
Happy reading
.
.
Rigel tengah bersantai disebuah balkon, angin pagi dan hangat mentari tengah dinikmatinya. Rigel baru selesai mandi, surai hitam pendeknya masih sedikit basah dan wajahnya sudah lebih segar dari sebelumnya. Gaun putih panjang membalut tubuhnya, pemberian Ramone pagi tadi “Hm~ segarnya.”Rigel bergumam.
Angin berhembus dengan lembut, menerpa permukaan wajahnya dia pun memejamkan kedua kelopak matanya. Saat Rigel masih menikmati cuaca pagi. Sekelebat cahaya tampak dipenglihatan seorang Rigel “Ecru. Keluar!”Rigel berseru dengan tangan yang memegang sebuah belati hitam. Ecru cincin hitam itu berubah menjadi senjata yang diperintahkan tuannya.
Sryasshhh...
“Tch.”Rigel mendecih, saat menangkis sebuah serangan berenergi gelap. Ciri khas sang saudara-saudara pendosa. Energi dosa yang mereka konsumsi turut mengikuti motif serangannya. Kini energi hawa nafsu terasa menguar dari serangan itu, walaupun Ecru merupakan senjata terkutuk yang mampu menangkal semua serangan “Kau pikir, itu sudah cukup huh? Sejak kemarin aku mengabaikan permainan kecilmu, kini aku muak untuk diam.”Ujar Rigel setelah menangkis serangan itu.
“Hai Red Crimson!”Suara itu terdengar dari gedung lain yang ada dihadapan Rigel, tepat pada puncak gedung berdiri seorang wanita dengan jubah merahnya “Haha! Aku kemari untuk menyapamu, eh? Sepertinya kau sedang hamil ya? Wah~ Irinya sekalian saja menghantar keponakanku ke alam neraka ya...”
Rigel menggelap dengan amarahnya. Kini, mantera penghapus ingatan sudah hancur sempurna “Anakku. Akan baik-baik saja.”Ujar Rigel sambil menyentuh perut bulatnya. Dia tahu sosok pendosa ini, dia tak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. Sang hawa nafsu “Luxie! Kuperingatkan sekali lagi, jangan pernah menyentuh seujung diriku barang sedikit pun.”Ujar Rigel dengan kedua iris mata kenari yang berangsur-angsur berubah menjadi merah lembayung.
“Yang Mulia Ira... jangan sampai melepas seluruh segelnya.”Suara Ecru menggema dibenak Rigel “Walaupun energi kemurkaan sudah sebagian diberikan kepada tuan Jevandres, ketika segel ini hancur. Ecru tak bisa menahan apapun lagi Yang Mulia, harap Yang Mulia ira mengingat bayi yang sedang dikandung.”Ujar Ecru berkomunikasi melalui jiwanya yang ada didalam belati yang dipegang oleh Rigel.
Rigel mengangguk “Ya, aku tahu itu. Terimakasih sudah mengingatkan, karena aku jauh lebih semberono dari Ira yang asli.”Rigel mengayunkan belatinya, mengarah tepat kearah wanita itu. Biarpun sang pendosa hawa nafsu sudah menahannya dengan pelindung dosa miliknya, serangan Rigel itu mampu menghancurkannya dengan mudah.
‘Jika malam kemarin, aku tetap berserah diri dengan hilang ingatanku. Sudah kupastikan sudah mati’Rigel membatin, dia hanya menduga. Saat ingat jika dirinya begitu rapuh ketika lupa dan berbahaya ketika ingat “Baby, maaf ya mama membawamu kerja keras hari ini.”Ujar Rigel seraya mengusap lembut perut bulatnya. Tatapan dari sepasang merah lembayung Rigel pun sempat melembut kala itu, kali ini dia hanya bertekat untuk melindungi bayi yang dikandungnya. Tidak ada yang lebih berharga dari pada bayinya.
“Uhuk...”Serangan Rigel mengenai dadanya. Wanita itu tertatih berkata sambil beranjak berdiri, tampaknya dia juga terluka parah namun masih bisa berbicara “Ternyata benar, kau mengandung hal yang tak seharusnya ada.”Wanita itu memperhatikan Rigel yang mengusap perut bulatnya, dalam pandangannya Luxie sang hawa nafsu dia juga dapat melihat dua energi berbahaya yang menyatu. Energi peperangan dan energi negatif pendosa gelap, yang jelas calon bayi itu akan menjadi mahluk yang sangat kuat. Dia gabungan dari dua hal yang semestinya tak boleh bersama ‘Jangan bercanda, bayi itu jauh lebih kuat dari leluhur-leluhur raja iblis manapun.’Batinnya sambil mengertakkan giginya “Bayi itu harus mati.”Luxie mulai bangkit berdiri lagi.
Rigel mengulum senyuman dengan kilatan dari mata merah lembayungnya “Oh ya? Masih tidak putus asa rupanya.”
Brakkk!
“Rig! Jangan!”Ivan dan Arcadia baru tiba, mereka sama-sama terengah-engah.
Ivan menatap horror Rigel saat itu “Energi yang tak main-main, sudah Rig. Ayo kita pergi.”Ujar Ivan dengan memohon. Dia jauh lebih tahu, Rigel tak akan mampu menahan seluruh energi dosa itu dengan tubuh rapuhnya.
“Eh? Tidak seru.”Rigel mengerucutkan bibirnya dengan mata merah yang menyala itu “Kalau begitu sekalian saja.”Ujar Rigel menyeringai.
Bukannya dia tak tahu, sebuah serangan nyaris mengenai Rigel. Namun Rigel menghindar dengan mudah, Rigel itu langsung melempar belati hitamnya dengan kekuatan penuh.
Jleb... Belati itu mengenai dada Luxie. Wanita itu mematung menatap dadanya yang bersarang belati hitam milik sang raja iblis “T...tidak...”
Rigel menyeringai “Oh jangan takut, aku tak membunuhmu kok. Hanya menghukummu saja.”Ujar Rigel sambil menjentikkan jemarinya “Diabolus... et examinate.”Bibir ranum itu merapalkan sebuah mantera. Rigel salah satu dari yang berhasil memodifikasi mantera kegelapan dan energi pendosanya. Saat mantera itu diucapkan, Rigel menyegel sebagian energi hawa nafsu “Kalau kusegel semua, tidak akan ada keseimbangan. Hm...”Rigel masih santai, dia sambil berfikir dengan mengetuk-ngetuk dagunya perlahan. Jemari kecilnya itu mengetuk pelan.
Ivan dan Arcadia, bahkan mereka berdua tak bisa bergeming. Seolah tubuh mereka kaku tak bergerak.
“Tch. Dia lebih berbahaya dari Ira.”Ujar Ivan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Bunyi pintu terdengar terbuka, aura lain kembali muncul. Pada sebuah kamar dengan balkon yang menampaki seorang wanita muda yang masih berpikir. Tatapan sepasang iris aquamarine itu menajam. Dia melangkah dengan mudahnya, masuk kedalam lingkar kemurkaan yang ada disekitar tubuh wanitanya.
“Eh?”Rigel terkejut, saat sadar sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Rigel pun menoleh, mendapati Jevandres yang menatapnya dengan raut wajah dingin. Rigel tahu. Pria itu sedang marah.
“Tahu perbuatanmu membahayakan bayi kita?”Ujar Jevandres teramat dingin.
“Maaf...”Ucap Rigel lagi.
Jevandres menghela nafas “Kalau begitu sudahi kekacauan ini.”
Alhasil Rigel, tak jadi menyegel Luxie. Dia membiarkan Luxie melarikan diri “Hei hai? Sejak kapan kalian berdua berdiri disana?”Sapa Rigel dengan riang sambil bergelayut manja dilengan Jevandres.
“Iblis”Batin Ivan dan Arcadia bersamaan.
Ivan dan Arcadia dirangkul oleh seorang pria emerlad lainnya “Mereka berdua sudah sedari tadi ingin menjemputmu. Rigel...”Ujar Ramone yang baru saja muncul.
“Oh iya.”Ramone menatap Jevandres “Isterimu itu nyaris dicelakai. Ah pasti kau sudah tahu kok, jangan berlagak tak tahu apa-apa Tuan Lascelles.”
Sontak Ivan dan Arcadia melotot kearah Ramone.
Ramone mengangkat kedua bahunya dengan acuh “Aku serius loh.”Ucapannya seolah berbanding terbalik, Ramone bahkan sengaja menatap Jevandres dengan meledek.
Rigel menatap rahang Jevandres yang mengeras, dia pun berjinjit sedikit untuk mengecup pipi Jevandres “Ramone hanya bercanda, dia benar kok. Aku dilindungi dengan baik dan Ramone memperbolehkanku istirahat dikamarnya. Kalau dia sendiri, aku tahu dia keluar dari apartemennya dan baru saja tiba. Kan, Ramone.”Ujar Rigel sambil mengulum senyuman.
“Yup, benar. Aku sibuk mengurus bar semalaman. Ini saja baru pulang.”Ramone terkekeh kepada Rigel.
Mereka berdua tampak akrab, seperti seorang sahabat “Kalau begitu aku dan Jevandres pulang ya. Terimakasih Ramone...”Ujar Rigel dengan lembut.
“Ayo, Ivie... Dio... apa kalian masih mau bermain diapartemen Ramone?”
“Tidak!”Seru mereka bersamaan.
Rigel terkekeh pelan, dia berjalan sambil menggandeng lengan Jevandres “Jangan marah, tadi malam dia benar-benar menolongku.”Pujuk Rigel.
Jevandres hanya menghela nafas “Apa dia baik-baik saja?”Ucap Jevandres sambil mengusap perut Rigel.
“Hm. Baik, hanya lapar.”
“Kita sarapan pagi dulu.”
“Aku ingin makan seafood, pancakes strawberry dan milkshake!”Seru Rigel antusias.
Jevandres hanya diam dengan tenang, dia terus melangkah keluar dari apartemen sambil berjalan menggandeng tangan Rigel “Iya iya. Kita pergi ke restoran sekarang.”
Rigel bahkan mengabaikan kedua saudaranya. Dia berlalu bersama Jevandres.
“Syukurlah.”Ujar Ivan memperhatikan Rigel dan Jevandres “Setidaknya, dia lebih mengerti sekarang.”
“Benar.”Arcadia Dio mengangguki ucapan Ivan “Tinggal bagaimana sekarang kita mengurus empat dari pendosa lainnya.”
.
.
.
Bersambung