
"Kenapa kau senyum-senyum?" tegur Devan, Nuri langsung tersadar dari lamunannya dan segera mengalihkan pandangannya dari sang suami.
"Lihatlah bakso kami sudah habis, tapi baksomu masih utuh." tegur Devan.
"Kita menang daddy dan mommy kalah artinya Kya boleh minta baksonya lagi ya mommy."
"Iya tentu saja sayang, mommy suapi ya."
"Emm, lebih enak makan dari suapan mommy."
"Wah Kya, habis daddy suapi mana bakso daddy dimakan sampai habis tapi ujungnya malah ngejek daddy." Devan ikut kesal, dan tambah kesal saat tidak mendapat suapan dari Nuri.
"Kayaknya ada yang iri lihat mommy nyuapi Kya." sindir Nuri.
"Lihatlah daddymu melirik kita, mommy tahu dia ingin disuapi."
Nuri pun tersenyum sambil memberi isyarat, Devan mendekatkan kursinya ke sebelah Nuri dan meminta satu suapan dari tangan istrinya. Nuri bahkan tidak sempat memakan banyak baksonya, sang suami dan Kya telah menghabisinya. Tetapi Nuri bahagia dengan menaruh berjuta harapan semoga rumah tangga mereka akan terus bahagia dengan ke hadiran sang buah hati kelak.
"Kya sudah kenyang mommy." katanya.
"Perut Kya jadi buncit."
"Geli daddy... geli..."
Devan menggelitik perut Kya sampai anak itu tertawa geli, Nuri tentu senang melihat suaminya punya sisi humor.
"Anak ya dek?" tanya mamang bakso yang senang melihat keharmonisan mereka.
"Bukan mang, anak ini kami temukan di taman sepertinya dia kehilangan ibunya, jadi kami ajak dia kemari supaya suasana hatinya tenang." jelas Devan.
"Oo iya tadi ada ibu-ibu mampir kemari dia kayak nangis-nangis nyari anaknya, mungkin saja itu anak ibu-ibu tadi." ungkapnya.
"Ke mana ibu itu pergi mang, apa dia masih di sekitar sini?" tanya Nuri. Mamang bakso pun menajamkan penglihatannya melihat ke segala penjuru.
"Nah itu yang duduk di bawah pohon sana itu ibu-ibu tadi." Menunjuk ke arah taman tempat Devan dan Nuri beristirahat tadi.
"Terima kasih mang, kami mau ke sana dulu."
Devan bersama Nuri pun membawa Kya menemui ibu-ibu yang diberitahukan oleh mamang bakso tadi.
"Mommy, Daddy itu benar mama Kya." tunjuk Kya yang yakin betul bahwa itu ibunya. Ibu itu pun melihat ke arah mereka.
"Kya..." panggilnya seraya berlari menghampiri mereka.
tangisnya pecah setelah bertemu sang anak dalam keadaan baik-baik saja.
"Mama, Kya takut sendirian mama ke mana saja?"
"Maafkan mama sayang, kamu jangan hilang lagi ya nak."
Devan dan Nuri senang akhirnya mereka berhasil mempertemukan Kya dengan orang tuanya.
"Ma, ini mommy dan daddy Kya, mereka yang sudah menemani Kya, menghibur Kya dan mengajak Kya makan bakso di sana." ujar Kya memberitahu ibunya.
"Terima kasih kalian sudah menjaga anak saya, saya tidak tahu jika tidak ada kalian bagaimana nasib Kya, hanya dia satu-satunya keluarga yang saya punya." ibu itu pun sedih merasa menyesal langsung di peluknya Kya dengan erat.
"Tante, lain kali anaknya dijaga baik-baik daerah sini rawan terjadi penculikkan." kata Devan.
"Kya, nanti kalau ikut mamanya meeting Kya jangan pergi jauh-jauh main saja di dekat mama, kalau Kya hilang mamanya bakal cemas dan sedih seperti sekarang."
"Iya mommy, Kya enggak akan nakal dan bikin mama Kya sedih lagi."
"Promise, baby!" Nuri mengangkat kelingkingnya.
"Promise." Kya membalas dengan melingkarkan kelingkingnya.
"Kya akan merindukan mommy dan daddy, jangan lupakan Kya ya." anak itu memeluk Devan dan Nuri.
"Kami tidak akan lupa sama Kya janji." kata Nuri.
"Sekarang Kya ikut mamanya pulang, insha allah di lain waktu kita akan bertemu lagi." ucap Devan.
Terasa berat bagi Devan dan Nuri untuk berpisah dari Kya namun mereka tetap harus menyerahkan anak itu kepada orang tua kandungnya.
"Dasar cengeng, baperan pakai nangis segala." ledek Devan sambil mengacak-ngacak kepala Nuri, Nuri hanya mampu tersenyum kesal.
"Ayo kita pulang, sudah sore."
"Ayo, pinggang dan kakiku juga sudah pegal-pegal." jawab Nuri.
"Eh tapi kayaknya kita tunggu matahari terbenam dulu."
"Mau lihat sunset itu di pantai bukan di taman jangan ngacok deh, mana kelihatan mataharinya dari sini banyak gedung dan pepohonan yang menutupi, sekalian kau panjat MoNas biar kau bisa lihat sunset dari atas MoNas.
"Ayo kita manjat monas, pasti seru."
"Amit-amit manjat monas sama kamu, mending aku pulang jalan kaki."
"Hei jangan ngambek dong Nuri yang imut, lucu dan menggemaskan seperti beruang madu."
"Bodoh ah, basi tahu rayuanmu pasti sudah menyebar ke seluruh cewek di Jakarta."
"Hmm, cemburu ya."
"Enggak sama sekali, play boy kayak kamu mana pantas dicemburukan."
"Ah ngaku saja bilang kalau kau cemburu."
Tiba-tiba Devan berjongkong dan menyuruh Nuri naik ke atas punggungnya. Tetapi dengan jengkelnya Nuri menolak mana mungkin perutnya yang buncit bisa naik ke punggung Devan yang ada malah lahiran pas digendong.
"Maaf maaf aku lupa kau bumil ya."
"Masih saja senang mengejekku."
Saat Nuri cemberut dan mendengus kesal ke lain arah karna jengkel dengan tingkah Devan, si Devan malah nyosor menggendong Nuri membuatnya hampir jantungan karna tiba-tiba tubuhnya terangkat ke atas yang ternyata si Devan menggendongnya.
"Hei turunkan aku, apa kau tidak waras di sini banyak orang." gerutu Nuri memukul-mukul dada Devan agar Devan menurunkannya.
"Karna aku masih waras mangkanya aku lakukan ini."
ha, ha, ha...
Devan tertawa puas saat Nuri merasa risih karna digendong sambil menutup wajahnya yang memerah karna mereka menjadi perhatian publik sementara Nuri sangat malu dibuatnya.