agak kesal selalu dipanas-panasi oleh teman-temannya.


"Hush! Kalian semua bisa diam enggak sih? Aku memang kecewa tapi setelah aku pikir-pikir lagi, wajar Nuri nolak setelah apa yang aku lakukan padanya mungkin saja dia masih kesal tapi tidak berani marah-marah."


"Tapi kamu sudah kasih tahu dia kan, kenapa kamu ninggalin dia?" tanya Albi.


"Sudah. Aku rasa Nuri mengerti tapi aku juga harus paham hatinya masih tertutup untuk memulai hubungan baru." jawab Devan.


"Ya sudah bro, kamu harus semangat kejar cintanya sebelum janur kuning melengkung." kata Denis.


"Betul, betul itu. Kita semua dukung kamu, Dev. Tapi jangan lupa carikan kita pacar." kata Albi juga.


"Pacar?" Devan bergedik.


"Iya, yang cantik." sahut Denis.


"Enggak perlu cantik, asal baik." tambah Albi.


"Kenapa kalian enggak deketin Grace sama Rani." kata Devan kemudian dia balik menertawakan temannya.


"Yaelah Dev, masa kita di kasih temannya ular." seru Denis.


"Eh sebenarnya Grace sama Rani baik kok, hanya saja mereka salah milih teman." bela Albi tiba-tiba seolah sedang memuji.


"Ye si Albi ngebalain." sorak Leo meledeknya.


"Jangan-jangan Albi doyan lagi sama teman ular." tambah Denis.


"Yaelah kalian ini aku jomblo sudah 6 tahun terakhir punya pacar pas kelas 2 SMA itu pun putus gara-gara naksir kamu, Den teman sial." celoteh Albi.


"Karma itu Den, sampai sekarang kamu juga enggak laku." Leo dan Devan sibuk tertawa. Sedangkan Albi dan Denis saling adu siku.


"Apa di antara kalian masih ada yang bertahan dengan orang yang sama?" kemudian Devan meredam pertengkaran kecil mereka.


Denis dan Albi kontan menunjuk Leo. Leo tersenyum bangga meski pria nakal tetapi tetap pada satu wanita. Devan senang melihat persahabatan mereka meski senang saling meremehkan bahkan ada yang teman makan teman tetapi persahabat mereka tetap utuh. Saat Devan jauh, mereka bertiga setia menunggunya kembali. Itulah yang Devan banggakan dari mereka mau mengalah satu sama lain meski sering berdebat tetap saling support.