
Happy Reading~
.
.
“Ha~”Rigel menghela nafas, dia tak bisa berbuat apa-apa. Sejam yang lalu seorang dokter pribadi keluarga Lascelles baru tiba untuk memeriksa keadaannya, ternyata Rigel ini hanya kelelahan dan merasa stres. Itu pun berdampak pada kandungannya ‘Binary’ terhadapnya.
Rigel menatap sekelilingnya dengan hambar, sejak tiba dikediaman Lascelles berupa sebuah mansion megah bergaya era Victoria ini. Rigel sudah berwajah murung, sejujurnya hal itu karena Rigel merasa tak akan bisa bebas didalam kediaman ini. Apalagi nyaris semua orang didalam kediaman ini akan berpihak pada Jevandres.
Bagaimana nasib lelaki pirang itu? Oh, dia. Sudah dirawat oleh dokter pribadinya. Kini Rigel menatap bosan kamar super luas dengan inferior megah ini. Rigel sadar, pria itu orang yang begitu kaya. Sungguh berbeda dengan apartemen sederhana dengan perabot seadanya milik Rigel.
“Rigel...”Pintu kamarnya berdecit terbuka, menampaki Jevandres yang mengenakan kaos hitam santai menampaki deretan kotak pada perutnya serta celana training berwarna sedanya, surai pirangnya tampak basah sepertinya dia baru saja selesai mandi.
Rigel memerah, melihat pria itu “Euhm... Hai...”Sapa Rigel dengan canggung.
“Bagaimana?”Arah tatapan Jevandres menuju pada perut rata milik ‘Binary’ itu.
Yah, sesungguhnya Rigel masih menyangkal kondisinya yang berbadan dua ini. Hal itu tampak dari raut Rigel yang menatap dengan malas “Lelah dan stres. Itu saja.”Ucap singkat gadis bersurai legam itu.
Jevandres tampaknya merasa kesal dengan sikap Rigel “Apa yang kau lakukan sampai lelah dan stres?”Tanya pria itu dengan nada datarnya.
“Tidak ada.”
“Apa yang kau lakukan tadi? Apa kau sengaja ingin bunuh diri?”
“Tidak bodoh, untuk apa aku susah-susah melakukan hal itu. Ck.”
“Kenapa kau membawa pistol?”
Rigel tersentak kaget, dia baru sadar sudah memakai setelan piyama panjang tanpa mengenakan coat hitam dan tentu saja tak mengetahui keberadaan senjata kecilnya itu “Ah..eungh... B-buat pertahanan diri.”Ucap Rigel dengan gugup.
Aquamarine milik Jevandres menatap dengan dingin “Kau tahu, aku tak suka dibohongi.”Aura membunuh menguar dari tubuhnya. Tidak hanya itu, seluruh energi amarah dan begis begitu kuat dari dirinya.
Kedua mata Rigel menerjab karena kagum ‘sungguh aura kemarahan milik para dewa yang sungguh menggiurkan’ Bukannya takut, Rigel bertepuk tangan kegirangan. Sama halnya dengan seluruh pendosa lain yang senang melihat dosanya dilakukan. Rigel pun sama, walaupun ia terjebak didalam tubuh manusia “Wah~ Tentu saja, bisakah professor Lascelles menebak kenapa aku membawa senjata?”Ucap Rigel memanas-manasi Jevandres.
“Kau—“Jevandres mendekati Rigel, dia mendorong Rigel ke kasur raksasanya itu. Kedua tangan Rigel dipegangnya hanya menggunakan tangan kiri lebarnya, disana gerakan Rigel terkunci. Perbedaan kekuatan dan tubuh keduanya sangat jauh.
Rigel tersenyum miring, dirinya tak hanya ditekan oleh energi kemurkaan yang besar itu tapi pemilik tubuh ini turut menekannya “Kenapa?”Ucap Rigel menantang tatapan seorang Jevandres.
“Aku tak suka dibantah.”
“Aku tak suka disuruh untuk mematuhimu, tuan Lascelles.”
Jemari besar Jevandres menyentuh dagu Rigel “Dari mana kau dapatkan keberanian ini, hn?”Ucapnya dengan kilatan mata yang tajam. Kini beralih pada jempol Jevandres yang menakan bibir ranum milik Rigel.
Lagi, Rigel hanya diam dengan tenang bahkan tidak meronta melawannya “Menurutmu, apa aku juga harus menceritakan semuanya?”Bisik Rigel tepat didaun telinga Jevandres.
Jevandres semakin tertarik pada gadis kecil itu, berbeda dengan Binary yang akan selalu mematuhinya dengan lemah. Sebaliknya, sosok didalam tubuh Binary ini benar-benar sama kerasnya seperti dirinya “Apa kau baru saja bernegosiasi padaku?”Jevandres menatap sepasang iris mata berlainan itu. Sebenarnya, Jevandres menyukai sepasang mata yang menatap dengan tangguh ini. Iris keduanya begitu unik, merah lembayung yang dalam dan kenari yang cerah. Jika diperhatikan lebih lama, Jevandres bisa benar-benar jatuh kedalam wanita manis ini. Akhirnya dia pun beranjak duduk ditepian ranjang kasur itu.
“Maaf sudah menindihmu.”Ucap Jevandres.
“Baguslah kalau kau ingat ‘keberadaannya’ jujur saja tubuhmu itu sungguh berat.”
Keduanya sama-sama menciptakan jeda yang cukup lama, dengan duduk pada jarak yang lumayan jauh diantara keduanya. Seolah terhanyut dengan pemikirannya masing-masing.
“Kak Jev...”/ “Rigel...”Ucap keduanya bersamaan.
Jevandres memilih untuk diam terlebih dahulu, membiarkan gadis manis itu berucap duluan.
Rigel mengangguk paham “Uhm... Bagaimana lenganmu.”Tunjuk Rigel pada perban yang sedikit tampak pada lengan kekar milik Jevandres.
“Bukan masalah serius.”
“Kenapa kau ingin mendaftarkan diri menjadi mahasiswa kembali?”Lanjut Jevandres lagi.
Rigel mengangguk “Tadinya, tapi kurasa... aku akan pindah saja berkuliah di Amsterdam. Disana ada kakakku, kurasa lebih baik saat ini aku akan pulang kerumahnya.”
Jevandres terdiam, dia ingin menahan Rigel untuk terus bersamanya. Kini dia tengah memikirkan alasan itu “Kau hamil, anakku.”Ucap singkat Jevandres.
“Aku tahu, tapi kau sendiri tak menginginkanku bukan? Setelah dia lahir, aku akan berikan bayi ini kepadamu. Bukankah ini yang kau inginkan?”
“...”Dunia Jevandres tersentak tak percaya, ucapannya selama ini untuk seorang Binary akhirnya terucap dari mulut gadis kecil itu. Dia ingat, bahkan ingin menceraikan wanita berpostur kecil itu.
Rigel merasa perasaannya sungguh manusiawi. Menderu dengan perih, dia paham perasaan sakit hati ini. Dia tak menyukainya, rasa ini hanya mengingatkannya akan sosok terdahulunya yang fana. Mencintai dan dicintai, sakit hati dan dikhianati ‘Sial, perasaan menyebalkan’Ucap Rigel dalam hatinya seraya meremat tangannya sendiri.
“Ayo makan malam.”
“Eh?!”Sebelah alis Rigel menaik, tidakkah dia salah mendengar ucapan seorang Jevandres ini.
“Kita makan malam diruang makan.”Ucap Jevandres mengulurkan tangan kanannya kepada Rigel.
Rigel yang memerah pun meraih telapak tangan lebar itu dengan pelan “Uhm~”Gumamnya dengan pelan seraya memengang telapak tangan Jevandres.
Jevandres pun sama, dia merasakan tangan mungil, kecil, lembut dan rapuh milik Rigel. Tangan yang pertama kali disambutnya kedalam genggaman tangannya ‘aku pasti sudah gila’Guman Jevandres membatin. Dia amat mengingatnya, sejak pertama kali menikahi Binary dia tak pernah menggengam tangan perempuan manis itu dengan penuh perasaan seperti ini.
Rigel menuruni anak tangga bersama Jevandres, diterdiam dengan tenang. Padahal sesungguhnya, perasaannya sudah menderu dengan cepat. Rigel tetap menyamai langkahnya dengan Jevandres hingga tiba disebuah ruang makan ‘Siapa mereka?’Rigel memperhatikan beberapa wanita yang sudah turut duduk disana.
“Oh~ Hai Binary...”Sapa wanita cantik dengan gaun merah selututnya. Dia memperhatikan Rigel dari atas hingga kebawah, dengan tatapan merendahkannya.
“Ah Jeva~ bukannya katamu kita akan makan di Restoran?”Ucapnya lagi bernada manja.
Rigel mencoba mencerna situasi saat ini ‘Oh~ ternyata Ares tetap saja Ares.’Gumamnya Rigel dalam hati seraya menyunggingkan senyumannya. Dewa perang yang begis tentu saja tak lepas dari wanita-wanita cantik, bukan? Rigel yang mulai memahami situasi ini mulai memikirkan ide yang jahil.
“Eungh~”Rigel memengangi perut dan menutup mulutnya.
Jevandres beralih menatap wanita manisnya itu “Kenapa?”Ucapnya dengan guratan cemas pada paras tampan Jevandres ini.
Rigel menggeleng, ia pun menggengam erat tangan Jevandres itu “Aku akan duduk sebentar.”Ucap Rigel sembari duduk dikursi makan tepat disebelah Jevandres tanpa melepaskan tangan Jevandres, benar dia tak melepaskan tangan itu.
“Tch.”Wanita bergaun merah itu mendecih.
Tampaknya, tak hanya wanita bergaun merah itu. Wanita tua berbeda usia yang turut duduk disana tak lepas memperhatikan Rigel “Nak, jangan dipaksakan jika masih lelah untuk berjalan kemari.”Wanita tua itu menasehati, dengan raut lembutnya.
‘woah~’Rigel kagum, aura wanita tua itu sungguh bersih dan bijaksana. Tak ada satupun energi pendosa padanya “Tidak apa-apa, aku masih bisa kemari. Kak Jevandres juga menemaniku kok...”Rigel tersenyum dengan manis dan menggemaskan. Hingga pipi gempalnya turut kemerahan.
Seorang wanita mendehem “Kau begitu memanjakannya Jevandres.”Sahut wanita lain yang tampak menatap Rigel dengan kesal.
“Ibu. Kumohon jangan memulai lagi, Rigel baru saja kembali kemari.”Ujar Jevandres.
Kedua mata Rigel mengedip-ngedip tak percaya. Jika wanita itu ibunya, berarti wanita tua itu neneknya. Kemudian Rigel menelisik wanita bergaun merah itu. Ah, bahkan wanita cantik lainnya yang duduk disebelahnya.
Jevandres tak perduli, dia menyendoki makannya kedalam sebuah piring kemudian meletakkannya didepan Rigel “Makanlah.”Ucap Jevandres penuh perhatian.
Hal tak biasa ini tak urung menjadi sorotan keluarga Lascelles terhadapnya. Rigel yang dengan senang hati menerima, mulai menyendoki makanan itu dengan senyuman manisnya “Uhm~ Enak...”Gumam Rigel lagi.
“Bagus. Makan yang banyak.”Ucap Jevandres lagi, seolah tak memperdulikan anggota keluarga Lascelles yang turut memperhatikan mereka.
Rigel mengangguk “Kau juga kak, jangan hanya menegak minuman itu.”Ucap Rigel turut menyendoki makanan kedalam piring dan meletakkannya dihadapan Jevandres. Dia juga menyinggirkan gelas berisi cairan wine itu darinya “Eungh~ baunya menyengat. Tidak baik untuk kesehatanmu kak Jev...”Celetuk Rigel saat itu.
Pria yang baru tiba tadi mendehem “Ehem...”Ucapnya menginterupsi Rigel dan Jevandres saat itu. Pria itu juga menyeringai kepadanya “Wah... Anak ayah sudah siap menggantikan posisiku sebagai kepala keluarga Lascelles. Bukankah ini langkah baik untukmu dan isteri manismu itu Jeva.”
“Diamlah.”Jevandres berucap dengan dingin.
“Woho~”Seraya menyeringai, pria dewasa itu berjalan mendekati Rigel. Dalam beberapa langkah lagi, pria itu malah mengambil pisau makan kemudian melempar pisau itu dengan cepat.
Srayysshhh...
Grep! Rigel menangkap pisau itu dengan menjepit jari telunjuk dan tengahnya. Dia menangkapnya dengan begitu mudah, bahkan tanpa melukai tangan kecilnya itu. Bagi seorang Rigel yang sudah terlatih, hal kecil seperti ini bukanlah apa-apa baginya.
Rigel meletakkan pisau makan itu dengan pelan “Ah~ ayah mertua. Usia kandunganku baru terhitung tiga minggu loh, tidak baik menyambut dengan begitu lembut. Bagaimana kalau kita bertarung saja sekalian? Aku tak keberatan kok kalau hanya dengan tangan kosong.”Ucap Rigel tersenyum dengan menyeramkan. Sesungguhnya dia tengah kesal.
Atmosfir diruang makan itu pun menjadi menegangkan, tak ada suara dentingan alat makan ataupun interupsi dari semua anggota keluarga Lascelles. Hanya Rigel seorang yang menatap pria itu dengan tajam, bahkan dia tak memakan makanannya lagi.
“Rig...”Panggil Jevandres dengan wajah memerah, bukan karena marah. Namun dia menahan tawanya “Pppffft...”Jevandres menahan tawanya itu.
Giliran Rigel yang bersidekap seraya melihat satu-persatu anggota keluarga Lascelles yang tampak terdiam ketakutan, kecuali Jevandres “Haha...”Tawa pria itu kembali menggelegar “Menarik! Sungguh puteri Aristolochia yang menarik!”Ucap pria itu seraya menepuk pundak Rigel.
“Lihatlah nona Lee, dan nona Smith. Kurasa kalian tak perlu kemari lagi, anggota keluarga Lascelles harus kuat dan tangguh. Sungguh, kau diluar ekspektasiku Binary.”
“Tuan namaku ini Rigel.”Ucap Rigel sambil menatap sinis kedua wanita itu. Seluruh atensinya menatap dengan seram sosok wanita bergaun merah dan bergaun merah muda itu, Rigel hanya penasaran dengan mereka berdua. Terutama ayah Jevandres mengatakan seperti itu ‘Ck. Siapa mereka?’Rigel tanpa sadar dengan kasar menancapkan pisau makan itu keatas potongan dagingnya.
“Maaf?”
“Benar namaku Rig—“
“Ah itu ayah. Panggilan nama Binary sekarang Rigel. Cukup panggil dia dengan itu saja, kami terbiasa menggunakan nama Rigel untuk Binary.”Jevandres langsung memotong ucapan Rigel. Dia sudah dihadiahi tatapan tajam isteri mungilnya itu.
Rigel bersidekap “A..Ehem...”Rigel mendehem “Ingatanku buruk, maafkan aku... Kalian berdua itu siapa?”Seluruh kalimat Rigel diucapkan dengan nada yang dingin sementara tangan lainnya sedang memainkan pisau makannya itu. Tanpa ia sadari lagi, dia sudah menguarkan energi amarahnya sebagai personifikasi pendosa amarah yang tak mengasihi musuhnya itu.
“Lee Yuna.”Wanita bergaun pink itu menjawab dengan tenang walaupun tampak gugup “Seketaris tuan muda Jevandres juga teman semasa kecil tuan muda Jevandres. Nona Bi—ah maksudku Rigel, kami memang sudah dekat. Hanya rekan kerja.”Setidaknya wanita bernama Yuna itu jauh lebih sopan dibandingkan si gaun merah.
“Eriza Smith. Kurasa Jevandres pasti menceritakan diriku kok, bukannya Yuna, aku dan kau rival cintanya fufufu~”Ucap wanita bergaun merah itu, sengaja memanas-manasi Rigel.
‘Oh, kau pikir dirimu siapa? Ha, manusia.’Rigel membatin dengan sorot mata tajamnya. Dia pun sengan sengaja melempar balik pisau makan itu, selayaknya seperti tengah melempar busur pada papan darts board.
Sryasshh...
Nyaris saja pisau itu mengenai wajah cantik Eriza, hanya dalam beberapa centimeter itu.
“Hoho~”Pria yang menjadi ayahnya Jevandres terkekeh pelan seraya menangkap pisau makan itu dengan mudah “Ternyata wanita hamil bisa sangat posesif ya? By the way, selamat atas kehamilannya menantu manisku.”Pria itu tersenyum sambil duduk disamping ibunya Jevandres yang menatap keheranan aksi dari gadis bersurai legam itu.
“Jevandres, kenapa tidak mengabari ibu?”Ucap wanita itu.
“Maaf bu, aku baru sempat mengabarinya hari ini.”
Wanita itu menghela nafas “Ya Tuhan...”Katanya seolah benar-benar tak habis berpikir dengan seorang Rigel ini “Seharusnya kau menjaga manner makan malam bersama keluarga, Rigel. Tindakanmu ini sungguh tidak benar, seorang wanita harus anggun dan baik. Bukannya liar dan beringas.”
“Erika, Sudahlah sayang... Rigel hanya dalam mood tak baik, itu biasa bukan.”Sang ayah mencoba mencarikan suasana “Mari lanjutkan makan malamnya. Ibu lanjutkan saja, Maaf Johan menyambut putera kebanggan Lascelles dengan cara tak biasa.”
Wanita tua itu tersenyum lembut, dia menatap Rigel “Nenek tahu, tidak sembarang orang yang bisa melakukan hal itu. Rigel kita ini tampaknya memang seorang pemanah yang handal.”Puji wanita tua itu kepada Rigel.
“Ibu... Wanita itu tidak memiliki etika, bagaimana bisa membuat ulah saat makan malam keluarga.”
“Erika. Seorang wanita juga perlu ilmu pertahanan diri agar tidak selalu bersembunyi pada prianya. Lagipula, Rigel sudah menjadi bagian Lascelles sebagai isteri sahnya Jevandres.”
Jevandres langsung terbatuk “Hok...Hokk”Dia tersedak mendengar penuturan neneknya itu.
Rigel yang berada disampingnya dengan sigap menepuk-nepuk pundak Jevandres seraya menyodorkan segel air putih kepadanya “Kak... Tidak apa-apa?”Rigel menatap dengan raut cemasnya.
“Terimakasih, Sayang... Aku tidak apa-apa.”Jevandres mengangguk.
Rigel mendehem pelan ‘Hn? S-sayang katanya?’ Wajahnya merah merona. Sontak, Rigel pun kembali duduk dengan tatapan menunduk. Dia benar-benar merasa malu saat ini.
Nenek tua itu tersenyum lembut melihat keduanya “Selamat datang, Rigel. Baru pertama kali ini bisa melihat kalian berdua dikediaman ini sejak kalian memutuskan untuk tinggal sendiri dari kami. Bagaimana kabar Thomas dan Laras, Rigel?”
Rigel menatap kebingungan, dia tak mengenal kedua nama itu. Sama sekali tak mengenalinya.
“Ayah dan ibu mertua dalam keadaan baik, Nek. Mereka juga menemani Rigel saat dirawat di Rumah Sakit.”Jevandres langsung menyahutnya. Dia tahu raut kebingungan Rigel itu.
“Kenapa bisa sampai dirawat? Rigel, apa cucuku ini menyusahkanmu?”
Rigel menggeleng “Tidak sama sekali. Kak Jevandres sangat baik. Lembut. Perhatian. Dan penyayang.”Rigel berucap dengan sengaja menekan setiap katanya, dia hanya ingin menyindir halus suaminya yang sebaliknya ini.
Jevandres sudah melototinya “Rigel...”Cetus Jevandres dengan berbisik.
“Benar, dia...”Ucap Rigel seraya menginjak ujung kaki Jevandres “Sangat baik nek... Sungguh berhati lemah. Dan lembut.”Diakhir ucapan Rigel dia amat geram dengan pria itu. Jadi, dia pun menjahili Jevandres dengan menginjak ujung kakinya.
“Aish...aduh..duh...”
“Jeva, Kenapa nak? Kau aneh sekali.”Ucap Erika kepada putera tunggalnya itu.
Jevandres menggeleng “Tidak bu, ah iya... sudah malam. Rigel harus segera istirahat sementara aku harus bekerja besok pagi. Ayo... Isteri manisku.”Ucap Jevandres dengan senyum kesalnya terhadap Rigel. Dia meraih pergelangan tangan Rigel bersamanya.
“Yuna, Eriza... Terimakasih sudah mengunjungiku. Tapi, hal itu tak seharusnya perlu.”Lanjut Jevandres.
“Ah, Jeva. Aku baru saja berhasil menemui setelah sekian lama kau menghilang. Apa hanya seperti itu saja menyapaku?”Ucap Eriza tak terima.
Berbeda dengan Yuna “Pak Jevandres apa tidak kembali lagi ke perusahaan?”Ucapnya kepada Jevandres
Jevandres beralih menatap Rigel yang diam dengan tenangnya itu, dia pun langsung mengangkat tubuh kecil Rigel kedalam gendongannya “Selamat malam.”Ucap Jevandres seraya menggendong tubuh Rigel dalam dekapannya.
Rigel menutup wajahnya karena malu “B-bodoh!”Umpatnya berteriak dengan kencang, namun tak digubris oleh seorang Jevandres.
Eriza tersenyum dengan sinis, dia diam-diam memperhatikan Rigel yang berada dalam gendongan Jevandres.
.
.
Bersambung