Devan & Nuri

Devan & Nuri
Anjing Galak



Penampilan Devan kali ini saat akan menemui Nuri berbeda dari biasanya, bukan memakai setelan kantor atau baju kaos dan sweater melain memakai pakaian satpam. Entah dari mana dia mendapatkan kostum seperti itu, walau pun penampilannya nyeleneh tapi dia tetap sempurna di mata wanita terkecuali Nuri. Devan berjalan dengan gagah menuju toko bakery.


"Hai cantik."


"Hallo manis."


"Si montok."


Tingkah playboy masih bertebaran di mana-mana menyapa setiap wanita yang lewat, membuat wanita itu berebut minta difoto dengan Pak Satpam keren tetapi dengan lagaknya Devan langsung kabur saat wanita-wanita itu bertengkar. Tetapi sebaliknya bagi Nuri justru Devan terlihat buruk.


Nuri menggerutu dalam hati sambil menunjukkan wajah datarnya.


Masih saja begitu goda sana sini, sama seperti waktu masih sekolah. Dasar kecebong air enggak akan pernah berubah.


"Hallo Bu Nuri." Devan mengdipkan mata kanan sewaktu menyapa Nuri yang keluar menghampiri dirinya.


"Katakan kau mau kemana? aku siap mengantarmu serta menjagamu dengan selamat. Bagaimana aku kerenkan? tadi di sana banyak wanita yang mengejarku, tapi kenapa mukamu masam?" kata Devan yang tak menentu arah bicaranya.


Hufff


Nuri memutar bola matanya, mendesah kasar. Setiap bertemu ada saja kelakuan yang Devan perbuat.


"Apa yang kau lakukan?" ujar Nuri menatapnya heran.


"Menjadi satpam untuk menjagamu, Nona." jawab Devan sambil senyum centil.


"Sepertinya aku kenal baju ini?" Nuri mengelilingi Devan. Dia merasa mengenali seragam yang Devan gunakan, rasanya setiap hari dia melihatnya.


"Kau mencuri ya?" tanya Nuri. Seragam tersebut milik Pak Mus, satpam yang menjaga keamanan sekitar dan Pak Mus mempunyai anjing hitam besar yang sangat galak.


Shutt


"Jangan keras-keras, aku tidak mencuri cuma pinjam sebentar." imbuh Devan memelankan suara.


"Kembalikan seragamnya atau kau akan terkena bala nanti." ujar Nuri.


"Bala apa? Aku tidak mencuri nanti juga aku kembalikan." Devan malah menertawakan seolah tak percaya.


"Kau tidak perlu seperti ini untuk menemuiku. Cepat sana kembalikan." perintah Nuri.


"Lalu aku mau pakai apa jika di kembalikan?"


"Aku tidak tahu itu, kau harus kembalikan ke tempat asalnya sebelum Pak Mus dan anjingnya mencarimu."


Hahaha


"Siapa Pak Mus? Apa dia pawang anjing?" Devan tertawa.


"Ya Tuhan! Ayo masuk sembunyi di dalam nanti aku akan bicara padanya."


"Hei katakan dulu siapa Pak Mus?"


"Pemilik seragam ini! Kau pasti menyolongnya di toiletkan tadi?"


"Iya tapi bajuku di sana, di rumah makan."


"Sudah, sudah! Kita tidak punya waktu cepat sembunyi di dalam."


"Tidak, aku ke sana saja temui Pak Mus."


Saat Nuri akan masuk ke dalam toko, sementara Devan hendak berlalu ke rumah makan tiba-tiba terdengar suara anjing galak menggonggong.


gug gug gug gug


"Black itu dia orangnya!" teriak Pak Mus menunjuk Devan.


Anjing itu menyorotkan mata buasnya ke arah Devan, dengan kencang dia berlari. Devan kebingungan akan bersembunyi di mana tak ada pilihan baginya selain berlari menghindar. Tetapi, Devan tidak tahu kalau dengan berlari justru anjing semakin bersemangat mengejarnya.


Kenapa larinya makin kencang? Selamatkan aku darinya, Tuhan.


Sambil menoleh sekilas ke belakang berlari pontang-panting, terjatuh, tersungkur, terbirit-mirit berpijak di atas tanah yang di tumbuhi anak ilalang.


gug gug gug errr


Anjing terus menggonggong, Devan mengumpaninya dengan kayu yang anjing itu pikir adalah tulang. Devan terlepas dari kejaran anjing setelah anjing itu mengejar kayu yang di lempar oleh Devan. Baru saja sekali Devan menarik nafas dengan lega, anjing itu rupanya tahu tipuan dari Devan sehingga dia semakin mengamuk dan kembali mengejar dengan buas. Suara keras si anjing benar-benar membuat Devan takut. Karna dia membenci anjing, karna keganasannya mengejar Devan kecil sampai sekarang Devan jadi takut melihat anjing.


Sementara di toko, pegawai Nuri maupun pelanggannya berhamburan keluar dan menertawakan Devan sedang di kejar anjing Pak Mus yang kelaparan di belakang toko Nuri. Jika tidak di hentikan maka tamatlah Devan jadi mangsa anjing tersebut. Nuri tidak tega bagaimana pun Devan melakukan itu untuk dirinya.


"Baik Nona. Ayo kita kejar mereka." kata Pak Mus. Nuri pun ikut mengejar Pak Mus.


Devan sudah tercebur ke dalam kali, dia teler dan sempoyongan anjing itu masih mengejar tanpa ampun.


errr gug gug gug gug


si anjing mengangakan mulutnya dan terlihat gigi-gigi berduru yang tajam itu seakan siap menyantap mangsa di depannya.


Hah anjing juga bisa berenang ya, aduh aku harus kemana?


Devan gelisah dan panik memikirkan kemana dia akan berenang jika anjing saja bisa berenang. Akhirnya, Devan mematikan diri dengan menyelam di dalam air.


Kikuk kikuk!!!


Untunglah Pak Mus cepat datang dan memanggil Black dengan suara kikuk. Black yang penurut langsung naik ke atas daratan menghampiri majikannya. Nuri berlari ke pinggir kali dan tanpa sengaja menyambut tangan Devan naik ke daratan.


"Apa aku bilang, jangan nyolong baju orang. Kau tetap usil sama seperti dulu, karna keusilanmu itu kita sering di hukum sama guru." kata Nuri kesal tapi tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


"Ternyata kau masih mencemaskanku." lirih Devan tersenyum. Nuri kontan tersadar langsung melepaskan genggaman tangannya.


"Jalan sendiri." Nuri kembali ketus tetapi Devan selalu membalasnya dengan senyuman.


"Lain kali jangan nyolong baju orang, enakkan dikerja si Black." Pak Sam mendekati Devan.


"Saya minjam enggak nyolong. Sini kembalikan baju saya, pak." pinta Devan seraya menarik bajunya dari tubuh Pak Sam.


"Enak saja minta kembalikan, Saya enggak mau. Lagi pula mana ada orang minjam tanpa minta izin dulu, kalau bukan nyolong namanya."


"Ya sudah saya bayar tapi kembalikan baju saya, pak."


"Ayo Black kita pergi." kata Pak Sam sembari memapah anjingnya tanpa menghiraukan Devan.


"Ah. Jass 100 juta ku. Yah dibawa pergi."


Devan meneriaki minta bajunya dikembalikan, betapa kesalnya dia memakai seragam satpam. Pak Sam tertawa belakangan, tentu saja dia nyaman memakai baju itu dibanding bajunya yang sudah dikotori oleh Devan.


*****


Toko Bakery Nuri


"Itu air kali atau comberan sih, tubuhku jadi bau banget." protes Devan. Rasanya dia akan muntah bau angit menyengat di tubuhnya.


Nuri sebenarnya sedari tadi ingin menertawakan ekspresi Devan yang sudah terkena bala tapi tetap saja masih menggerutu. Nuri menahan tawanya karna jika tertawa itu akan membuat Devan tambah kesal.


"Untung saja si Black tidak mengoyak-ngoyak dagingmu." usil Nuri.


"Kau senang, kau bahagia aku dikejar anjing, hah?" sahut Devan cemberut.


Nuri mengambil handuk yang tersedia di almari di dalam ruang kerjanya. Lalu menyuruh Devan untuk mengeringkan tubuhnya. Devan mengambil handuk yang Nuri berikan, lalu dia masuk ke kamar yang juga menyatu dengan ruang kerja Nuri. Kamar itu tempat biasa Nuri beristirahat di siang hari.


"Bagaimana aku ke rumah sakit jika penampilanku seperti ini?" Devan gelisah.


"Beli saja, gampangkan." kata Nuri.


"Enak banget bilang beli, kau tahu harga jass itu saja 100 juta belum lagi kemejanya.Aku beli pakain uang bukan daun." keluh Devan.


Hahaha


"Lagian sih kamu terlalu usil, kena batunya sekarang."


"Aish! Kau bukannya membantu malah mengejekku."


"Aha aku ada ide, tapi kalau kamu mau."


"Apa?"


"Tunggu sebentar!"


Nuri meninggalkan Devan sebentar di kamar. Dia mengambil kostum berbentuk penguin dari gudang yang biasa pegawainya gunakan untuk mengundang dan menghibur pelanggan.


"Kau menyuruhku memakai ini?" mata Devan terbelalak. Nuri mengangguk sambil tersenyum.


"Pakai saja dari pada basah kan?" paksa Nuri.


"Tidak tidak tidak. Norak banget." bantah Devan sembari menyingkirkan kostumnya. Dia merasa malu jika harus memakai pakaian seperti itu, terlihat aneh dan tidak cocok baginya.