Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 21 : Gone



NOTE:


Hai-hai, selamat datang readers!


Salam kenal dari Author Arta, terimakasih sudah membaca, mendukung atau like!


Jika, kalian juga mau memberikan saran untuk Carnival of Binary. Silahkan loh~ Hehe...


*Psssttttt Rasanya saya jarang menyapa readers Hehe, maaf-maaf.


Yuk, kalian juga bisa baca karya aku lainnya. THE EMPIRES OF HEART.  Jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya, Ciao-ciao


 


Happy Reading~


.


.


.


 


Awal musim semi. Hembusan angin sore menerpanya dengan lembut, Sore dengan mentari yang teduh. Langit citrus menggulung awan-awan yang putih, biarpun mentari akan segera tenggelam. Lagi, angin berhembus sepoi nan dingin. Surai hitamnya bergoyang dengan halus.


“Scheveningen begitu dingin, jangan coba-coba bermain ke air Rig.”


Pipi gembul Rigel menggembung “Yah~ habisnya aku rindu pantai.”Ucap Rigel diakhiri dengkusan kesalnya.


Jevandres tersenyum paham “Iya iya. Kalau kau sakit, dia juga sakit bukan?”Ucap Jevandres sambil mengelus perut Rigel yang sedikit buncit itu kemudian membenahi syal yang melingkar dilehernya.


“Hehe... Aku kuat kok, mau berkuda saja aku masih mampu.”Rigel hanya terkekeh geli ketika melihat pelototan dari Jevandres kepadanya “Aduh...duh...”Rigel merintih kala pipi gembulnya dicubit gemas oleh Jevandres.


“Katamu, enak sekali.”Ucap Jevandres sambil menunduk untuk mengecup puncak kepala Rigel, mengecup pipi gembulnya dan hidung kecil Rigel. Nyaris semuanya dikecup olehnya.


Sudah dua bulan berlalu. Sepasang mata kenari Rigel menatap aquamarine Jevandres dengan lucu, kini Rigel begitu menyukai kehidupannya. Dia bebas untuk tersenyum, sedih dan kecewa. Rigel lebih hidup, dan berjalan dengan riangnya. Tanpa Rigel sadari sepasang pipi gembulnya merona merah “Kak Jev!”Seru Rigel sambil memeluk pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.


Jevandres menggengam tangan kecil Rigel itu “Ayo, mau jajan waffle?”


Rigel mengangguk antusias.


Jevandres yang tersenyum meraih tangan Rigel, dia berbalik lebih dahulu namun tangan mereka masih bertautan bersama. Bahkan senyum Rigel belum luntur saat itu. Hingga pada akhirnya...


Dorr...


Kepakan kawanan burung dara laut terdengar riuh, mereka terbang keangkasa bergerombolan. Suara dari laut masih menggulung dengan derunya, angin membawa tiupan kedarat. Menghembuskan dengan pelan, surai rambutnya turut berantakan oleh angin. Tatapannya bulat bergetar.


Brukk. Tubuh pria itu jatuh ke hamparan pasir kuning, kini bercampur oleh cairan hitam pekat darah. Terus mengalir deras.


Laut, sepasang iris Aquamarine samudera itu mengabur. Masih sempat menggerakkan tangannya untuk meraih si bintang Biru yang tampak begitu syok “Rig...el.”Ucapnya tertatih. Namun tetap tak berdaya, peluru itu sudah mengenai tepat pada pelipis kanannya. Bertaruhlah kepada nasib, jika ia masih bisa hidup selayaknya manusia.


“K..kak Je...v...”Bibir ranum nan mungil itu bergetar, sepasang kenarinya terguncang dan raut wajahnya menderita dengan perih. Tak ada yang bisa dipikirkannya, blank. Itulah dunia Rigel yang sudah runtuh ini “Tidak. Bohong bukan?”Derai air matanya mengalir deras. Ia pun langsung menggambil tubuh pria besar itu untuk didekapnya “Bangun... kumohon...”Tangis Rigel menjadi dikala ia terus menepuk-nepuk pelan rahang tirus Jevandres.


Kedua kelopak matanya nyaris tertutup, samudera biru itu semakin gelap akan kehidupan “Rig...el.”Dia menyebut nama kekasih hidupnya. Dia akan menyebutnya terus, dia ingin menyeka air matanya dan menenangkannya. Jika saja bisa.


“AHHHH!”Rigel melolong dengan teriakan frustasinya, air matanya sudah banjir dan ia mengutuk kehidupan itu sendiri. Lagi dan lagi.


.


.


.


“Ayah! Ibu!”Dibelakang mereka menyusul seorang pria tampan bersurai perak panjang yang diikat ekor kuda “Rigel dan Jevandres dimana?!”Ucapnya pada kedua suami isteri itu.


Mereka bersama-sama menuju unit gawat darurat, tepat diruang tunggu didepan ruangan itu. Seorang gadis kecil, mengenakan syal merah maroon duduk menunduk. Seorang diri.


“Ya Tuhan Rig!”Kedua suami isteri itu langsung mengenali buah hati mereka yang sudah menjauh sejak lima tahun lamanya “Rigel, sayang.”Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Rigel, sang ibu pun mengusap-usap puncak kepalanya.


“Kami disini, nak.”Pria paruh baya beriris biru gelap dan bersurai brunette itu juga mengusap-usap pundak Rigel yang tampak bergetar samar.


Rigel menggeleng, kedua iris kenarinya sudah banjir dengan air mata “Hiks...Kak Jev disana... Aku tak tahu!”Rigel menggeleng dengan lemah, wajahnya frustasi dan pucat pasi.


Ivan yang sedari tadi berdiri dibelakang kedua orang tua angkatnya mulai mendekat “Rig... Arcadia sedang perjalanan ke Den Haag, kami akan membantumu.”Ucap Ivan meraih tangan dingin Rigel dan menggengamnya untuk menyalurkan sedikit energinya disana. Ivan pun menatap Rigel tak tega ‘Dia tampak kacau dan menyedihkan’Batin Ivan menggumam. Biar bagaimana pun Rigel masih tetap adiknya, adik kecil kesayangannya.


“Aku akan membalasnya, lihat saja!”Sepasang iris mata kenari Rigel mengkilat, dia membalas pegangan erat kakaknya itu “...aku tak akan rela.”Lirihnya lagi.


Ivan mengangguk pelan, dia meraih tubuh Rigel kedalam dekapannya “Ssstttss... Ingat mahluk kecil itu masih ada dikandunganmu, tenanglah.”Ucap Ivan sambil mengusap-usap pelan puncak kepala Rigel. Membiarkan sweater hitamnya basah oleh air mata gadis kecil kenari itu.


“Rigel...”Panggil wanita paruh baya itu “Apa dia mengandung?”


Ivan yang mengangguk, dia melirik kondisi Rigel yang masih terguncang itu. Selain pandangannya kosong, ia juga begitu lemas “Benar bu, usianya tidak salah tiga bulan. Mereka sudah menikah, dan Jevandres Altair Lascelles adalah pria baik yang selalu melindungi Rigel.”Ivan berusaha menyunggingkan senyumannya pada kedua orang tua angkatnya ini. Biarpun Rigel jauh dari kedua orang tuanya, Ivan lebih banyak mengawasi Rigel daripada Arcadia. Tapi, mereka bertiga tetap saling membantu selayaknya persaudaraan manusia.


“Ya Tuhan, kita akan memiliki cucu pih!”Wanita paruh baya itu haru dan sedih, anak manisnya justru mengalami tragedi yang menyedihkan. Bahkan kondisi suami anaknya ini, masih belum begitu jelas.


Brukk...


“...RIG!”Ivan terkejut dia langsung menggendong tubuh Rigel, dia ambruk begitu saja.


"Bertahanlah Rig, tak lucu jika kau menyerah ketika sudah mempertaruhkan semuanya!"Ivan menatap Rigel dengan guratan cemasnya.


 


"Sudah berapa kali? Berapa kali takdir mempermainkanku. Hey Ira! Sang kemurkaan, kau senang bercanda dengan kehidupanku ya?"


"Aku lelah... Setidaknya sekali saja, mengalahlah padaku."


 


 


 


.


.


.


Bersambung