Devan & Nuri

Devan & Nuri
Merasa Bersalah



Dokter datang tepat pada waktunya tetapi Nuri pingsan setelah tidak kuat menahan sakit yang dialaminya. Melihat kondisi Nuri pucat seperti mayit, dokter khawatir Nuri tidak bisa bertahan.


Dokter pun menyuruh Devan menelepon ambulan karna Nuri mengalami pendarahan fatal, dokter tidak bisa menanganinya sendiri tanpa bantuan peralatan rumah sakit.


Dalam kondisi panik dan was-was Devan menghubungi ambulan kemudian setelah belasan menit menunggu ambulan langsung sampai di depan rumah Devan. Devan kalang kabut menggendong Nuri membawanya masuk ke dalam ambulan. Begitu cemas Devan kala itu tampak jelas di wajahnya yang mengkerut dan mata berkaca-kacanya.


"Bertahanlah Nuri, aku mohon padamu jangan meninggalkanku." lirih Devan sambil mengusap tangan Nuri untuk membantu menghangatkan tubuhnya yang dingin akibat kekurangan darah.


"Dok, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Devan dengan separuh suaranya yang tersisa.


"Cepat sedikit Pak, pasien sudah kehilangan banyak darah jangan sampai terlambat." Seru Bu Dokter kepada supir ambulan, mendengar itu Devan semakin kencang meraung mendekap tubuh Nuri berharap Nuri akan baik-baik saja.


Dokter tidak bisa berkata apa-apa karna ambulan tidak menyediakan kantong darah untuk memberi Nuri pertolongan pertama, dokter hanya bisa melakukan semampunya sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


Nuri segera di larikan ke ICU, dokter dan suster tengah berjuang di dalam sana untuk menyelamatkan nyawa wanita yang masih sangat muda bersama bayinya yang masih seumur jagung. Devan menunggu di ruang tunggu benar-benar gelisah dan ketakuan Devan kala itu. Dia bahkan tidak menyangka ketidak sengajaannya bisa membahayakan nyawa Nuri.


Hampir setengah jam Devan menunggu, seorang perawat keluar dari ICU dengan panik berlari ke sana kemari. Devan langsung mengejar perawat itu untuk bertanya mengenai kondisi Nuri, perawat itu mengatakan mereka kekurangan stok darah sehingga harus menunggu sampai pegawai rumah sakit pusat tiba mengirim beberapa kantong darah lagi.


Ternyata stok darah golongan O tidak tersedia di sana sedangkan Nuri membutuhkan banyak darah.


"Devan, coba hubungi keluarga kalian siapa tahu ada yang cocok dengan golongan darah Nuri." kata dokter.


Devan tidak mampu menjawab karna mereka sudah kehilangan keluarga dan hanya hidup berdua saja bagaimana mungkin keluarga mereka yang kecewa mau menolong Nuri. Devan merasa sangat menyesal dan terlihat bodoh mengacak-acak kepalanya sendiri dengan geram.


"Kami tidak punya keluarga lagi dok, saya mohon selamatkan dia apapun caranya tolong dok." Devan memaksa dokter.


Tiba-tiba datang seorang dokter laki-laki masih muda, usianya sekitar 24 tahun menghampiri mereka semua.


"Apa yang terjadi, Dokter Salma?" tanyanya.


"Rumah sakit kekurangan kantong darah golongan O dok, kami sudah memesan ke rumah sakit pusat tapi di sana juga kehabisan stok, pasien dalam kondisi kritis memerlukan banyak darah." jelas Dokter.


"Ambil darah saya dok sebanyak-banyaknya yang diperlukan." kata dokter muda itu menawarkan diri. Devan tercengang tanpa bisa berkutik saat ada orang asing yang mau membantu Nuri.


"Dokter serius ingin donor darah untuk pasien?" tanya dokter memastikan karna jarang sekali ada dokter yang mau mendonor di rumah sakit ini tetapi dokter baru itu dengan suka rela ingin membantu.


Tetapi ada kabar yang sedikit mengecewakan meskipun Nuri dan bayinya selamat. Dokter mengajak Devan untuk bicara empat mata di dalam ruangannya.


"Jadi begitu Dev, bayi kalian akan terlahir prematur dan mengalami gangguan fungsi otak sehingga otaknya tidak bisa berkembang dengan baik seperti anak-anak lainnya."


"Kenapa begitu dok, bukankah mereka sudah selamat sekarang?"


"Benturan yang di alaminya pasti sangat kuat yang menyebabkannya mengalami pendarahan hebat apalagi usianya masih dibawah umur itu sangat berisiko."


"Apa bayi itu bisa terlahir normal dan sempurna dok, jika Nuri mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi?"


"Saya tidak bisa memastikan tapi saya rasa itu sangat sulit, saya harap kejadian ini tidak akan terulang kembali atau bayi dan ibunya bisa meninggal."


Apa yang telah kulakukan pada bayi tak berdosa itu, dasar aku tidak berguna. Batin Devan mengutuk dirinya sendiri.


Devan keluar dari ruangan dokter dengan rasa menyesal. Langkahnya tertatih-tatih menuju ruang inap Nuri. Devan berhenti tepat di depan pintu ruangan Nuri tanpa berani masuk ke dalam. Dia hanya memperhatikan Nuri yang begitu kuat sudah bisa bangkit sendiri dari pembaringan sambil memakan buah-buahan yang diberikan oleh suster.


"Terima kasih suster buahnya enak sekali." ujar Nuri.


"Sama-sama, cepat sehat ya Nuri." kata suster sambil berlalu keluar.


Saat suster keluar Devan langsung menjauh dan menghadap kebelakang sehingga tidak ada yang tahu keberadaannya, begitu dokter jauh Devan kembali mendekati ruangan Nuri.


"Devan kemana ya? mengapa dia tidak menemaniku, ah aku lupa dia kan tidak peduli kepadaku." ucap Nuri bicara sendiri tanpak sudah terbiasa dengan sikap Devan dan Devan dari luar mendengar sangat jelas.


Bagaimana aku bisa mengatakan kebenaran tentang bayi itu sepertinya dia sangat sayang pada anaknya, dia bahkan sangat kuat meski sedang sakit tetap terlihat baik-baik saja. Jika aku mengatakannya maka sama saja aku merusak suasana hatinya. Aku jadi tidak tega.


Kening Devan mengkerut dan mengusap wajahnya perlahan untuk membuang rasa gundah yang tengah dia rasakan. Devan akhirnya mengundurkan diri dari ruangan Nuri dan pergi keluar untuk merenung sendirian.


Nuri hanya sendirian di rumah sakit tanpa ada siapapun yang menemaninya. Tentu saja Nuri kesepian, keluarga tidak punya tidak akan ada yang mau membesuknya. Sementara suami satu-satunya keluarga yang dia miliki juga pergi entah kemana.


Nuri hanya membayangkan betapa dia sangat takut kehilangan anaknya.


"Sabar ya nak jangan marah sama papamu yang tidak peduli pada kita, mama masih kuat bertahan demi kamu karna kamulah mama masih bernyawa sampai detik ini."