
Happy reading
.
.
.
Terlalu banyak kekecewaan, dendam dan amarah. Masihkah ada sebuah cinta yang menyelamatkan ? Tidak ada yang tahu, itu pula yang menjadi pikiran gadis manis yang duduk dipinggiran danau berair jernih. Dibawah birunya langit diatas tanah hijau yang subur. Kelak kehidupan baru akan tercipta dengan besar “Benar, bahkan aku pun tak memiliki alasannya lagi.”Ucapan itu terlontar dari bibir mungil yang ranum itu.
“Suara dari para perseteruan, tangisan dendam dan menguarlah dengan satu.”Ujar seorang gadis beriris merah lembayung bersurai angkasa kelam. Begitu cantik, bagai mawar merah yang akan membuat telapak tanganmu terluka jika memengangnya.
Surai legam panjang yang tergerai hingga selutut kakinya, berkilau dengan indah. Saat dia beranjak berdiri, surai hitam panjang itu ikut tergoyang dengan lembut “Sayang jika dibiarkan.”Ucap gadis itu seraya berjalan memasuki tepian danau, kedua kaki telanjangnya itu merasakan air danau yang dingin “Ha... hari ini kemurkaan yang cukup besar terasa begitu enak.”Katanya sambil menghela nafas dengan pelan. Kala angin musim semi menerpa wajahnya, kedua kelopak matanya dipejamkan menikmati semilir angin yang sepoi menerpa.
“Nona...”
Sang Ira itu menoleh saat dirinya dipanggil, dia mendapati seorang pemuda berdiri dibelakangnya. Dia berjalan ditengah-tengah tumpukan mayat prajurit yang bergelimpangan. Sosok pemuda belia yang begitu indah dan rupawan, sepasang mata hazel beningnya menatap dengan sendu “...Ini pertama kalinya aku melihat kembali kehidupan didunia atas, tapi seingatku tidak ada danau seindah ini?”Raut polosnya menatap sang Ira.
“Apa menghabiskan setengah tahun didunia bawah tidak ada danau seindah ini, ma-nu-si-a?”Bibir ranum itu menyeringai pelan. Dia pun berjalan keluar dari tepian danau dengan bertelanjang kaki. Sebagian gaun hitamnya basah karena air danau, namun dia tak perduli untuk terus melangkah maju menghadap pemuda itu.
“Benar!”Pemuda itu mengangguk riang, senyum yang cerah seperti hangat mentari pagi “Musim semi dan musim panas dibumi, kemudian musim lainnya didunia bawah. Rasanya tentang diriku ini sudah diketahui siapapun.”Dia menggaruk ujung pipinya yang tak gatal dengan ujung jemarinya.
Sang kemurkaan, mengulum senyuman “Ini danau kesukaanku, kadang aku senang berkunjung kemari. Tapi hari ini jauh lebih menarik, kau lihat...”Sorot mata merah lembayungnya mengarah pada tanah lapang bekas peperangan sesaat yang lalu, tepat didepan danau indah nan jernih itu.
Pemuda beriris hazel bening itu mengikuti sorot mata Ira “...Persephone bilang Ares sangat menyukai peperangan yang begitu brutal, aku pun disuruh menjauhinya. Apakah ini juga perbuatannya nona?”Ucap pria itu dengan polos.
“Hahaha...”Sang Ira tertawa, dia pun memutarkan tubuhnya dengan ringan. Sehingga surai panjangnya itu ikut mengalun-alun lembut “Sungguh menarik, aku setuju dengan ucapan wanita itu. Lebih baik, jauhi semuanya yang berhubungan dengan Ares. Dia favoritku.”Ucap Ira sambil menyentuh dagu pria muda itu dengan lembut.
Gadis itu pun berlari-lari kecil kedanau itu lagi, dia mencelupkan kedua kakinya disana. Kemudian bermain-main dengan ditepian danau itu “Kau pasti tahu dunia bawah pasti banyak sungai yang menarik bukan?”Teriak Ira dari tepian danau itu.
“Adonis. Namaku Adonis, nona?”Pemuda itu turut berlari menghampiri Ira yang sedang bermain air danau itu.
Tak langsung menjawab, Sang kemurkaan hanya terkekeh pelan “Aku... Seseorang yang menyukai dosa tentu saja.”Sang Ira tersenyum manis, jika saja dia bukan perwujudan dosa itu sendiri. Dia pasti gadis tercantik sampai kapan pun.
“Terus kenapa danau seindah ini bisa ada disini?”
Ira menaikkan kedua bahunya acuh “Aku yang buat tentu saja, tapi tumpukan manusia itu menganggu pemandangan.”Ucap Ira diakhiri decihan kecil.
Jeda diantara keduanya berupa diam terjadi cukup lama hingga Adonis duluan yang berbicara “Persephone bilang, ayahku seorang raja dan ibuku wanita yang cantik. Tapi aku tak pernah bertemu dengan mereka. Bagaimana denganmu nona?”Adonis ikut mencelupkan kedua kakinya ditepian danau itu. Dia merasa bahagia, memiliki teman untuk diajak berbicara.
Ira terkekeh lagi “Ayahku juga seorang raja dan ibuku wanita yang lemah lembut, Oh iya... aku memiliki tujuh orang saudara. Mereka semua menyebalkan, haha.”
Adonis mengangguk saja “Apa kau memiliki hobi nona? Aku suka berburu hewan dihutan.”Tanyanya sambil memperhatikan wajah Ira yang begitu cantik dibawah sinar mentari yang menyinari bumi. Biarpun didominasi oleh hitam, surai rambut legamnya itu berkilau begitu sempurna.
“Hobiku juga berburu, semua hal yang menyukai diriku pasti begitu enak.”
Adonis walaupun tak mengerti ucapan sang kemurkaan, dia hanya mengangguk dengan polos dan patuhnya “Nona... apa menurutmu menyukai seseorang itu salah?”
Ira langsung menoleh, dia tak menjawab. Diam, dan hanya memperhatikan raut wajah pemuda bernama Adonis itu yang sudah murung menyedihkan.
“Aku, menyukai salah satu dari mereka. Tapi, keduanya ingin aku. Adonis ini hanya ingin tenang merasakan cinta, apakah perasaan itu salah nona?”
“...Aku rasa, seseorang juga merasakan hal demikian. Aku pun begitu.”Ucap Ira dengan raut wajah dinginnya.
Adonis menaikkan tatapannya, menghadap kearah sang Ira “Bukankah itu hal yang bagus? Seseorang juga menyukaimu nona.”
“Dia tak seharusnya melakukan itu, karena tugasnya adalah. Melenyapkanku.”Ira pun berjalan keluar dari danau. Dia menyibakkan surai hitam panjangnya itu kemudian menjentikkan jemarinya. Sebuah pedang hitam langsung muncul ditangannya “Senang berbicara denganmu, Adonis.”Ucap Ira sambil memainkan pedang hitamnya seraya berjalan tak hirau melewati tumpukan jasad manusia yang langsung berubah menjadi abu, ketika dia melewatinya. Abu itu terbang dengan ringan keangkasa. Dia pun terus berjalan memasuki hutan tanpa menghiraukan Adonis yang masih mematung diposisinya.
Adonis menatap punggung sempit gadis itu “Dia terasa seperti dunia bawah, namun terasa jauh lebih kuat. Bahkan sungguh kuat dan... Indah.”Ucap Adonis memperhatikan gadis cantik itu yang berjalan meninggalkannya.
.
.
.
Kring... Kring...
Gadis beriris kenari itu tersentak, refleks ia pun menepi. Kedua matanya masih mengedip-ngedip karena baru tersadar dari lamunannya.
“Perhatikan tempatmu berdiri, Mevrouw!(nona)”Ucap seorang pesepeda sambil mengayuh sepedanya melintasi gadis bersurai pendek itu.
Rigel masih mengedip-ngedipkan kedua matanya, dia hanya melihati pesepeda yang melintas ditepian danau ini “Ah~”Rigel menghela nafas tiga kali, dia sejak tadi melamun dan meruntuki kecerobohannya itu sambil menepuk pelan dahinya.
Perutnya terasa seperti nyeri tiba-tiba “Oh ya~ maaf... aku tidak apa-apa kok, hehe... kamu terkejut ya?”Ujar Rigel sambil mengusap perutnya yang tampak sedikit lebih buncit ini. Rigel mengulum senyuman, dia terasa familiar dengan danau ini.
Rigel memandangi lagi, rasanya nyaman memandangi danau nieuwe diep di minggu pagi yang hangat. Rigel mengulum senyuman, sejenak terasa mengingatkannya dengan sahabat lama yang tak bersuah “Ayo... kita pergi ke rumah nenek.”Ucap Rigel sambil berjalan kaki lagi. Mungkin, sudah lama ia tak merasakan senyaman dan sesantai ini sejak perkuliahannya dimulai kembali. Rigel memang sengaja menyibukkan diri, untuk mengusir rasa sepinya dirumah. Apalagi Arcadia dan Ivan masih memiliki kesibukan masing-masing, Arcadia yang memperpanjang masa dinasnya dan Ivan yang memiliki urusan di Seoul.
Hari minggu yang tepat, sejak pagi-pagi subuh berangkat dari Den Haag ke Amsterdam. Berkunjung kerumah wanita tua yang sangat lembut dan tulus, kadang Rigel merindukannya.
Rigel baru tiba di komplek Indische Buurt amsterdam, dia akan pergi menuju jalanan Borneo Straat. Tempat tinggal wanita tua itu. Rigel tak henti-henti tersenyum, sampai ia tak sengaja melintasi dua lansia yang sedang berbincang. Rigel tak sengaja sekilas melihat energi dari dua lansia itu, ada perasaan dengki dan iri dari keduanya “Aku pasti kelelahan.”Rigel segera menggeleng cepat. Sudah sejak sebulan lalu dia bisa merasakan hal-hal keburukan orang lain, menurutnya aneh tapi Rigel tak mengubrisnya dan menganggap itu hanyalah firasat asalnya saja.
Langkah kakinya semakin dipercepat, seolah lupa dengan kondisi kehamilannya yang renta. Hingga Rigel pun tersandung sebuah lubang jalan yang rusak itu, keseimbangannya mulai hilang. Rigel mencoba meraih apapun untuk dipegangnya, dia malah tak sengaja berpegangan dengan sepasang lengan kekar yang dibalut mantel berwarna hitam.
“Eh?!”
Kecerobohan sang Rigel kerap kali membuat sang tuan berrambut pirang itu tak tahan menolongnya, Saat ini tubuh kecil Rigel disokongnya dengan kedua lengan kekarnya. Dia sangat tahu kondisi Rigel, lebih dari yang orang lain tahu “Tidak apa-apa?”Ucapnya dengan mengalun lembut, deru nafasnya terasa diceruk leher Rigel yang tak mengenakan syal. Sang empunya pemilik tubuh bahkan terasa menghirup puncak kepala Rigel yang beraroma manis.
Rigel, lagi dan lagi. Bertemu pria yang dirasa asing sekaligus familiar ini “A-apa mengutit itu hobimu!”Rigel berteriak malu. Pipinya terasa panas, bisa dipastikan Rigel sudah memerah manis.
“Tidak ada alasan khusus.”Jevandres berucap jengah, walaupun tak dipungkiri Rigel semakin hari hanya semakin manis. Wajahnya sengaja dipasang raut datar. Sengaja, agar Rigel tak mengetahui maksud mengutitnya ini. Rasanya Jevandres sudah melakukan kegiatan ini sejak bertemu kembali dengan Rigel, diam-diam dia mengawasi gadis manisnya itu.
Bersambung