
Happy Reading~
.
.
Kabur tanpa ketahuan adalah keahlian Rigel Wijayakusuma Carlin. Dulunya, sebelum berada didalam tubuh pesakit Binary ini. Beruntungnya ia saat situasi di Rumah Sakit lengah, ia pun berhasil kabur untuk pulang ke apartemennya. Bahkan saat ini, ia sudah berada didepan pintu apartem tengah memasukkan kunci pintu dengan tampang lelahnya. Dia masuk apartemen dengan langkah gontai untuk menuju dapur melintasi ruang tengah yang kecil ini, tangannya membuka lemari freezer untuk meraih sebuah kaleng bir yang ada disana.
“Tch. Merepotkan.”Tangan kecil Rigel beralih meraih kaleng jus buah yang ada disamping kaleng bir kesukaannya, ia pun teringat kondisinya yang tengah berbadan dua ini.
Rigel menduduki dirinya pada sofa butut apartemennya, ia bersantai disana setelah beberapa minggu terkurung didalam Rumah Sakit “Tubuh ini kurus, lemah dan merepotkan untuk bergerak. Apalagi setiap pagi hanya lemas karena ulah anakmu Binary.”Ucap Rigel sembari menegak kaleng jusnya kembali.
“Oh iya... Apa kabar Boss ya?”Rigel teringat dengan bos tempatnya ‘bekerja’ sampingan selama ini.
Ia pun membuka sofa tempatnya duduk tadi, disana terdapat banyak beberapa senapang dan beberapa cadangan ponsel genggam. Rigel meraih salah satunya, ia pun kembali menutup sofa itu lantas kembali duduk bermalas-malas pada sofa itu lagi.
Disana ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari bosnya, yang terbaru pesan singkat tiga hari yang lalu. Rigel meremat ponsel itu dengan amarahnya yang menggebu-gebu “Status : Dinonaktifkan.”Begitulah isi pesan singkat itu.
Rigel merasa dengan nasib sial yang menghampirinya hanya membuat dirinya ingin menghancurkan seisi apartemennya “Yang Benar Saja?!”Nyaris saja Rigel akan melempar sekaleng jusnya itu. Namun Rigel mengurungkan niatannya, ia kembali duduk bersandar pada sofa butut itu.
Kring...kring...
Suara bell dari luar pintu apartemennya berbunyi, ia tak langsung membukanya. Rigel mengintip dulu melalui lubang pintunya. Kedua iris berlainan warna itu berbinar mendapati seorang pria berperawakan tinggi yang berdiri tepat didepan pintu itu.
“Ivieee~”Ujar Rigel sambil membukakan pintu apartemennya. Bahkan akan menghamburkan pelukan kepadanya.
Pemuda beriris merah lembayung itu tak langsung membalas pelukan wanita yang tak dikenalnya itu “Siapa kau?! Dimana Rigel?”Ucap pemuda itu dengan lantang.
“Ivie~ tak ingat aku?”Ujar Rigel seraya melihat pemuda yang berusia setahun lebih tua darinya dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya.
“Ah~”Pemuda itu mengangguk, ia melihat sepasang iris berlainan Rigel “Apa kau masih tak ingat apapun kali ini? Bahkan setelah bertukar raga dengan Aphrodite ini?”Ucap pemuda beriris merah dengan surai perak pendeknya itu seraya melintas masuk kedalam apartemen Rigel.
Rigel kembali menutup apartemennya “Mana tahu, kalau tahu tak mungkin aku bekerja dengan boss hanya karena penasaran dengan nasibku sendiri.”
“Ck. Menyedihkan sekali nasibmu, Rig.”
“Kau kan saudaraku kenapa tidak membantu hum?”
“Saudara Ira, Jika kau lupa.”Ralat pemuda itu dengan cepat.
“Baiklah-baiklah sebagai yang ‘menumpang’ pada saudarimu. Kalau begitu. Eh Ivan Tristan! Biarpun begitu aku masih ingat cara menggunakan ‘kelebihan’ dari saudarimu ini. Aku bisa bertarung dengannya.”
“Hum~ Terus kau akan bertarung dengan kakak tertua kami dengan perut buncit begitu?”Ujar pemuda bernama lengkap Ivan Tristan itu dengan acuhnya membuka freezer apartemen Rigel kemudian menegak sekaleng birnya “Beruntung diantara kita bertujuh, aku dan Arcadia masih mau menganggapmu sebagai saudara kami.”Ucapnya lagi sambil duduk disofa yang berhadapan dengan Rigel.
Rigel memajukan bibirnya “Ayolah Ivan... Mana aku tahu malah berakhir ditubuh ini.”
Ivan menghela nafas “Kutukan yang kau ciptakan sendiri hanya bisa sirna setelah balas dendam Adonis untuk Ares selesai. Sesingkat itukan?”Ucapnya sambil menggulung lengan kemejanya kemudian berjalan menuju westafel dapur “Lihatlah piring kotor ini, sungguh menyebalkan.”Ucap Ivan sambil membasuh piring-piring kotor itu.
“Hehe~”Rigel terkekeh pelan, dirinya yang berdiri dibelakang Ivan hanya mangut-mangut sendiri seolah tengah mengawasi Ivan yang tengah membasuh piring-piring kotor itu.
Rigel menepuk kedua tangannya dengan riang “Wah~ Invidia ternyata mahir melakukan pekerjaan rumah.”
Ivan yang mendengar nama perwujudan aslinya disebutkan oleh Rigel, langsung mendengkus kesal “Benar, sejak beratus tahun mengawasi kematian dan kelahiran berulangmu. Aku malah menjadi terbiasa dengan ‘kehidupan’ merepotkan manusia ini.”Ucap Ivan membasuh piring yang berbusa itu dibawah keran air.
Rigel yang mendengar ucapan Ivan malah menatap dengan sendu, ia tak sadar memperhatikan kedua telapak tangan pucatnya “Aku sampai lupa, sudah berapa kali hidup dan mati didunia ini. Hehe...”Rigel tertawa hambar.
“Terus kau ini kemana saja sejak kemarin?”
“Oh itu...”Rigel membulatkan bibir ranumnya “Kurasa sudah berada di Rumah Sakit bersama seseorang yang bernama Jevandres Altair La... aku lupa nama belakangnya.”
“Lascelles? Yang benar saja kau Rig?!”Ivan nyaris melempar piring yang tengah dicucinya itu.
Rigel tak langsung menjawab “Ah... Sepertinya.”
Ivan nyaris menepuk dahinya, jika ia tak ingat akan kedua tangannya yang berbusa oleh sabun cucing piring “Tak kusangka secepat itu, bahkan kau sendiri harus berada didalam ‘tubuh’ wanita itu.”
“Emangnya kenapa?”Rigel menatap dengan bingung, raut wajahnya polos.
“Invidia... Dosa kedengkian”
“Terus hal apa yang aku sukai?”
“Yah~ Kedengkian, cemburu, iri hati.”
“Terus kenapa aku sudi untuk tahu soal pria Lascelles itu?”
“Uhm... Mungkin, karena dia memiliki energi iri yang besar. Tunggu, Ares kah dia?”
“Ck. Seratus poin untuk orang bodoh sepertimu. Rig...”
“Oh...”Rigel mengangguk “Apa?! Ares katamu? Jangan kau bilang tubuh ini? Perutku?”Kemudian Rigel berteriak dengan rentetan pertanyaannya sendiri.
Ivan tertawa terbahak-bahak saat melihat reaksi dari Rigel “Hahaha...”Ucapnya seraya memengangi perutnya.
“Tapi kenapa baru sekian lama ini?”Tanya Rigel dengan bingung.
Ivan menaikkan kedua bahunya “Sungguh, soal itu aku tak tahu... Kau terus bereinkarnasi selama seratus tahun ini. Jika akhirnya bertemu dengan Ares, tampaknya kutukanmu akan segera hilang Adonis.”Ucap Ivan menyebut 'jati' diri aslinya.
Rigel mengangguk dengan tatapan sendunya “Aku juga tak bisa membiarkan jiwa saudarimu terus-terusan tak tenang oleh ulahku.”
“Tidak...”Ivan menggeleng “Biar bagaimana pun, kau sudah menduduki posisi Ira.”Ucap Ivan seraya membasuh piring terakhirnya.
“Inti kehidupannya Ira ada padamu, bedanya jiwa saja.”Lanjut Ivan seraya mengeringkan kedua tangannya dengan kain lap “Sudahlah, lagipula nasibmu dan Ira sudah lama berubah. Kau sendiri terlahir kembali sebagai seorang Ira, dan Adonis sudah lama mati. Sadari dirimu yang sesungguhnya. Setelah balas dendammu bersama Ares usai, lekas kembali ke dunia bawah. Kau tak ingin terus-terus berada ditubuh fana manusia bukan?”
Rigel mengangguk “Benar, kelahiran dan kematian itu menyakitkan. Tapi... kali ini aku harus berada didalam raga Aphrodite bukan?”
“Siapa namanya?”Ucap Ivan seraya menggunakan dagu lancipnya menunjuk diri Rigel saat ini.
“Namanya Binary Rui Aristolochia. Bahkan aku baru sadar perwujudan sosoknya ini setelah semuanya sudah terlambat.”
Ivan menepuk bahu Rigel “Rasanya, kali ini bebanmu dua kali lipat lebih berat. Kau secara tak langsung tengah mengandung anak Ares dan Aphrodite. Yah... walaupun mereka saat ini hanya perwujudannya sih, bisa jadi mereka sama sepertimu hidup kembali dengan kehidupan ‘lainnya’ seperti itu.”Ucap Ivan menduga-duga.
Rigel menggeleng “Biarpun, aku sudah benar-benar tak ingat akan Aphrodite dan Ares bahkan. Aku... tak tega dengan nyawa kecil ini.”Ucap Rigel tanpa sadar menyentuh perut ratanya itu dengan lembut.
Ivan menatap dengan kedua mata membulatnya, hal yang ditakutkannya terjadi. Ivan pun tanpa sadar mengayunkan tangannya.
Plakkkk
“Kau lupa siapa dirimu, wahai kemurkaan?!”Ucap Ivan setengah membentaknya.
Rigel meringis, memengangi pipinya yang terasa panas setelah ditampar oleh Ivan “Ma...Maafkan aku.”Gumam Rigel.
“Inilah yang paling kutakutkan padamu sejak awal Ira, aku tak pernah habis pikir oleh kebodohanmu. Kau memberikan dirimu dengan mudah bahkan menyumpahi diri fana manusia lain untuk dirimu?! Kau terlalu manusia, untuk pendosa besar seperti kita.”Ivan menghela nafas. Sesungguhnya dia tak akan tega melakukan hal itu, dia hanya ingin mengingatkan 'adik'nya ini.
Rigel bergetar, sejak seratus tahun lamanya kehidupan dan kematiannya. Baru kali ini ia melihat sosok Invidia murka terhadapnya. Jika selama ini Rigel pun hanya mengenal sosok Invidia ini hanya seperti pemuda yang senang bersantai dengan ucapan adu dombanya. Rigel tak menyangka akan melihat ‘sifat’ lain dari Ivan Tristan aka Invidia yang tega kasar kepadanya “Aku tahu... aku minta maaf, Ivie...”Ucap Rigel melemah.
Ivan tersentak, ia baru sadar akan perilaku kasarnya itu “Bagus, kalau begitu aku pergi. Masih banyak urusan yang harus aku lakukan.”Ivan sendiri gelagapan, ia bukan seseorang yang mudah meminta maaf atau mengakui kesalahannya.
“Uhm... Hati-hati dijalan Ivie...”
Ivan langsung bergegas meninggalkan apartemen Rigel, dia bahkan berlalu dengan tergesa-gesa. Setelah pintu apartemen tertutup kembali, dia meninggalkan Rigel seorang diri disana.
Rigel meruntuki dirinya “Apa yang sudah kulakukan?”Ucapnya seorang diri.
“Jika aku boleh jujur, aku sungguh bahagia dengan perasaanku saat ini.”Lanjutnya lagi.
.
.
Bersambung