
Happy Reading
.
.
.
Hanya hal lama yang perlu dikenang, begitulah. Ratusan tahun yang lalu, hamparan bintang dimalam hari akan begitu indah. Tampak oleh mata dengan mudah, seolah bintang besar disebelah utara lion heart berkedip dengan cerah.
“Woah~”Sepasang mata merah lembayung berbinar menatapnya “Kalau bintang yang disebelahnya itu apa namanya Dada?”Tangan kecilnya menujuk sinar kerlip kebiruan.
“Manusia menamainya bintang Rigel, Lihat... matamu sangat tajam sampai bisa melihat sang pemburu cahaya itu Ira.”Usapan pada puncak kepala kecil itu dibelainya dengan lembut “Itu baru puteri kecilku, Ira.”Pria itu boleh menyeramkan. Tubuh besar, sepasang tanduk pada kepalanya, dan kuku tajamnya itu. Tetap seorang ayah untuk gadis kecil yang cantik nan menggemaskan ini.
“Dada gendong.”Kedua tangan kecilnya direntangkan, bocah kecil itu langsung melompat kearah kedua lengan besar sang ayah “Dada~ ngantuk...”Gumamnya sambil memeluk leher sang ayah, wajah kecilnya menunduk disana. Tampak perlahan-lahan tidur dengan lelap.
Dua bocah lelaki berjalan beriringan menghampiri sang ayah, sembari menggenggam tangan satu sama lainnya. Satu bersurai hitam dan satu lagi bersurai perak, sementara kedua matanya sama seiras “Dada, apakah Ira sudah tidur?”Ucap kedua bocah itu bersamaan.
Sang ayah menggendong puteri kecilnya dengan sebelah tangan kirinya, sementara tangan kanannya digunakan mengusap kedua bocah lelaki kecil itu bergantian “Invidia, Acedia... Maukah kalian menjaga Ira untukku?”Kini pria menyeramkan itu menundukkan tubuhnya, agar setara dengan kedua putera kembarnya itu.
“Hm...”Keduanya kompak mengangguk.
“Ira, akan menjadi raja iblis. Kelak dunia bawah ini akan berada dibawah kekuasaannya, sebagai kakak yang baik untuk mendampingi Ira.”Suara paraunya berbicara dengan pelan, dengan kedua iris merah yang menatap kedua bocah itu secara bergantian.
.
.
Hari terus menerus berganti menjadi tahun demi tahun. Sudah berbagai musim mereka lalui, gadis beriris merah lembayung itu genap berusia tujuh belas tahun ditubuh manusianya. Setelah ini, kehidupan sebagai manusia akan berhenti untuk terus mengabadi. Sebagai ras iblis tertinggi yang sudah diberi amanah untuk mengemban tugas sebagai raja iblis yang baru.
Sayangnya, Ira. Menolak semua itu mentah-mentah, didalam sebuah ruangan pada menara tertinggi. Dia duduk disana dengan kedua tatapan yang datar “Dada... Ira sudah bilang. Seluruh kekuatanmu ini percuma untukku.”Tidak ada tatapan sesendu seperti itu diantara ketujuh pendosa melegendaris lainnya.
“Ira. Dada melihat dunia bawah akan tentram jika ditanganmu dengarkan permintaan dada.”
Ira menggeleng “Bukannya, kakak tertua jauh lebih pantas.”
Ira memiliki sepasang iris merah lembayung seperti ibunya, mahluk fana dari dunia manusia. Diantara keenam saudaranya, hanya Ira yang terlahir dari seorang manusia yang mampu membuat sang raja iblis jatuh hati “Ira... Mawar kecil dada.”Ujar sang ayah memengang lembut pipi gempal itu dengan tangan besar keriputnya “Malverina...”Gumamnya menatap sang Ira yang memiliki paras seiras dengan mendiam ibunya. Begitu cantik, indah dan tangguh. Sayang, Ira keras kepala berbanding jauh dengan perangaian ibunya Malverina yang lembut dan patuh.
“Ayah, ibu sudah tiada. Ira tak ingin menjadi seorang pemimpin.”Sepasang tangan cantik Ira yang memiliki jemari-jemari lentik, meraih wajah sang ayah. Wajah yang tak memiliki rupa, ditumbuhi kulit sekeras baja dan hanya sepasang mata merah yang bersinar itu dipegangnya dengan lembut “Dada... Ira tahu, aku lahir dari seorang manusia yang lembut tapi Dada juga membunuh Malverina dengan kemurkaan itu sendiri, iya bukan?”Suara Ira bergetar. Menahan isak tangisnya membasahi pipi gempalnya.
Sang raja Iblis, terkuat. Satu-satunya yang mampu mengalahkan salah satu malaikat kebajikan hanya terdiam tanpa membantah gadis manis yang ada didepannya “Ira, dada tidak bermaksud membunuh Malverina.”
Ira menggeleng “Ira tahu, rasa penyesalan dada selalu ada. Ira bisa melihatnya, tapi dada malah memberikan kemurkaan itu kepadaku.”Ira menurunkan kedua tangannya. Tak lagi menatap sang ayah yang selama ini begitu menyayanginya.
“Dada... Ira kecewa. Ira hidup dengan nafas kemurkaan, sekalipun itu dosa begitu kuat tapi Ira tak menyukainya. Ira terus hidup sebagai seorang pembunuh, apakah dada pernah bertanya?”Ira melangkah menjauhi ayahnya “Dada hanya ingin Ira, karena Ira anak dari Malverina.”Ira memalingkan wajahnya “Dada tak melihatku sebagai Ira.”Ujar Ira dengan kedua mata merah lembayung yang berkaca-kaca. Seorang iblis, mungkin hanya Ira yang bisa memiliki sebagian sisi manusianya.
“Kau tak melihatku sebagai Malverina.”Perkataan itu terngiang oleh seorang gadis bersurai sekelam malam dengan paras benderang bulan.
“Maafkan aku Malverina.”
.
.
Invidia mungkin orang yang pertama kali tiba di menara itu, dia dengan jelas melihat gadis yang duduk berlutut diatas genangan darah pekat “Ira! Kau tak apa-apa! Dari selatan para malaikat mul—“Invidia melebarkan kedua matanya, bergetar tak percaya.
“I-ira?! Kau membunuh DADA!”
Ira berjalan mendekati saudaranya “Aku tahu, tak perlu berteriak Ivie.”Ujar Ira dengan tatapan kosongnya kepada Invidia.
“Aku tak akan memimpin dunia bawah, seseorang yang akan mati sepertiku tak akan pantas.”Dia mengulum senyuman.
“Maka dari itu Ivie, kumohon jangan pernah melarang rencanaku. Aku lelah untuk hidup.”
.
.
.
Lamunan Ivan tampak mengenang begitu jauh. Sembari duduk dengan menompang dagunya. Beberapa menit lalu setelah memejamkan mata sejenak, dengan menulikan telinganya yang mendengar riuh dari dalam ruangan bundar yang besar ini.
“...Invidia! Setidaknya katakan sesuatu, kalian berdua yang paling tahu Ira saat ini.”Suara lantang seorang pemuda yang duduk diseberangnya.
Ivan yang sedari tadi duduk disalah satu bangku bundar ini, hanya menatap saudara-saudaranya. Biarpun terdapat beberapa bangku yang kosong tak terisi, siapa lagi kalau bukan Arcedia dan Rigel. Oh, bahkan Luxie sang nafsu pun tak turut hadir. Mereka sebenarnya hanya bertiga, sang kedengkian Ivan hanya memenuhi undangan dari sang kakak tertua sang pemimpin saat ini yang katanya digadang-gadangkan memiliki kekuatan iblis tertinggi pun tampak turut tak hadir.
Ivan mendecih pelan.
Pertama kalinya seorang Ivan merasa malas menghadapi saudara-saudaranya ini. Terkecuali Rigel dan Arcadia. Selayaknya saudara, Ivan menyanggupi panggilan saudara-saudara lainnya ini. Tak lain, hanya untuk mengadili Ira. Bahkan mereka semua tidak mengetahui hal besar yang sudah menimpa adiknya itu.
“Apa yang kalian rencanakan?!”Lanjutnya lagi.
Brak. Tampaknya pintu itu sengaja dibanting, oleh seorang wanita yang sudah berantakan dan wajahnya tentu saja sama seramnya bahkan riasan diwajahnya sudah hancur “Katakan padaku Ivie! Red Crimson bersekongkol dengan malaikat, apa kalian ingin mengkhianati kaum iblis?!”Wanita itu berteriak tepat disebelah telinga ivan seorang.
Pria bersurai perak itu hanya menghela nafas ‘bahkan lebih gila lagi jika kalian tahu, Ira sedang mengandung anak manusia’Batin Ivan berseru. Ingin melawan namun terlalu malas, dia pun beranjak berdiri “Setidaknya aku sudah menyanggupi undangan kalian untuk datang kemari.”Ujar Ivan dengan jengah. Dia harus lekas dengan cepat pergi dari sini, bahkan ketika Arcadia baru tiba didepan mulut pintu dengan raut amarahnya. Invidia menangkap raut tak lazim itu dari kakaknya “K-kenapa Dio?”Nyaris hendak menghampiri.
Arcadia langsung melesatkan satu serangan dari tangan berapi hitamnya kepada wanita itu “Kau! Jika sampai Ira terluka, aku tak segan-segan melenyapkanmu Luxie!”Rahang Arcadia mengeras.
Ivan melebarkan sepasang mata merahnya “Jangan-jangan?! Astaga, Ira...”Ivan berlari keluar ruangan itu dengan panik, dia menyangka keadaan Ira baik-baik saja selama beberapa bulan ini tak bersama mereka. Nyatanya, sedikit saja lengah adik kecil mereka nyaris dicelakai oleh saudara kubu berlawanan ini “Sudahlah! Kita hanya buang-buang waktu disini!”Invidia menarik tangan Arcadia untuk turut serta bersamanya. Mereka keluar dari mansion itu bahkan keluar dari dimensi dunia bawah ini dengan terburu-buru.
Apakah Ivan juga bisa marah? Tidak, dia sadar jika pria bersurai perak ini terlalu sering mencemaskan adik manisnya. Bahkan setelah tahu keputusan adiknya itu, dia tak bisa berkata apapun selain membantu menjaga rencananya agar tetap berjalan.
“Bagaimana kau bisa tahu jika Luxie melakukan itu kepada Rigel?”Selayaknya seorang saudara, kini raut Ivan harap-harap cemas bahkan dia menyetir dengan keadaan kalut.
“Zuriel. Dia mengatakannya, jika dia tak berburu dimalam itu mungkin Rigel sudah habis ditangan Luxie. Mengingat keadaannya sekarang.”
Invidia meremat stir mobilnya “Berarti Rigel dibawa bersama Jevandres?”
Arcadia menggeleng “Tidak tahu, dia hanya mengirimi pesan jika Rigel hampir diserang Luxie kebetulan dia berada di ‘kawasan’ perburuannya.”Arcadia menghela nafas dengan malas “Lagi-lagi kita berhutang dengan malaikat itu Ivie...”
“Ah... Benar.”Ivan tak mempungkirinya “Sebaiknya kita jemput Rigel dulu, baru bahas hal lainnya.”
,
,
,
Bersambung