Devan & Nuri

Devan & Nuri
Hikmah Dari Masalah



Siang itu, di hari ketiga pernikahan Devan bersama Nuri diusir dengan lancangnya oleh sang ayah. Saat Devan dan Nuri kembali ke rumah mereka terkejut mendapati barang-barang mereka di angkut keluar. Devan bahkan sampai bersimpuh di bawah lutut sang ayah agar ayahnya menarik keputusannya kembali, namun ternyata kekecewaan di benak sang ayah sudah tidak bisa ditahan lagi sampai ia rela mengusir anak kandungnya sendiri.


"Pergi kalian dari sini, jangan pernah temui kami lagi." suara papa menggelegar saat amarahnya sudah tak dapat dibendung.


"Pa, Devan mohon jangan usir kami, kami tidak punya tempat untuk bernaung, ke mana kami akan pergi di cuaca mendung seperti ini, pa, ma, kak kenapa kalian semua tidak mau memberi kami kesempatan."


"Mama, kakak kenapa kalian diam saja tolong bujuk papa biarkan aku tetap tinggal di sini." rintih Devan seraya membujuk mama dan kakaknya.


Papa menarik tangan Devan menyeretnya keluar dari rumah. Papa bahkan tidak segan melempar barang-barang Devan secara kasar ke depan wajah Devan. Sementara, mama dan sang kakak hanya diam saja. Mereka tidak mampu melawan kehendak papa meski sejujurnya mama tidak tega melihat anak bungsunya diusir dengan cara yang cukup tragis.


"Ingat Dev, mulai detik ini kau bukanlah anakku, kau bukan putraku lagi."


Devan menatap mata sang ibu berharap ibunya mau membujuk sang ayah, namun saat itu ibu benar-benar tidak berdaya.


"Jika kau ingin mendapat kepercayaan kami lagi maka kau harus buktikan kalian bisa hidup tanpa kami dan perbaiki hubunganmu dengan istrimu."


walau bagaimana pun marahnya orang tua, mereka masih memberi jalan untuk anaknya.


"Pa, bagaimana aku bisa hidup tanpa bantuan kalian, aku tidak punya pekerjaan apa yang akan aku lakukan di luar sana Pa?"


"Pergilah, kami tidak ingin mendengar alasan apapun lagi." Papa mendorong Devan ketika Devan ingin mendekati dirinya, dan dengan keras papa menutup pintu rumahnya rapat-rapat.


"Ayo Dev, kita pergi dari sini tidak ada hak lagi untuk kita berada di sini." Nuri berusaha membanty suaminya bangkit.


"Apa kau tidak sadar, papaku mengusirku semua ini karnamu, aku benar-benar kehilangan segalanya."


"Apa yang kau katakan Dev?"


"Mengapa kau hamil? aku tidak pernah menyuruhmu hamil, aku tahu kau sengaja ingin menghancurkan masa depanku kan? sekarang kau bahagia melihatku diusir oleh orang tuaku."


Walau Devan terus membentak dan berkata kasar, Nuri kala itu tetap sabar meredam emosinya.


"Aku beritahu padamu, sampai kapan pun anak ini tidak akan mendapat pengakuan dariku, aku tidak menginginkan dia."


"Devan, kau belum tidur?" ingatan Devan tiba-tiba buyar ketika Nuri masuk ke kamar.


"Aku menunggumu, emm gimana pesanan kuemu?"


"Alhamdulillah orderan besok ada 8 kotak kue pukis dan 5 kotak kue brownies lumayankan Dev, bisa nambah uang tabungan buat persalinan nanti dan untuk kita sehari-hari."


"Bagaimana kerjamu hari ini, semuanya lancar kan?" Nuri bertanya balik.


"Iya lancar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang mau aku berikan padamu."


"Apa itu?"


"Sebentar ya." Devan berangsur turun untuk mengambil dompetnya, lalu dia kembali menghampiri Nuri di tempat tidur.


"Ada apa Dev? apa kau perlu uang?"


"Tidak bukan itu, tapi aku ingin memberikan gajiku kepadamu, iya memang ini bukan gaji pertamaku ini gaji kesekian kalinya tapi setelah hubungan kita membaik maka aku percayakan kepadamu untuk mengatur semua keperluan di rumah ini karna itu aku ingin kau yang memegang uang gajiku."


"Aku yakin dari pada aku yang pegang uang maka uangnya akan habis tak menentu aku tidak mau seperti itu lagi, jadi apakah kau mau menerimanya?"


"Hmm, iya aku akan menjadi bagian keuangan mulai sekarang dan kau mulai menjadi boss." canda Nuri.


"Kau ini ada-ada saja, tapi kata orang ucapan istri adalah doa semoga ya kelak suamimu ini bisa jadi boss walaupun boss toko fotocopy."


Dengan manjanya Nuri membaringkan kepalanya di atas pangkuan Devan sementara Devan mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Dev, apa kau ingat bagaimana papa mengusir kita saat itu?"


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?"


"Aku merasa papa tidaklah seburuk yang kau pikirkan, coba kau pahami Dev bagaimana mereka telah mengusir kita tetapi mereka nyatanya masih membelikan rumah ini untuk kita, bukankah itu tandanya mereka masih peduli pada kita."


Ternyata Devan dan Nuri memiliki pemikiran yang sama, Devan juga memikirkan hal tersebut sedari tadi.


Sehingga mereka berdua berpendapat bahwa orang tua mereka tidak mengusir mereka secara cuma-cuma melainkan untuk memberi mereka pembelajaran. Devan dan Nuri semakin yakin jika sebenarnya orang tua mereka sangat peduli buktinya mereka masih diberi tempat untuk bernaung meski dengan embel-embel semata demi cucunya dan untuk memperkuat bukti mereka masih memikirkan kelangsungan pernikahan anak-anaknya meski dalam keadaan masih tertekan tapi sebenarnya itu salah satu bukti yang nyata dari kepedulian mereka. Devan dan Nuri pun menemukan sebuah pelajaran berharga dengan adanya peristiwa tersebut, mungkin inilah cara orang tua yang sengaja mengirim anaknya ke tempat asing agar sang anak mampu bergerak maju sehingga mereka bisa bangkit dan mampu memperbaiki pernikahan mereka sendiri walau harus dengan cara sedikit keras tetapi mereka berdua mulai memahami maksud dan tujuan di balik kekecewaan dan marahnya orang tua.


Di bawanya sang istri ke dalam dekapannya, Nuri senang bisa kembali merasakan pelukkan hangat dan belaian lembut dari Devan.


"Jika papa tidak mengirimku ke tempat ini dan aku masih berada di sana mungkin aku masih menjadi anak manja, mungkin aku tidak bisa menerimamu seperti sekarang karna merasa hidupku terjamin di sana, tapi dengan adanya kejadian itu aku justru bersyukur karna bisa merasakan seperti apa hidup susah tanpa harta sedikit pun, dan disaat aku susah ada kamu yang mau berjuang bersamaku dari nol saat aku benar-benar terpuruk dan jatuh tidak memiliki apapun."


"Aaa aku jadi terharu ginikan, udah ah jangan diteruskan."


"Uh dasar cengeng, baperan banget." sembari mengejek Devan tetap mengusap wajah istrinya dengan lembut menyapu air matanya.


"Tidur yuk!" ajak Nuri menyudahi obrolan mereka.


"Kamu tidur dulu ya, masih ada pekerjaan yang harus ku kerjakan tadi boss menyuruhku untuk mengetik makalah anak SMA."


"Dengan apa kau akan mengetiknya, kita bahkan tidak punya laptop."


"Itulah baiknya bossku, dia mempercayaiku untuk membawa laptopnya."


"Baiklah kau ketik saja dulu tapi ingat kalau matamu sudah mengantuk jangan ditahan segera pergi tidur kerjanya kan bisa dilanjut besok, aku tidak mau imamku sakit lagi."


"Iya aku akan mendengarkan nasehatmu, sini aku bantu berbaring."


Devan pun pelan-pelan melabuhkan tubuh Nuri ke atas tempat tidur lalu memberikannya selimut.


"Ayo tidur, kenapa melihatku seperti itu entar naksir kamu nya." usik Devan.


"Sudah jangan mengusikku cepat kerjakan pekerjaanmu." sahut Nuri.


"Selamat tidur, Nuri." sambil mengusap pelipis kepala Nuri.


"Selamat bekerja juga, Dev." tutur Nuri.


Devan tersenyum melihat sang istri tersenyum, tak lupa sebelum pergi dia menyempatkan mencium kening istrinya seperti apa yang dilihatnya saat kakaknya selalu mencium kakak iparnya sebelum tidur. Saat ciuman itu mendarat Nuri serasa melambung ke udara. Nuri benar-benar merasa semakin diperhatikan oleh Devan yang membuatnya senyum-senyum sendiri sambil mengumpatkan setengah wajahnya di balik selimut.