Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 49 : Fin



.


.


.


.


“Rig, apakah kau bahagia bersamaku?”


Rigel menoleh, pada pria yang ada disampingnya itu. Mereka baru saja mengantri membeli Poffertjes pada sebuah restoran cepat saji, Rigel masih memengang Poffertjes yang dibungkus kertas cokelat itu. Bahkan dia baru saja mengigit Poffertjes “Ha?! Kau berbicara apa, kak Jev?”Sebelah alis Rigel menaik.


“Tidak, bukan apa-apa.”Pria pirang itu menoleh, dia mengelap ujung bibir Rigel yang terdapat gula halus dari Poffertjes yang tengah dimakannya itu “Mau kemana lagi?”Ujar Jevandres dengan lembut.


Rigel tampak berpikir sejenak “Aku sukanya pantai sih, tapi kalau mengunjungi pantai saat malam hari rasanya tidak enak. Apa kau memiliki rekomendasi?”


“Nonton?”


“Tch. Film yang kak Jev pilih pasti temanya serius.”


Jevandres terkekeh pelan, dia mengakui hal itu “Jarang-jarang bisa santai seperti ini tanpa si kembar bukan?”


Rigel mengangguk saja, dia menyukai makanan manis “Kau bilang kita tak pernah berkencan? Bukannya kita sering makan diluar ya dulu, saat sikembar masih diperutku hehe..”Rigel mengingat-ingat hal yang lalu, kedua anaknya beruntung bisa lahir dengan sehat setelah semua masalah yang diterimanya itu.


Jevandres menarik tubuh Rigel kedekatnya “Kupikir hidupku sudah lengkap, punya isteri secantik kamu, punya anak-anak yang lucu dan juga ayah menyetujui pekerjaanku sebagai pengajar di Universitas lamamu. Itu memang cita-citaku, apa Rigel juga begitu?”


Sempat tersenyum merona, Rigel tetap menjawabnya “Hidupku sekarang sama seperti yang kuinginkan sejak dulu, ada perasaan yang kutakutkan. Mati dan kembali hidup, tapi kini tak akan ada lagi selain menua dan melihat anak-anak kita tumbuh. Manusia sekali bukan?”


“Kadang, kemurkaanmu masih suka kelepasan.”


“Iya maaf, kuredam pun percuma bukan? Aku memang sudah menjadi manusia, tapi membagikan kekuatanku kepada kedua anak kita. Jika kupikir-pikir lagi, kasian mereka dengan beban ini.”


Jevandres mengelus puncak kepala Rigel “Caleb dan Calleriu mereka anak-anak kita bukan, kenapa kau malah meragukannya?”


“Itu karena, aku takut mereka malah menolaknya.”


Jevandres menggeleng “Tidak akan, mereka tahu itu adalah hadiah dari ibunya. Bahkan aku sendiri tak bisa mewarisi apa-apa untuk pertahan hidup mereka kedepannya. Iri ya...”Jevandres sengaja mendramatisir nada bicaranya.


Rigel terkikih geli, Jevandres yang berusaha bercanda itu sangat menyeramkan “Hentikan. Haha... wajah seriusmu itu tak cocok untuk bercanda.”Rigel hanya mencubit pipi tirus Jevandres.


Pria pirang itu mengedip-ngedipkan kedua matanya “Aku tak menyangka, seseorang akan mencubit pipiku.”


“Haha...”Rigel tertawa terbahak-bahak. Memang siapa juga yang berani mengacau pria berwajah rupawan ini, Rigel pun tersenyum sambil menggengam tangan lebar itu “Aku berani melakukannya.”Ujar Rigel seraya mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman termanisnya.


Jevandres tertegun “Rig.”


“Uh, um?”


“Aku akan menghubungi Aria untuk menjaga kedua anak kita sampai besok pagi.”


“Memangnya Kena—“Terputus ucapannya. Rigel melotot melihat wajah Jevandres yang memerah itu, tapi kedua mata aquamarinenya menatap Rigel dengan tajam seperti seekor serigala yang sedang rut seolah ingin menerkamnya “Engh... Itu, iya sih. Ta-tapi...”


“Ayo. Sudah kupesan hotelnya.”


“EH?!”Rigel setengah berteriak namun sudah digendong Jevandres untuk masuk kedalam mobilnya.


.


.


.


“Maukah kau membalaskan amarahmu itu?”Perkataannya masih dapat diingat dengan jelas. Ambisi, seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh balas dendam hingga kali pertamanya.


“Kurasa, aku jatuh cinta padamu.”Kalimat darinya tak semestinya terlontar, kadang lidah tak bertulang ini mengatakan hal yang menyakitkan, menyedihkan dan tak terlupakan.


Tersenyum, perkataan itu masih diingatnya “Perasaan yang kau kenalkan itu, begitu manusiawi...”Ujar gadis bermata merah lembayung yang menatap seorang pria yang tidur dengan damai disebelahnya “Wajah tidurmu, benar-benar lucu...”Rigel menatap pria itu terus menerus.


“Engh... Rig. Kau sudah bangun?”Suara serak pria pirang itu terdengar.


“Sepertinya.”Rigel terkekeh.


“Aku malas bekerja...”Keluh Jevandres sambil memeluk tubuh Rigel yang lebih kecil itu. Memang dasar tubuhnya saja yang besar.


Tangan Rigel membelai wajah pria itu dengan lembut “Aku juga harus menghantar Caleb dan Calleriu ke Playgroup.”Rigel beranjak bangun. Walaupun tangannya dipegang oleh Jevandres “Ayolah...”


Tuk...tuk...


“PAPA! MOMMY!”Kedua puteranya sudah berteriak didepan pintu lengkap dengan gedorannya.


Rigel menatap Jevandres “Lihat... Mereka sudah bangun.”Rigel pun berajak berdiri, dia membukakan pintu kamarnya. Dilihatnya kedua bocah kembar berusia lima tahun itu.


“Mommy... Papa?”Ucap bocah beriris merah lembayung itu. Sementara bocah beriris aquamarine hanya diam dengan tatapan yang masih terkantuk-kantuk.


“Heya! Baru bangun sudah mencari papa? Mommy figuran saja...”Rigel mencebik walaupun mengecup puncak kepala kedua anaknya ini.


Jevandres pun datang sambil menggendong kedua anaknya sekaligus dengan mudah, Caleb yang sudah cerah berseru dengan riang sementara Calleriu yang masih mengantuk hanya bersandar pada ceruk leher Jevandres “Ayo, kita sarapan anak-anak!”


Rigel menggeleng “Mommy masak dulu.”Katanya sambil menuju dapur.


Kehidupan sederhana ini? Rigel dan Jevandres menjalani dengan biasa dan penuh cinta. Pagi ini, dia pergi sendiri untuk menghantarkan si kembar Caleb dan Calleriu ke playgroup. Biasanya Jevandres yang akan menghantar duo Jevandres kecil itu namun Jevandres bilang dia memiliki kelas mengawasi ujian pagi ini, Rigel dengan senang hati menghantarkan kedua anaknya sendiri. Benar, Rigel menolak jasa pelayan dan penjaga. Dia bisa melakukannya sendiri, semata-mata untuk mengawasi sendiri tumbuh kembang kedua anaknya ini.


“Mommy jemput nanti siang.”Ujar Rigel mengecup kedua anaknya bergiliran.


“Hm~”Keduanya mengangguk serempak, sambil bergandengan tangan dua bocah kecil itu masuk kedalam ruangan anak-anak. Rigel menatap anak-anaknya itu terlebih dahulu.


Seorang pengajar yang menjaga tempat itu mendekati Rigel “Ah, ibunya si kembar ya?”


Rigel mengangguk sambil tersenyum “Iya, anak-anakku.”


“Uwah... Masih begitu muda, baru kali ini bisa bertemu langsung dengan ibunya si kembar.”


Rigel tersenyum sekenanya, wajar saja selama ini tugas menjemput dan menghantar si kembar. Didekati pria yang masih muda ini juga membuat Rigel terkekeh. Tak akan menyangka jika waktu berlalu secepat ini “Benar, kalau begitu terimakasih sudah menjaga si Kembar. Saya titip mereka ya, permisi... Selamat pagi.”


Rigel memasuki mobil van putihnya, sang pemilik sedang bulan madu akan pernikahan mereka yang baru usai minggu lalu. Jadi mobil kakaknya ini, Rigel yang menggunakannya. Bahkan Rigel juga sesekali mengawasi cafe and bakery milik Ivan atas permintaannya tentu saja, sekarang dia akan melesat ke lokasi.


Gadis yang mengenakan hoodie kelabu dengan jeans senada, mengikat ekor kudanya. Siapapun akan tertipu, menyangka penampilan selayaknya anak kuliahan ini belum bekeluarga. Rigel terkikih sembari menyetir, usai mengechek keadaan cafe milik Ivan dia pun berrencana mengunjungi Jevandres “Kebetulan jam makan siang.”Rigel terkikih, dia juga sempat membawa bekal makanan dari rumah sejak pagi tadi. Isinya beberapa potongan roti isi. Dikala lampu lalu lintas menjadi merah universitasnya ada diseberang sana. Tepat, Universitas tempatnya kuliah dulu merupakan tempat kerja Jevandres saat ini. Rigel turun dari mobilnya setelah memparkirkan.


Menenteng tote bag berisi dua bekal makan, Rigel tersentak sedikit “...ada yang tak beres.”Dia pun bergegas berlari. Perasaannya was-was dikala itu, sampai cincin hitam yang bersemayam ditangannya turut bersinar. Ecru masih tetap menjadi senjata berjiwa milik Rigel sampai akhir hayatnya. Akan berganti ketika Rigel tiada, yaitu turun kepada salah satu anak kembarnya. Tapi hal itu masih samar-samar, karena baik Ecru dan si kembar masih tak memiliki bonding kekuatan hal ini diakibatkan lantaran si kembar masih belum menampakkan ‘energi’ mereka sendiri.


Tak dengan kekuatan pendosa, Rigel masih bisa menggunakan Ecru “Ecru, kau bisa membantuku?”


“Baik, Yang Mulia...”Ujar Ecru didalam cincin itu, jiwanya masih bisa menyaksikan dan berbicara dengan Rigel melalui telepati.


“Menurutmu... Apakah ini ulah Luxie?”Rigel kehilangan perasanya sebagai pendosa untuk merasakan energi-energi ketujuh dosa lainnya. Menjadi manusia memang sedikit memberatkannya, tapi Rigel tetap berusaha mempertahankan.


“Ketiganya Yang Mulia. Avaritia, Guilia dan Luxie. Tapi tuan Avaritia tampak tak berbahaya, energinya hanya ada namun tak mengancam.”Ujar Ecru.


Rigel mengangguk, dia semakin bergegas berlari menuju kelas yang seharusnya Jevandres berada. Sesekali menatap jam dinding yang ada diluar ruangan kelas, Rigel yang merupakan alumni sudah tahu jika jam ini berakhir.


“JEVANDRES ALTAIR LASCELLES!”Kedua mata Rigel membulat, jika ia memanggil sang suami dengan nama lengkapnya. Disitu Rigel tak baik-baik saja, memburu nafas Rigel menatap sang suami tengah digerayangi saudari pendosa hawa nafsu itu. Ayolah, Jevandres hanya manusia biasa saat ini. Bersama dosa elit seperti itu dia pasti akan tergoda.


Rigel menarik kerah baju Luxie kemudian mendorong tubuh wanita itu dengan kasar “Kau bosan hidup, hah?!”Rigel benar-benar cemburu, jika Ivan menyaksikan langsung dia pasti sudah tertawa terbahak-bahak.


“Kau ini bodoh!”Rigel beralih menatap sang suami yang tampak dengan iris aquamarine kosongnya, Rigel menghela nafas. Dia sudah diselimuti hawa nafsu, dipuncaknya akan seperti ini.


“Merepotkan...”Rigel meletakkan tote bagnya, beruntung kelas sudah tak terdapat para mahasiswa lagi. Dia pun menarik wajah Jevandres untuk menatapnya, hawa nafsu akan kalah dengan cinta yang tulus. Humilitia mengajarkan banyak hal kepadanya. Beralih menatap sayang sang suami, kemudian membelainya dengan pelan. Jika tadi, Luxie mungkin sudah mengerayanginya dengan penuh gairah. Rigel sebaliknya. Dia menerima Jevandres dengan semua kekuarangannya.


“Haha Percuma Ira. Kau tak bisa menggunakan kekuatanmu lagi untuk meredam dosaku.”


Rigel mengecup puncak kepala Jevandres “...Memang, aku membuang semua jati diriku karena mencintainya sepenuh hati. Nah, kak Jev. Menurutmu, apakah kau juga akan begitu?”Ucapan Rigel bersamaan dengan bunyi kerincing dengan lembut.


Berhasil, sepasang iris mata aquamarine Jevandres bergerak. Dia membalas tatapan Rigel, Jevandres memeluk tubuh kecil itu “Rig, kenapa bisa kemari?”Seperti biasa, Jevandres akan menyambutnya dengan raut wajah penuh cintanya itu.


Rigel tersenyum, miliknya dan seterusnya untuknya “Aku mencintaimu.”Ujar Rigel kembali dengan bunyi kerincing itu. Ingatkah akan lonceng yang sempat Ramone Angelus aka Zuriel berikan? Katanya itu merupakan kendaraan pribadi. Namun lebih tepatnya senjata suci yang menetralisir pendosa yang memperngaruhi jiwa seseorang. Benar, lonceng itu sudah Rigel pakai pada lengan kanannya sejak turun dari mobil. Dia tak bodoh untuk mengenal situasi saudara pendosanya.


Jevandres hanya bisa meraih tubuh itu kedalam dekapannya “Maafkan aku Rig.”Ada raut penyesalan disana.


Rigel menghela nafas, dia berdiri didepan ketiga sudaranya yang sudah menatapnya dengan berbagai ekspresi itu. Rigel merasa pinggangnya juga tengah dirangkul oleh Jevandres “Tidak apa-apa.”Kata Rigel saat menatap wajah cemas suaminya itu.


“Avaritia... Guilia... aku tahu kalian juga ada disini.”Rigel mengulum senyuman “Maafkan aku ya.”Seorang pendosa kemurkaan. Baru kali ini berkata seperti itu bahkan terlontar dengan manisnya pula.


“Aku tahu, kalian hanya bingung. Selama ini kakak tertua sudah menjaga kalian dengan baik, aku malah memilih untuk bebas bersama kedua kakak kembarku juga. Ivan dan Dio, nama manusia mereka jauh lebih senang kuucapkan.”


“Tapi Ira... Kau membuat kami didunia bawah semakin sulit—“


Rigel langsung menatap dengan tegas “Aku tahu. Kalian salah, Hubris sudah mengunci pergerakan kalian tanpa kalian sadari. Tidakkah kalian sadar? Iblis-iblis yang kalian kerahkan banyak berkurang, bahkan untuk Invidia dan Acedia mereka sanggup mengalahkan kalian. Bukan begitu?”Rigel menatap bungkamnya mereka bertiga, Rigel sebenarnya sudah tahu.


“...Dada sudah mengatakan semuanya padaku, Hubris yang kehilangan wujud tubuhnya itu memang perbuatanku dengan seluruh jasa dada...”


Kenyataan lain yang Rigel sembunyikan, dia tak membunuh ayahnya melainkan ayahnya yang membiarkan dirinya terbunuh oleh Hubris. Benar, Rigel ada disana menyaksikan sang Superbia yang dengan angkuh membunuh sang ayah membuat Ira seolah-olah yang melakukannya. Kedatangan Invidia saat itu, setelah Hubris Superbia sudah melarikan diri.


Rigel mengulum senyuman “Sekarang kalian mengerti bukan? Kenapa aku, Ivan dan Dio memilih untuk membelot. Kami tak berkhianat, kami hanya ingin menyegel sang kebanggan dengan kepercayaan kami.”Tanpa ragu, Rigel menggenggam tangan besar Jevandres “Aku sudah menemukan takdirku. Semoga kalian juga.”Ujar Rigel sambil menggandeng suaminya itu keluar dari kelas, tentu dengan tote bag yang dijinjingnya itu.


Masih mencerna situasi, Jevandres hanya melongo tatapan terhadap isteri manisnya ini “Kau? Apa yang sudah terjadi?”Katanya dengan raut wajah konyol, si tampan itu bisa juga bereaksi begitu.


Rigel terkekeh manis “Bukan apa-apa, ini aku bawakan makanan siang. Apa kak Jev masih sibuk sehabis ini?”Rigel sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Iya, masih ada kelas. Kita makan siang dicafetaria saja, apa kau mau?”


Rigel mengangguk dengan semangat “Hm~ sehabis ini aku akan menjemput si kembar. Oh iya, shiftku jam enam sore.”


“Iya iya. Aku gantian menjaga si kembar.”


“Tolong ya... Suamiku yang tampan.”


“Iya terimakasih juga isteriku yang manis”Keduanya sama-sama terkekeh. Rasanya hidup seperti ini sudah cukup, sampai seterusnya. Sang pendosa yang takluk oleh perasaannya sendiri. Akhir kisah Ira sang pendosa bersama kisah pahit dan manisnya.


~Fin~


TAMAT