Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 18 : I Just Want to Meet you



Happy Reading


.


.


 


 


 


 


“T-tuan Valentino, hentikan...”


Rigel mulai mendehem “Baiklah, rasanya Ivan mulai menganggu teman-temanku.”Rigel menatap dengan kedua mata memicing kearah Ivan seolah berkata ‘Pergi, aku memiliki urusan penting’Ucap Rigel melihatnya sambil menggeleng pelan.


Ivan menghela nafas “Setelah selesai, panggil aku. Biar kuantar kau pulang.”


Rigel mengacungkan jempolnya, seraya tersenyum. Sepeninggalan Ivan yang menaiki lantai dua, Rigel memikirkan cara untuk mengucapkan hal ini kepada rekan setimnya ini “Nama suamiku, Lascelles.”Akhirnya Rigel tahu, semoga setelah mengatakan nama keluarga Jevandres mereka akan memahaminya.


“A-anu... Seperti penyelidikanku. Dia, tampaknya terlibat dengan transaksi Black Ash.”Aria sang database tim Avid, memang mahir dalam bidangnya. Gadis manis penggila teknologi ini juga hacker yang kerap kali membantu tim Avid membobol keamanan ‘Target’ yang dipesan oleh klien.


“...Jangan katakan lebih dalam.”Pemuda berseragam Sekolah menengah atas itu mulai berbicara, setelah sedari tadi hanya diam. Memang, sifat aslinya pun begitu. Dingin dan pendiam.


“Ah, Grif—“


“Jin, Kinomoto Jin. Nona Rigel.”Sepasang mata obisidiannya itu menatap Rigel dengan tenang.


“Hngh?”Rigel tersentak, dia malah menjadi gusar “Hm~ Senang berkenalan denganmu Jin.”Rigel berucap dengan senyum, ia mencoba menyembunyikan raut terkejutnya. Kebetulan, atau disengaja. Jin alias Griffin, mahir dengan senjata petarung dekat seperti katana, pedang ataupun anggar. Keahliannya ini nyaris mirip dengan keluarga Kinomoto, bahkan beberapa kuda-kuda bertahannya nyaris mirip dengan sang Kekasih terdahulu. Kazuya.


Tampaknya, Rigel sudah diperhatikan dengan Valentino. Dia pun memengang pundak Rigel “Nona Rigel, apa kau baik-baik saja?”Layaknya seorang ayah kepada anak, satu-satunya snipper handal milik Avid Tim berucap dengan lembutnya. Dia tahu, Rigel mulai memucat sejak Jin mengatakan nama aslinya. Valentino hanya cemas jika Rigel memiliki trauma yang akan mempengaruhi kesehatannya. Biar bagaimanapun, Valentino merasa memiliki tanggung jawab atas ketiga anak-anak yang ada di unit Avid biarpun dia bukan kapten komandan. Namun dia yang lebih tua merasa harus berbuat demikian.


“Hey,hey bukankah kita bertemu untuk bersekongkol melindungi nyonya muda Lascelles ini?”


“Valentino!”Rigel protes “Kalian, sudah kukatakan tetap berada disana jika memang perlu mengambil misi melenyapkanku! lakukan saja.”Celetuk Rigel dengan nada marahnya, dia tak bisa membiarkan orang lain terlibat lebih jauh lagi.


“Itu benar.”Sahut Jin “Misi tetaplah misi.”Ucapnya dengan dingin.


Aria langsung menoleh kearah Jin, tatapannya jelas tak setuju “Kapten, pernah mengambil hukuman menggantikanmu karena kesalahanmu apa kau lupa Jin?”Aria tak mungkin lupa, dia ingat bagaimana punggung Rigel harus menerima banyak luka cambuk dari pengawas karena keteledoran seorang Jin. Namun, Aria yang saat itu mencoba membantu mengobati Rigel juga terhanyut heran. Pasalnya, luka cambukan itu sembuh dengan mudah. Tapi tetap saja, menurut Aria seorang Rigel sudah berkorban banyak untuk tim ini.


“Tidak, sejak awal kontrak itu sudah menjelaskan. Tidak boleh menolak perintah pengawas, tidak melanggar aturan, dan tidak memiliki empati terhadap sesama anggota Black Ash.”Jin mengucapkan kembali kontrak yang memang menjadi persyaratan kandidat Black Ash dulunya “Kita memang sudah dibayar untuk tidak manusiawi, aku tak perduli.”


Aria mengepalkan kedua tangannya menahan amarah “Kau—Aku sungguh tak menyangka, selama ini nona Cadas sudah begitu baik dengan kita. Kenapa dengan kepalamu itu Jin? Sungguh tidak berperasaan!”Aria memerah, kemudian membuang pandangannya dengan raut wajah masamnya.


“Ya sudah... Sudah...”Valentino terkekeh hambar.


“Pppffffttt...”Rigel menahan tawanya “Kalian, sungguh lucu.”Rigel menompang dagu kecilnya dengan tangan kanannya yang diletakkan diatas meja “Aku tak akan mati semudah itu.”Ucap Rigel dengan seringai kecil diujung bibirnya, hal itu dapat membuat siapa saja bergidik saat melihatnya. Rigel seperti dua mata pisau yang berbahaya, namun ia tetap bersikap dengan santai “Hal yang ingin kukatakan hanya itu, suamiku Lascelles klien yang memesan jasa kita juga. Tapi, sesuatu berubah, seperti yang kalian liat sekarang. Wajahku adalah wajah targetnya. Tubuh lamaku sudah mati.”Rigel berkata terus terang. Dia ingin timnya tahu yang sebenarnya.


Rigel mengangguk “Intinya begitu, setelah misi itu selesai aku sudah dinonaktifkan dari Black Ash oleh boss.”Padahal Rigel sudah tahu, sosok sebenarnya dari seseorang yang mereka panggil boss itu. Hanya saja Rigel lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu, agar rencananya mencari tahu kebenaran akan sosok aslinya terungkap. Tapi kali ini sudah terlanjut sulit, Rigel pun tampak sudah tak perduli lagi.


“Engh~”Rigel merenggangkan badannya yang terasa pegal karena sudah terlalu lama duduk “Aku ingin pulang, rasanya aku lelah sekali.”Ucap Rigel sambil meletakkan kepalanya pada meja itu, kemudian perlahan-lahan tidur.


“Eh?”Aria terheran-heran. Dia hanya mendengar dengkuran halus dari Rigel “Seriously? Nona Rigel benar-benar tertidur.”Ucap Aria tak percaya.


“Yah... Semenjak kehamilannya dia memang suka begitu.”Itu Ivan, dia tiba seolah-olah memang sudah diberi alarm peringatan untuk menghampiri Rigel “Jika tuan dan nona masih ingin bersantai disini, silahkan saja. Tapi saya harus permisi untuk mengantar bocah nakal ini pulang, sebelum suaminya pulang dengan amarahnya.”Ucap Ivan Lagi sembari permisi memasuki sofa ujung tempat Rigel terkulai dengan nyenyak.


Pria bersurai perak itu pun dengan mudahnya menggendong Rigel yang jauh lebih kecil dibandingkan dirinya ini “Dasar bocah menyusahkan.”Ivan masih sempat mengomeli Rigel yang dengan pulasnya tertidur tanpa terganggu saat Ivan mengangkat tubuhnya ini. Sementara Aria, Jin dan Valentino hanya melihat dengan terheran-heran sang petarung tangguh yang ditakuti oleh seluruh anggota Black Ash itu.


.


.


.


“Maaf, tidak mengabarimu lebih dulu tuan Lascelles.”Ivan tersenyum tak nyaman. Dia baru saja menghantar Rigel ke apartemen Jevandres, seperti dugaannya pria aquamarine itu sedang mencari-cari isteri manisnya.


Jevandres dengan paras seriusnya hanya mengangguk “Tidak apa-apa, Rigel mungkin merasa bosan. Terimakasih tuan Tristan.”Jevandres tanpa berbasa-basi lagi langsung meraih tubuh tertidur Rigel dari kedua tangan Ivan yang tampaknya kesusahan menggendong tubuh Rigel itu untuk masuk keapartemennya itu.


“Engh...”Rigel menggerang dengan nyaman saat berada dalam gendongan Jevandres.


“Ck. Lihatlah anak manja ini.”Celetuk Ivan saat itu.


Jevandres hanya tersenyum “Tidak apa-apa, dia memang senang begini belakangan ini.”Ucap Jevandres sambil berjalan membelakangangi Ivan “Apa tuan Tristan ingin mampir dulu?”


Ivan menggeleng “Tidak, aku hanya ingin menghantar Rigel tadi. Baiklah, kalau begitu aku kembali ke bakery. Selamat sore tuan Lascelles.”


Jevandres hanya mengangguk, dia lumayan sibuk mengurusi Rigel. Dia membuka pintu kamar dengan sebelah kaki kanannya. Kemudian meletakkan tubuh Rigel ke ranjang kasur dengan pelan. Bahkan setelan kemejanya sehabis bekerja belum sempat digantinya “Lihat siapa yang menjadi beruang malas, hm?”Ucap Jevandres sambil mengecup puncak kepala Rigel.


Jevandres meninggalkan Rigel yang masih pulas tertidur itu menuju kelantai bawah, dia mengenakan apron hitam sambil memasuki dapur dan mulai memasak untuk makanan makan malam nanti.


“Bocah itu. Suka makan apa ya? Selain makanan manis.”Jevandres sedang membongkar isi lemari freezernya, isinya lumayan lengkap. Memang, pria ini sudah terbiasa memasak biarpun sosok ‘Binary’ dulu masih bersamanya.


Tangan kekarnya mulai menghidupkan kompor api, dengan telaten Jevandres mulai menggoreng telur omellete dan sup ayam. Bahkan kedua tangannya begitu mahir dengan peralatan dapur ini.


 


.


.


.


Bersambung