Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 35 : I know



Happy Reading


 


 


 


“Heee~ Kalian bermain-main tanpa menungguku ya?”


Ivan dan Arcadia serempak menoleh, mendapati sosok manis dengan sepasang mata merah lembayung menatap dengan girang. Sosok penyandang gelar dosa kemurkaan itu baru saja tiba, lagi seorang diri tanpa sang suami yang Ivan dan Arcadia tahu begitu posesifnya.


Ivan menghela nafas, dia tak terkejut “Kenapa kau malah kemari, Rig?”Ivan berucap dengan tenaga yang menipis, baik dia maupun Arcadia sudah sama-sama kelelahan. Sementara pertarungan ini belum menampaki hasilnya sama sekali.


Langkah kaki mengetuk keheningan malam pada sebuah gedung castil tak berpenghuni itu “Masih bertanya? Tentu saja membantu kalian.”Ucap Rigel berjalan mendekati kedua saudaranya dengan tenangnya. Disana kedua mata merah lembayungnya hanya menatap tiga orang pria yang sepertinya sudah lama saling berseteru itu, Rigel tahu berkat melihat energi para pendosa yang penuh menyesakkan didalam kastil ini.


Hal ini membuat seorang pria bersetelan jas rapih itu tertawa dengan girangnya pula “Hahaha! Ira... Ira favorite ku!”Dia berseru kesetanan, dari sorot mata hijaunya memandang Rigel dengan bangga “Lihatlah, Kemurkaan yang kau bawa. Oh ya?”Pria itu memicingkan kedua matanya kemudian tertawa terbahak-bahak “Tebak siapa yang sebentar lagi akan menjadi seorang paman.”


Rigel tersenyum miring, rautnya tampak meledek “Tentu saja Ivie dan Dio, kau itu. Tidak, kalian itu bukan anak-anak Dada... Sadarlah akan posisimu.”Ucap Rigel sambil mengibas-ngibas tangannya.


“Tidak ada yang berubah sama sekali, Ira sang Red Crimson.”


“Oh tentu saja, tuan pembangga. Superbia.”Rigel pun menyahutinya.


Antonio Var Redee, menajamkan kedua matanya “Aku kenal suamimu dengan baik, Ira.”


Rigel tak berbasa-basi, dia langsung melempar belati hitamnya. Sontak, membuat belati itu menggores bagian pipi tirus pria itu “Jevandres, tidak ada hubungannya.”Ucapan Rigel begitu dingin.


“Rig!”Ivan berseru. Dia takjub, melihat satu kali serangan Rigel yang mengenai pria itu sampai terluka. Dia saja bersama Arcadia tak mampu mengenai serangannya kepada pria dosa kebanggaan itu, namun Rigel hanya dalam satu kali serangan dia sudah dapat melukainya.


Arcadia Dio, sempat memengang pundak kecil Rigel “Kau hamil, ingat itu.”


Rigel mengangguk “Keponakanmu anak yang kuat, tenang saja. Mengusir serangga itu tak akan lama.”Kata Rigel sambil tersenyum “Lagi pula, kalian berdua sampai babak belur begitu.”


“Okay...”Rigel menarik kembali belati hitamnya “Seperti yang kau tahu, aku tak bisa meladeni lama-lama.”


“Menarik, lagi pula kedatanganku hanya untuk melihatmu. Ira...”


Rigel tersenyum miring “Diabolus... Red crimson.”Ucap Rigel, mengubah bentuk belatinya menjadi dua buah pedang berwarna merah. Ketika diayunkan bersamaan, mirip seperti kepakan sayap phoenix merah yang berapi-api. Ini merupakan kemampuan paling spesial milik Rigel, satu-satunya serangan yang ia gunakan untuk melawan para kebijakan dulunya.


“Menghindar ya?”Rigel berucap, dia sudah mengayunkan pedangnya berkali-kali. Serta berkali-kali itu pula, pria beriris emerald itu menghindar.


Rigel berhenti menyerang, dikala ia pun tahu sesuatu yang sempat terlintas dibenaknya “Begitu ya?”Rigel hanya mengayunkan satu kali pedangnya diudara, perlahan-lahan barulah tampak ribuan benang transparan pada seluruh tubuh pria itu.


“Boneka kutukan?!”Ivan dan Arcadia serempak berseru.


Sedari tadi mereka berdua diserang oleh sebuah boneka kutukan, namun energi yang disalurkan dari sang dosa kebanggaan begitu besar. Sampai-sampai mereka mengira, boneka itu merupakan sang pendosa kebanggaan itu sendiri.


Rigel mengayunkan pedangnya, memutus seluruh benang itu. Kedua mata merah lembayungnya pun menatap pria yang langsung tergeletak itu “Menyedihkan, benar-benar pengecut.”Sepasang iris merah lembayung itu menatap dengan tajam “...Yah sudah, sisanya kalian bereskan ya.”Ucap Rigel sambil berbalik.


“Rig!”Ivan menarik pergelangan tangan Rigel dan memeluk adik kecilnya itu “Kami tak masalah, kenapa kau repot-repot kemari?”


“Ayolah Ivie... Bagiku menyelesaikan serangga itu begitu kecil, kalian saja sudah begitu menekan energi didunia manusia. Ruang kalian terbatas, tapi aku berbeda. Ingatlah tubuhku bisa leluasa berkat menjadi manusia itu sendiri.”Rigel melonggarkan pelukannya “Hubris Superbia, tak akan bertingkah gegabah. Dia hanya menggertak kalian berdua, agar aku keluar menghadapinya.”Ucap Rigel sambil mengusap-usap wajah Ivan yang penuh luka goresan itu “Lihat, hanya serangan Superbia. Membuatmu babak belur.”Rigel tak tega. Karena dirinya, Ivan dan Arcadia harus mempersempit energinya didunia manusia.


“Rig, ini tidak apa-apa.”Sahut Arcadia.


Pria itu mengusap puncak kepala Rigel “...Kami sengaja, karena berhadapan dengan dia secara langsung membuat kita tahu sosok sebenarnya.”


Rigel mengangguk setuju “Benar, aku sudah tahu.”


Ivan menatap Rigel “Apa kau baik-baik saja ketika sudah tahu hal ini?”


“Tidak masalah.”Ucap Rigel tersenyum lembut “Dia tak akan berani berbuat macam-macam, percaya padaku.”Ujar Rigel sambil mengusap-usap perutnya dengan pelan.


“Yang jelas dia, memiliki rencana khusus. Setelah Rigel melahirkan, kita tak boleh menahan-nahan lagi.”


Ivan menggandeng Rigel dan Arcadia “Kita pulang, aku akan buat makan malam sesampainya dirumah Rigel.”


“Aku mau makan sup!”


“Baiklah baiklah aku buatkan. Arcadia, tidak ada shift malam kali ini. Bolos saja, kita makan malam dan istirahat.”


Rigel mengangguki ucapan Ivan “Betul! Kalian berdua lama tidak kerumahku, tidak ada orang yang bisa kusuruh-suruh. Hehe...”


Begitulah tiga bersaudara ini, mereka sudah begitu lama bersama. Jauh dilubuk hati Rigel, dia menyayangi kedua saudaranya ini.


.


.


.


Ivan melotot, melihat Rigel makan dengan nafsu makan yang besar. Dia sudah menghabiskan sup sebanyak lima mangkuk. Bahkan wajahnya berseri-seri dengan gemas “Apa kau begitu lapar?”Ujar Ivan sambil meletakkan segelas susu hangat disamping diatas meja makan disamping Rigel.


Gadis itu mengangguk saja, sambil menyuapi beberapa potongan sayuran yang ada didalam mangkuknya.


“Ivie... aku mau kopi panas.”Pinta Arcadia Dio.


“Kudengar, Luna tertembak pagi ini. Temanku yang menangani kasus autopsinya bilang dia menemukan zat obat anti depresi yang banyak ditubuhnya. Satu hal lagi...”


Rigel sampai menghentikan aktivitas makannya.


“Dia dalam keadaan hamil dua minggu.”Ucap Arcadia Dio yang masih memengang ponsel genggamnya.


“Aku menyampaikan hal ini, karena biar bagaimana pun tubuhmu masih seorang Binary walaupun aku mengakui kalian begitu mirip.”


Rigel menghentikan makannya “Jelas saja, ini wadahku. Aku bisa mengubahnya sesuai keinginanku. Soal Luna, bisakah kuminta kau mengetahui ayah dari bayi yang dikandungnya itu? Jika dugaanku benar, Theo orang yang tepat. Tak kusangka dia malah menderita ya?”


Arcadia Dio membulatkan kedua mata merahnya “...Kau berkata sangat manusiawi, Rig.”


“Entahlah...”Rigel tersenyum “Mungkin besok pagi, aku akan pergi kerumah duka Aristolochia. Oh ya omong-omong kenapa pria bongsor itu belum tiba ya?”


Ivan baru tiba dengan dua cangkir kopi panas yang dibawanya “Kau mencari tuan Lascelles?”


Rigel menggeleng “Tidak kok, dia tadi sempat pamit karena harus kembali bekerja. Padahal kami baru ditabrak dengan Luna.”Ujar Rigel dengan gamplang.


“Huh?!”Ivan tersentak “Tapi kau tidak apa?”


Rigel mengacungkan jempolnya “Kalau bersama papa beruang aku baik-baik saja. Hehe...”


“Siapa yang kau sebut papa beruang, Rig?”Aroma cedarwood menguar, seorang pria yang menyampirkan coat hitam pada lengan kirinya. Dia berdiri dibelakang Rigel, kemudian pria beriris aquamarine itu menundukkan kepalanya untuk mengecup dahi Rigel dengan lembut “Kau sudah makan?”Ujarnya dengan lembut.


Hal itu diberi decihan oleh Ivan, namun Arcadia tetap kalem memandangi sang adik bersama kekasihnya itu.


“Hehe~Sudah kok Papa beruang.”Ledek Rigel sambil terkekeh manis.


“Selamat malam dokter Dio dan tuan Tristan, tak menyangka kalian juga ada disini.”Ujar ramah Jevandres.


Arcadia menegak kopinya “Kami sibuk beberapa bulan yang lalu, terimakasih sudah menjaga adik kami. Pasti dia merepotkanmu tuan Lascelles.”Ujar pria beriris merah itu “Pasti morning sikness dan perilaku selama kehamilannya sudah mulai muncul.”


Jevandres hanya tersenyum “Begitulah dokter Dio.”


“Engh~”Rigel tiba-tiba melenguh “Aduh duh...”Dia merasakan nyeri yang samar pada perut bulatnya. Ada tendangan kecil disana.


“Kemari kak Jev.”Ujar Rigel sambil mengambil tangan lebar Jevandres untuk meletakkannya dipermukaan Rigel.


Kedua mata aquamarine itu membulat takjub “Dia menendang?”


Rigel mengangguk “Hm~ lucu bukan?”Ujar Rigel dengan gemas.


Arcadia dan Ivan saling menatap satu sama lain “Aku akan merokok ke pekarangan depan, Rig. Segera istirahat setelah itu dan tuan Lascelles...”Ujar Ivan dengan dingin “Titip adik kami sebentar.”Kata pemuda bersurai perak panjang itu sambil bangkit berdiri dengan membawa secangkir kopinya “Ayo Dio! Kau berhutang penjelasan denganku soal menjual cabang toko bakery ku diSeoul?!”Sebelah alis Ivan sampai mengkerut kesal.


“Baiklah... baiklah...”Arcadia Dio menatap malas, dia pun ikut bangkit berdiri sambil membawa cangkir kopinya juga “Tuan Lascelles, vitamin dan obat zat besi milik Rigel ada diatas nakas meja kamarnya.”Pesan Arcadia kepada Jevandres.


Rigel langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Jevandres “Hm~”Rigel bergelayut manja sambil menghirup aroma cedarwood dari leher Jevandres.


“Kenapa?”


“Tidak ada... Hanya sedang ingin memelukmu.”Ucap Rigel.


Jevandres memengang pinggang kecil Rigel “Aku belum mandi.”


Rigel mendusel-dusel pada ceruk leher Jevandres “Hm~ oh iya! Apa kau akan pergi kepemakaman Luna?”


Jevandres mengangguk “Sudah tadi petang.”


Ada raut kekecewaan pada wajah manis Rigel, Jevandres pun mengecup pipi gempal itu “Tidak apa-apa. Aku mewakilimu, besok boleh berkunjung kepemakamannya.”


“Kenapa Luna ada disini?”


Jevandres kembali mengecup seluruh permukaan wajah Rigel “Tuan Aristolochia bilang ia melarikan diri bersama Theo, mereka sudah tinggal bersama sejak sebulan yang lalu. Wajar jika dia ada disini.”


“Kasihan juga.”


Jevandres menggendong tubuh Rigel “Ayo segera tidur, sudah malam.”Ucap Jevandres sambil menggendong tubuh kecil Rigel itu “Jika dilihat-lihat, tubuhmu kecil dan buncit. Hm... seperti ikan koi.”Ledek Jevandres.


“Ish... Awas saja menciumku lagi!”


Jevandres tertawa kecil “Bercanda...”Kekehnya begitu.


 


 


.


.


.


Bersambung