Devan & Nuri

Devan & Nuri
Aku Ingin Bersamamu



Semangat dan harapan Devan seketika hilang. Dia pulang ke rumah dalam kondisi lesu dan terpuruk, seolah tidak ada jalan lain baginya untuk mendapat pekerjaan. Devan memang orang yang mudah berputus asa, sehingga dia sangat terpukul saat tidak ada orang yang mau menampungnya untuk bekerja.


Dia hanya duduk di teras rumah sembari membenamkan wajah ke dalam lututnya. Apa yang bisa dia lakukan? sehari tidak bekerja dia sudah seperti orang gila, merasa gagal menjadi suami yang bertanggungjawab. Putus asa dan kegagalan hanya itu yang terlintas di benaknya membuat Devan semakin terpuruk, semua orang yang menuduhnya sebagai pencuri terus terngiang di kepalanya. Sampai kapan orang-orang akan memfitnahnya? Entah siapa yang telah tega melakukan semua ini, Devan tidak tahu.


Di dalam rumah, Nuri sedang menyediakan makan malam. Dia bersemangat menanti suaminya pulang dari bekerja, tapi tiba-tiba dia mendengar suara Devan sedang menangis di luar rumah. Awalnya Nuri mengabaikan suara itu karna menganggap hanya imajinasinya mungkin terlalu bersemangat membuat dirinya terus memikirkan Devan. Tetapi, suara itu terdengar kembali barulah Nuri berjalan ke depan dan membuka pintu rumahnya.


Dia melihat Devan duduk di tangga teras menghadap ke belakang. Nuri penasaran apa yang telah terjadi pada suaminya yang membuat dia tampak sangat lesu.


"Apa yang terjadi?" Nuri menyentuh bahu Devan. Devan merasakan sentuhan itu dan segera menghapus air matanya lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah ceria sang istri.


Bagaimana aku bisa bersedih dan menjadi lemah saat melihat keceriaan yang selalu terpancar di wajahnya?


"Aku kelelahan." jawab Devan sembari berdiri.


"Ya sudah masuk dulu, aku sudah siapin makan malam." ajak Nuri. Nuri bisa melihat ada duka di mata suaminya, namun Nuri ragu untuk bertanya.


Ketika Nuri melangkah sambil mengiringi Devan mendadak suaminya memeluk tubuhnya dengan erat. Nuri membalas pelukkan itu sambil merasakan detakkan jantung yang tak beraturan itu. Nuri tidak tahu jantung Devan berdetak tidak seperti biasanya, mungkinkah detakkan cinta atau sebuah masalah? Entahlah Nuri tidak dapat menebaknya, dia hanya tidak ingin kehilangan pelukkan dan belaian dari suaminya.


Mereka pun makan malam seperti biasa, namun ada yang membuat perbedaan makan malam kali ini dengan sebelumnya. Nuri melihat Devan melamun sedari tadi, sampai makanan di dalam piringnya tidak tersentuh sama sekali.


"Katakan padaku, apa yang kau rasakan sekarang?"


"Aku baik-baik saja, cepat habiskan makananmu biar kamu sehat." jawab Devan. Sekeras apa pun cara Devan menyembunyikan masalah, naluri hati istri tidak bisa dibohongi. Insting seorang istri sangatlah kuat.


Aku tahu ada beban yang menekanmu, tapi kenapa kau tidak mau membagi dukamu denganku? Apa mungkin kau masih ragu untuk menerimaku? Baiklah aku akan coba memahaminya.


Untuk membuat Nuri supaya tidak curiga, Devan memakan sedikit demi sedikit makanannya. Dia tidak akan memberitahu Nuri masalah yang telah dihadapinya, bukan karna tidak ingin jujur tapi dia tidak mau membuat Nuri sedih dan terbebani.


Sehabis makan mereka menonton tv di ruang tamu. Devan ingin menangis saat melihat Nuri tertawa menyaksikan film kucing dan tikus yang tidak pernah akur tapi mereka mendadak bekerjasama setelah anjing besar datang.


Besok aku tidak akan melihat dan mendengar tawamu lagi, maafkan aku Nuri aku tidak bermaksud menyakitimu tapi ini sudah keputusanku.


"Hei kenapa kau melamun? lihatlah mereka bertengkar lagi seperti kita waktu dulu, tapi aku senang sekarang kita bukan kucing dan tikus lagi." kata Nuri sembari menempelkan kepalanya ke bahu Devan. Devan merangkul dan membelai lembut rambut Nuri.


Dengan susah payah Devan melebarkan senyumnya untuk menyembunyikan dukanya dari sang istri.


"Aku ke kamar dulu." kata Devan tiba-tiba.


"Ngapain? filmnya belum selesai Dev."


"Hanya sebentar, kau tunggu saja di sini." Devan tersenyum menatap mata Nuri.


"Hmm. Baiklah jangan lama ya." tanpa ragu Nuri mengangguk.


"Iya."


Cup... mencium kening Nuri cukup lama saat Nuri asik menonton tv.


Tetaplah bahagia, kau berhak bahagia tidak harus bersamaku.


Sembari menahan air mata, Devan bergegas ke dalam kamar. Entah apa yang mau dia lakukan.


"Tak biasanya dia seperti itu, tadi mendadak memelukku sekarang menciumku ada apa dengannya?" ujar Nuri lalu kembali menonton sembari menunggu Devan.


Beberapa menit kemudian,


Devan keluar dari kamar beserta koper merah muda yang didorongnya. Dia pelan-pelan mendekati Nuri, dia tidak tahu keputusannya ini salah atau tepat yang jelas dia tidak ingin Nuri menderita.


"Devan, ayo duduk lagi." pinta Nuri sambil mendongak ke atas belum melihat apa yang Devan bawa.


"Koperku mau kau bawa kemana, Dev?" Saat Nuri melihatnya sontak Nuri berdiri.


"Aku tidak bisa tinggal bersamamu lagi." kata Devan sangat terpaksa.


"Apa maksudmu berkata begitu?" Nuri tercengang dan bingung.


"Apa kau masih tidak mengerti?" tanyanya jelas Nuri menggeleng karna merasa hubungan mereka semakin membaik tapi apa yang Devan maksud telah membuatnya bingung.


Devan menarik Nuri keluar dari rumahnya, dia mengusir menyuruh Nuri pergi dari hadapannya.


"Apa lagi yang mau kau harapkan dari laki-laki sepertiku, tidak berguna." kata Devan.


"Aku menalakmu saat ini juga kau bukan istriku lagi, menjauhlah dariku."


Kalimat talak benar-benar membuat hati Nuri hancur, sampai kalimat itu terngiang beberapa kali di telinganya. Nuri masih berusaha mempertahankan rumah tangganya menyuruh Devan mempertimbang kembali keputusannya.


Namun apa yang Devan lakukan, dia malah menarik cincin pernikahan dari tangan Nuri lalu melemparnya jauh ke tanah. Dan sekali lagi dia membuat Nuri tersakiti, secara tidak sadar tindakannya itu telah membuat Nuri kecewa.


"Kenapa kau lakukan ini Dev, apa kesalahan yang telah ku lakukan?" tanya Nuri.


"Kau tidak salah, aku hanya tidak tahan lagi tinggal bersamamu."


"Tapi kau tidak harus membuang cincin itu, kenapa kau tidak membiarkan aku menyimpannya?"


"Cepat pergi dari sini." bentak Devan tanpa mengindahkan kata-kata Nuri.


"Aku tidak mau, aku ingin di sini aku ingin kau membagi dukamu denganku."


Meski Nuri berisi keras namun Devan tetap menendang koper Nuri dan terus memaksanya pergi lalu menutup pintu rumahnya dengan kasar sampai membuat Nuri terperanjat.


"Dev, aku tidak akan pergi sampai kau membuka pintunya, aku ingin bersamamu."


"Tapi aku tidak ingin kau bersamaku apa kau tidak mengerti." Bentak Devan.


"Pergilah, kembali pada orang tuamu."


"Tidak, aku tidak mau. Kita akan menikah tolong pertimbangkan keputusanmu Dev, apa yang akan ku katakan pada ayah dan ibu jika aku pulang tidak bersamamu?"


"Apa yang ku putuskan sudah tepat, kau katakan saja jika Devan yang menyuruhmu pulang, katakan dia tidak ingin ada pernikahan lagi, dia hanya ingin mengakhiri pernikahan."


"Apa kau serius ingin pernikahan kita berakhir?"


"Aku tidak pernah seserius ini, aku tidak menginginkanmu, aku tidak menginginkan anak itu, kalian hanya membuatku menderita pergilah jangan pernah temui aku lagi."


"Baik Dev, kami akan pergi. Aku berjanji tidak akan menemuimu lagi, tapi sebelum aku pergi kau harus tahu sesuatu."


"Katakan!"


"Dev, aku mencintaimu... aku mencintaimu." ucap Nuri sudah tidak sanggup menahan perasaannya dan kembali menekan kalimatnya menyatakan perasaannya dengan jelas.


Devan hanya bisa menangis tanpa suara, saat mendengar ungkapan hati Nuri. Kata yang ingin di dengarnya kini terucap setelah hubungan mereka berakhir. Devan tidak bisa melakukan apa-apa selain menganggap dirinya bodoh.


Ya Allah, dia telah mengatakannya, apa yang harus kulakukan? Apakah aku salah membuat keputusan ini? tapi aku tidak bisa melihatnya hidup menderita denganku. Aku minya maaf, maafkan aku Ya Allah.


"Sekarang aku lega karna sudah memberitahumu."


"Tapi aku tidak peduli dengan perasaanmu." Devan menyahut bertolak belakang dengan perasaan di hatinya.


"Aku tahu kau tidak akan bisa menerimaku, tapi ingat anak ini tetaplah darah dagingmu. Walau pun hubungan kita telah berakhir tapi ikatan seorang anak dan ayahnya tidak akan pernah putus sampai kapanmu, kau pasti tahu itu Dev."


"Stop! Jangan bahas apa pun, aku bilang kau pergi dari sini. Aku membencimu, Nuri." Devan berteriak padahal dia sedang menahan air matanya supaya tidak keluar.


"Kemana kau akan pergi nanti Dev?" Nuri masih mempertanyakan tentang tujuan hidup Devan setelah mereka mengakhiri hubungan.


"Apa aku perlu memberitahumu? Baiklah aku akan mengatakannya, aku akan kembali ke rumah orang tuaku, aku ingin melanjutkan pendidikanku, aku ingin bebas seperti dulu. Apa kau puas sekarang?"


"Baiklah jika keputusanmu itu sekarang semuanya sudah jelas, aku pergi sekarang Dev."


"Hmm. Pergilah jangan menoleh ke belakang lagi, lupakan saja aku."


Dengan berat hati Nuri melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Suaminya telah mengakhiri hubungan mereka, tapi Nuri tetap tidak akan kehilangan hubungan anak dan orangtuanya dia akan kembali ke rumah ayahnya tempat di mana dia sudah dibesarkan dan mendapat didikan yang sekolah manapun tidak bisa memberikannya. Nuri tak ingin kehilangan harapan hidup meski Devan telah meninggalkannya karna dia masih memiliki anaknya yang tidak akan lama lahir ke dunia.


Sedangkan Devan, sekarang meringkuk di depan pintu dengan kesedihannya. Ingin dia mengejar Nuri dan menghalangi supaya jangan pergi, namun sikap egoisnya telah membutakannya lagi yang membuat dia tidak mempunyai rasa belas kasihan saat mengusir Nuri.


Maafkan aku, Nuri. Aku bukan suami yang baik, aku tidak bisa memenuhi tanggungjawabku. Kembalilah pada orangtuamu, kau layak bahagia bersama mereka.


Asal saja kau tahu aku juga mencintaimu, Nuri. Tetapi aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, sekarang semua sudah terlambat. Selamat tinggal, Nuri berbahagialah bersama ayah dan ibumu.


Part ini mungkin sangat melukai hati kalian, sama author juga sakit dan sedih saat menulisnya. Tapi, author mohon jangan berhenti untuk mengikuti kisah mereka selanjutnya.😊👍👍👍 jangan lupa di like dan vote ya😘