Devan & Nuri

Devan & Nuri
Seperti Ayahnya



Hari hari telah berlalu. Tahun pun terus berganti dari tahun sebelumnya berganti ke tahun berikutnya. Perkembangan zaman telah mengubah suasana dunia termasuk mengubah isinya.


Tap... tap... tap...


Suara langkah kaki mungil seorang anak perempuan memasuki rumah, dia baru datang dari sekolah dengan membawa raport beserta hadiah di tangannya. Anak perempuan itu berlari menemui ibu dan ayah dengan gembira memeluk keduanya secara bergantian.


Nuri mencium pipi kanan anak perempuan itu dan ikut gembira melihat hasil raportnya. Di ikuti oleh Nazmi yang memanjakan anak perempuan itu dengan menggendongnya tinggi ke langit.


"Ayah, Bunda aku juara umum lagi. Aku naik ke kelas 2." ucapnya dengan bangga. Nuri dan Nazmi hanya bisa tersenyum.


Anak itu cerdas seperti ayahnya. Dia terlahir sempurna tanpa kekurangan apapun, dari wajah sampai ujung kaki semuanya normal bahkan dia sangat cantik dengan lesung pipi dan gigi ginsul yang dia miliki.


"Ayah, ayah bilang jika aku naik ke kelas 2 ayah akan tinggal di sini bersama dengan bunda, ayah tidak akan mengingkari kata-kata ayahkan?" tanyanya dengan sangat menggemaskan.


Nazmi melirik sesekali ke arah Nuri yang hanya bisa diam saat sang anak bertanya. Nuri tampak gelisah karna masih dibayangi oleh masalalunya dan Nazmi paham akan hal itu.


"Umm. Sayang, ayah enggak bisa tinggal di sini sekarang. Ayah masih banyak pekerjaan di rumah sakit tapi ayah janji hari ini sebelum kembali ke rumah sakit ayah akan menemanimu." sambil mencubit gemas pipi sang anak lalu menciumnya.


"Kak, bisa kita bicara sebentar?" pinta Nuri, Nazmi mengangguk mengiyakan permintaan Nuri.


"Sayang, kamu ganti baju dulu sana ayah mau bicara sama bundamu."


"Baik ayah, tapi jangan lupa ya sore ini kita pergi ke Ancol." ucapnya. Nazmi mengusap kepala sang anak sambil tersenyum mengiyakan kemudian memapahnya masuk ke kamar.


Lalu dia mengikuti Nuri berjalan ke taman di depan rumah untuk mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Nuri.


"Nayla sudah semakin besar dan mulai mengerti sekarang. Dia tumbuh dengan sangat baik berkat dirimu kak."


"Bakat dan kecerdasan yang dia miliki sepertinya menurun dari ayah dan ibunya tapi tidak dariku." tutur Nazmi tetapi Nuri hanya mengabaikan pendapatnya.


"Kak Nazmi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"


"Iya katakan saja Nuri!"


"Kak, jangan katakan kepadanya jika kakak bukan ayah kandungnya." perkataan itu jelas membuat Nazmi terkejut.


"Mengapa Nuri? Bukankah dia berhak tahu dan aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat di mana usianya sudah cukup untuk mengerti."


"Tidak kak aku tidak ingin dia tahu lalu bertanya di mana keberadaan ayahnya yang tidak bertanggungjawab itu."


"Nur, kamu tidak baik bicara seperti itu. Bagaimana pun suatu saat kebohongan pasti akan terungkap sampai kapan kamu akan menutupinya?" kata Nazmi sementara Nuri sama sekali tidak peduli mendengar alasan apapun lagi.


"Aku juga tidak tahu di mana ayahnya sekarang, dia bahkan tidak pernah menemui anaknya. Dia menghilang tanpa jejak bagaikan tertelan oleh bumi. Kak, aku mohon penuhi permintaanku. Aku hanya tidak ingin Nayla tahu kalau ayahnya pergi meninggalkannya dan tidak pernah mengharapkan kehadirannya, kakak pasti bisa bayangkan betapa hancurnya hati anak sekecil dia jika mengetahui semua itu."


Nazmi meraih kedua tangan Nuri sambil menguatkan hatinya kembali. Nazmi sangat memahami perasaan Nuri, dia juga merasa sedih dan berjanji tidak akan membuka rahasia tersebut.


"Demi Nayla, aku akan menuruti permintaanmu Nur. Kamu harus tenang sekarang jangan buat Nayla curiga jika bundanya habis menangis." sembari mengelap air mata Nuri.


"Ayah, Bunda." panggil Nayla tiba-tiba sudah ada di belakang mereka dan melihat ayahnya sedang mengelap mata ibunya.


"Ayah ada apa dengan Bunda, kenapa dia menangis? Bukankah harusnya Bunda hari ini senang?" ucapnya sambil merasa heran.


Nuri langsung berjongkok dan meyakinkan putri kecilnya.


"Tidak sayang bunda hanya kelilipan debu jadi ayah membantu bunda membuangnya."


"Bunda yang mengajariku Allah melaknat orang yang suka berbohong, tapi kenapa Bunda membohongiku?"


"Emm. Bunda tetap berbohong." bantah Nayla.


"Ya Allah percaya sama Bunda, Nayla." Nuri pun tanpa sadar meninggikan suaranya.


"Ayah lihatlah Bunda membentakku." Nayla berlari memeluk ayahnya.


"Sayang, kamu masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa Bundamu seperti itu. Biasanya setiap sebulan sekali wanita dewasa akan mengalami tekanan emosi yang mudah berubah-ubah." sambil menggendong Nayla.


"Kak Naz, jangan menggodaku sekarang memang sedang terjadi kepadaku." sahut Nuri dengan jujur.


"Ayah, tapi maksud Nayla itu Bunda sudah berbohong karna kemarin Bunda bilang dia akan membujuk ayah untuk tinggal bersama kami di sini tapi Bunda enggak membujuk ayah sama sekali."


Nuri merasa lega saat anaknya tidak mencurigainya sedikit pun.


"Nayla tadi sudah dengarkan ayah Naz bilang apa? Ayah masih sibuk di rumah sakit masih banyak pasien yang harus dia rawat." kata Nuri dengan lembut.


"Benar begitu ayah?"


"Iya sayang, pasien adalah raja jadi mereka harus mendapat penanganan serta pelayanan terbaik dari para dokter."


"Umm. Ayah memang ayahku yang terbaik. Nayla juga mau menjadi dokter saat sudah besar nanti, Nayla ingin menjadi seperti ayah. Benarkan Bunda, bukankah menjadi dokter cita-cita Bunda juga?"


"Iya sayang benar tapi itu dulu, sekarang tidak lagi."


"Nayla akan jadi dokter, Nayla yang akan mewujudkan mimpi Bunda."


"Pintarnya anak Bunda Nuri. Ya sudah sekarang kamu siap-siap sana Nur, kita bawa Nayla jalan-jalan dan bermain wahana di Ancol." kata Nazmi sembari menyuruh Nuri untuk berkemas.


Sepulangnya dari Ancol


Nazmi mengantar Nuri dan Nayla ke rumahnya. Nayla masih berusaha untuk mengajak ayahnya tinggal bersama mereka. Tetapi Nazmi dan Nuri saling pandang, mereka berdua tahu ada batasan yang tidak bisa mereka langgar.


"Nayla lain kali ayah akan menginap di rumah kita. Nayla harus mengerti kesibukkan ayah." tutur Nuri.


"Hmm. Tapi ayah sampai kapan sibuk di rumah sakit?" tanyanya sambil menunduk dan menangis.


"Ayah minta maaf nak, jangan nangis sayang besok dan setiap hari ayah akan menemuimu ayah tidak akan pergi." kata Nazmi membujuk sang anak.


"Janji ya ayah, jangan tinggalkan Nayla dan Bunda."


"Iya sayang tapi kamu jangan nangis ya, nanti bundamu ikut nangis juga karna merindukan ayah." bujuk Nazmi.


"Hah! Kak Nazmi jangan menggodaku." cengir Nuri memelototinya.


"Lihatlah Bundamu marahkan sekarang?"


"Ayo Nayla masuk ke dalam rumah." suruh Nuri.


Nayla pun berlari ke dalam rumah setalah mencium tangan Nazmi. Nazmi dan Nuri masih berada di luar sambil sedikit berbincang-bincang.


"Aku pergi sekarang Nur, kamu hati-hati di rumah sama Nayla jangan lupa kunci pintu pagar dan jendela rapat-rapat." kata Nazmi.


"Iya kak. Oh iya kakak semangat kerjanya."


Nazmi tersenyum sambil memasuki mobil dan melambaikan tangan untuk Nuri. Nuri menyerunya supaya berhati-hati saat mengemudi. Setelah Nazmi meninggalkan pekarangan rumah, Nuri menutup pagar beserta pintu rumahnya dengan baik.