
Hari-hari telah berlalu dengan sempurna. Di mana Devan dan Nuri mulai saling menerima dan ingin memperbaiki hubungan mereka kembali seperti semula. Devan bahkan sudah jarang bergaul dengan teman-temannya, bisa dibilang sudah tidak pernah lagi menemui teman-temannya apalagi menemui wanita bernama Keysa. Bahkan Devan sudah menukar nomor ponselnya agar wanita itu tidak mengganggu, Devan melakukan semua itu demi keutuhan pernikahannya.
Devan dan Nuri mulai mempunyai rasa sayang satu sama lain, hanya saja keduanya enggan berucap kata cinta, keduanya hanya menunjukkan rasa sayang dari tindakan dan kelembutan yang selalu mereka berikan ke pada pasangan.
"Mulai malam ini kita tidak perlu tidur terpisah lagi, karna aku akan menjadi suami sekaligus ayah yang bertanggungjawab untukmu dan anak ini." tutur Devan meyakinkan Nuri sambil menggenggam erat tangannya. Tangan kirinya menarik koper Nuri untuk di pindahkan ke dalam almari yang sama.
Nuri masih takut, di matanya masih ada keraguan dan ketakutan jika suatu saat Devan akan kembali menyakiti dan kasar padanya. Tetapi, seorang Devan terus meyakinkannya lewat tutur katanya yang lembut sampai berhasil membuat Nuri tersenyum.
Devan beranjak sejenak sambil menyuruh Nuri naik di ranjangnya, diliriknya jari manis kiri Nuri juga tidak memakai cincin kawin mereka. Akhirnya Devan mendekat mengambil cincin pernikahan mereka yang sudah sama-sama mereka lepas, Devan berangsur naik ke tempat tidur sembari meraih jemari Nuri.
Nuri terharu saat suaminya kembali melingkarkan cincin pernikahan di jari manisnya, begitu pun sebaliknya Devan juga dipakaikan cincin oleh Nuri karna Devan mau memperbaiki semua kejadian yang telah dia perkeruh selama ini.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel Devan, mereka mendapat telepon dari mamanya Devan. Nuri ketakutan saat melihat nama yang tertulis di layar ponsel Devan, Devan pun enggan untuk mengangkat teleponnya. Mereka berdua sama-sama takut mendapat amarah dari orang tua lagi sehingga Devan membiarkan teleponnya mati dengan sendirinya.
Mama rupanya berkisi keras dengan kembali menelepon Devan berulang kali hingga akhirnya Devan memberanikan diri untuk menjawab teleponnya. Setelah sekian lama, ini pertama kalinya mama menghubungi mereka dan menanyakan kondisi mereka. Devan terlalu bersemangat dalam kondisi sadar dia membawa Nuri ke dalam dekapannya untuk mendengarkan pembicaraannya dengan mama.
Mama ingin memberitahu kalian sesuatu, ini sangat penting sampai kami harus menghubungi kalian, kami harap kalian siap mendengar dan menerima keputusan kami.
Dag... dig... dug...
jantung mereka berdebar takut, apakah mereka benar-benar akan dicoret dari daftar keluarga kali ini. Nuri semakin erat memeluk Devan karna menahan takut dan bersiap-siap mendengar kelanjutannya.
"Ma, tidak perlu kalian sampaikan kami sudah tahu apa yang kalian mau, kami siap untuk dicoret dari kartu keluarga, kami di sini sudah mulai terbiasa hidup mandiri tanpa bantuan mama dan papa, terima kasih ma, pa kalian telah mengajari kami banyak hal yang sangat berarti untuk masa depan kami." tutur Devan.
Di dalam ponsel terdengar riuh tawa mama dan papa sementara mata Devan dan Nuri mulai sembab menahan kesedihan.
Tidak, bukan itu yang ingin kami sampaikan, ini tentang pernikahan kalian Dev.
"Apa yang terjadi dengan pernikahan kami Ma? tolong Mama dan Papa jangan pernah meminta kami untuk berpisah, butuh waktu berbulan-bulan bagi kami untuk saling menerima seperti sekarang."
Ya ampun Pa, dengarlah anakmu ini seperti seorang peramal gadungan saja tebakkannya selalu salah.
Lagi-lagi mama dan papa dibuat tertawa oleh Devan. Sementara Devan dan Nuri terus merasa takut.
Dengar Devan, Nuri, Mama tidak pernah ada niat sedikitpun untuk memisahkan kalian justru kami semua di sini ingin mempererat hubungan kalian.
"Pernikahan kalian akan segera disah kan secara hukum dan agama, usia kalian tidak akan lama lagi 17 tahun bukan? Nah, saat kalian sudah 17 tahun kalian akan melakukan sidang yang namanya sidang pra nikah untuk remaja yang menikah di bawah umur."
"Sungguh Ma, apakah itu bisa?"
Bisa sayang, setelah Nuri melahirkan anak kalian kita segera menentukan hari pernikahan kalian, jadi kami di sini ingin tahu apakah kalian siap atau tidak untuk menikah?
"Ya tentu saja Devan mau dan sangat siap Ma, bagaimana mungkin Devan menolak akan menikah."
Lalu bagaimana dengan pendapat Nuri, dari tadi mama tidak mendengar suara menantu bungsu mama.
"Ma, ini Nuri. Nuri siap menikah dengan putra bungsu mama." jawab Nuri.
"Tapi Ma, kenapa harus menunggu Nuri lahiran apakah tidak bisa sebelum bayinya lahir kami langsung menikah?" tambah Devan.
Alhamdulillah akhirnya kalian setuju, begini sayang agama kita juga menganjurkan karna kalian menikah sebelum waktunya maka sebaiknya kalian menikah setelah bayinya lahir baru pernikahan itu dinyatakan sah, jadi mama, papa dan orang tua Nuri mengambil jalan yang terbaik untuk kalian.
Di sisi lain mama dan papa juga senang meski mereka belum sempat mengunjungi anak-anak mereka. Tetapi yang jelas Devan dan Nuri lebih dari bahagia, mereka sangat bahagia.
"Apakah kau yakin akan menikahiku Dev?" tanya Nuri matanya berkaca-kaca.
"Insha Allah aku sudah mantap Nuri, semua ini berkat kesabaran dan ketulusanmu dalam membimbingku, menerima setiap keluh kesahku tanpa pernah berkata bosan, apa lagi yang kuharapkan dari orang lain jika sudah menemukan wanita setulus dirimu." tutur Devan mulai mengusap wajah Nuri sembari menghapus butiran bening yang membasahi pipi Nuri.
"Lalu bolehkah aku bertanya kepadamu?" Nuri mengangguk mengizinkan Devan untuk bertanya.
"Apakah kau yakin mau menikahi laki-laki sepertiku? di mana aku masih memiliki begitu banyak kekurangan bahkan sikap burukku kadang suka kumat tapi aku masih berusaha memperbaiki segalanya."
"Atas izin Allah aku menjadi istrimu dan atas izin Allah pula jika kita tidak ditakdirkan maka kita akan menjauh secara perlahan yang tak bisa kita hindari." jawab Nuri.
Sorot mata itu hanya menatap alunan bibir Nuri yang begitu lembut saat bertutur kata. Devan membawa Nuri dalam pelukkannya, pelukkan yang tulus yang baru pernah Nuri rasakan sepanjang usia pernikahan mereka.
Tuhan, Kau tahu segalanya. Aku memohon padamu biarkanlah dia tetap menjadi istriku selama hidupku.
Diiringi tetes air mata yang mengalir dari matanya, Devan mengusap kepala Nuri lalu mencium pucuk kepalanya penuh haru sambil terus memeluk erat tubuh istrinya itu.