Devan & Nuri

Devan & Nuri
Mau Tapi Malu



Pagi hari


Nuri sedang memasak sarapan untuk putrinya. Nayla naik ke atas kursi sambil menunggu ibunya menyusun makanan, Nayla juga mulai membantu ibunya setelah selesai masak. Tiba-tiba ada suara orang mengucapkan salam, Nuri dan Nayla kenal betul suara itu sehingga mereka berdua bersama-sama pergi membuka pintu.


"Ayah." panggil Nayla.


Seperti biasa dia selalu berlari dan Nazmi juga melebarkan tangannya. Nayla masuk dalam pelukkan ayahnya lalu mencium pipi sang ayah, begitu juga yang Nazmi lakukan padanya. Nuri hanya menyapa melalui senyuman.


"Ayah tahu bunda masak apa?" tanya Nayla.


"Masak apa memangnya bundamu, nak?" sambil masuk ke dalam rumah. Nuri mengikuti mereka dari belakang.


"Bakso balado kesukaan ayah, tapi bunda masaknya enggak pedas kok yah biar Nayla bisa memakannya."


"Umm. Nay suka bakso baladonya?"


"Suka dong ayah, kan Nay putri ayah semua yang ayah suka pasti Nay suka."


"Pintar anak bunda Nuri sudah pandai mengikuti kesukaan ayah." puji Nazmi.


"Ayah kenapa bilang Nayla hanya anak bunda, katakan putri ayah dan bunda." Nayla merasa tidak senang saat ayahnya hanya menyebut dirinya anak ibu saja.


"Hmm." Nuri berdehem, dan menganggukkan kepalanya meminta Nazmi untuk melakukan apa saja yang di minta oleh Nayla.


Nazmi sebagai seorang ayah yang tanpa kejelasan karna hanya ingin membahagiakan Nayla yang sudah sedari kecil ditinggal pergi oleh ayah kandungnya.


"Baiklah putri ayah dan bunda, ayah bolehkan sarapan di sini?" tanya Nazmi bercanda.


"Tentu saja ayah, sini ayah duduk dekat bunda." Nayla langsung berlari dan menarik kursi untuk Nazmi berdampingan dengan kursi yang Nuri duduki. Tetapi Nazmi mengerti, dia tidak akan melampaui batasannya.


"Kak Naz..." seru Nuri menggeleng.


"Tidak Nur, aku tahu." kata Nazmi. Nazmi berjalan memutar lalu menarik kursi di samping Nayla.


"Ayah di sini saja ya dekat Nayla biar ayah bisa suapin Nayla." ujar Nazmi.


"Kenapa ayah tidak suapi bunda saja, Nay mau lihat romantisnya ayah dan bunda." pinta Nayla dengan senyuman.


"Sudah Nayla, biarkan ayah menyuapimu jangan bicara yang tidak-tidak." tegur Nuri sedikit kasar.


"Ayah, bunda memarahiku lagi." Nayla berkaca-kaca dan mengadu pada ayah Nazmi.


"Tidak nak, bunda hanya menegurmu." bujuk Nazmi sambil mengusap butiran bening dari pipi Nayla.


"Kenapa bunda seperti itu yah? Apa bunda tidak lagi mencintai ayah?" tanya Nayla terisak tangis.


"Hei hei siapa yang mengajarimu tentang cinta, nak? kata Nazmi lembut sambil tersenyum.


"Nay tahu sendiri yah, semua orang tua teman Nay mereka tidak pernah duduk berjauhan. Bahkan ayah, mereka menyuapi anak mereka makan bersama-sama bergantian. Andai ayah dan bunda seperti mereka." Nayla berharap demikian karna baginya keluarga yang dimilikinya walau pun utuh masih ada ayah dan ibu tetapi tidak ada keharmonisan di dalamnya, sedangkan Nayla berharap sangat berharap bisa melihat kedekatan ayah dan ibunya.


"Dengarkan ayah, nak! Tidak baik membanding-bandingkan orang tua kita dengan orang tua teman. Nay tidak mau kan jadi anak durhaka?" tegur Nazmi lemah lembut. Nayla selalu mudah memahami ajaran yang Nazmi berikan dibanding yang Nuri ajarkan karna Nuri agak keras dalam mendidiknya.


"Emm. Iya ayah, Nay minta maaf." sesal Nayla menundukkan kepala.


"Lain kali jangan bicara seperti itu lagi ya sayang, ayah dan bunda tidak pernah mengajarimu seperti itu. Kami sayang padamu nak." Nayla mengangguk masih ada rasa kecewa dibenaknya, Nazmi langsung memeluk dan mencium pucuk kepalanya.


Nuri sedari tadi mengamati mereka. Memang jika di banding dengan Devan, Nazmi laki-laki yang lebih bertanggungjawab dan penyayang. Nazmi lebih pantas menjadi ayah untuk Nayla, tetapi Nuri juga tidak bisa memaksakan perasaannya dan Nazmi juga tahu akan hal itu. Mereka masih bersama karna demi melindungi Nayla.


Ketulusanmu memang tidak ada duanya kak, tapi mengapa hatiku tidak bisa terbuka untuk mencintaimu. Aku tidak ingin kau terluka karna aku, kak.


Selesai makan, Nuri mengajak Nazmi untuk bicara sambil minum teh sembari menemani Nayla bermain pasir.


"Kak, mengapa kakak tidak menikah saja." kata Nuri.


"Menikah?" Nazmi agak terkejut.


"Iya, Nayla sudah besar sekarang jadi kakak perlu menikah agar ada yang mengurus kakak, ada yang perhatian sama kakak. Nur, tidak bisa melihat kakak terlalu jauh memasuki kehidupan Nur dan juga Nayla, alangkah lebih baik jika kakak memiliki keluarga sendiri." tutur Nuri.


"Hmm. Kamu pasti takutkan Nur, takut menyakiti perasaanku? Nur, kamu tenang saja aku melakukan semua ini demi Nayla. Kamu menikahlah dulu, setelah itu aku juga akan menikah." ujar Nazmi menyelidiki mata Nuri yang sedari tadi tak berani menatap Nazmi terlalu lama.


"Nur tahu, pasti kakak mencari wanita yang shalehah bukan? kak tidak harus mencari yang shalehah, kakak bisa mendapatkan wanita biasa lalu mengubahnya menjadi shalehah itu yang terpenting, jika yang shalehah bersama yang shaleh lalu gimana nasib orang yang jauh dari agama, siapa yang akan mengubah mereka kak?" Nuri sangat mencemaskan masa depan Nazmi.


"Iya Nuri, saya paham betul. Terima kasih sudah peduli pada masa depan saya."


"Jadi kapan kakak akan menikah?" desak Nuri.


"Kapan saja jika jodoh sudah bertemu aku juga tidak mau menundanya." Nazmi tersenyum melirik Nayla yang sedang memperhatikan mereka.


Aku kira kau jodohku Nur, karna kita sudah bersama sejak lama, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersama tapi tidak saling memiliki. Aku mendoakanmu Nur, siapapun yang akan bersamamu, semoga dia bisa membahagiakan dan memperlakukanmu juga Nayla dengan baik.


*****


Pagi itu, Nuri mendatangi alamat rumah sakit swasta tempat Devan bekerja. Rumah Sakit Peduli Harapan, ternyata adalah rumah sakit yang ingin Nuri tempati jika dia berhasil mengejar cita-citanya. Nuri masih tak menduga mengapa bisa secara kebetulan Devan bekerja di sana, entahlah Nuri masih bingung. Rasa penasaran ingin tahu lebih dalam, Nuri melangkah masuk dan bertanya pada bagian depan.


"Apa betul di sini tempat Dr. Devan Steven bekerja?" tanya Nuri.


"Betul Nona, Nona siapa?" jawab suster.


"Hmm. Saya diberi kartu ini sama dokter Devan. Apa dia ada?"


"Dokter sedang melakukan operasi. Jika Nona mau silakan Nona tunggu di sana." menunjuk kursi antrian.


"Tidak perlu suster, saya cuma mau nanya dokter Devan itu dokter umum bukan?"


"Maaf Nona, kami tidak bisa menginformasikan data pribadi dokter di sini pada sembarang orang."


"Tolong suster saya hanya bertanya itu saja, apa wajah saya terlihat seperti penjahat? tidak kan sus." kata Nuri sembari memohon. Suster tersebut pun mengamati wajah serta gerak-gerik Nuri yang sama sekali tidak ada tampang mencurigakan.


"Terima kasih ya suster, saya permisi dulu." Nuri pamit undur diri setelah mendapatkan informasi mengenai Devan.


*****


"Dia itu benci sama darah bagaimana bisa menjadi dokter, dokter bedah saraf lagi. Dari mana dia dapat keberanian, kan dia hanya ingin jadi tentara bisa ya berpaling seperti itu." gerutu Nuri geram, setahu Nuri Devan paling benci dengan profesi menjadi dokter.


"Ah! Mungkin dia sengaja kali ya untuk membuatku iri karna aku tidak bisa menjadi seperti dia lalu dia ingin menertawakan kegagalanku. Aku sama sekali tidak iri, wajar saja orang tuanya punya banyak uang jadi dia bebas mau sekolah di mana pun terserah dia."


Nuri memandang ke langit yang terlihat hanya rimbun dedaunan ternyata dia masih berada di bawah pohon di depan rumah sakit. Karna kebanyakan mikirin Devan, dia jadi kehilangan konsentrasi sampai tidak menyadari tempat yang tengah dia duduk.


"Kenapa aku masih di sini, aku kan mau pulang. Ah! Bisa-bisanya dia menguasai otakku seperti ini." Nuri mengomel sendirian tanpa dia sadari Devan sudah cukup lama berdiri tegap di belakangnya.


"Hmm. Kayaknya ada yang ngomongin aku dari tadi." suara Devan membuat Nuri kaget. Kepalanya langsung memutar kebelakang menoleh manusia berkaki jenjang itu, Nuri langsung bangkit kalang kabut mengumpatkan wajahnya di balik tasnya. Nuri hendak kabur, Devan cepat-cepat menarik hijabnya agar Nuri tak bisa lari kemana-mana.


"Sudah puas ngomongin aku?" tanya Devan.


"Aku enggak ngomongin kamu, aku cuma ngomong sendirian." jawab Nuri dengan suara terputus-putus.


"Begitu ya, kenapa kau kemari?" tanya Devan lagi. Nuri merasa risih hijabnya akan berantakkan jika terus ditarik. Nuri tak menjawab apapun selama Devan bertanya, dia hanya ingin menginjak kaki panjang itu.


"Auh! Kasar sekali kau perempuan?" ketus Devan sembari meloncat dengan sebelah kaki karna menahan kaki yang sakit akibat kena tendangan Nuri. Nuri menahan tawanya lalu kembali bersikap dingin dengan senyum kecut terbentuk di bibirnya.


"Dokter kenapa?" seorang perawat melintas di antara mereka.


"Tidak apa-apa sus." umpat Devan mendadak sembuh. Suster berlalu pergi.


"Siapa yang memberitahumu? aku datang kemari." tanya Nuri tegas.


"Separuh hatiku ada di sini makanya aku tahu di mana pun kamu berada." jawab Devan sambil nyengir.


"Hah? Bercanda ya?" Nuri melotot.


Haha Devan tertawa jahil.


"Ya bercandalah, kan kau yang mendatangi resepsionis, apa kau mulai pikun?"


Mendadak Nuri merasa canggung dan malu sendiri.


"Apa kau mendengar semua yang aku bicarakan?"


"Aku dengar semuanya, menurutku otakmu perlu dicuci supaya bersih dari noda-noda negative thinking." ujar Devan membuat Nuri terdiam.


"Kenapa kau kemari?" Devan kembali bertanya baik-baik.


"Terserah aku mau ngapain bukan urusanmu juga." Tetapi Nuri justru membuat Devan gemas ingin sekali mencubit pipinya.


"Aha! Aku tahu kau pasti merindukanku kan?" Devan menarik ulur alisnya menggoda Nuri.


"Hei ayo ngaku?" tambahnya lagi sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Nuri. Mendadak Nuri merasa tegang mereka terlalu dekat takutnya terjadi hal yanh tidak diinginkan.


"Pede banget." ketus Nuri membuang muka.


"Kenapa tidak? kemarin aku bilang jika kau merindukanku datang saja ke alamat itu. Kau datang berarti kau rindu? Pasti tebakkan ku benar."


"Idih jadi orang jangan kepedean ngaca lihat mukamu, orang kayak kamu pantas enggak dirinduku." Sontak Devan berkaca melihat setiap inci wajahnya.


Dia malah bawa cermin beneran. Sangat menyebalkan. Seperti sudah tahu saja aku akan datang.


"Dengar ya, aku kemari mau jenguk temanku yang lagi sakit." kata Nuri mencari alasan.


"Memang kau punya teman selain aku?" Devan tahu betul sedari SMP Nuri bukanlah orang yang punya banyak teman.


"Banyak malah yang lebih baik darimu."


"Oh! Katakan siapa nama temanmu yang sakit itu! Aku mengenal semua pasien di sini, beritahu aku aku akan menemanimu menemui dia."


"Um?" tiba-tiba Nuri gugup.


"Umar?"


"Umi?"


"Utari?"


"Umairah?"


"Di sini pasien inisial U cuma ada Umar sama Uni, apa nama temanmu Uni?" tanya Devan.


"Bukan juga." bantah Nuri.


"Lalu siapa? bentar aku ingat lagi."


"Umm. Sudahlah aku mau pulang." saat Devan berpikir, Nuri mengambil kesempatan untuk lari. Devan ditinggal lagi oleh Nuri.


"Hei bisa-bisanya kau menjebakku supaya kau bisa kabur." teriak Devan agak kesal.


"Kau terlalu lama mikir." sahut Nuri.


"Bilang saja kau merindukanku, apa susahnya sih." balas Devan.


"Aku tidak merindukanmu, jangan kepedean." jawab Nuri.


Nuri tergesa-gesa masuk ke dalam mobilnya lalu menenangkan jantungnya yang berdegup-degup kencang. Dia memang merindukan Devan, sangat merindukannya. Devan hanya bisa tersenyum. Dadanya juga berdenyut-denyut setiap kali mereka bertemu.