Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 17: Back memories



Happy Reading~


.


.


 


 


Bunyi bel berdering dengan kencang, sungguh kebahagiaan bagi para siswa menantikan waktu istirahat. Pada sebuah negeri hangat yang cerah, dibawah sinar mentari yang ceria sosok manis tengah duduk dibangku taman sekolah tepat didepan lapangan basket sambil membaca sebuah novel kesayangannya.


Tidak juga, dia menghargai pemberian kakak-kakaknya. Maka dari itu dia menyimpannya dengan baik. Sepasang iris berlainan warna itu menatap tiap kata dalam lembar kertas buku berjudul pride and the prejudice karyanya Jane Austen. Angin menerpa, surai hitamnya berayun-ayun lembut.


Seorang pemuda tak sengaja melintasi taman sekolah itu, dia menatap gadis manis itu. Sepasang iris aquamarinenya menatap dengan dalam, ia terasa familiar dengan sepasang iris berlainan itu. Seolah ia sudah mengenal, gadis manis itu sejak lama. Seringai jahil muncul disana, namun langsung pudar saat teman sekelasnya beramai-ramai menyapanya.


“Eh si bule Jevan! Mau kekantin?”Teman sekelasnya menghampiri pemuda bersurai pirang dengan iris aquamarine yang begitu mencolok diantara para siswa yang lain.


“Enggak, sudah punya janji dengan Rigel.”Kata si surai pirang itu. Sedikit berbohong.


“Yah~”Teman-temannya kompak berseru “Sudah ada janji dengan pacarnya ternyata.”Satu lagi menyeletuk dengan nyaring.


“Wah itu Rigel si anak kelas satu IPA?”


“Iya... Si Rigel, anak paling antisosial itu.”


Jevandres tak tuli mendengar bisik-bisikan teman sekelasnya itu. Namun ia tak menghiraukannya. Dia tetap menemui gadis itu.


“Maaf ya...”Ucap pemuda itu dengan raut tak nyamannya. Kemudian berlari menghampiri si gadis manis yang masih duduk dibangku taman sekolah itu.


Adapun Rigel, menoleh saat mendengar langkah kaki pemuda itu “Kak Jev...”Ucapnya pada murid pindahan ini “Ada perlu apa?”Rigel hanya menatapnya dengan raut wajah yang tenang. Dia tak begitu antusias mendekati Jevandres seperti murid-murid lainnya.


Jevandres mengulum senyuman “Boleh duduk disampingmu?”


Rigel mengangguk, sedikit menggeser posisi duduknya “Kak Jev, apakah sudah kehabisan stok teman sampai mendatangiku?”Rigel berucap dengan sinis.


Jevandres terkekeh pelan “Tidak kok, justru aku senang mendekatimu. Apa kamu tidak kekantin atau melakukan hal lain?”


“Kemudian aku sedang apa?”Rigel menunjukkan buku yang sedang dibacanya “Apa aku terlihat sedang bermain sepak bola?”Dia menjadi kesal sambil memutarkan kedua bola matanya dengan malas.


Hal itu mengundang tawa dari Jevandres “Benar-benar menarik, Haha... Kau orang pertama yang berkata seperti itu Rig.”Ada perasaan yang familiar saat menemui gadis ini, itu pula yang menjadi alasannya mendekati gadis manis ini.


Kuberbisik namamu.


Rasanya tak asing, sekian ribu hari berganti. Tidak terasa asing.


Perasaan itu menghangat sama seperti saat itu.


“Kurasa, aku jatuh cinta padamu.”


.


.


.


“HA!”Sontak, Rigel terbangun dari tidurnya dengan langsung terduduk. Sekujur tubuhnya penuh dengan peluh keringat, paras wajahnya pun sama menegang “Aku tak menggunakan Diabolus Somnium, aku tak menggunakan mantera itu untuk masuk kedalam kenangan lama Ira. Aku tak menggunakannya... aku...”Wajah tegang Rigel, sudah dibanjiri oleh air matanya secara tiba-tiba “Aku... tak mengerti.”Ucap Rigel memengangi permukaan wajahnya yang sudah basah itu.


“Ak—“


Brakkk...


“Rig! Kau kenapa?! Apa yang sudah terjadi?!”Ujar Jevandres yang baru saja bergegas masuk kedalam kamarnya dengan cepat. Tanpa berkata apapun lagi, dia meraih tubuh Rigel kedalam dekapan pelukannya.


Rigel menggeleng “Aku tidak apa-apa.”Ucap Rigel dengan wajah sembabnya, kedua mata berkaca-kaca dan pipi gempal yang memerahnya itu. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jevandres yang sudah mengenakan kemeja rapih itu. Bahkan air mata dan cairan dari hidungnya mengenai pakaian mahal suaminya ini.


“Yah sudah... sudah...”Jevandres menepuk-nepuk pelan puncak kepala Rigel “Aku akan pergi kerja, apa Rigel mau tetap istirahat di Rumah ini atau diapartemen?”Ucap Jevandres sambil mengecup puncak kepala Rigel, entahlah kegiatan itu sudah menjadi aktivitas favoritnya saat ini.


Rigel mengangguk “Kalau... Aku diapartemen apa boleh?”


Jevandres menatapnya sejenak “Apa perlu Charlie juga menemanimu disana? Karena kau akan sendirian disana Rig.”Guratan cemas tampak dari wajah tampan Jevandres terhadap Rigel.


‘Lagipula siapa yang akan mencelakaiku? Ha... tak tahu saja jika aku bukan manusia biasa.’Rigel membatin sambil menghela nafas “Tidak apa-apa. Aku terbiasa sendiri. Iyakan iblis kecil?”Rigel berkata sambil mengelus perutnya.


Jevandres yang mendengar ‘panggilan’ baru Rigel kepada calon bayinya itu hanya mengeryit heran “Kenapa harus iblis kecil?”Protes Jevandres dengan sabar. Dia hanya tak habis pikir dengan ucapan Rigel itu.


“Habisnya dia suka membuatku kewalahan. Dari mulai sakit pinggang atau tiba-tiba rewel dengan membuat perutku sakit.”Rigel mengerucutkan bibirnya.


Jevandres hanya tersenyum “Aku akan berangkat kerja, ayo aku antar ke apartemen.”


Jevandres itu aslinya penyabar. Benar-benar penyabar, hanya ketika sosok Aresnya ikut mencampuri naluri kemarahannya. Sepertinya Jevandres hanya akan begitu ketika membangkitkan kekuatannya, namun jika sosok Aresnya tertidur. Maka sikap asli Jevandres seperti ini. Biarpun jarang tersenyum, nyaris sering memasang raut wajah serius. Jevandres pria yang hangat dan baik.


Hal itu sudah diketahui oleh Rigel, memang Rigel merupakan tipikal orang yang suka mengamati terlebih dahulu. Untuk ukuran seorang Pendosa, Rigel nyaris sama jenisnya dengan Sang Kemalasan dan Sang Tinggi hati ‘Hm~sikapnya memang mirip dengan Kazuya.’Rigel menatap Jevandres.


“Apa ada yang salah dengan wajahku?”


Rigel menggeleng “Aku malas mandi, malas ganti baju. Mau Kak Jev gendong sampai ke dalam mobil saja.”Ucap Rigel sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Jevandres dengan manja.


Jevandres mengangguk, dia menggendong tubuh Rigel. Tangan kanannya menompang pinggang ramping Rigel dan tangan kirinya menompang lipatan paha Rigel “Charlie, siapkan mobil dan tolong letakkan tasku disana.”Ucap Jevandres kepada pelayan tua itu.


“Baik tuan muda...”


.


.


.


 


 


Pukul sembilan pagi, tepat setelah lima belas menit Jevandres berpamitan pergi ke Universitas tempatnya mengajar. Rigel berada pada apartemen lamanya, dia bersusah payah membujuk pria aquamarine itu untuk meninggalkannya disini. Akhirnya berhasil, tentu saja Rigel berdusta.


“Ha~ segarnya.”Ujar Rigel setelah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan surai hitamnya.


Rigel menggenakan kemeja putih dengan kardigan hitam membungkus tubuh rampinya ini, dia mengenakan rok selutut hitam yang mengembang dengan manis. Tak lupa dengan sepasang sepatu boots hitamnya itu. Tak lupa, ia menelan pil vitamin dan zat besi untuk menguatkan buah hatinya ini.


Rigel mengenakan earphone kecil pada daun telinga kanannya “Semoga kalian masih menerima panggilanku.”Alat itu merupakan benda komunikasi khusus milik Black Ash. Mirip seperti ponsel mini pada earphone. Bedanya, led berwarna biru itu akan berkelip-kelip saat sang pengguna memasuki mode ‘mission’nya.


Rigel menghela nafas “Syukurlah...”Ucap Rigel melalui alat komunikasi tersebut “Rencananya, aku ingin bertemu kalian. Apa bisa?”Kata Rigel sambil meraih tas selepang kecilnya.


“Nona... berbahaya, anda sedang diburu oleh Black ash.”


“Aku tahu...”Rigel membuka sofanya, ia mengambil dua buah revolver untuk diselipkan pada kiri dan kanan pada pinggangnya “Temui aku di Livanette Bakery ya.”Kata Rigel sambil mengakhiri sambungannya. Rigel langsung menghancurkan alat komunikasi itu dengan menginjak benda tersebut menggunakan sepatu boots hitam yang tengah dikenakanya.


.


.


.


“Lihatlah gadis pembuat onar!”Ivan tak bisa menyembunyikan kekesalannya, ia bahkan meletakkan nampan pesanan Rigel dengan kasar dimejanya “Sudah kubilang istirahat, kenapa kau ini susah barang berdiam diri dirumah ha?!”Ucap Ivan yang kala itu mengenakan pakaian koki serba putih dengan apron hitamnya.


“Ayolah Ivie... aku ada janji bertemu dengan temanku disini.”Ucap Rigel seraya meraih segelas lemonade dingin kemudian menyeruputnya melalui pipa sedotan kecil itu “Lagian, aku kesepian jika harus berada diapartemen sendirian.”Rigel memayunkan bibirnya.


Tringg...


Bel bakery itu berdering sebelum sempat Ivan kembali memarahi Rigel lagi. Tampaknya masuk seorang gadis muda dengan dress selutut berwarna hijau toska manisnya. Wajahnya tertunduk malu, namun dengan gelapan langsung duduk di sebuah sofa yang menghadap Rigel.


“Eung... Hai k-kak!”Sapanya dengan Rigel sambil membenahi kacamata tebalnya.


Rigel memasang simpul senyuman “Hai... Dimana yang lain?”


“I-itu... Mereka, masih diperjalanan.”Ucap gadis bersurai merah bata itu dengan tergagap-gagap.


Ivan tampak diam menatap gadis ini “Hm?”Ivan terperangah, dia tak bisa melihat dosa dengki dari radarnya. Sontak, ia pun langsung menatap Rigel.


Kedua iris mata merah Ivan seolah berkata ‘Serius? Tidak ada dosa kedengkian?’Tatapanya seolah berkata seperti itu kepada Rigel.


Rigel menaikkan kedua bahunya seolah memang tidak mengetahuinya ‘Serius, menarik bukan?’Rigel menaik turunkan sepasang alisnya, dia menggoda Ivan dengan jahil.


“Tch.”Ivan mendecih, ingin dia jewer telinga adik nakalnya ini. Namun, Ivan memberikan buku menu kepada gadis yang duduk dihadapan Rigel ini “Nona ingin memesan apa?”Ucap Ivan dengan lembut kepada gadis itu, sesungguhnya dia penasaran dengannya.


“Uhm... S-satu cappucino dan c-cookies.”


‘Aih... Manisnya’Ivan berseru dalam batinnya, paras gadis bersurai merah bata ini sangat cantik “Baik, pesanan akan datang.”Ucap Ivan dengan senyum tampannya sambil beranjak menuju dapur toko rotinya.


Rigel yang sedari tadi diam-diam mengamati Ivan hanya bisa terkekeh pelan “Yah, Tiger... dia itu kakak angkatku namanya Ivan Tristan pemilik bakery ini.”


“I-iya... Nona Cada—“


“Ayolah panggil aku Rigel, bukankah aku sudah memberi tahu identitas asliku. Cadas bukan code name yang aku gunakan lagi.”Rigel dengan cepat memotong pembicaraannya.


“K-kalau begitu, namaku... Aria Abraham.”Gadis yang tiga tahun lebih muda dari Rigel itu, akhirnya mengucapkan namanya setelah beberapa tahun bekerja dengan Rigel menggunkan nama ‘Tiger’ sebagai nama aliasnya. Hal itu karena Black Ash tak mengizinkan nama asli atau identitas asli setiap membernya diketahui, biarpun itu sesama member anggota Black Ash.


Mereka berdua bercengkerama layaknya dua wanita muda seperti biasanya, Rigel nyaris hanya berbincang-bincang hal yang ringan seperti masa sekolahnya, makanan kesukaannya dan sikap aneh dari suaminya. Sementara, Aria yang begitu lugu itu hanya mengangguki. Tak digubris, Aria juga menyukai perbincangan santai ini bersama sosok orang yang dikaguminya.


Aria memandang Rigel dengan antusias, Sosok pemimpin Tim yang selalu dihormatinya ini ternyata memiliki sisi yang begitu manis ‘Ternyata, nona Cadas sangat baik dan manis. Biasanya, kedua matanya hanya menatap kejam tanpa ampun, penyusun strategi terbaik dan petarung terbaik unit pasukan elit Black Ash.’Aria hanya mengucapkannya dalam hati, dia sungguh senang dapat bertemu dengan ‘sisi lain’ Rigel yang bahkan tampak seperti teman baginya.


“Nona Rigel...”Aria memanggil namanya “Terimakasih.”Lanjutnya lagi.


Rigel tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit “Aria, kau sudah menjadi sahabat baikku. Tak perlu berkata seperti itu.”


“Ta..tapi nona, bukankah ini membahayakanmu. Anda tahu bukan? Bahkan kemarin kami diberi misi untuk melenyapkanmu.”Aria menatap dengan ragu-ragu.


Rigel mengangguk “Tapi kalian sengaja menggagalkan misi itu bukan?”Rigel sudah tahu, maka dari itu mereka sengaja mengorbankan nyawa anggota rektrutan baru dan beberapa anggota polisi yang mencoba mendatangi lokasi kemarin. Hal keji seperti itu sudah biasa terjadi di Black Ash, karena mereka memang organisasi pembunuh bayaran dengan sistem yang unik.


“Kami... Rela dihukum, asal jangan melenyapkan nona Rigel.”Aria menunduk, dia tak mampu menatap sepasang iris mata yang senantiasa menatap dengan tajam itu.


Berbeda, Rigel hanya tersenyum. Ia menatap Aria dengan hangat ‘Ah~ manusia ini benar-benar menganggapku seperti manusia.’Rigel menghela nafas, dia pun tak bisa berbuat banyak.


Tak lama bell kembali berbunyi, menampaki dua orang pria berbeda usia mendatangi sofa yang diduduki oleh Rigel dan Aria “Halo nona-nona manis.”Ucap si pria berjenggot tipis dengan surai cokelatnya “Wah~ lihatlah sungguh tak menyangka Capt. Kau begitu imut dan manis.”Dia bersiul menatap Rigel yang berpenampilan berbeda ini.


“Yah biasanya hanya pakaian serba hitam kan, hehe...”


Pria tinggi bertubuh kekar namun dibalut setelan seragam sekolah menegah atas turut menyapa Rigel “Hai Capt.”Katanya dengan sepasang mata obisidian yang malu-malu menatap Rigel.


“Hai~”Rigel mengangguk dengan senyuman manisnya.


“Canggung rasanya tak mengenalkan namaku kepada nona manis ini, baiklah... Namaku Valentino Dieder. Hanya pria tua biasa Haha...”Ucap pria bersurai cokelat itu, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Bohong.”Rigel berucap setelah menegak lemonadenya “Volt... Kau mantan tentara angkatan darat Amerika.”Cicit Rigel dengan pelan karena hanya mengamati beberapa bekas luka pada kedua lengan Valentino alias Volt yang saat itu mengenakan kemeja berlengan pendek.


“Yah~ Ketahuan...”Ucap Valentino sambil mengedipkan matanya.


“Valentino Dieder usiamu mungkin tiga puluhan, mantan tentara Amerika kemudian...”Rigel menyendoki cheese cakenya dengan tenang, kemudian mengunyahnya “Apa anakmu berusia sama denganku?”Ucap Rigel sambil menatap pria tua dengan postur tubuh atletisnya ini yang duduk disamping Rigel.


Valentino merangkul Rigel “Bocah. Simpan analisamu nanti, karena hampir seluruhnya benar.”Valentino pun tertawa dengan besar.


“Ehem...”Itu Ivan, dia membawa nampan berisi pesanan milik Aria “Saya, tidak tahu teman macam apa yang adik saya ini miliki. Tapi tuan, Rigel sudah memiliki suami dan suaminya itu pria menyeramkan yang amat posesif.”Ucap Ivan hiperbola.


“Oh ya? Selamat, aku bahkan tak tahu nona manis ini sudah menikah.”


Rigel tak tahan lagi dengan perilaku Ivan, ia hanya bisa terkekeh pelan “Hm~ kenalkan, ini kakakku Ivan Tristan.”Ucap Rigel memperkenalkan Ivan.


“Tuan Ivan, pria menarik Haha...”Valentino menepuk-nepuk bahu Ivan dengan keras “Kau sedari tadi melihat gadis bersurai merah itu. Apa kau suka?”Valentino sama jahilnya dengan Rigel.


Aria sudah memerah, dia semakin malu “T-tuan Valentino, hentikan...”


 


 


 


.


.


.


 


Bersambung