Devan & Nuri

Devan & Nuri
Ngebet Pengin Kawin



Kembalinya Devan di rumah. Gelagatnya sedikit aneh membuat ibu dan ayah yang melihatnya sampai menyinggitkan kepala. Senyum ceria kembali terpancar di wajahnya, dia menyapa ayah dan ibunya yang sedang duduk berbincang di ruang keluarga. Biasanya jangankan menyapa, naik ke rumah mengucapkan salam saja tidak pernah. Kemudian Devan menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya dengan tenang di atas kasur tanpa melepas pakaian kerjanya. Ayah dan ibu mengintipnya dari luar.


Ayah dan ibu merasa ngeri melihat anaknya senyum-senyum sambil memeluk guling. Dan tiba-tiba guling itu malah dicium dengan gairah oleh Devan.


"Pa, tidak bisa dibiarkan ini." cetus mama kesal.


"Ma, anakmu itu kenapa?" papa merasa aneh.


"Ngebet pengin punya istri kali pa, ini sudah tidak wajar pa masa main sama bantal."


"Kita harus gimana ma?" papa menjadi bingung.


"Menikahkannya pa, mama jadi ngeri kalau lihat Devan kayak gitu." kata mama.


Kemudian ayah dan ibunya pun masuk mengejutkan Devan. Devan langsung bangkit dan melempar gulingnya asal-asalan tapi disambut oleh ayah.


"Eh, ada mama sama papa." cengir Devan mengumpatkan malunya. Orang tuanya masih tercengang sembari melotot melihatnya dari ujung rambut sampai kaki. Kancing kemejanya juga terbuka memperlihatkan dada bidangnya. Ayah dan ibunya menggeleng sambil menatap tajam.


"Kenapa pa, ma?" tanya Devan.


"Kamu ngebet pengin kawin ya, Van?" tanya ibu."


"Van, kalau mau kawin bilang sama kami jangan mesum sama guling papa saja enggak pernah kayak gitu walau sering berjauhan sama mamamu." tegur ayah.


Astaga memalukan,, papa dan mama melihatnya. Huf! Devan, Devan lagian ngapain kamu main gila sama guling. Sadar, sadar, sadarlah.


"Enggak kok pa, ma. Kalian salah lihat mungkin, mana mungkin anak kalian yang normal ini pacaran sama guling. Haha enggak lucu kan." jawab Devan cengengesan.


"Masih bisa ngeles disaat genting, papa bakal carikan kamu calon bini." Papa mulai merogoh ponsel di saku celananya untuk menelepon teman-temannya yang punya anak perempuan.


"Ja-jangan pa. Mama, awas kalau kalian main jodohkan seperti yang dilakukan pada kakak, jika terjadi padaku akan aku tinggalkan pengantin wanitanya di pelaminan biar kalian semua malu." ancam Devan.


"Awas kalau mama dan papa lihat kamu kayak gitu lagi, kami juga tidak main-main." ibunya mengancam balik. Devan justru mrangkul keduanya dan mencium ayah dan ibu bergantian.


"Iya mama, papa enggak gitu lagi kok. Bentar ma, Devan mau menunjukkan sesuatu sama kalian."


Devan pun mengambil ponsel dari saku celananya lalu menunjukkan sebuah potret Nuri bersama Nayla yang diambilnya tadi. Devan menunjuk Nayla dan memberitahu orang tuanya bahwa itu cucu mereka sudah besar.


"Pa, cucuku kita. Dia mirip sekali seperti Devan." kata mama. Mama dan Papa berkaca-kaca melihat cucu mereka dari dalam ponsel, terakhir mereka bertemu tepat di hari kelahirannya setelah itu Nuri pindah rumah dan tidak pernah terlihat lagi.


"Pa, Ma jika kalian mengizinkan bolehkah aku mempersunting Nuri lagi?" tanya Devan.


"Oh pantas kerasukan jin kawin ternyata ini masalahnya." singgung ayah mengacak kepala Devan, Devan tertunduk malu dan pipinya merona.


"Apa-apaan kamu Dev, apa kamu belum puas menyakiti perasaan Nuri? pokoknya mama tidak mau kau mengulangi kesalahan yang sama kasihan Nuri, mama tidak setuju.." mama tidak menyetujui itu karna dia masih kesal mengingat tindakan Devan.


"Ma, Devan memang minder tapi dulu karna Devan tidak punya apa-apa, masa iya Devan harus bergantung pada mama dan papa. Devan meninggalkan mereka semua demi Nuri dan Nayla, Devan ingin mereka memiliki masa depan yang cerah dari hasil keringat Devan sendiri dan Devan juga ingin membuktikan pada mama dan papa kalau Devan bisa sukses enggak main-main seperti dulu." tutur Devan.


"Papa sih setuju jika kamu ingin kembali bersama Nuri, tapi bagaimana dengan Nuri apakah dia mau menerima kamu kembali?" kata ayah.


"Ya sudah mama juga setuju tapi semua keputusan ada di tangan Nuri."


"Pa, Ma terima kasih kalian sudah memberiku izin yang terpenting dulu adalah restu kalian berdua. Pokoknya kali ini aku tidak akan mengecewakan mereka, aku akan memperbaiki semuanya."


*****


Kedua orang tua Devan berkunjung ke tempat tinggal Nuri yang baru. Sudah 7 tahun mereka tidak pernah bertemu dan sekarang mereka memiliki kesempatan maka mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu.


Pak Betrand dan Bu Sarah turun dari dalam mobil lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Nuri.


Mendengar suara orang mengetuk pintu, Nuri yang tadinya sedang mengepang rambut Nayla buru-buru menyelesaikan ikatannya lalu bergegas membukakan pintu.


"Mama, Papa..." Nuri terbelalak kaget. Pak Betrand dan Bu Sarah tersenyum. Tapi Nuri masih bingung bagaimana mereka bisa tahu kediaman barunya.


"Nuri, mama rindu padamu sudah sekian tahun kita tidak bertemu." Bu Sarah terharu langsung memeluknya, Nuri tersenyum canggung sambil membalas pelukkan.


"Ayo Pa, Ma masuk." ajak Nuri mempersilakan mereka.


"Bunda, ada tamu ya?" Nayla berteriak dari dalam kamarnya.


"Ma, Pa tunggu sebentar ya Nuri bawa Nayla kemari." Nuri pun beranjak ke kamar buah hatinya.


"Bunda, siapa yang datang apa itu kakek Aryo dan nenek Aliya?" tanya Nayla. Nuri menggeleng lalu menggiring Nayla ke ruang tamu.


Nayla melihat orang asing di hadapannya dengan sedikit canggung. Nayla pasti tidak mengenali kakek dan neneknya karna mereka hanya pernah bertemu sewaktu Nayla masih bayi. Nuri pun menyuruh putrinya untuk menyalami orang tua dari mantan suaminya. Nayla menyalami mereka dengan sopan, Pak Betrand dan Bu Sarah berbinar-binar melihat cucu mereka sudah tumbuh dengan baik.


Setelah bersalaman, Nayla kembali ke pangkuan Nuri. Dia masih agak canggung dengan orang asing. Pak Betrand dan Bu Sarah tak bisa berhenti melihat cucu mereka sampai membuat Nayla takut juga risih dan membisiki ibunya.


"Sayang, kau pasti belum mengenal siapa tamu kita kan?" tanya Nuri tersenyum. Nayla mengangguk pelan.


"Mereka adalah kakek dan nenekmu." jelas Nuri.


"Kakek dan nenek, Bunda?" Nayla tercengang.


"Iya nak, kamu selalu bertanyakan siapa yang memberimu nama jadi itu nenekmu yang memberimu nama." tutur Nuri. Nuri tidak akan menyembunyikan rahasia ini pada anaknya, tetapi dia belum siap untuk memberitahu tentang keberadaan ayah kandung Nayla.


"Kakek, nenek." panggil Nayla, senyumnya mulai terbentuk.


"Sini nak." balas Bu Sarah. Nayla melompat dari pangkuan ibunya dan berlari memeluk kakek dan neneknya.


Pak Betrand dan Bu Sarah sangat berterima kasih karna Nuri telah mengizinkan mereka untuk bertemu sekaligus memeluk Nayla.


"Kakek dan nenek kemana saja, kenapa baru sekarang menemui Nayla? Nayla jadi tidak mengenali kalian."


"Hmm. Kakek dan nenek dulu sibuk nak di luar negeri." kata nenek sambil mengusap kepala Nayla.


"Di luar negeri ada apa kek, nek?" tanyanya serius ingin tahu.


"Emm. Ada macam-macam pemandangan, gedung bertingkat, banyak orang asing. Tapi kakek sama nenek bekerja di sana mengurus bisnis kami." jelas kakek.


"Apa itu bisnis kek?"


"Bisnis itu pekerjaan yang apabila terus dikembangkan maka akan membuat kita menjadi orang sukses." Nayla langsung mengerti karna kakek memberikan penjelasan yang paling mudah.


"Sekarang kakek sama nenek enggak sibuk kerja lagi ya?"


"Sekarang kami sudah pensiun dan akan kami pergunakan untuk menemui cucu kami yang cantik ini." ucap nenek mencubit gemas dagu Nayla.


"Nay senang sekarang punya 3 nenek dan 2 orang kakek." katanya dengan riang. Mendengar itu, mereka pun merasa minder.


"Umm. Nur, apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Sarah penasaran, Nuri menggeleng dia belum menikah. Nuri menjelaskan kalau dia memang sudah lama dekat dengan seorang laki-laki, tetapi dia mengaku belum siap untuk menikah kembali.


Pak Betrand dan Bu Sarah kompak menghela nafas, merasa lega karna status Nuri masih sendiri. Mereka memang berharap Devan akan menjadi suami untuk Nuri lagi.


"Kakek, nenek sekarang siapa yang mengurus bisnis kalian?" tanya Nayla lagi.


"Emm. Siapa ya, Nayla tahu tidak?" nenek bertanya balik. Nayla menggelengkan kepalanya.


"Ada om dan tantemu di sana, mereka yang menggantikan kami." kata nenek.


"Wah. Nayla punya om dan tante ya nek? kenapa bunda tidak pernah cerita soal itu?" kata Nayla heran sedikit melirik ibunya. Memang Nuri tidak pernah menceritakan apapun mengenai keluarga mereka kepada Nayla karna Nuri tidak ingin Nayla terlalu cepat mengetahui seluk beluk keluarganya. Tapi mau gimana lagi sekarang Nayla sudah cukup besar, dia sudah bisa bertanya sendiri.


"Iya kamu punya om dan tante, nak. Kamu juga punya sepupu namanya Gio, dia lebih tua darimu dan tubuhnya sangat gendut." jelas nenek. Nayla tertawa begitu membayangkan tubuh sepupu gendutnya.


"Wah. Nay baru tahu nek, selama ini Nay hanya mengenal kakek Aryo, nenek Aliya, dan nenek Rahma saja." kata Nayla. Percakapan nenek dan cucunya seketika terhenti saat Nayla ingin buang air kecil.


"Ma dari mana kalian bisa menemukan alamat baru kami?" tanya Nuri.


"Dari Devan. Kalian sudah bertemu pastinya kan?" kata mama sambil tersenyum. Nuri pun tersenyum canggung sambil mengangguk lalu segera mengumpatkan wajah kesalnya.


Oh jadi kemarin dia mengikutiku sampai ke rumah. Benar-benar ngeselin.