
Happy Reading
.
.
.
Udara sehabis hujan begitu dingin, aroma tanah sehabis hujan sangat segar. Hari ini Rigel hanya memandangi bulir-bulir hujan dari kaca jendela. Baru saja sejam yang lalu dia keluar dari ruang pemeriksaan rutin kehamilan. Sorot mata Rigel juga tak heran memandangi pasangan suami istri yang turut berada diruang tunggu bersamanya, Rigel merasa kesepian. Memang bukan pertama kalinya Rigel beraktivitas sendiri, dia hanya sedikit cemburu dengan pasangan lainnya.
Dirasa hujan sudah reda dengan baik, Rigel pun beranjak berdiri untuk menaiki taxi kembali ke universitasnya. Omong-omong Rigel masih memiliki kelas siang nanti, beruntung isi kelasnya hanya sekisaran dua puluh orang. Rigel pun mengambil tas selempangnya setelah memasukkan obat vitamin, obat zat besi dan foto usg berisi gambaran sang bayi dan dugaan kelaminnya. Tapi sayang, belum bisa diketahui karena sang bayi membelakangi sorot usg dengan punggung kecilnya “Dasar...”Rigel bergumam sendiri, dia rasa itu begitu lucu dan menggemaskan.
“Ah~ lapar sekali.”Rigel berkata sambil menundukkan kepalanya, dia pun menuruni tangga Rumah Sakit dengan raut malasnya. Semenjak kehamilan Rigel bertambah usia, dia sering uring-uringan.
Rigel sempat belanja beberapa makanan ringan pada minimarket yang ada diseberang jalan, dia membawa sebungkus plastik penuh dengan cemilan dan makanan ringan.
Seperti biasanya, Jevandres selalu tiba untuk menjemput Rigel. Bahkan Rigel tidak tahu bagaimana pria itu dengan mudahnya mengetahui lokasi dirinya berada biarpun Rigel tidak memberitahunya.
Jevandres tampak sedang menghisap puntung rokoknya, dia berdiri ditepi mobil lamborgini hitam yang terparkir didepan mini market “...Hm? Apa kau begitu lapar?”Ujarnya sambil mematikan rokoknya.
Rigel menatap acuh dan langsung masuk kedalam mobil milik Jevandres, bahkan dia duduk dibangku belakang penumpang. Tidak seperti biasanya “Cepat jalan, aku akan terlambat jika kau lamban.”Ujar Rigel dengan kesal.
“Iya iya...”Jevandres hanya bisa menghela nafas. Dia pun masuk kedalam mobil, menjadi supir dadakan Rigel.
Rigel mengunyah sebungkus keripik kentangnya, sambil memicingkan mata pada punggung tegap Jevandres “...Sejak kapan kau ganti parfume manis seperti ini? Menyengat.”Komentar Rigel, yang sebenar tahu aroma parfume feminime ini.
“Aku habis bertemu rekan kerja. Ceritanya panjang.”
Rasa kesal Rigel semakin memuncak, tapi dia hanya membalikkan wajah sambil terus mengunyah sebungkus keripik kentang dan menegak minuman kotak jus jeruk dengan kasar, sekali tegak. Langsung habis.
“Bayi kita bagaimana?”Sejujurnya Jevandres gemas dengan sikap marahnya Rigel itu, dia manis dan lucu. Pipi gempalnya sampai memerah jika marah.
“Hmph!”Rigel menggembungkan pipinya “Baru perduli? Aroma parfume wanita itu sangat bau, lihatlah aura nafsu disekitar tubuhmu menguar menjijikkan.”Ujar Rigel dalam sekali nafas.
“Iya, maaf. Kami tidak berbuat apapun, percayalah. Dia hanya menggodaku. Namanya juga dunia bisnis, biasa hal ini terjadi. Lagi pula suamimu ini terlalu tampan jadi tidak salah.”
“Ya sudah berhenti disini! Aku lanjut naik taxi sendiri, dasar bodoh!”
Jevandres menghela nafas, dia menepikan mobilnya didepan sebuah blok perumahan yang sepi “Tunggu sebentar.”Jevandres membuka pintu mobilnya dan bergerak menuju bangku kedua, dia duduk disebelah Rigel “Aku tidak akan mengkhianatimu.”Ujar Jevandres.
Rigel menghentikan makan kripiknya, dia hanya menunduk “A-aku...”Saat itu Rigel menahan air mata yang akan keluar, sungguh Rigel menjadi lebih perasaan saat ini.
“Hiks...A-aku benci kau.”
‘Bisa saja. Jika dipikir-pikir, aku memang bukan isterimu. Hanya orang yang kebetulan masuk kedalam raga isterimu.’Rigel membatin. Dia ingin marah, kecewa dan sedih. Tapi perasaannya kerap kali terbalik “Aku juga minta maaf, seharusnya aku tak mengekangmu. Aku harus tahu posisiku.”wajah Rigel memerah dan sembab.
Grep. Jevandres menangkup wajahnya, mengarahkan wajah kecil Rigel kehadapan wajah Jevandres. Mengecap pelan ranumnya bibir Rigel. Kemudian memeluk tubuh itu dengan erat “Begitu? Apa kau mau sehidup semati bersamaku. Sebagai wanita manis bernama Rigel Wijayakusuma Carlin?”Dari dalam saku mantel hitam Jevandres, pria pirang itu merogoh sebuah kotak. Dia memasangkan cincin itu dijemari manis sebelah kanan Rigel “Kau tak mungkin melepaskan senjata kebangganmu bukan?”Bisik Jevandres.
Ah, Rigel seperti kepiting rebus. Dia merah bersemu, perlakuan Jevandres benar-benar memabukkannya “A-anu... Selama ini, Ecru selalu bersama kita. J-jadi maaf, U-usianya mungkin anak-anak. Jadi... Ecru bukan senjata, mungkin anak pertama kita. Hehe...”Rigel terbatah-batah “K-kalau cincin ini, aku terima dengan baik. T-terimakasih...”
“Mau menikah denganku, aku tahu ini terlambat. Tapi apakah kau masih mau Rigel?”Sepasang mata aquamarine itu menatap dengan teduh.
Rigel mengangguk pelan “Uhm~ t-tapi apa kata keluargamu nanti?”
Jevandres mengecup pipi gempal Rigel “Itu urusanku, nanti bantu saja mengatakannya ya?”Ucap Jevandres lagi sambil mengecup lagi pipi Rigel.
Jika dipikir-pikir, Jevandres memang suka bersentuhan dengan Rigel. Dia menjadi lembut dan penyayang “Oh iya, Ecru? Aku tak pernah melihat dirinya.”
Rigel mengangguk “Selama ini memang hanya cincin hitam ini, tapi jika kau tidak keberatan. Aku memang berniat membiarkannya berkeliaran disekitarku? Dia anak yang manis apa boleh?”
Jevandres seolah sudah tahu dan tak terkejut ‘Tunggu! Kenapa dia bisa tahu?’Rigel membatin, tersentak kaget. Jika bukan para pendosa, tak akan ada yang bisa menyadari energi Ecru.
Tatapan bertanya-tanya Rigel, cepat disadari oleh Jevandres “Tidak perlu dipikirkan.”Ujarnya sambil mengecup Rigel lagi “Apa mau, bolos kelas hari ini?”Bisik Jevandres dengan pelan “Trimester pertamamu sudah lewatkan?”Bisiknya lagi dengan suara berat dan pelannya.
“Engh~ itu...”
‘Habislah...’Rigel membatin, dia hanya terkekeh hambar. Menatap wajah Jevandres yang menyeringai kearahnya.
“Kalau begitu kita pulang, tidak ada tapi-tapi. Sayangku.”
‘Ingin berdoa tentang keselamatan pinggangku, tapi Tuhan. Aku sendiri pendosa.’Rigel berkata konyol pada batinnya sendiri. Kini Rigel hanya bisa pasrah. Cinta yang diberikan Jevandres begitu memabukkan, melimpah ruah dan menyenangkan.
.
.
.
Bersambung