Devan & Nuri

Devan & Nuri
Terjadi Padaku



Selesai makan siang tiba-tiba terjadi keributan di toko ATK & Fotocopy tempat Devan bekerja. Boss baru saja kehilangan laptop dan uang gaji karyawan yang di simpan di dalam laci kerjanya. Semua karyawan di kumpulkan dan ditanyai satu per satu.


Devan sama sekali tidak tahu apa-apa semalam dia pulang lebih awal dari karyawan lainnya sedangkan tadi pagi dia datang sedikit terlambat. Lalu siapa yang mencuri laptop dan uang dengan nominal yang lumayan besar. Karyawan lainnya juga tidak tahu tapi mereka tahu laptop tersebut selalu dipinjamkan ke pada Devan.


"Devan yang keluar masuk ruangan bapak, bisa saja dia yang mengambilnya." ucap karyawan lain.


"Kalian jangan asal nuduh, saya hanya membersihkan ruangan Boss dan itu pun sudah setiap hari saya lakukan untuk apa saya mencuri benda yang sudah saya lihat setiap hari, jika saya mau sudah dari dulu saya lakukan." sahut Devan dengan berani melindungi dirinya sendiri.


"Alah jangan ngeles kamu Van, kita semua tahu kamu akrab sama Boss tapi bisa saja kamu mencuri mungkin kamu dalam keadaan terdesak." kata mereka lagi.


Jadilah Devan disebut sebagai tersangka kasus pencurian. Devan tidak terima atas tuduhan yang tidak benar itu, dia siap bertanggungjawab jika memang ada bukti kuat yang membutikan bahwa dirinya bersalah.


"Pak, toko ini punya CCTV kenapa kalian tidak periksa saja, saya bersumpah bukan saya pencurinya." kata Devan.


Boss juga merasa demikian tidak ingin menuduh siapa-siapa, apa lagi menuduh Devan karna dia sudah cukup mengenal Devan selama ini Devan bekerja dengan sangat baik dan jujur, bahkan jika ada kembalian lebih Devan selalu memberikan uang yang lebih itu rasanya sangat tidak mungkin Devan akan mencuri.


Mereka pun pergi keruang CCTV untuk melihat apa yang telah terjadi pagi tadi. Setelah saluran CCTV diperiksa ternyata ada yang sudah memutus sambungan CCTV di ruangan dan di sekitarnya sehingga si pencuri bisa dengan bebas melancarkan aksinya.


"Kumpulkan tas kalian semua di meja saya." perintah Boss.


Jelas dengan santai dan tenang Devan mengumpulkan tasnya sedangkan karyawan lainnya merasa takut dan ragu-ragu takut barang curian ada di dalam tas mereka.


"Jika salah satu dari kalian terbukti mencuri, kalian harus siap menanggung risikonya." tutur Boss mengancam mereka.


"Siap Boss." jawab karyawan serentak.


Devan masih berdiri dengan posisi tenang sambil mendengarkan Boss bicara. Dia tenang karna dia sama sekali tidak mengambil barang apa pun apalagi mencurinya. Devan siap tasnya yang pertama kali dibuka, dia tetap rileks menatap mata karyawan lain yang terlihat gerogi.


Boss terngaga melihat amplop kuning yang berisi uang gaji karyawan ternyata ada di dalam tas pertama yang dibukanya.


Dia melotot ke satu arah yaitu Devan, Devan sangat terkejut bagaimana amplop tersebut bisa berada di dalam tasnya sedangkan dia tidak melakukan apa pun dari tadi selain bekerja.


"Saya bersumpah demi Tuhan bukan saya yang melakukannya Pak." ucap Devan.


"Devan saya kecewa sama kamu, kamu ini karyawan yang paling saya percayai karna saya pikir kamu orang yang baik dan jujur tapi hari ini semua bukti ada padamu, saya tidak bisa mempercayai kamu lagi."


"Dan uangnya bisa sebanyak ini apa kamu juga menjual laptopnya? Saya tidak masalah jika kamu menjual laptop itu tapi di dalam laptop banyak file-file penting dan saya bisa rugi sekarang."


"Ya Allah Pak, sungguh saya tidak tahu apa-apa bagaimana semua ini terjadi."


"Pak, CCTV ada yang merusak pasti ini cara orang tersebut untuk memfitnah saya."


"Iya kamu yang merusaknya, sudah jelas-jelas bersalah masih saja menyalahkan orang lain, mulai detik ini kamu saya pecat."


"Pak jangan pecat saya, saya berjanji akan menggantinya silakan potong gaji saya."


"Pak, saya mohon jangan pecat saya, bagaimana saya akan menafkahi istri saya, sebentar lagi dia akan melahirkan dari mana saya akan mendapat uang, percaya sama saya Pak, ini keliru."


"Itu bukan urusan saya pergi kamu atau saya akan melaporkan kamu ke polisi."


Boss tidak mau percaya lagi kepadanya setelah menemukan semua bukti ada di dalam tas Devan, sekali pun Devan memohon bersujud di kakinya. Tapi Devan tidak mau merendahkan dirinya hanya untuk mengakui apa yang tidak dia perbuat.


"Baiklah Pak, saya tidak akan rugi jika kehilangan pekerjaan yang memang tidak cocok dengan saya, tapi Bapak akan menyesal kehilangan karyawan seperti saya. Saya memang tidak punya harta tapi saya tidak pernah mau mencuri."


"Ingat itu Pak, jangan menyesal karna telah percaya pada tipuan orang yang tidak bertanggungjawab."


"Jangan menceramahi saya, Anda seorang pencuri mana ada maling mau ngaku."


Devan akhirnya terusir dari tempatnya bekerja tetapi dia masih bingung bagaimana kejadian itu bisa terjadi dengan semua bukti yang mengarah pada dirinya.


Dia sejenak berhenti di pinggir jalan sambil minum es tebu sembari menenangkan pikirannya. Devan tidak bisa berleha-leha terlalu lama, dia bertekad untuk mendapatkan pekerjaan lagi.


"Aku harus segera menemukan pekerjaan Nuri tidak akan lama lagi lahiran, aku tidak mau melibatkan orang tuaku untuk membiayai persalinan Nuri, dia sudah menjadi tanggungjawabku."


Devan pun melamar pekerjaan kesana kemari, mulai dari warung sampai rumah makan semua menolaknya.


Kami tidak menerima pencuri seperti Anda, sana pergi.


Mana ada maling mau ngaku, pergi kamu.


Kami tidak membutuhkan seorang pencuri.


Pergi kamu, karyawan kami sudah penuh. Padahal di dinding terpampang dengan jelas DI CARI KARYAWAN TOKO minimal tamat SMP.


Devan tahu itu hanya alasan mereka semua untuk tidak menerima dirinya bekerja.


Kalimat pedas yang orang-orang lontarkan kini terus terngiang di pikirannya. Dia menjadi prustasi dan merasa tidak berguna setelah kehilangan pekerjaan yang membuat semua orang tidak mau menerimanya lagi karna tuduhan yang tidak benar itu sudah menyatu dengan dirinya sehingga orang mengecapnya sebagai pencuri.


Aku memang tidak berguna, Tuhan kenapa Kau berikan cobaan seberat ini? Bagaimana aku bisa menghidupi diriku dan keluargaku? Aku dituduh sebagai seorang pencuri, yang sama sekali tidak pernah aku lakukan bahkan sedikit pun tidak pernah terlintas dibenakku untuk mengambil hak orang lain. Kenapa Tuhan, kenapa terjadi padaku?


"Ternyata benar tidak mudah mendapat pekerjaan hanya dengan bermodalkan ijazah SMP, sekarang aku malah di tuduh pencuri mereka semua penjahat. Aku benci mereka, aku benci orang yang telah menuduhku, Tuhan aku ini bukan seorang pencuri? Kenapa Engkau membiarkan mereka memperlakukan aku seperti ini?"


"Haruskah aku merantau ke negeri tetangga hanya demi mengumpulkan pundi-pundi uang? Tidak aku tidak bisa meninggalkan Nuri sendirian. Aku menyesal mengapa aku tidak punya kelebihan apa pun, anak istriku akan kelaparan karnaku. Aku bingung harus melakukan apa? Tuhan beri aku petunjukmu!"


Devan hanya duduk melamun lalu memukul-mukulkan tangannya ke pohon yang ada di hadapannya. Tuduhan itu telah berkecamuk membuatnya menderita.


Jangan lupa tinggalkan like👍👍👍 ya kakak-kakak tersayang😊