Devan & Nuri

Devan & Nuri
Sama Persis



Nuri terkejut ketika pulang ke rumah melihat ayah dan ibunya juga bu Rahma ada di dalam rumahnya. Mereka menyadari kedatangan Nuri lalu menyuruhnya mendekat.


Ada apa mereka kemari? Semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Gumam Nuri sembari berjalan mendekat dan dia pun diperintahkan untuk duduk sebelumnya Nuri menyalami para orang tua yang sudah menunggunya.


"Di mana Nayla, Bu?" Nuri bertanya pada ibunya karna takut terjadi sesuatu sama anaknya.


"Nayla sudah tidur Nak, kamu tumben lama banget dari toko biasanya jam 8 udah datang." selidik ibu.


Nuri hanya diam menatap ketiga orang tua itu, jika dia jujur bahwa seharian dia menunggu Devan di rumah sakit mungkin ayah dan ibunya tidak akan menyukai hal itu.


"Ibu, ayah, bu Rahma ada apa ini, kenapa kalian kemari?" tanya Nuri bingung.


"Sayang, kamu sama dokter Nazmi kan udah lama banget saling kenal, Nayla juga dekat banget sama dia seperti anak dan ayahnya. Selain itu dokter Nazmi juga telah merawat ayahmu sampai sembuh, apa lagi yang kamu pikirkan tentang Nazmi, Nak. Apa dia masih kurang baik bagimu?"


"Kak Nazmi memang sangat baik tidak ada keburukan yang Nuri pikirkan tentang dia, tapi apa maksud ibu bicara seperti ini? Apa kalian punya maksud lain datang kemari?" Nuri mulai merasakan mereka akan membahas pernikahan lebih serius.


"Bu Rahma, apa maksud kalian?" Nuri kembali bertanya.


"Nuri, kamu sudah seperti putri bunda nak dari awal kita bertemu bunda sudah sangat menyukaimu, bunda sayang sama kamu dan Nayla. Bunda rasa untuk menyatukan kalian hanya pernikahanlah jalan satu-satunya." jawab Bu Rahma, Nuri tak mampu bergedik mendengarnya.


"Benar Nak, kamu jangan memikirkan dirimu sendiri pikirkan juga Nayla, dia memerlukan sosok ayah bagaimana jika dia tahu jika kamu dan Nazmi bukan suami istri, bila kalian sudah menikah itu akan memudahkannya untuk menerima status kalian." kata ibu. Sejenak Nuri tertunduk bingung harus menjawabnya dengan apa, Nuri tak punya alasan untuk menolak pernikahan tetapi dia juga tidak bisa menikah untuk detik ini.


"Tolong beri Nuri waktu untuk menjawab semuanya, Bu Rahma." jawab Nuri tidak ada yang bisa dikatakan saat itu.


"Baiklah Nak, kami akan menunggu keputusan darimu. Kebetulan juga sudah malam, bunda pamit dulu Nazmi pasti sudah datang dari rumah sakit." Bu Rahma berpamitan dan mereka mengantarnya sampai ke depan pintu.


"Hati-hati di jalan, Bun."


Bu Rahma pun pulang bersama supirnya, Nuri bersama orang tuanya masuk ke dalam rumah tetapi Nuri langsung masuk ke kamarnya.


Dia pun mengambil gawai dari dalam tasnya, kemudian mencoba menghubungi Nazmi. Nuri sangat kesal dengan rencana pernikahan karna itu dia ingin membicarakan hal ini pada Nazmi dengan baik-baik. Telepon mereka pun terhubung seusai mengucapkan salam, Nuri langsung membahas inti pembicaraan.


"Gimana ini kak?"


Ada apa Nur, kenapa kamu terdengar gelisah?


"Apa kakak tidak tahu orang tua kita ingin kita segera menikah, tadi bunda kakak sama ayah dan ibu datang ke rumah membahas pernikahan."


Demi Allah aku tidak tahu akan hal itu Nur, aku bekerja di rumah sakit sebelumnya bunda juga tidak pernah membahas hal ini lagi.


"Iya kak, Nuri tahu kakak juga sudah mengatakan pada bunda kalau Nuri belum siap menikah, Nuri sangat berterima kasih kakak banyak sekali membantu Nuri, tapi Nuri bingung sekarang kak bagaimana jika mereka juga menetapkan hari pernikahan, Nuri sangat bingung kak?"


Sesulit itukah bagimu untuk menikah denganku, Nur? Tapi kamu jangan khawatir Nur, aku tidak akan mengecewakanmu.


Nur, alangkah lebih baik kamu katakan pada ayah dan ibumu kalau kamu tidak siap menikah denganku. Jika mereka bertanya alasannya, katakan saja apa yang kamu rasakan terhadapku.


"Kak, Nuri jadi tidak enak sama kakak."


Nur, aku ini kakakmu jangan merasa tidak enak. Lebih baik kamu jujur Nur dari pada harus berbohong pada orang tua, jangan buat mereka berharap soal hubungan kita.


"Hm... Nuri akan melakukan apa yang kakak katakan, sekarang Nuri tutup dulu teleponnya kak, assalamualaikum."


Tuttt


Nuri pun mengakhiri telepon mereka. Dia menoleh dan duduk di atas tempat tidur sembari membelai rambut Nayla yang berantakkan.


"Maafin bunda, nak. Bunda tidak bisa menikah dengan ayah Nazmimu, bunda tahu kamu sangat menyayanginya hanya bunda masalahnya sekarang, maafin bunda ya nak tidak bisa mewujudkan harapanmu." tutur Nuri, air matanya mengalir pelan diciumnya kening Nayla dengan rasa menyesal. Setelah menghapus air mata di kedua sudut matanya, Nuri meninggalkan Nayla di kamar dan dia memilih keluar tetapi ayah dan ibu langsung memanggilnya.


"Nur, ibu heran sama kamu kenapa masih mikir-mikir untuk menikah, Nazmi kurang apa nak?"


"Ayah, ibu, kak Nazmi nyaris sempurna jika manusia ada yang sempurna maka dia lah orangnya, tapi hanya Nuri masalahnya bu."


"Kenapa denganmu, Nak? Jangan bilang kamu masih memikir laki-laki yang sudah menelantarkanmu itu?"


"Nuri minta maaf Bu." meraih kedua tangan ibunya sambil menciumnya.


"Kenapa Nur?" ibu dan ayah mulai tidak senang mendengarnya.


"Sejujurnya Nuri masih cinta sama Devan, bu. Nuri tidak bisa menghilangkan perasaan itu dengan mudah walau setelah apa yang dia lakukan pada Nuri, tapi sekarang dia sudah berubah bu, dia sudah jauh lebih baik tidak kejam seperti dulu." ungkap Nuri


"Apa katamu? Dia berubah, sadar nak dia sudah tiada, sudah lama dia meninggalkanmu, hanya Nazmi yang bersamamu selama ini." ibu emosi saat mendengar Nuri membela Devan.


"Selama ini Devan pergi karna dia punya tujuan Bu, dia melanjutkan pendidikkannya demi Nuri dan Nayla. Percayalah Yah, Bu, Devan tidak seperti yang kalian pikirkan."


"Oh jadi kamu berharap dia kembali begitu?" bentak ayah langsung membelakangi Nuri, dia tidak sudi mendengar nama itu.


"Tapi Devan benar-benar sudah kembali, Yah, Bu. Devan membuktikan semua kata-katanya pada Nuri, apa ibu tahu dia sekarang seorang dokter, dia baik dan tidak kasar lagi.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami kalau selama ini kamu sering bertemu dengannya?" ibu bertanya dengan tegas. Nuri menundukkan kepala.


"Nuri takut ayah dan ibu akan marah, Nuri takut kalian menyakiti Devan. Sementara Nayla, kita tidak bisa menutupi kebenarannya sampai kapan Nayla akan berpikir kak Nazmi adalah ayah kandungnya. Jika dia besar nanti dan akan menikah apa yang akan kita katakan padanya Yah, pasti ayah kandungnya yang dapat menikahkannya."


"Katakan saja padanya kalau ayahnya sudah meninggal, ibu tidak sudi mendengar Nayla memanggilnya ayah."


"Ya Allah bu jangan bicara begitu, Devan masih hidup dan sekarang dia ada di sini bagaimana mungkin kita merahasiakannya. Ayah, Ibu cobalah untuk memaafkannya karna itu hanya masalalunya siapa tahu sekarang dia benar-benar berubah." Nuri meraih tangan ayah dan ibunya sambil memohon, ayah menangkap bahu Nuri dan membuatnya berdiri tegap.


"Lalu kenapa orang jahat tidak bisa berubah, ayah yang baik juga bisa menjadi orang jahat, kenapa dari dulu ayah tidak pernah bisa mempercayai Devan lagi? Apa salahnya ayah dan ibu coba berbaik sangka padanya."


"Karna dia telah membuat putri ayah kecewa dan menyakiti putri ayah nak, kamu tidak mengerti betapa menderitanya ayah saat dia menelantarkanmu makanya sampai sekarang ayah tidak menyukainya." Seketika Nuri menunduk meredam segala emosinya karna tersentuh ucapan ayah.


"Nuri, pikirkan lagi keputusanmu atau kamu akan menyesal nantinya. Ingat nak kesempatan baik tidak selalu datang dua kali." rayu ibu.


"Ayah, ibu maafkan Nuri sudah berani membantah kalian. Nuri akan memikirkan kembali keputusan Nuri. Ayah, Ibu jangan katakan pada Bu Rahma jika Nuri sempat menolak lamarannya."


*


*


Terjadi tabrakan di jalan tidak jauh dari rumah Nuri sore itu. Nuri yang sedang menuju rumahnya melihat ada keramaian di depan, dia pun menghentikan mobilnya menunggu jalanan kembali normal. Seseorang datang meminta bantuan padanya karna memang jendela mobil Nuri yang terbuka, orang itu menyuruh Nuri untuk turun dan sekaligus meminta izinnya untuk membawa korban menggunakan mobilnya. Nuri tentu saja senang membantu orang, tetapi dia kaget ketika melihat korban kecelakaan.


Devaaan...


begitulah serunya, 2 orang mengangkat Devan masuk ke dalam mobil Nuri. Nuri sendiri masih tertegun di dekat mobil Devan yang penyok, dia sedikit syok bertemu Devan dalam keadaan terluka setelah beberapa menit Nuri pun menyusul mobilnya.


"Jangan bawa aku ke rumah sakit." rengek Devan suaranya sangat kesakitan, bagaimana tidak kaki dan tangannya terluka, kepalanya sedikit sobek.


Dia kan sedang terluka parah kenapa tidak mau ke rumah sakit. Nanti kalau ada apa-apa aku yang disalahin gimana.


"Kita ke rumah sakit saja biar segera dapat pengobatan." ucap Nuri.


"Tidak! Aku tidak mau!" lirih Devan yang hanya bisa bicara pelan.


"Lalu aku harus bawa kamu ke mana?"


"Ke mana saja asal jangan rumah sakit. Cepat badanku sakit."


"Iya, ya sabar. Aku juga lagi mikir mau ke mana?"


Nuri sedikit kesal dalam keadaan terluka pun Devan masih bisa juga rewel.


"Cepat! Aku sudah tidak tahan sakit banget."


"Iya sebentar baru aja nyalain mobil, bisa enggak sih jangan berisik."


kemudian Devan pun terdiam dengan sendirinya, dia hanya bisa kesakitan duduk di kursi belakang. Nuri bisa mengamatinya dari cermin mobil, melihat darah yang banyak keluar Nuri sudah tidak punya pilihan selain membawanya ke rumah karna Devan harus segera diobati atau dia bisa kehilangan banyak darah.


Setibanya di rumah, Nuri segera meminta bantuan tetangga untuk membawa Devan masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di kamar. Nayla melihat orang ramai-ramai di luar rumah segera berlari keluar. Dia mengenali laki-laki yang di bawa masuk oleh tetangga.


"Bunda, om itu..." Nayla menunjuknya.


"Om itu kecelakaan nak. Nayla bisa bantu bunda kan ambil air dan baskom juga kain lap kita harus membersihkan lukanya secepat mungkin." pinta Nuri.


Devan sudah terbaring tanpa sadarkan diri di kamar Nayla.


"Terima kasih paman sudah membantu saya." ucap Nuri.


"Sama-sama nak, kami permisi dulu." mereka pun beriringan keluar dari rumah Nuri.


Tak lama kemudian Nayla pun datang membawa benda yang diminta oleh bundanya. Nuri segera membersihkan noda darah dan mengompres luka Devan. Nayla sendiri duduk di samping Devan di atas tempat tidur sambil sesekali memperhatikan bundanya sedang membelai tangan Devan. Nuri tersenyum pada putrinya, Nayla juga tersenyum lalu mengambil cermin makeup dari tas ibunya. Dia melihat pantulan dirinya sendiri di dalam cermin sambil sesekali melihat wajah Devan lagi yang seolah mirip dengan dirinya. Nuri tidak menyadari bahwa Nayla sedari tadi mengamati Devan.


"Bunda, Nay tahu siapa om ini." ucapnya sontak membuat Nuri kaget terbelalak.


"Kamu mengenalnya Nak, di mana kalian pernah bertemu?" tanya Nuri lembut.


"Dia om dokter yang sudah menyelamatkan Nayla dari mobil, Bun saat Nay sedang mengejar Mily bahkan om ini sudah beberapa kali bertemu Nayla." jelas Nayla. Mily itu kucing kesayangan Nayla.


Jadi selama ini Nayla lebih dulu bertemu Devan dibanding aku, kenapa aku tidak bertanya dari awal siapa om dokter itu.


"Oh. Tapi ingat ya Nay jangan mudah akrab sama orang asing."


"Iya bunda, Nay paham kok."


Dev, ayo buka matamu segeralah sadar. Lihatlah sekarang Nayla ada di depanmu. Buka matamu, Dev.


"Bunda, coba lihat wajah Nay!" seketika Nuri mengamati Nayla.


"Kenapa sayang?" tanya Nuri bingung


"Bukankah Nay mirip sekali sama om dokter. Hidung, mata dan bibir Nay mirip banget." tutur Nayla. Nuri tak bisa pungkiri pendapat Nayla sangatlah benar mereka memang mirip karna status Devan adalah ayah kandungnya.


"Hanya kebetulan kali nak, banyak kok orang yang mirip wajahnya tanpa ada hubungan darah." jawab Nuri dengan alasannya.


"Bukan hanya itu bunda, tapi Nay merasa sayang pada om ini." Nayla tetap kekeh pada firasatnya.


"Bukankah sesama makhluk ciptaan Tuhan harus saling menyayangi."


"Tapi rasanya beda Bunda, seperti Nay sayang sama Bunda." kata Nayla.


"Sudah Nay jangan mikir yang macam-macam. Nay masuk kamar bunda belajar terus tidur nanti bunda menyusul."


"Baik Bunda." Nayla yang tidak pernah terpikir olehnya siapa laki-laki yang sedang bersama mereka hanya bisa percaya pada bundanya dan kembali ke kamar untuk mentaati perintah ibundanya.