
Happy Reading!
.
.
.
“Tidak ada alasan khusus.”
Rigel tersentak, tadinya dia ingin kembali mengomeli pria tinggi bertubuh kekar dengan raut wajah datarnya itu. Tampaknya memang disengaja, tapi Rigel mengurungkan niatannya setelah memperhatikan penampilannya. Terutama wajahnya, memang masih tampan biarpun terdapat kantung mata menghitam dan jenggot tipis yang mulai tumbuh didagu tirusnya. Bahkan dasi yang dikenakannya sedikit miring, entah Rigel merasa jika pria ini tampak lelah.
“Baiklah... Kali ini kuberi toleransi.”Ucap Rigel sambil bergerak sendiri mendekati Jevandres dan membenahi dasinya. Tubuh Rigel yang jauh lebih kecil harus menjinjit sedikit “Okay, sudah beres.”Rigel memang tidak tahu, tapi dia merasa kasihan. Pria dewasa ini seharusnya terurus oleh isterinya.
Dia masih tak mengingat apapun, tapi Jevandres terlanjur terkejut. Hal baru dan tak biasa dari seorang Rigel. Biarpun pertemuannya dengan Rigel bisa dikatakan singkat, tapi Jevandres sudah terlanjur mengenali Rigel dengan baik dibenaknya. Binary sudah menjadi Rigel, dia sudah tahu. Bahkan mantera kedua kakaknya tak berpengaruh kepadanya. Dia hanya berpura-pura bodoh. Setidaknya agar tetap bisa mendekati Rigel “Apa nona manis ini ingin melakukan hal lain?”Ucap Jevandres sedikit menaikkan alisnya.
“Tidak ada. Hanya kasihan karena tuan kerap kali mengikuti saya.”Rigel buru-buru membalikkan tubuhnya membelakangi Jevandres. Dia terasa malu.
Jevandres terkekeh, dia pun meraih pinggang Rigel untuk dirangkulnya “Berjalanlah seperti ini, agar keseimbanganmu tetap baik.”Ucap Jevandres mengiringi Rigel.
Rigel ingin marah, dia tak suka disentuh pria itu “Tuan su—“
“Setidaknya kau sadar jika sudah diikuti bukan?”Jevandres memotong cepat ucapan Rigel.
Ucapan Jevandres membuat Rigel mematung, dia sedikit menolehkan tatapannya. Tepat dibelakangnya ada seorang pria bertopi hitam yang tampak diam-diam memantaunya “Eh? Kenapa dia mengikuti kita?”Bisik Rigel kepada Jevandres.
Sayangnya Jevandres hanya diam, dari raut wajahnya yang serius. Tampaknya Jevandres sudah tahu. Dia pun tetap berjalan disamping Rigel. Pikirannya hanya keselamatan Rigel dan bayi mereka tentunya.
Rigel bergetar samar, ketika Jevandres malah berjalan melenceng jauh dari Borneo Straat kejalanan yang lebih sepi. Rigel pun menundukkan tatapannya, menatap jalanan aspal yang tak menarik itu menjadi aktivitasnya.
Jevandres melirik dari ujung tatapannya, tak biasanya Rigel seperti itu. Dia sangat tahu jika Rigel mantan pembunuh bayaran dari organisasi terkenal. Berkat pencariannya terhadap jati diri Rigel, kini dia malah menjadi heran. Sifat Rigel berubah bertolak belakang dengan sebelumnya ‘Mungkin karena kehamilannya’Jevandres tak berburuk sangka, dia hanya membatin seperti itu.
Grep. Jevandres memengang kedua bahu Rigel untuk menghadapnya “Rig. Tutup matamu.”Ucap Jevandres dengan kedua iris aquamarinenya yang menatap Rigel.
“Euhm?”Rigel mengedip-ngedipkan matanya dengan heran.
“Lakukan saja.”Ucap Jevandres menarik pelan kepala Rigel kedalam pelukannya “Jangan dengarkan apapun, pejamkan matamu hingga aku katakan kau boleh membukanya.”Suara baritone berat Jevandres berbisik seduktif didaun telinga Rigel.
Aura maskulin Jevandres, membuat Rigel lemas. Dia pun malu, dan hanya bisa mengangguk menuruti perintah Jevandres. Kepalanya dibuat bersandar pada dada bidang Jevandres, kemudian Rigel memejamkan kedua matanya. Mungkin selama tiga menit itu, Rigel hanya mendengar bunyi-bunyi alat berat yang sepertinya saling berhantam? Entahlah, Rigel hanya diam dengan nyaman sambil menghirup aroma Jevandres yang begitu maskulin.
“Kau sudah boleh membuka kedua matamu, sayang.”
Rigel membuka kedua matanya perlahan, hal pertama yang ditatapnya adalah sepasang iris emas milik Jevandres yang mengkilap dengan terang. Begitu indahnya, sampai-sampai tanpa sadar Rigel menyentuh pipi tirus Jevandres “Indah...”Gumam Rigel.
Jevandres senyum dengan hangat, dia meraih tangan Rigel kemudian mengecupnya dengan lembut “Jangan lihat kebelakang, ayo kita bergegas pergi.”Kata Jevandres lagi. Dia pun merogoh saku mantel hitamnya untuk mengambil sebuah ponsel genggamnya, tampaknya ia akan menghubungi seseorang “...Charlie. Bereskan.”Kemudian dengan cepat dia mengakhiri sambungan telepon itu.
Rigel ingin menoleh kebelakang, penasaran akan hal yang terjadi. Namun Jevandres langsung memeluknya. Bahkan mengecup puncak kepalanya berkali-kali “Eungh... Aku ingin ke borneo straat. Jadi le-lepaskan tuan.”
“Aku suamimu, jika lupa. Namaku Jevandres, panggil aku kak Jev seperti biasanya Rig.”Ucap Jevandres dengan sendu, ada tatapan memohon dengan lemah dari sepasang iris emasnya itu.
Rigel berdecak kagum, bahkan dia bisa menyaksikan iris emasnya Jevandres dapat perlahan-lahan berubah menjadi biru aquamarine kembali “Euh... K-kak Jev.”Panggil Rigel, namun tak merasa asing.
.
.
.
“Hallo, kesayanganku Rige kecil.”Wanita tua itu berseru sambil membukakan pintunya. Dia langsung memeluk cucu kesayangannya Rigel “Pria tampan, siapa dia nak?”
Rigel masam, bibirnya mengerucut. Alasannya karena Jevandres malah bersih keras untuk menemani Rigel kerumah neneknya. Soal Rigel dan Jevandres, nenek tua ini pikun. Dia sering lupa bahkan soal kesepakatan keluarga Carlin, wanita tua ini tak tahu menahu.
“Ck. Dia itu hanya babuku kok Nek.”Rigel berkata asal. Dia pun segera melintas masuk kedalam apartemen nyaman nenek tua ini. Kemudian segera duduk disofanya, Rigel tak mempungkiri, dia merasa pegal dan lelah.
Jevandres tersenyum ramah “Jevandres, suami Rigel.”
“Ah?!”Nenek tua itu bahkan berteriak sampai gigi palsu yang dikenakannya nyaris lepas “B-benarkah? Ya Tuhan... Rige, pantas saja tubuhmu berbeda. Apa kau juga hamil?”
Rigel dari sofa itu hanya menahan tawa “Iya nek, usianya sudah nyaris 16 minggu.”Ucap Rigel sambil memijat kedua kakinya sendiri.
“Permisi.”Jevandres masuk kedalam ruang apartemen wanita tua itu, sambil berjalan membuka mantel hitamnya yang diletakkan disamping sofa itu. Sebagai suami yang siaga, Jevandres langsung meraih kaki Rigel dan memijitnya dengan pelan “Lihatlah bocah kecil ini, sudah hamil masih bepergian jauh dari Den Haag ke Amsterdam.”
Rigel terkekeh, dia memang keras kepala “Habisnya bosan hehe...”Ucap Rigel yang malah sengaja menaikkan kaki lainnya keatas sofa agar Jevandres memijitnya.
Rigel tampak berpikir keras, dia sebenarnya memaklumi. Annette Carlin ini memang sudah pikun, sering lupa akibat penyakit alzheimernya “Nenek saja yang lupa.”Ucap Rigel sembari tertawa kecil, dia tak mungkin mengatakan sebenarnya. Tak ingin membuat wanita tua kesayangannya itu menjadi bingung.
“Aish... Ya sudah, nenek buatkan kalian berdua teh.”Ucap wanita tua itu berjalan kearah dapur dengan perlahan.
Jevandres menatap Rigel, gadis kecil itu tampak bersandar disofa dengan nyaman “Kukira kau tak akan mengatakannya.”Jevandres berhenti memijit kaki Rigel, dia menarik gadis itu untuk masuk kedalam pelukannya “Terimakasih. Biarpun kau mungkin tak mengetahuiku.”Ucap Jevandres lagi, sambil mengusap pelan perut Rigel dengan lembut.
Rigel, tak merasa asing. Bahkan tampaknya mahluk kecil itu ikut merasa nyaman. Sangking nyamannya, perasaan Rigel menjadi hangat “Hiks...”Rigel terisak oleh tangisannya sendiri tak mengerti dengan yang terjadi, namun kenal dengan situasi ini. Bahagia. Rigel merasa begitu bahagia saat pria bernama Jevandres itu memeluknya dengan erat.
Jevandres tak berbuat apapun, dia hanya membiarkan dada bidangnya menjadi basah oleh tangisan Rigel sementara tangannya terus menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya. Sampai beberapa menit, Rigel justru tertidur karena kelelahan.
“Oh astaga, dia malah ketiduran. Pasti kelelahan.”Ucap wanita tua yang membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat itu, dia tersenyum maklum “Kamar Rigel, ada dilantai dua.”Ucapnya lagi.
Jevandres menggendong tubuh Rigel “Apa Rigel memang tinggal disini sebelumnya?”
Nenek tua itu meletakkan nampan diatas meja “Benar, dia menghabiskan masa kecilnya bersamaku. Rige kecil yang manis, kedua orang tuanya amat sibuk bekerja.”Ujar nenek itu sambil duduk pada kursi goyangnya yang menghadap kejendela “Anak kecil yang tengil ini, sudah besar bahkan sudah menikah. Hidup begitu berlalu cepat, tuan tampan.”
Jevandres menggulum senyuman “Namaku Jevandres Altair Lascelles, sepertinya nyonya Carlin akan sangat mengenali kakek dan nenekku.”
“Tentu saja, Earl Lascelles. Kuterka jika Rige kecilku tak mengetahuinya.”Wanita tua itu tersenyum lagi.
“Iya, begitu banyak hal yang sudah terjadi.”
Rigel bangun saat hari sudah mulai menjelang petang, dia mengucek kedua matanya. Dia pun mendapati dirinya berada dikamar lamanya. Rigel beranjak bangun dari tempat tidur, dia pun menuruni tangga ketika melesat keluar dari kamarnya.
Dia hanya mendapati wanita tua itu tengah menata makanan diatas meja makan “Ah iya, Jevandres pamit pergi katanya. Kalau tak salah ada urusan, diakan menjemputmu besok pagi.”
Ada perasaan kecewa, saat tak mendapati sang aquamarine tak berada bersamanya. Tapi Rigel mencoba untuk mengerti, bukankah mereka baru saja bertemu namun sudah menjadi akrab “Makan malam masih lama nek, ini baru pukul tiga sore.”Ucap Rigel memayunkan bibirnya.
“Menyediakan makanan untuk cucu tersayang, apa salahnya?”
Rigel mengambil mantel cokelatnya “Kalau begitu sambil menunggu lapar, aku mencari angin dulu ya keluar.”Pamit Rigel sambil berjalan keluar apartemen neneknya.
Senja sore dengan angin lembut yang menerpa, Rigel menyukai itu. Dia berjalan ditepi trotoar pada jalanan Borneo Straat lurus kedepan. Sore memang terasa sepi, namun Rigel menyukainya. Apalagi cahaya mentari yang akan tenggelam itu, begitu indah sampai memantulkan kilatan dari ujung pedang seseorang.
‘Tunggu!’Rigel berseru dalam batinya. Refleknya bagus, karena sudah lama terlatih. Rigel langsung menghindar dengan cepat.
Sryasshhh...
Pedang tajam itu diayunkan dengan ringannya. Jika tak menghindar, akan nyaris melukai apapun dengan mudah. Rigel langsung menoleh, dia mendapati seorang gadis muda dengan wajah yang terdapat bekas luka tengah memengangi pedang itu “Apa maksudmu? Itu tindakan kriminal.”Ujar Rigel, yang walaupun panik masih bisa bereaksi dengan cepat.
“Oh ya? Seperti rumornya, Cadas sang pedang yang keras. Gerak menghindarmu masih sama ringannya.”Gadis itu berucap dengan tingkah anehnya, dia tampak menjilat ujung pedangnya “Ayo. Maju! Sungguh kehormatan bagiku bisa menjemput ajal kematianmu khekhekhek.”Bahkan cara tertawanya juga aneh.
Rigel panik. Dia tak membawa apapun, jika ingin melarikan diri pun mustahil. Pasalnya pedang itu melesat dengan cepat, jika salah bisa saja dia yang akan terancam.
“Dengar. Aku tak mengenalmu, kenapa menyerangku?”
“Ha?! Kau pikun atau apa? Aku ini rivalmu. Ck, apa semenjak meninggalkan Black Ash otakmu juga menjadi gagal berfungsi.”
Rigel menatap heran, tampaknya gadis bar-bar ini mengenalinya “Sungguh, aku tak mengenalimu.”Ucap Rigel lagi.
“Haha... Kau menyebalkan Cadas!”Tanpa berkata lagi, gadis itu langsung menyerangnya dengan bar-bar. Terus mengayunkan pedangnya dengan mudah, tanpa perduli apapun bahkan begitu bergairah dengan setiap ayunan pedangnya.
Rigel hanya berkali-kali melesat menghindari, Bahkan Rigel tak mengerti dengan tubuhnya yangs seolah-olah sudah begitu terlatih. Jika dibiarkan seperti ini, dia akan terpojok. Rigel pun memiliki ide untuk menghancurkan konsentrasinya “Hey! Kau tuli? Aku bilang dengarkan dulu. Jika kau memang rivalku apa yang akan kau dapatkan setelah mengalahkanku?”
“Haha... Aku akan dengan bahagia melihatmu menderita! Bahkan saat misi ini diberikan padaku, aku akan dengan senang hati untuk membunuhmu Cadas!”
‘Seperti dugaanku’Rigel membatin, setidaknya dia berhasil membuat gadis itu berhenti menyerangnya “Kenapa kau begitu kepadaku?”Ucap Rigel lagi. Dia hanya mengamati gadis itu dengan deru nafas yang memburu. Rigel sesungguhnya lelah, tapi dia harus bisa melumpuhkan gadis ini. Jika tidak, dia begitu berbahaya berada dilingkungan penduduk seperti ini.
“Kau! Kau merebut segalanya! Kau dipromosikan sebagai jabatan kapten lebih dulu, kau mengambil kekasihku Theo, semua orang mengakui kehebatanmu. Kebahagiaanmu bukan milikku. Itu kesalahanmu!”Ucap gadis yang memiliki bekas luka melintang diwajah cantiknya itu. Dia tampak meremat gagang pedang dengan keras, namun Rigel tak mengerti maksud ucapannya. Yang bisa Rigel lihat hanyalah kedengkian dan dendam yang begitu pekat.
“Aku tak mengerti. Tapi ucapanmu begitu menjijikkan.”
.
.
.
Bersambung