
Aku yakin kali ini tidak akan gagal dia harus mati
Hari ini adalah hari kematianmu, Nuri
Begitu mobil yang Nuri kendarai keluar dari pekarangan rumah, mobil di belakangnya langsung mengikuti dan tancap gas kuat-kuat.
Rupanya sedari tadi ada orang yang sengaja mengintai Nuri dengan niatan jahat untuk mencelakakannya sampai menghabisi nyawanya.
Nuri sendiri pergi keluar dalam suasana hati yang baik, tapi ia tidak sadar bahwa nyawanya dalam bahaya.
Ketika Nuri hendak menancap gas supaya lebih cepat sampai ke tokonya, tepat melewati jembatan gantung tiba-tiba mobil di belakangnya dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke belakang mobil Nuri sehingga Nuri kehilangan arah di depan ada truk bermuatan pasir yang menjadi penghalang jalan.
Nuri dalam ketegangan ia bingung harus membanting setir mobil ke arah mana, ia hanya takut membayakan nyawa orang lain. Dalam sekelebat mata Nuri memutar setir ke pinggir jembatan untuk menjatuhkan diri ke dalam sungai besar.
Byuurrr~Gduaaar
suara mobil yang jatuh dari ketinggian ke dalam sungai kemudian meledak dalam air menyebabkan area sekitar sedikit mendapat guncang yang diberikan oleh ledakkan mobil.
Mampus kamu~haha
Orang yang sengaja menghabisi nyawa Nuri bisa tertawa lepas setelah berhasil membalaskan dendamnya, lalu ia buru-buru kabur agar tak ada yang curiga kalau ia menjadi penyebab kecelakaan tersebut.
↓
↓
Kini ia masih tak sadarkan diri berada di ruangan serba putih, dengan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya seolah menjadi penentu antara hidup dan mati.
Ke dua tangan kekar itu tak akan melepaskan genggamannya dari jemari wanita yang sangat di cintainya hingga ia bisa melihat wanitanya hidup seperti sedia kala.
"Aku mohon jangan begini, buka matamu dan sadarlah." Devan terus mengusap-usap punggung tangan Nuri berusaha menghangatkannya supaya bisa segera sadar.
Devan sedih melihat Nuri terbaring lemah tak berdaya seperti sekarang dan ia berusaha menemukan orang yang sudah mencoba mencelakai Nuri.
Dokter yang menangani Nuri datang untuk melihat perkembangan Nuri sejauh ini selama 24 jam.
"Dok, kenapa belum ada tanda-tanda pergerakan dari anggota tubuh pasien?" tanya Devan.
"Setelah obat yang disuntikkan bekerja pasien akan segera sadar, dari hasil CT-Scan tidak ada yang perlu dikhawatirkan Dok."
Dokter yang menangani Nuri baru saja memberikan suntikkan ke cairan infus Nuri dengan upaya membuatnya cepat sadarkan diri, sekaligus memberikan hasil fotokopi CT-Scan kepada Devan.
"Baiklah Dok, terima kasih."
"Tidak ada. Dia hanya teman saya, dok."
"Oh begitu. Keluarga pasien sudah datang?"
"Belum. Mungkin sebentar lagi, dok."
"Kalau begitu saya lanjut nugas lagi, dok."
Dokter tersebut berlalu pergi, Devan juga akan pergi karna ia juga punya pasien yang harus dirawat.
"Nur, segeralah sadar aku akan datang lagi setelah tugas ku semua selesai. Kamu jangan takut aku di sibu 24 jam menjagamu dari orang-orang yang berniat menyakitimu." tutur Devan sebelum ia pergi meninggalkan Nuri.
Beberapa jam setelah Devan keluar dari ruangan tempat Nuri di rawat, Nazmi bersama Nayla datang menjenguk Nuri. Sebenarnya ada Pak Aryo, Bu Aliya, dan Bu Rahma juga ikut tetapi karna pandemi Covid-19 sudah mulai memasuki Indonesia jadi penjenguk pasien sudah dibatasi, dan mereka terpaksa menunggu di dalam mobil.
Dokter kembali memeriksa kondisi Nuri, sekarang Nuri sudah sadarkan diri ia dapat melihat wajah Nazmi dan Nayla dengan baik ada di sampingnya mendampinginya.
"Bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi, Nur?" tanya Nazmi penasaran.
"Nur tidak tau kak."
"Kita semua cemas kamu tau itu."
"Sorry kak Nazmi, ga bakal terulang lagi kok."
"Bunda, Nayla takut sekali kehilangan bunda. Bunda jangan seperti ini lagi ya. Cepat sembuh bunda sayang. Muach." ucap Nayla kemudian mencium pipi sang bunda.
Nuri tersenyum sembari berusaha memeluk putrinya, "Jangan khawatir sayang, bunda baik-baik aja kok."
Nuri menarik nafas santai ia mengingat kembali kejadian itu.
"Nuri hanya ingat mobil Nuri diserempet dari belakang seolah-olah itu disengaja sehingga Nuri kehilangan kendali, dan akhirnya menjatuhkan diri ke dalam sungai."
Berat memang berat bagi Devan ketika melihat Nuri dan Nayla berada di samping Nazmi. Devan terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui Nuri yang telah sadarkan diri karna tak mau merusak ke tentraman yang tercurah dari kasih sayang Nazmi. Ia pun melihat Nuri makan disuapi oleh Nazmi, padahal sebelum mereka datang Devan sudah merencanakan untuk menyuapi dan merawat Nuri tetapi semua gagal.
"Bukan aku yang menjagamu, Nur. Nazmi selalu menang selangkah dariku."
Devan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus kasar.
"Kalian terlihat sangat serasi."