
Hai Hai
Happy Reading~
.
.
Sinar mentari menelisik dari celah jendela yang sedikit terbuka. Berkas sinar mentari itu mengganggu tidur nyaman seorang wanita manis yang masih betah memejamkan kedua kelopak matanya itu, namun perlahan-lahan kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu bergerak terbuka “Eungh...”Dia melenguh pelan, kemudian meringis.
Kepalanya terasa sangat berat dan nyeri pada dadanya terasa sakit menusuk “S-sakit...”Ucapnya mengadu kesakitan, tetapi setelah itu dia berusaha menarik nafas serta menghembuskannya perlahan. Nyeri yang dirasakannya berangsur-angsur mereda.
Bingung. Kedua matanya menerjab melihat kearah sekelilingnya. Ruangan besar serba putih dengan beberapa furnitur seperti sofa panjang, lukisan pajangan serta “Ini di Rumah Sakit.”Benar, dia baru menyadari saat mendapati tiang infus yang ada disebelahnya. Ada dua kantung cairan infus, salah satunya berwarna putih bening dan satunya lagi berwarna merah pekat. “Tunggu... apa aku baru saja ditransfusi?”Ujarnya seraya membelai pelan jarum infus yang sudah diplester dipunggung tangan kanannya “Aku tak mengerti... apa yang sudah menimpaku?”Dia mencoba mengingat kembali. Tampaknya ingatannya belum utuh, bahkan seluruh tubuhnya terasa berat seperti selayaknya sudah tertidur dengan waktu yang lama.
Pintu itu berdecit, menampaki sepasang suami isteri paruh baya. Dari raut keduanya, bercampur haru dan bahagia. Mereka langsung menghambur pelukan dengannya “Bina... Ibu sangat cemas denganmu, akhirnya setelah dua minggu ini Bina bisa sadar dan sembuh kembali.”Ujar wanita paruh baya itu bersama pelukannya.
Wajah polos yang tengah kebingungan itu hanya merjabkan mata berulang kali “Sebulan?”Dia mengulangi.
“Benar nak, seminggu ini kamu koma. Setelah operasi kamu begitu lama tertidur sayang.”Pria paruh baya itu menyahut serta membelai puncak kepalanya dengan pelan.
“Aku kenapa?”
Sepasang suami isteri itu saling menatap satu sama lain, namun mereka tersenyum paham. Puteri tertuanya ini baru saja pulih dari koma yang panjang.
“Bina, kamu mencoba bunuh diri dengan menembakkan dirimu. Kenapa anak ibu tidak cerita masalahnya selama ini?”Kata wanita paruh baya itu membelai halus permukaan wajah puterinya.
Berbeda dengan wanita muda ini, dia menepis pelan tangan keriput itu “Bina?! Siapa Bina? Namaku Rigel.”Ucap wanita itu dengan nada tak suka. Benar, dia masih mengingat nama serta jati dirinya. Bahkan dia tak mengenal sepasang suami isteri paruh baya ini, seingatnya dia hanya memiliki seorang ibu yang tinggal jauh darinya dan beberapa kakak angkatnya. Tentu, ayahnya sediri sudah lama tiada karena kecelakaan yang merengut nyawanya. Ingatan terhadap jati dirinya masih baik. Tak salah pada saat itu dia langsung membantah.
“Oh ya Tuhan... Bina...”Wanita tua itu berucap tak percaya, dadanya langsung sesak saat itu. sementara sang suami langsung membopong tubuhnya.
Sepasang suami isteri yang mengaku sebagai kedua ‘orang tuanya’ tengah menunggunya diluar ruang perawatannya. Beberapa menit yang lalu, mereka dengan panik menghubungi dokter yang menangani puteri mereka.
Seorang dokter baru saja selesai memeriksa dadanya dengan sebuah stetoskop. Hanya dia dan seorang perawat yang menemaninya “Anda sudah mengalami trauma pada jantung yang cukup parah, setelah dilakukan operasi pengkatan peluru pada otot jantung anda. Keadaan tubuh anda juga baik untuk melalui semua ini.”Ujar dokter itu.
“Katakan saja diagnosa yang terjadi padaku?”Sahut wanita itu dengan nada yang dingin.
Dokter dan perawat itu saling memandang satu sama lain “Ah... anda terkena kerusakan pada arteri koroner, tetapi berkat mukjizat Nyonya Lascelles dan bayi dikandunagn anda berhasil berjuang sampai saat ini.”Ucap dokter itu tersenyum dengan lembut.
Rasanya dunia saat ini tengah runtuh. Detik dan menitnya membeku, sungguh dia amat terkejut. Dengan kedua bola matanya yang membulat sempurna, tangan kanannya menutup mulutnya yang terbuka lebar “Apa maksudmu dokter?!”Nadanya meninggi, dikala itu pula dia beranjak dari ranjang kasurnya.
“Nyonya Lascelles... jangan memaksakan diri!”Pinta perawat itu mengekori langkah wanita yang masih terkejut itu.
Dia malah tak memperdulikannya. Seraya memengangi tiang infus, wanita muda ini pergi memasuki kamar mandi. Disanalah dia menemukan pantulan dirinya, melalui cermin yang tertempel didinding kamar mandi. Dia sadar saat ini berada didalam tubuh seorang Binary Rui Aristolochia atau bahkan Binary Rui Lascelles.
“Tida...k... tidak...”Dia menggeleng seraya memengangi permukaan wajahnya “Katakan padaku ini semua bohong! Bagaimana mungkin aku menjadi dia! Bagaimana bisa?!”Hancur sudah pertahanannya. Dia berteriak dengan histeris.
“Bagaimana bisa aku ditubuh wanita itu?! Bahkan harus mengandung anaknya!”Kali ini ia diselimuti oleh amarah dengan teriakannya semakin menjadi, bahkan dia mengamuk serta tak sesekali memukuli perutnya berulang kali. Tak hanya berteriak, dia juga mulai menangis dengan pilu. Karena tingkahnya yang berubah histeris tiba-tiba. Dokter dan perawat saat itu terpaksa menyuntikkan obat tidur untuknya.
.
.
.
Lelah. Dia masih didalam tahap penyangkalan. Sudah terhitung delapan jam tertidur sejak amarahnya menggebu-gebu dengan kenyataan yang harus dihadapinya “Berbahagialah kau Binary, karena doamu terkabul semoga kau tenang di Neraka sana.”Gumamnya sarkas dengan nada yang pelan. Saat ini dirinya Rigel Wijayakusuma Carlin berada didalam raga Binary Rui Aristolochia harus diterimanya.
Angin bertiup lembut masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka lebar, tatapan kosongnya tengah melihat sang dewi malam yang bersinar terang saat ini. Tak sedikit perlip taburan bintang dikelamnya malam saat ini. Suraian hitamnya tertiup pelan karena angin. Dengan posisi setengah duduk diatas kasur, Binary memilih diam mematung memandangi malam dari jendela yang terbuka itu.
Klik...
Dia mendengar pintu yang mendecit terbuka. Bahkan mendengar langkah seseorang dari sepatunya yang mengetuk lantai, hanya saja dia sangat malas untuk menoleh kearah orang tersebut. Makanya, dia masih memilih duduk memandangi malam. Bahkan sekarang dia bersandar dengan nyaman pada penyanggah kasur itu.
“Begitu caramu menyambut suamimu sendiri, Bina?”
Deg. Suara yang terdengar familiar itu menyambut indera pendengarannya. Suara yang biasanya terdengar ramah dan lembut, malah terucap dengan dingin tanpa perasaan dari sang pemilik suara. Untuk memastikannya, Rigel menoleh kearahnya.
“Aku berdoa untuk kematianmu agar perpisahan kita menjadi mudah, tapi kau malah berhasil selamat ternyata.”Pemuda itu mendecih pelan, tatapannya yang dingin didukung dengan raut datarnya.
“Kau hanya mempersulit langkahku, sekarang aku harus kembali kekeluarga Lascelles. Tapi keputusanku tetap berpisah denganmu setelah anakku lahir.”
Rigel hanya terdiam. Kedua alisnya mengkerut satu, nampaknya dia masih berfikir keras. Masih mencerna-cerna tentang apa yang sekiranya terjadi padanya.
“Apa kau bisu?!”Bentak pemuda itu.
Kali ini Rigel menerjabkan kedua matanya berulang kali. Raut polos dan bingungnya sedang terkejut. Namun, tak ada rasa takut sedikitpun yang menyelimuti tubuhnya. Dia bahkan membalas menatap pemuda itu dengan tatapan penuh menantang.
Pemuda itu terkejut mendengar ucapannya. Seorang Binary yang naif dan lugu baru saja membalas membentaknya. Seorang Binary tak akan pernah melawan dirinya seperti itu, sayangnya tingkah Binary membuatnya tertarik melanjutkan sikap kerasnya. Tak tahukah dia jika didalam raga Binary sudah bersemayam sosok Rigel yang tentu berbeda.
Dia pun menyeringai kecil seraya duduk mendekati wanita muda itu “Oh kau sekarang kau mulai berani ya?”Ujarnya berbisik seduktif.
“Habisnya kakak mau aku mengalah? atau bagaimana?”Balas Binary sembari membuang pandangannya dengan acuh.
“Kakak?”Pemuda itu membatin seorang diri. Dia mematung, serta terkejut dengan bersamaan. Seorang Binary tak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ kepadanya. Memang itu karena umur mereka yang sebaya. Lantas pemuda itu langsung menangkup wajah sang isteri untuk membalas menatapnya.
“Kenapa kak?”Tanya Rigel kebingungan.
Pemuda itu mengamati seluruh wajah Binary aka Rigel ini. Dia menatap paras manisnya yang memasang raut yang bingung, iris mata yang berbeda warna pada mata kirinya yang merah dan mata kanan yang berwarna kenari, hidung mancung yang kecil serta bibir ranumnya. Benar sepasang iris mata yang beda, sebelah kiri yang berwarna merah dengan terang.
Yang dipandangi dekat dengan jarak yang terkikis, menjadi gelagapan. Pemuda itu ukiran Tuhan yang indah. Kedua iris aquamarine yang tajam, sepasang bulu mata panjangnya, rahang wajah tegas, hidung bangir serta bibir yang tipis. Bibir yang seksi itu masih enggan berucap.
“Tunggu. Kenapa iris matamu berbeda?”Tanya pemuda itu masih mengamatinya.
Rigel membulatkan kedua matanya. Dia semakin menjadi gelagapan, namun disisi lain dia bersyukur setidaknya masih ada bagian tubuh aslinya yang melekat pada jasmani sosok Binary Rui Aristolochia “Aku—“Dia terdiam ketika melihat bidikan laser melintas tepat disebelah pemuda itu. Dengan tangkas, Rigel menarik tubuh pemuda itu bersamanya untuk berlindung pada dinding yang ada disebelah jendela.
.
.
.
Dorr...dorr...
Riuh tembakan melesat menembaki ranjang kasur. Bahkan sebagian tembakannya mengenai vas bunga dan beberapa perabot lain yang ada disekitar ranjang kasur itu menjadi hancur berantakan.
Nyaris saja tembakan itu mengenai mereka. Jika Rigel tak lekas menyadarinya “Siapa yang melakukannya?”Ucap Binary seorang diri.
Beberapa menit kemudian. Suasana tampak tenang, tak ada tembakan lagi yang melesat. Rigel menghela nafas. Karena menghindari tembakan itu, jarum infusnya terlepas begitu saja. Sedangkan tiang infus itu sudah jatuh kelantai. Namun yang parah adalah darah yang mengucur melalui punggung tangannya. Rigel meringis memandangi tangannya itu.
Pemuda itu langsung menarik tubuh Rigel dan mendorongnya kedinding. Ketika memojokkan tubuh Rigel dan mengunci pergerakannya, pemuda itu menatap Rigel dengan tajam.
“Siapa kau?!”
Rasanya dia ingin mengatakan semuanya. Namun tatapan penuh kebencian itu mengurungkan niatnya “Terserah kau saja kak Jevan.”Menghela nafas. Rigel cukup lelah menghadapi kenyataan ini, apalagi ketika tahu sifat asli dari orang yang dikaguminya selama empat tahun ini berbeda dari yang dia sangka.
“Katakan padaku Bina, kenapa kau berubah? Kenapa kau bersikap seperti bukan dirimu?!”
“Lantas aku harus menjadi seperti siapa?!”Ucapan Binary diakhiri ringisan dari raut wajahnya.
Perutnya menjadi sakit. Bahkan sangking sakitnya sampai kedua kakinya lemas menahan bobot tubuhnya sendiri, sayangnya pemuda itu masih memojokkan tubuhnya. Akhirnya Rigel hanya bisa mengigit bibir bawahnya seraya tertunduk lesu.
“Kau sengaja melakukan ini bukan?! Sudah kukatakan jangan mengemis cinta padaku Bina, kau sendiri tahu aku masih tetap memperjuangkan Luna.”
Sakit sudah indera pendengaran Rigel mendengar bentakan konyol pemuda itu. dengan sisa tenanganya, Rigel membenturkan kepalanya pada dagu pemuda yang lebih tinggi darinya itu. dia tak perduli harus menambah denyut sakit pada kepalanya.
“Aku tak menyangka kak, seorang Jevandres bisa berbuat sekasar ini pada seorang wanita. Kupikir kau pemuda ramah yang hangat. Akh... eungh... Tapi kau sungguh pengecut!”Ujar Rigel meringis pelan seraya memengangi perutnya “Aku tak ingin bertingkah bodoh lagi, jangan sampai aku memukul anakmu lagi seperti tadi. Tolong jangan menambah beban pikiranku.”Lanjut Rigel seraya tertatih berjalan mendekati sebuah sofa yang ada didekatnya. Kemudian menduduki sofa itu dengan pelan.
Kini tak hanya perutnya, dadanya ikut terasa nyeri “Argh... pasti karena belum pulih. Sialan.”Dia pun memilih mengatur nafasnya seraya memejamkan sepasang kelopak matanya.
Melihat Rigel yang ada dalam sosok Binary tengah kesakitan itu, Jevandres langsung menekan tombol yang ada disamping ranjang kasurnya “Maafkan aku...”Lirih pemuda itu dengan pelan.
“Maaf... dia sudah berlaku kasar padamu.”
Rigel memang memejamkan kedua matanya. Namun dia tak tuli mendengarkan penuturan pemuda itu. setelah mendengar ucapan Jevandres, Rigel pun tertegun.
“Apa maksudmu? Kau itu kak Jevandres bukan? Siapa lagi yang kau maksud?”
“Benar, aku Jevandres Altair Lascelles. Kenapa kau bertanya Bina? Bukankah kau lebih kenal aku?”
“Aku...”Rigel terdiam tak melanjutkan ucapannya.
Jevandres tampaknya mengerti, dia pun mendekati sosok Rigel dalam Binary dan menggendong tubuhnya dengan pelan “Kau pasti kelelahan karena belum seutuhnya pulih.”Ujarnya seraya meletakkan tubuh Rigel dengan pelan pada ranjang kasur itu. kemudian segera menyibak horden dan menutup rapat jendela.
“Aku akan membereskan orang yang ingin mencelakai kita tadi. Bukan, dia hanya mengincar diriku.”Ujar Jevandres seraya tersenyum manis. Bahkan menampaki sepasang dimple pada kedua pipinya “Maaf kadang aku memang sering tak terkendali, Jika kau lupa itu tak masalah, jangan dipaksakan apalagi baru saja pulih. Aku tak ingin baby dan dirimu kenapa-kenapa Bina.”Tatapanya berubah menjadi teduh dan nada bicaranya menjadi lembut.
“Kak...”Panggil Rigel.
“Hmm? Aku suka panggilan baru yang kau ucapkan Bina, apakah ini karena permintaan baby?”
“Bukan-bukan. Aku—“
Ucapan Rigel terpotong karena seorang dokter tiba diruangannya. Sebenarnya Rigel, masih ingin berbicara dengan Jevandres. Karena perubahan kepribadian pemuda itu cukup menarik atensinya. Dia pun lebih banyak diam saat dokter memeriksanya, tak ada hal apapun yang dilakukan selain mengganti jarum infus kembali dan menyarankannya kembali beristirahat. Saat itu pula Rigel pindah ke ruangan perawatan lain. Alasannya karena mereka sempat diserang seseorang, selanjutnya Jevandres pergi meninggalkannya. Pemuda itu bilang masih memiliki urusan yang harus diselesaikan.
.
.
.
.
Bersambung