Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 37 : No Regret



Happy Reading


.


.


“...Tidak apa-apa, Nona?”


Rigel menggeleng pelan, wanita cantik bersurai kelam malam itu berjalan turun dari sebuah mobil dengan pelan. Sesekali memengangi pinggangnya yang sakit, karena menahan beban didepannya. Bayi kecil mereka tumbuh sehat diperut Rigel yang semakin membuncit.


Wajahnya berseri manis, senyuman selalu menghiasi raut wajah berbinar itu. Rigel berjalan pelan memasuk sebuah halaman mansion indah diantara kota Amsterdam. Gaun cream peach dan kardigan kelabu membalut tubuh berisinya. Rigel tetap cantik, terutama sepasang iris merah lembayung yang sangat langka pada matanya.


Disebelahnya, Rigel menggandeng tangan kecil putih pucat. Bocah lelaki manis dengan setelan kemeja turut berjalan disebelahnya “Yang Mulia, apa tidak apa-apa jika Ecru menampilkan wujud seperti ini?”Tangan itu menggengam erat tangan Rigel yang digenggamnya.


“Ehm~”Rigel menggeleng “Ecru, jangan berkata seperti itu.”Rigel mengulum senyuman.


Mereka memasuki mansion megah itu, beberapa maid dan butler kediaman ini menyambut Rigel. Sebenarnya, Rigel pertama kali mampir ke mansion ini diakhir minggunya. Padahal minggu lalu Rigel sudah bertemu dengan Jevandres hanya, dia kembali merindu dengan si iris aquamarine itu.


“Nona...”Seorang maid membawakan tas milik Rigel “Kamar Nona sudah dipersiapkan.”Ujar ramah maid yang sepertinya seusia dengan Rigel.


Rigel mengangguk “Ah ini tas yang ringan, biar kubawa sendiri. Terimakasih, a-anu? Namamu?”


Maid itu tampak tersentak kaget, tuannya ah—tidak nyaris seluruh anggota keluarga Lascelles atau keluarga bangsawan lainnya tak memperlakukan para pelayan dengan santai seramah gadis merah lembayung ini. Bahkan menanyakan namanya.


“...Margareta Barons.”


Rigel membinarkan kedua mata merah lembayungnya “Margareta, ini pertama kalinya aku berkunjung kemari. Apakah mau menemaniku berkeliling? Nah, Ecru... tidur siang dulu ya.”


Maid muda itu tetap berjalan didepan Rigel dan bocah manisnya. Dia mengangguk “Baik, nona.”Maid itu berhenti didepan sebuah ruangan. Dia membukakan pintu itu “..Silahkan nona, jika perlu sesuatu harap mengabari. Margareta akan melayani nona selama dikediaman ini.”Margareta sang maid memberi hormat kepada Rigel.


Tentu, Rigel akan sungkan. Dia menggeleng pelan “Panggil aku Rigel, kurasa usia kita sama.”Ujar Rigel tersenyum lembut.


“Sssstttss..”Tiba-tiba Rigel mendesis pelan.


“Ada apa? Nona Rigel?!”Margareta mendekati Rigel.


Ecru yang sedari tadi diam. Sudah tahu, kebiasaan Rigel belakangan ini. Atau bayinya lebih tepatnya. Ecru yang memang memiliki sifat kalem dan pendiam, hanya menguap kecil. Pipinya kemerahan dan kedua matanya berair.


“Tidak apa Margareta. Bayiku menendang, dia memang suka seperti itu belakangan ini.”Rigel terkekeh pelan. Dia mengusap pelan perut bulatnya.


Margareta melihat tatapan Rigel, dia mengagumi. Selain cantik, Rigel juga begitu lembut dan baikm “Jika memang dibutuhkan, Margareta bisa memanggil Dokter Wilson untuk mengecek keadaan Nona.”Ucapnya dengan hormat.


Rigel menggeleng, sebaliknya dia masuk terlebih dahulu kedalam kamar itu sambil menggandeng Ecru “Tidur siang dulu ya?”Ujar Rigel membelai puncak kepala Ecru.


“Mhn...”Bocah itu mengangguk patuh, dia pun masuk kedalam kamar dan langsung berbaring diranjang kasur.


Margareta menatap Ecru, dia sempat heran. Mengingat Tuan Muda Lascelles baru menikah masih menanti calon anak mereka yang akan lahir. Yah, Jevandres Altair Lascelles Tuannya yang serba sempurna. Dia pun tahu, walaupun dulu sering membawa bergantian membawa wanita dimansion ini. Manatan pacarnya banyak tapi dia tak pernah memiliki anak lain.


“Ah ini...”Rigel memandangi dengan paham “Memang bukan anak kami, hanya mengangkatnya.”Ujar Rigel dengan tenang.


Rigel memandangi Ecru yang terlelap, dia terkekeh pelan “Apakah, kalian memiliki minuman yang cocok? Rasanya aku agak mual. Hehe...”Ujar Rigel dengan jujur.


Margareta mengangguk “Baiklah, nyonya. Kami akan menyiapkan teh dikebun bunga halaman belakang mansion.”


“Wah!”Rigel kagum “Ada tempat seperti itu disini?”Katanya lagi.


Margareta mengangguk “Mari saya antar, nona...”Margareta sedikit membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Rigel.


Mereka berdua berkeliling, menelusuri mansion atas permintaan Rigel. Hingga mereka berjalan memasuki halaman belakang yang ditumbuhi berbagai tanaman yang melimpah dengan berbagai jenis.


“Apakah nona, baik-baik saja?”Agaknya Margareta khawatir kepada Rigel, perutnya bulat dalam keadaan hamil. Tapi nonanya ini bergerak dengan aktif, seakan lupa dengan keadaannya.


Rigel berlari-lari kecil kehalaman penuh dengan bunga itu “Aku? Haha tentu saja baik-baik.”Rigel pun berjalan menuju sebuah gazebo, lengkap dengan bangku dan mejanya. Seperti sebuah tempat untuk bersantai.


“Saya akan menyiapkan teh anda, nona.”Margareta meninggalkan Rigel yang tampak duduk dengan nyaman sendirian.


“Selamat Sore Tuan Muda Lascelles, permisi nona. Teh dan cemilannya sudah siap, terimakasih sudah menunggu.”Suara Margareta terdengar.


“Huh? Tuan muda?”Rigel berseru, tak berapa lama mulai membuka kedua matanya melihat seorang pria yang duduk diseberangannya dengan mengenakan kemeja berwarna putih diatas kancingnya terbuka. Lengannya digulung sesikunya namun rompi hitamnya masih membalut tubuh atletis pria pirang itu.


Jas hitamnya disampirkan dibangku itu namun kemudian diambil oleh butler setianya. Pria paruh baya dengan pakaian rapi seorang butler.


Sepasang iris aquamarine pria rupawan itu menatap Rigel dengan lembut “...Bagaimana keadaanmu dan bayi kita?”Suara berat itu mengalun lembut.


“Baik, sekarang semakin baik. Hehe... Kak Jev sendiri bagaimana? Apa kerjaannya lancar?”Rigel berucap dengan santai sambil mengambil sebuah cookies yang baru saja diletakkan oleh Margareta diatas meja itu.


“Hm... Enak, cobalah kak Jev.”Rigel tak sengan menyuapkan cookies kemulut Jevandres.


Butler setia Jevandres, pria paruh baya itu menganga tak percaya. Diikuti dengan Margareta yang turut menatap terkejut.


“Hm, enak.”


“Iya kan?”


Rigel menepuk-nepuk pelan puncak kepala Jevandres “Hihi... Sering-sering temani aku ngemil ya kak Jev.”Rigel terkikik sendiri.


Kini tak hanya Charlie dan Margareta, beberapa maid dan butler yang turut disana pun menatap terheran-heran. Seluruh isi mansion sudah tahu, jika Jevandres tak menyukai makanan manis. Bahkan sangat membenci makanan manis. baru kali ini para pelayan mansion Jevandres yang diperlakukan dengan begitu santai oleh Rigel, walaupun mereka tahu banyak wanita yang menyukai tuannya tapi berkat arogansi seroang Lascelles. Para wanita itu tak lebih dari wanita yang menemani saat suntuk, namun berbeda dengan Rigel. Setidaknya sebelum Rigel tiba dikediaman Lascelles yang lain di Netherlands.


Tapi dilihat dari gelagat Rigel, tampaknya dia belum tahu. Begitulah menurut Margareta yang memperhatikan interaksi Rigel dan tuan mudanya.


“Rigel...”


“Hm?”Rigel menyahut panggilan Jevandres.


“Kemari.”Ujar Jevandres sambil menepuk-nepuk paha yang mengenakan celana hitam.


Rigel terkekeh “Jangan komentar, jika aku terasa lebih berat.”Rigel pun beranjak dari tempat duduknya kemudian dia pun duduk dipangkuan Jevandres sambil melingkari tangannya pada leher Jevandres. Berkat tubuhnya yang besar dan tegap, Rigel yang jauh lebih kecil merasa nyaman duduk dan bersandar pada tubuh Jevandres.


Rigel dan Jevandres, kemesraan mereka turut disaksikan oleh beberapa pelayan.


“Charlie, bisa kembali. Kalian juga...”


“Baik, Tuan Muda.”


Kini, Rigel dan Jevandres. Masih bersantai di gazebo itu. Rigel masih memeluk leher Jevandres dan bersandar diceruk leher sang pria rupawan itu.


“..Dia begitu aktif.”Rigel bergumam ketika tangan lebar Jevandres mengusap perut bulatnya. Terasa bayi yang dikandungnya itu juga bergerak dengan pelan. Terasa sakit, namun Rigel menyukai kehidupan yang ada didalam dirinya.


“Oh iya, Kak Jev. Yang kutahu selama ini, kau hanya seorang pengajar di universitas. Apakah semua ini karena dirimu yang sesungguhnya. Hertog Var D’auxy.”


“Ho~ kau sudah tahu rupanya?”


Rigel menggeleng “Hanya menerka saja kok.”Rigel tersenyum jahil, jika Rigel tahu itu bukan masalah besar baginya. Rigel mantan anggota organisasi rahasia, dia biasa menyelidiki korban-korbannya. Kecerdasannya setara dengan para detektif, ketangkasannya sama dengan perwira bahkan sudah digadang-gadang sebagai penerus dunia bawah. Hanya bersembunyi, dibalik tubuh manis yang hangat. Wajah cantik yang mungil, dia mencoba menjadi biasa saja.


Jevandres juga tak terkejut. Dia tahu, dan tak keberatan jika Rigel tahu “Maaf, jika membuatmu tak nyaman dengan pekerjaanku karena kewajiban keluarga yang kubawa.”Ucap Jevandres sambil mengecup pipi gempal Rigel.


Rigel menggeleng “Jika, masih ada rahasiamu lagi. Aku pun tak masalah, aku baik-baik saja dengan semuanya.”


Jevandres menatap iris merah lembayung itu dengan aquamarinenya. Perasaannya sudah singgah berlabuh selamanya pada wanita ini “Jika rahasia itu terbongkar lagi. Apa kau memaafkanku?”


“Tentu saja.”Rigel tersenyum, kali ini dia yang mengecup kening Jevandres kemudian membelai surai pirang itu dengan lembut “Aku tak akan menyesalinya, kak Jev.”Lanjutnya lagi.


.


.


.


Bersambung