
.
.
.
.
.
“Caleb... Ah~ aku bahkan baru mengganti popokmu.”Rigel menghela nafas, namun tetap telaten mengganti popok bayi beriris merah lembayungnya itu. Bayi itu hanya berceloteh khas bayi.
“Calleriu... astaga lihat liurmu terkena baju lagi.”Kedua kalinya Rigel menghela nafas, tapi tetap mengganti baju bayi beriris biru itu. Bayi kecil itu hanya menatap sang ibu sambil menguap, bahkan gigi-giginya belum tumbuh.
Rigel mengelap keringat didahinya “Sudah ya. Kita seharusnya sudah sejam yang lalu menaiki kereta, haaa~ kalian ini.”Rigel meletakkan Calleriu yang memang tertidur itu didalam keranjang bayi, kemudian menggendong Caleb dengan baby wrap. Tampaknya yang bersemangat hari ini Caleb, dilihat dari kedua iris mata merah lembayungnya yang berbinar “Caleb, tampaknya bersemangat ya? Ayo... kita berangkat.”Ucap Rigel dengan santai.
Sebelah tangan kanannya mendorong kereta bayi dan tangan kirinya menepuk-nepuk pelan pantat Caleb, bayi beriris merah itu sudah mulai terkantuk-kantuk. Rigel terkekeh pelan, sejak kedatangannya kembali ke Den Haag. Rigel menjalani semuanya seorang diri, bahkan setelah izin melahirkan dari perkuliahan. Rigel memilih beberapa program matakuliah yang bisa dilakukannya dirumah. Seperti jarak jauh dan daring “Ah~ jadi telat beberapa bulan untuk lulus.”Rigel bergumam sendiri.
Dia memasuki sebuah stasiun kereta yang tampak sibuk pagi ini, setelah menempelkan kartu kereta. Dia menunggu kedatangan sebuah kereta yang akan menuju Den Haag-Amsterdam. Kedua bayinya tampak tidur dengan pulas.
Sebenarnya dia hari ini diam-diam pergi mengunjungi Manor Lascelles dari kedua kakaknya. Izinnya berdusta ingin menemui sang nenek, tapi Rigel membawa kedua bayinya ikut serta untuk menemui Kepala keluarga Lascelles muda itu. Rigel hanya menyeringai tipis dengan kedua iris mata merahnya. Gila, benar. Tampaknya Rigel kembali pada sosok sebelumnya.
“Ah repot juga!”Rigel menjentikkan jemarinya, membuat waktu terhenti “Nah Ecru, mau bantu mendorong kereta Calleriu?”Cincin hitam yang melingkar dijemarinya langsung berubah menjadi sosok bocah manis dengan setelan jas rapi lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
“Baik, Yang Mulia.”Ucapnya sambil memengangi kereta berisi bayi Calleriu.
Rigel mengangguk, dia pun menjentikkan jemarinya lagi “Ah~ aku rindu energi ini.”Ujar Rigel ketika kereta itu sampai dengan hilir mudik setiap orang yang berlalu. Semua energi pendosa membaur campur aduk. Rigel menyeringai kecil, dia pun memasuki kereta itu bersama Ecru yang mendorong kereta bayi.
Usai tiba di Amsterdam, memesan Taxi dan tak berapa lama tiba didepan manor Lascelles yang megah diantara kota Amsterdam itu. Gerbang manor itu dibukakan, kemudian pintu taxi itu dibuka oleh seorang butler muda yang tampak baru.
“Selamat datang, Nyonya Lascelles.”Ujar pelayan pria itu.
Rigel menggendong bayi Caleb yang tidur dengan tenang itu, dia sedikit mendecih “Menjijikkan Avaritia...”Ujar sinis Rigel sambil menuruni taxi.
Pria muda itu membungkuk dengan hormat “Sungguh mengejutkan anda bisa tahu, nah tuan besar Lascelles sudah menunggu diruangannya. Apakah perlu saya antar? Ira.”
“Tidak, terimakasih.”Rigel dengan raut datarnya berjalan masuk kedalam mansion itu “Ayo Ecru, abaikan saja orang gila itu.”Ucap Rigel tak kalah datarnya.
“Hyaaa~ Ira! Ayolah berkesan sedikit, pura-pura tidak tahu!”Pelayan pria bertubuh dewasa itu menghentakkan kakinya seperti seorang anak kecil yang marah. Avaritia, sang dosa keserakahan.
Rigel tak perduli, dia tetap jalan memasuki mansion itu. Disana dia juga menemui seorang koki yang tampak baru menuruni tangga “Guilia! Dimana gadis muda yang bekerja disini?”Tanya Rigel dengan santai.
“Ah~ kau bisa mengenaliku dalam wujud manusia? Wah... hebat.”Kedua mata merahnya berkedip-kedip “Pelayan-pelayan disini? Hm...”Dia tampak berpikir sejenak “Sudah kumahan, hehe...”Ujar Guilia. Sang pendosa kerakusan.
Rigel memicingkan matanya, tak sengaja menguarkan aura pendosanya “Hoekkk~”Namun bayi yang digendongnya malah menangis, Rigel menghela nafas dan menepuk-nepuk pelan bayinya “Sttss... kau bisa merasakan aura orang-orang yang menjijikkan ya?”Rigel tersenyum lembut melihat iris mata merah Caleb yang berbinar saat itu. Tak salah lagi, Caleb mewarisi sebagian kemampuannya secara alami.
“Uwah~ bayi-bayi manusia campuran. Betapa lezatnya!”Ujar Guilia mencoba mendekati.
Rigel segera menendangnya, tubuh manusianya masih lentur dan kuat. Mengenai pipi kiri koki itu sampai lebam “Menjauh.”Ancam Rigel dengan kedua iris mata merah lembayungnya.
“Baiklah, baiklah...”Guilia hanya mengusap-usap pipi lebamnya itu.
Rigel kembali menaiki lantai dua, dia masih ingat ruang kerja Jevandres. Tapi aura mansion ini begitu muram. Menjijikkan dengan seluruh aura pendosa dari keempatnya. Tapi satu aura yang mendominasi sangat kuat, lebih terasa kuat lagi saat tiba didepan pintu ruangannya. Rigel tak mengetuk, melainkan menendang pintu itu sampai terbuka. Ingat Rigel masih menggendong putera kecilnya Caleb dan Ecru yang masih mendorong kereta bayi berisi Calleriu kecil.
“Ah, kau menemuiku lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Ira.”
Sebelah alis Rigel menaik, pria itu. Suaminya itu, duduk dimeja kerja dengan kancing kemeja putih yang terbuka dengan Luxie yang bergelayut manja disampingnya. Biarpun Rigel tahu, saat ini. Jevandres yang asli. Jevandres yang ada didalam tubuhnya bersemayam dengan damai.
“Sepuluh menit... Sepuluh menit saja, biarkan aku menemuinya.”Rigel menatap dengan nanar. Perasaannya sakit, walaupun tahu betul yang terjadi. Dia yang paling paham. Maka dari itu Rigel berusaha tegar, disaat waktunya tiba Rigel tak akan segan memberi perhitungan.
Jevandres ah tidak, Hubris Superbia yang berada ditubuh Jevandres menatap dengan iris merahnya “Apa bayarannya jika aku melakukan hal itu?”
Bagus, Rigel sudah muak. Amarahnya sudah membumbung. Ingatkah akan posisinya yang terkuat diantara para pendosa lainnya “Apa yang harus aku bayar untuk pencuri licik seperti mu?”Kedua iris merah lembayung itu mengkilap. Aura kemurkaan menyelimuti dirinya, sisi asli Rigel pun menguar. Namun ia tetap menahannya.
“JEVANDRES ALTAIR LASCELLES! Aku berbaik hati menemuimu, untuk memperlihatkan bayi-bayi kita! Anak-anak Kita! Bangun kau kep*r*t!”Rigel berteriak dengan kencang.
Ecru yang memang tak berekspresi, melihat bayi Calleriu yang mulai bergerak dengan gelisah “Ah~ tuan muda Calleriu. Cup...cup...”Ujar Ecru yang tak terganggu sama sekali dengan keributan ini. Dia menepuk-nepuk pelan paha kecil Calleriu.
“Ya Yang Mulia!”
Rigel meletakkan bayi Caleb disamping bayi Calleriu didalam keranjang bayi “Jaga mereka. Ini perintah!”Ujar Rigel dengan sepasang mata merah menyalang dengan gigi tajam yang tampak menciut keluar itu.
“Baik, Yang Mulia.”Ecru pun mengangguk patuh. Tetap diam disamping kedua bayi itu.
Rigel melesat cepat, dia mengincar Hubris dengan menendangnya. Namun pria itu mengelak dengan cepat. Puncaknya Rigel memutarkan tubuhnya dengan cepat, bergerak berpindah dibelakang pria itu kemudian meninju punggung bagian belakangnya dengan keras “Bangun... Tak akan kumaafkan jika kau tak menemui kami...”Bisik Rigel dengan pelan.
“Hubris!”Luxie Berteriak kala tahu, jiwa Hubris didalam tubuh Jevandres mulai goyang. Luxie pun melihat Rigel, kepalan tangannya itu terpasang Knuckle perak berwarna perak putih “Kau—“Luxie tak percaya, tidak ada pendosa yang bisa memengang senjata suci milik para malaikat.
“Ah... aku meminjamnya dari Zuriel, alat ini akan bekerja pada manusia atau malaikat yang menggunakannya. Apakah kau lupa? Aku kan selalu hidup sebagai manusia, dasar bodoh.”Rigel menyunggingkan senyumannya. Walaupun dia cemas, pasalnya itu hanya menahan beberapa saat. Selagi, kontrak diantara Jevandres dan Hubris masih berlaku ini tak akan bertahan lama.
Rigel menghampiri Jevandres yang menduduki tubuhnya, setelah jatuh tersungkur. Kekuatan Rigel tanpa energi pendosa pun sudah menyeramkan.
“Ri-rigel? Bagaimana bisa?”Jevandres tampak bingung.
‘Akhirnya, iris aquamarine itu kembali’Rigel berseru dalam hatinya. Dia tak berbicara apapun lagi, langsung menarik tengkuk Jevandres dan mengecupnya singkat “Aku merindukanmu, walaupun aroma tubuhmu bercampur dengan aroma menjijikkan wanita itu.”Sepasang iris merah lembayung Rigel mengkilap dengan sayu menatap iris Aquamarine yang dirindukannya itu.
Jevandres memengang leher Rigel kemudian mengecup gadis itu lagi, kemudian beralih pada dahi, pipi, dan lehernya “Rigel... Kau nekat sekali.”Ujar Jevandres.
Rigel yang memerah merona, hanya mengangguk kaku “A-aku membawa bayi-bayi kita.”Ucap Rigel.
Ecru mendorong kereta bayi itu didekat mereka berdua, Rigel lah yang mengambil bayi Calleriu untuk digendong pada Jevandres kemudian menggendong bayi Caleb.
“Mereka, bayi-bayi kita?”Tatapan haru seorang Jevandres terlihat. Dia mengecup bayi kembar itu secara bergiliran “Berikan Caleb, biar kugendong mereka berdua.”
Rigel pun memberikan bayi beriris merah lembayung itu kepada lengan kekar Jevandres yang begitu mudah untuk menggendong bayi-bayi kecil itu. Kedua bayinya pun tampak nyaman, begitu tahu ayahnya.
Jevandres menatap Rigel dengan teduh, penuh cinta dan kerinduan, dia pun menunduk untuk mengecup gadis manisnya itu “Maaf, aku gagal menjadi suami yang baik. Sekarang, bisakah kalian pergi sebelum pendosa menyebalkan itu kembali mengambil alih tubuhku?”Bisik Jevandres kepada Rigel.
Rigel mengangguk, dia mengambil kedua bayinya itu untuk diletakkan kedalam kereta bayi “Kak Jev, jangan terlalu lama pergi. Kami merindukanmu...”
Ah, Andai saja bisa. Pikir Jevandres, menatap gadis manis yang menjadi jauh lebih cantik ini. Dia pun mendekap tubuh Rigel, mengecup puncak kepalanya dengan sayang “Aku akan berusaha keras untuk itu.”Ujar Jevandres, kemudian mendorong tubuh Rigel menjauh.
“Ah... Manusia menyebalkan! Kuakui tekat dewa sepertinya begitu kuat.”Pria itu menyisir surai pirangnya kebelakang. Menatap Rigel dengan sepasang iris merah terangnya.
Rigel membalikkan tubuhnya, dia mendorong kereta bayi itu “Aku akan pulang.”Ujar Rigel dengan datar.
“Semudah itu?”Luxie menghadangnya, entah sejak kapan wanita itu ada disana.
Rigel menatap datar, moodnya sedang memburuk “Minggir, aku tak memiliki urusan dengan mahluk menjijikkan sepertimu.”Ucap Rigel yang melintasi wanita itu dengan santai.
“Tunggu!”Luxie mencengkeram lengan Rigel.
“Jangan sentuh aku. Mahluk rendah!”Sepasang iris merah Rigel menerang, aura disekitarnya sempit dan luas.
Luxie, sang hawa nafsu. Dibuat terdiam, dia tak dapat bergerak dengan aura kemurkaan yang melimpah ruah itu. Bahkan auranya sendiri ditekan dengan keras. Sungguh energi yang menyeramkan “B-baiklah...”Luxie melepaskan cengkeramannya itu.
Rigel bergegas pergi meninggalkan mansion Lacelles.
Gadis itu ditatap kepergiaannya oleh sepasang iris merah raga Jevandres yang berisi jiwa Hubris Superbia, sang kebanggaan. Dia menyeringai kecil “Menarik... sangat menarik. Ah~ Ira. Bunga mawar liarku..”Ujarnya tertawa dengan lebar.
.
.
.
.
Bersambung
Hm... Saya juga sedang membuat project baru... Nantikan ^-^