Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 45: Family



.


.


.


“Hai Paman Ivie... Kami berkunjung!”Rigel yang menggendong Calleriu menggerakkan tangan kecilnya seolah menyapa pria bersurai perak itu. Calleriu tampak segar karena baru bangun tidur, walaupun masih sesekali menguap.


“Owah~ Caleb dan Calleriu datang!”Ivan berseru, Caleb yang ada dikereta bayi langsung digendongnya.


Hari ini, pembukaan bakery and cafe baru Ivan didaerah Den Haag. Lumayan dekat dari rumah Rigel. Selama beberapa minggu mempersiapkan usahanya ini, setelah kepindahan dari Seoul akhirnya Ivan memutuskan memulai usaha didekat kediamannya bersama sang adik manisnya Rigel.


Padahal sejak pagi-pagi sekali dia sudah sibuk mempersiapkan menu makanan bersama beberapa pegawainya. Bakery and cafe baru buka sekitar pukul sepuluh pagi, dia pun dikejutkan dengan kedatangan Rigel bersama keponakan kembarnya.


“Cafemu nuansanya mirip dengan di Seoul.”Ujar Rigel sambil mengambil tempat duduk diujung ruangan yang menghadap jendela “Ah, semoga saja ada Cheese cake dan teh chamomile.”Rigel berkata dengan nada yang sengaja didramatisir, dia yang menggendong putera beriris birunya itu hanya tersenyum jahil.


Ivan memutarkan kedua bola matanya dengan jengah “Lihatlah ibumu Caleb, senang merepotkan paman. Haish...”Ivan tak mau kalah.


“Haha... Ivie~ aku pesan yang biasa ya.”


Ivan mengangguk, dia sempat menyampaikan pesan Rigel kepada pegawainya yang kebetulan melintasi mereka “Mereka masih menyusu denganmu bukan?”Tanya Ivan sambil membelai surai pirang Caleb yang tampak tenang dalam gendongannya itu.


Rigel mengangguk “Ini ada dua botol...Kenapa kau mau memberinya?”Ujar Rigel sambil mengeluarkan tas berwarna pink yang berisi perlengkapan kedua bayinya.


Ivan mengangguk “Mumpung kerjaanku sudah selesai untuk saat ini, biar aku bantu. Ah...lihatlah, dia bahkan mengisap jari-jarinya sendiri...”Ivan membenahi tangan Caleb yang masuk kedalam mulut kecilnya “Oh iya, Ecru mana?”


“Ditanganku, lebih baik dia banyak istirahat untuk beberapa waktu ini.”Rigel berucap sambil membuka resleting tas pinknya itu “Tak pernah tahu, kapan dia akan tiba menemuiku.”Ucap Rigel sambil memberikan botol berisi susu kepada Ivan.


Ivan mengangguk setuju, dia membuka tutup botol susu tersebut kemudian dengan telaten memberikannya kepada Caleb “Belakangan ini kudengar keluarga Lascelles sendiri kewalahan dengan sifatnya. Kau tahu? BlackAsh sendiri akan dibubarkan setelah sesuatu yang dipersiapkan, kata Aria.”


“Benar, Aria juga sempat mengatakan hal itu kepadaku. Kalau aku dugaanku tak salah, dia akan menggunakan orang-orang di BlaskAsh untuk membekukkanku.”


Rigel menatap bayi Calleriu yang ada didalam gendongannya, kedua iris aquamarine yang Rigel lihat itu menatap Rigel dengan tenang. Dibandingkan Caleb, Calleriu sangat mengingatkannya dengan pria yang dua bulan ini tak pernah ditemuinya itu “Um, uh? Apa Calleriu juga lapar?”Rigel pun mengecup pipi gempal bayi lucu itu, dia mengeluarkan botol susu yang lain kemudian memberikannya kepada Calleriu. Masih menggendong bayi beriris birunya itu. Terkadang, Rigel rindu jika berlama-lama menatap Calleriu yang amat sangat mirip dengan Jevandres. Padahal kedua bayi kembarnya memang mirip dengan sang ayah, hanya kedua iris aquamarine Calleriu mengingatkannya saja.


Sadar akan tatapan itu dari sang adik, Ivan yang duduk diseberangannya hanya bisa mengiba “Rigel, segera selesaikan urusanmu dengan Hubris Superbia. Kau tak bisa berlama-lama seperti ini, jujur saja. Aku tak tega melihatmu.”


Rigel mengulum senyuman mendengar penuturan sang kakak “Ivie... Terimakasih, inginnya sih begitu. Tapi...”Ucapan Rigel terputus, ketika seorang pelayan datang menghantarkan sepiring potongan Cheese Cake dan secangkir teh Chamomilenya.


“Ah! Saya kira tuan Tristan belum memiliki istri...”Ujar pelayan cafe itu sambil memengangi nampannya.


“Aku adiknya Ivan, kalau isterinya... Ah itu dia datang! Aria, Disini!”Tak diduga, Aria juga baru tiba. Rigel pun melambai-lambaikan tangannya memanggil Aria yang baru saja masuk kedalam bakery and cafe.


Ivan, menggeser posisi duduknya. Membiarkan gadis berkacamata itu duduk disebelah, berhadapan dengan Rigel “Eh ada si kembar. Apa kesusahan nona Rigel? Kemari Calleriu, biar mommymu istirahat dengan teh chamomilenya.”Aria dengan senang hati bangkit berdiri lagi, dia mengambil bayi kecil yang sudah pulas tertidur itu dari Rigel walaupun masih menghisap botol susunya.


“Dia belum kenyang.”Ujar Rigel memberikan bayinya kepada Aria. Akhirnya Aria dan Ivan duduk bersampingan dengan kedua bayi kembar pasangan Jevandres dan Rigel yang mereka gendong “Nah, beginikan simulasi parenting. Hehe...”Rigel menggoda dua sejoli itu.


“Ah, itu...”Aria memerah.


Rigel puas tertawa “Haha... Ayolah Ivie, lihat Aria. Dasar tidak peka!”


Rigel menyendoki cheese cakenya “Iya iya. Ini salahku, maaf ya untuk kalian berdua.”Ujar Rigel sambil tersenyum tak merasa bersalah, dilanjutkan dengan meminum teh chamomilenya. Yah, dia sudah lama tak merasa sesantai ini semenjak kehadiran bayi kembarnya. Rigel mengadu nikmat dengan aroma teh yang kembali dihesapnya itu.


“Oh iya, nona Rigel.”


“Uhm?”


“Beberapa data base BlackAsh sudah memblacklist namamu dalam target yang dibekukkan. Lumayan mencurigakan, namun dari riset yang sudah kukumpulkan tentu informasi BlackAsh itu sendiri. Tadi malam, BlackAsh membubarkan diri dengan sengaja, Tapi...”


Rigel menyanggah dagunya “Membersihkan anggota-anggota baru dan menyisakan yang anggota elit, bukan?”


Aria membulatkan kedua matanya, dia terkejut “K-kenapa nona bisa tahu?”


“Ah, itu...”Rigel meneguk teh chamomilenya dulu “Hanya menerka pergerakannya saja. Lagipula aku sudah tahu kok, BlackAsh itu memang milik Jevandres bahkan sebelum Hubris Superbia terbangun dari jiwanya. Keluarga asli Jevandres memang sudah lama mengurusi hal-hal gelap seperti ini.”Ujar Rigel dengan santainya menyuap sesendok Cheese Cake kedalam mulutnya dan memakannya.


“BlackAsh memang ada untuk menertibkan, orang-orang yang dianggap menganggu negara tempatnya mengabdi. Ah lebih tepatnya, Keluarganya. Kedoknya saja sebagai pembunuh bayaran. Padahal BlackAsh menseleksi targetnya kok, setiap target pasti memiliki masalah disini.”


Aria terkagum-kagum, semua ucapan Rigel yang didengarnya itu tepat dan benar “T-tapi waktu itu mereka menargetkan anda?”


Rigel tersenyum miring “Kalau itu, kesalahannya yang tidak profesional. Sangat kekanak-kanakan bagi Jevandres mempergunakan ‘kekuasaannya’ itu.”Ujar Rigel dengan santai “Tapi yang jelas... Pergerakan mereka lebih cepat dari yang kukira, untuk keselamatan kedua bayi kembarku. Rasanya malam ini aku akan menitipkannya pada ayah dan ibuku di Rotterdam.”


“Biar Ivan dan aku yang menemanimu.”Ujar Ivan.


“Tak perlu...”Rigel menggeleng “Jujur saja, kedua kelopak mata bawahmu menghitam. Apa tak kau biarkan dirimu istirahat dulu? Dio apalagi, dia banyak lembur belakangan ini.”


“Oh kalau mengawal nona Rigel biar kami saja.”Seseorang berkata, dia berdiri disamping Aria.


“Eh? Kalian... Valentio? Jin? Kenapa ada disini.”


Aria menggaruk ujung pipinya yang tak gatal “Kalau itu, Aria yang meminta Valentio dan Jin untuk menjaga nona dan Bayi kembar anda beberapa hari ini.”


Rigel menghela nafas “Sebenarnya tak perlu”Ujar Rigel ‘Kalian saja yang tak tahu siapa aku sebenarnya.’Batin Rigel tak kalah berseru.


Rigel melirik teman-temannya itu, mereka tak keberatan. Bahkan Valentio yang memiliki jiwa kebapak-bapakan malah sudah tampak menggendong bayi Caleb yang pulas tertidur itu dengan mudah. Jin yang juga tersenyum melihat bayi-bayinya dan Aria yang senantiasa menawarkan diri untuk mempermudah informasi internal BlackAsh.


“Benar juga.”Rigel berseru sendiri, dia tak hidup sendirian walaupun dalam wujud manusianya. Rasa ini dan orang-orang yang terjalin disekitarnya, membuat perasa Rigel menghangat ‘Aku tak boleh kalah.’Ujarnya dalam batin “Tunggu aku kak Jev, kita akan kembali bersama keluarga dan rekan-rekan kita. Pasti.”Gumam Rigel seorang diri.


 


.


.


.


Bersambung