
Happy Reading~
New Project ^-^ Hope u Like it!
.
.
.
Pada Zaman yang begitu lama, disebuah hutan asri belantara.
Pada sebuah negeri indah antah berantah...
.
.
Seorang pemuda tertarik menatap seorang pemuda lain yang tengah melintasi sebuah hutan. Atensinya tertarik memperhatikannya, karena ia sendiri menyadari jika pemuda itu sedang dalam bahaya. Tapi ia tak berniat untuk memperingatinya, dia hanya mengawasi tangkapan bagusnya hari ini. Tepat pada sebuah pohon Ek besar yang tumbuh dengan kokoh, dia pun terbang dengan mudah untuk serta merta duduk di salah satu dahan besarnya itu.
Tangannya menompang dagu lancipnya “Ck. Terjebak juga kau hehe...”Katanya sambil menyibak surai perak panjangnya itu.
Tak lama muncul seorang pria kekar yang mengenakan zirah besi mendatangi pemuda itu “Manusia fana, berani menyentuh kekasihku. Maka kematian menjadi balasanmu.”Ujarnya begitu.
“Adonis, berdamailah dengan dunia bawah...”Dalam sekali tebasan pedang itu sudah bermandikan oleh darah.
Pemuda bersurai perak itu kegirangan melihatnya, kedua mata merahnya berseri kala melihat pria berzirah besi itu yang tak segan-segan menghabisi lawan duelnya itu hingga tewas. “Bagaimana bisa seorang dewa cemburu kepada manusia fana itu pffftt... Haha bahkan ia bisa menghabisi manusia rapuh itu dengan mudah. Haha bagus-bagus... Kau mengisi energi kedengkianku dengan baik Yang Mulia Ares.”Ucap pria itu kegirangan.
Pria itu pun pergi meninggalkan korbannya yang tergeletak mati dengan aura kedengkiannya yang meruah dengan besar, hal itu membuat pria perak yang sedari tadi menyaksikannya dari pohon Ek itu semakin tertawa dengan puas.
“Adonis...”Selang tak berapa lama, seorang wanita cantik baru saja tiba untuk menangisi jasad tak berraga itu.
“Oh ya?”Pria perak itu berhenti tertawa, lantas ia kembali mengamati wanita bergaun merah menyala itu dengan tatapan yang bosan. Dia indah dan berkilau, pesonanya benar-benar indah bahkan ketika menangisi manusia tak bernyawa itu dengan anggunnya “Woah... Luxie bahkan tak seindah dia... Benar-benar tak ragukan pesona seorang Aphrodite.”Pemuda perak itu mendecak kagum.
Sebelah alisnya menaik, ia melihat sosok indah Aphrodite mengecup kening pria yang tewas itu. Lantas, jasadnya pun langsung menyatu dengan alam sehingga dari tetes air matanya tumbuh sebuah tanaman tepat dibawah pohon Ek tempatnya mengamati semua yang tragedi yang terjadi saat itu.
“Ppfffttt bahkan kau tak bisa mengembalikan nyawanya Haha...”Pria perak itu terkekeh.
Seulas seringai pun muncul dari paras tampannya “He~Ternyata aku berhasil.”Ucapnya seraya terbang pergi meninggalkan pohon Ek itu.
Aphrodite menangisi Adonisnya, sebelum turut pergi meninggalkannya. Jasad itu perlahan-lahan dililiti oleh tumbuhan liar. Ia pun memilih untuk mematung sejenak mengingat kenangan indahnya bersama sang Adonis. Tapi pada akhirnya ia pun memilih untuk pergi meninggalkan jasad kekasih fananya itu.
.
.
.
Sepasanag iris mata merah lembayung turut menjadi saksi lain peristiwa ini, gadis yang memiliki perawakan kecil, wajah yang cantik, bibir kecil yang ranum dengan sepasang pipi gempalnya. Gaun hitam pekat membalut tubuhnya kala itu, dikala angin berhembus dengan lembut. Gemersik dedaunan terdengar dengan riuh, membuat surai hitam legamnya turut bergoyang mengikuti arah angin berhembus. Dikala itu sebuah tanda singa pada lehernya tampak dengan jelas, sebagai perwujudan asli dari jati dirinya ini.
Ia pun melangkah keluar dari balik pohon Ek “Sungguh, tragis...”Ucap seorang gadis kecil beriris merah lembayung itu.
Dia tengah menatapi nasib seorang manusia yang tak mengabadi, hidupnya terlalu singkat. Dalam sekali kedipan mata kematiannya menghampiri, lantas itu semua turut menjadi tontonan seorang gadis yang sama seperti pemuda perak itu untuk mengamati ajalnya.
Sepasang kaki putihnya melangkah dengan ringan menghampiri setangkai bunga berkelopak kemerahan yang tumbuh diatas atas kematiannya itu, ia pun duduk disampingnya “Namaku, Ira... Dosa kemarahan. Mungkin saudaraku Invidia sudah mempengaruhi Yang Mulia Ares untuk cemburu akan ketulusan hatimu untuk mencintai seorang Aphrodite...”Ucapnya sembari menyentuh kelopak bunga memerah itu.
“Aku, tersentuh...”Ucapnya lagi dengan raut datar dari paras indah bak boneka porselen itu.
Angin bertiup dengan lembut, semilir angin itu pula membiarkan surai hitam legamnya berayun-ayun dengan lembut “Kulihat, hatimu itu penuh dengan dendam yang menggiurkan. Apakah amarahmu tak terpendam lagi Adonis?”Ucapnya berbicara pada setangkai bunga berkelopak kemerahan itu. Sesekali membelai kelopak bunga itu dengan lembutnya.
“Maukah kau membalaskan amarahmu itu?”Ira, gadis manis yang memiliki sepasang iris merah lembayung itu menyunggingkan senyuman. Ia pun mengangguk, seolah mengerti akan niatan dari raga seorang Adonis yang sudah tiada itu.
“Baiklah, tapi aku tak bisa menarikmu dari kematian. Maka dari itu, pergunakan diriku ini sebaik-baiknya.”
Ia pun beranjak berdiri “Waktu akan terus berjalan, seiring dengan hal itu.Takdirmu pun sudah berubah. Bisa saja kau melupakan semuanya, hanya dendam seorang yang kau ingat. Apa kau masih ingin melanjutkannya?”Ucapnya seraya menengadah untuk melihat langit biru yang cerah itu.
Angin kembali berhembus dengan lembut “Kalau begitu, selamat datang dan selamat tinggal. Adonis...”Simpul senyuman indahnya terpatri dari wajah cantiknya. Percayalah, itu adalah senyuman paling terang dari seluruh langit gelap para pendosa.
.
.
.
Kepulan asap kereta api bergilir memenuhi kelabunya langit yang sedang mendingin. Hiruk pikuk manusia yang melintas tak hirau dan sibuk pada aktivitasnya sendiri. Dibulan yang tengah diguyur salju. Kepalaku malah tak berfikir dengan dingin. Hamparan salju menyambut langkah pertamaku menuruni kereta yang baru saja berhenti di stasiun tujuanku. Perjalanan ini berakhir dari perjuangan tragis yang amat panjang.
Lagi, kuangkat tas berbentuk kubus dan merapatkan beberapa kancing yang belum seutuhnya tertutup. Kulirik kiri dan kananku. Di Negara asing yang seharusnya menjamin keamanan sementaraku disini, dititipkan oleh keluarga Kinomoto untuk menjauh dari abah dan umma.
Sekali lagi kulirik kanan dan kiriku, mencari seseorang yang katanya akan diutus keluarga Kinomoto yang ‘untuk menjemputku saat ini. Nihil, tidak ada satu orang pun yang menghampiriku jadi, aku pun melihat bangku tunggu yang tampak nyaman untuk diduduki. Sambil membawa tas hitamku yang lumayan berat ini, aku memilih duduk dibangku kayu yang tersapu rintikan salju.
Kugerakkan tubuh lelah ini menyandar di permukaan bangku yang tak terasa lembut. Masih kuperhatikan lalu lalang orang-orang masih sama ramainya seperti tadi. Katanya dia akan segera menjemputku namun berjalan dengan waktu yang cukup lama.
“Dig...Dug...”Bunyi jam besar yang kebetulan bertengger didinding stasiun kereta api.
Kudengar bunyi yang berritme dan tempo yang pelan dari degupan jam dinding tersebut. Jika bisa dikatakan, inilah pertemuan pertamaku bersamanya, seharusnya bermula dengan perseteruan. Sayangnya, tak bisa dikatakan begitu.
Aku masih merasa bingung. Namun tiba-tiba...
.
.
“Nona... Permisi? Apa namamu Paramidtyja Soesanti Hanna?”Suara berat dengan baritone jantan milik seorang pria yang belum kutoleh wajah yang dimilikinya.
“Iy-iya... Hanna. Panggil aku Hanna saja”Ujarku menyahut dengan cepat sambil membalikkan tubuhku menghadap pria muda ini.
“Maaf saya terlambat menjemput. Perkenalkan saya Kinomoto Kazuya. Putera sulung keluarga Kinomoto yang bertanggung jawab untuk keamanan nona Hanna.”Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Tuhan. Hari ini dibawah guyuran salju yang tak lebat. Seorang pria berpostur tubuh tegap, memiliki surai rambut pirang yang lembut dan kedua mata biru lautnya yang menatap tajam, lengkap dengan seragam militer resmi berawarna cokelat yang kalem. Pria yang hanya kutatap sedetik mampu merubuhkan pertahanan perasaanku.
Jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin itulah kalimat yang menghias perilakuku yang berubah menjadi aneh ini. Sangking tampannya pria muda ini malah membuatku tersipu malu seraya betah menundukkan kepalaku dengan patuh.
Tetapi tunggu dulu...
“Kinomoto Kazuya?”Ulangku lagi memperhatikan sesuatu yang sama darinya yang juga dimiliki oleh 'orang' itu.
Pria ini mengangguk malu.
“Ah wajah ini? Ibuku berasal dari Jerman.”Katanya sembari terkekeh pelan.
Akhirnya, kami berjalan beriringan bersama. Melintasi gerbang stasiun kereta api. Musim salju pada Jepang di era Shōwa masih berjalan aktivitas penduduknya seperti biasa.
Pria itu bertingkah tanpa kukira.
Seusai keluar dari gerbang. Dia meraih bahuku dengan serta merta menyenderkannya kesudut sisi tubuh tegapnya. Mengunci seluruh pergerakanku saat itu.
“Chūi...”Panggil seseorang kepadanya.
Tubuhku yang teramat kecil dibandingkan tubuhnya menghadang pandangan personil militer yang tampak menghampirinya. Dia pun tak menyadari keberadaanku.
“Kinomoto Chūi. Setelah ini kita dipanggil ke markas besar.”Ujarnya sambil memberi hormat. Dari sudut pandangan ini bisa kulirik pria yang tampak menghormati orang ini.
Aroma harum maskulin menyebar ruah dari tubuh pria ini. Aku menghirupnya dengan dalam. Dengan jarak yang sangat minim ini. sungguh menenangkan.
Mungkin aku terlalu larut melebur dengan suasana. Perasaan ini sangat menyenangkan. Degupan jantungku yang terpacu cepat seolah ingin menciut keluar.
“Hanna... Maaf atas kelancanganku.”Ujarnya sambil merain pergelangan tanganku. Membawa serta dengan langkahnya yang sangat cepat.
“Kurasa, aku jatuh cinta padamu.”Kinomoto Kazuya. Seorang pria yang membuatku bertengkar dengan perasaanku sendiri.
Aku terkekeh pelan, bagaimana nasib begitu senang bercanda padaku "Benarkah? Apa kau tak mengingatku sama sekali?"Ucapku tertawa dengan pelan, apalagi melihat Ares dizaman ini yang terkenal dengan kebengisannya justru menyatakan cintanya padaku. Selamat datang, hidupku akan terus menerus terulang bertemu denganmu.
.
.
.
Bersambung