
Happy Reading
maaf jika telat sebenarnya saya tergolong rajin update, musim seperti ini baiknya beristirahat. Melakukan sesuatu yang berlebihan hanya memperburuk kesehatan, bukan? :) Stay Safe, semoga pembaca yang budiman sehat selalu.
Pagi dini hari itu, sudah berlalu dua bulan kehidupan Rigel bersama Jevandres. Kehamilannya semakin besar, tanda bayinya tumbuh dengan baik disana. Bahkan sudah memasuki akhir semester tiga. Kelahirannya diperkirakan sebentar lagi, namun masih membutuhkan waktu beberapa minggu.
Rigel terbangun tanpa disambut kehadiran Jevandres beberapa hari ini. Dia kerap pergi saat Rigel masih tertidur dan tiba saat Rigel sudah nyenyak dalam tidurnya. Terkadang lebih sering tidak pulang, ada perasaan cemas dari gadis bermata merah lembayung ini. Bahkan dia sengaja tidak tidur hari ini untuk menantikan pria iris birunya itu. Hingga tepat pada pukul tiga dini hari, decitan pintu dari kamarnya terdengar.
Menampaki seorang pria bertampang lelah dengan kemeja bagian atas yang terbuka, Rigel yang masih duduk diatas ranjang kasur sempat tersentak kaget. Tak kalah melihat, sepasang iris emas prianya tak lagi biru aquamarine.
“Ugh~”Rigel sampai menutup hidung dan mulutnya, menahan aroma murka yang pekat dari suaminya itu. Jangan salahkan dia sebagai seorang pendosa kemurkaan, Rigel akrab dengan aroma energi pendosa tapi tidak setelah kehamilannya.
Rigel merasa mual, apalagi dia rela tak tidur semalaman. Tentu lambung dan pikirannya bekerja sama untuk memperburuk stres padanya, dia hanya ingin Jevandres menemaninya. Tapi Rigel paham, dia tak boleh egois.
“...Kenapa tak tidur?!”Ucapannya terucap dengan dingin. Jevandres melemparkan jasnya pada keranjang baju kotor.
Rigel melototkan kedua matanya, dia tengah mual. Perutnya bergejolak, matanya kantuk dan tubuhnya lelah ‘Dia? Mencoba mengabaikanku?’Rigel membatin. Dia memilih untuk beranjak dari ranjang kasur, saat rasa mualnya terasa untuk bergegas menuju kamar mandi didalam kamar luas itu.
“Hoeekkhh...”Rigel sampai meneteskan air matanya. Dia berjuang menahan rasa mual itu seorang diri, kemudian berpegangan pada westafel untuk beristirahat sebentar. Lemas. Rigel merasa tak berdaya dan lemas.
Masih sempat sepasang iris mata merah itu melirik dari pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka. Suaminya, tengah menyesap sepuntung rokok sambil berjalan acuh keluar kamar. Kemudian menutupnya kembali.
Rigel menatap sayu “Biasanya, apapun kondisi yang dialami kak Jev. Dia pasti membantuku... Apa dia sedang banyak pikiran sampai mengabaikan kita ya sayang?”Rigel mengusap perut buncitnya itu. Ada rasa perih diujung perasaannya.
Saat pukul tujuh pagi, Rigel mengurungkan niat untuk tidur. Setelah mandi dengan bersih, dia mengenakan dress selutut dengan kardigan rajut tebal yang membalut tubuhnya. Rigel menuruni tangga, dia melihat Jevandres yang duduk diruang makan sambil membaca korannya. Disana Rigel juga melihat Ecru yang baru usai menghabiskan roti dan susunya. Rigel menghampiri bocah manis itu “Ecru, kemari...”Ujar Rigel.
Bocah itu langsung menghampiri Rigel, kemudian meraih tangan Rigel dan menggengamnya. Ecru menatap Rigel sejenak, tahu jika tuannya sedang tidak baik-baik saja.
Rigel tersenyum lembut “Ayo, kita pulang.”Ucap Rigel dengan menenteng tas kecilnya berisi ponsel, obat-obatan vitamin, dompet dan minyak kayu putih.
“Kemana?”Jevandres bertanya dengan suaranya yang lantang, menggema keseluruh penjuru ruangan.
Bagi para maid dan butler, kepribadian ini merupakan kepribadian awal sang majikan. Mereka sempat saling berpandangan, kemudian kembali diam tak mengubris.
“Pulang, taxi yang kupesan sudah didepan.”Ujar Rigel dengan perut buncit kesulitan berjalan, hanya berpegang pada Ecru yang memapahnya.
“Siapa yang mengizinkanmu keluar dari sini. Diam dan masuk kekamarmu! Jangan ada bantahan!”Iris emas itu menatapnya dengan begis, tak gentir. Dingin dan tajam.
Rigel hanya menggeleng pelan “Kondisimu tak stabil, tenangkan dirimu seorang diri dulu. Jika emosi dan amarahmu meredah, kau bisa menemui lagi atau tidak sama sekali. Terserah, itu ada padamu.”Ujar Rigel sambil melangkah menuju pintu keluar.
Jevandres, segera bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan dengan cepat untuk menyergap Rigel. Kemudian meraih pergelangan tangan Rigel dengan cepat “Aku tak suka bantahan!”
Rigel balik menatapnya dengan sinis “Sayangnya aku suka memberontak, lepaskan tanganku. Itu sangat sakit.”Ah, tatapan Rigel tak kalah menyeramkan. Dia sangat ingin menghajar pria pirang itu, paham jika tengah hamil tua. Justru itu akan membahayakannya. Terutama bayi kecil yang sangat disayanginya.
“Menguarkan aura begismu padaku?”Rigel tersenyum sambil menahan ringisan pada perutnya. Benar, aura yang terlalu kuat. Malah membuatnya tak berdaya.
Sadar jika sikap Jevandres menjadi aneh, Rigel menyunggingkan senyumannya “Bagian dari mana yang ingin keluar untuk menemuiku? Jelas, kau sama sekali bukan seperti Jevandres yang kukenal.”
“Haaa~”Nafas Rigel tersenggal, perutnya terasa nyeri. Kedua kakinya sampai bergetar samar. Menahan nyeri yang terasa itu.
Tangan Jevandres masih menggengamnya dengan erat, raut wajahnya mulai goyah “Kau milikku, Rigel!”Ujarnya dengan dingin.
Rigel menepis tangan itu sekuat tenaga “UCAPANMU OMONG KOSONG! MENGADA-ADA! APA YANG ADA DIPIKIRANMU, HUH?”Rigel berteriak, wajahnya sampai memerah padam. Nafasnya menderu-deru.
“Lantas, apa kau bisa jelaskan ini?”Jevandres melemparkan secarik foto dirinya bersama Antonio Var Redee.
Rigel tahu kejanggalan foto itu, sudah ditempeli mantera manipulasi. Ulah siapa lagi kalau masalah percintaan kalau bukan Luxie saudarinya? Rigel tahu trik kecil ini, sayang untuk membuktikannya agak susah. Karena sihir itu ada pada benda mati. Bahkan Antonio Var Redee hanya boneka buatan, dengan menggunakan bagian tubuh Rigel seperti rambut, barang atau kuku. Sihir seperti ini akan mudah dibuat.
“Kau mengotori kepercayaanku Rigel, jangan sampai aku meragukan sesuatu yang dikandungmu itu!”
Rigel memijit pelipisnya yang sakit “Kepercayaanmu padaku hanya pada secarik foto itu?”Rigel berjalan melintasi pria pirang itu “Setidaknya, kau cari tahu dulu kebenarannnya bukan malah menyudutkanku.”Ujar Rigel sambil membuka pintu mansion itu. Dia pun memutuskan untuk pergi dari Jevandres.
Aroma masakan tercium dari dapur itu, Rigel duduk dengan manis pada kursi didapur. Menanti wanita tua yang sedang menggoreng ayam. Rigel baru tiba beberapa menit yang lalu, mengantuk dan lapar saat tiba diapartemen milik neneknya. Sesekali melirik Ecru yang duduk disofa ruang tamu sambil menonton siaran televisi. Bocah itu menonton acara kartun.
“...Makanlah, Rige.”Wanita tua itu menghidangkan sepiring ayam goreng dan sayur-sayuran tumis. Wanita itu tersenyum dengan lembut sambil membelai puncak kepala Rigel, cucu kesayangannya.
Rigel mengangguk dan langsung makan dengan lahap. Usai makan, Rigel mengemasi alat-alat makannya kemudian mencucinya diwestafel. Ketika sedang mencuci piring, dia mendengar bunyi bel dari luar apartemen neneknya.
Wanita tua yang sedang duduk bersama Ecru tampak mendengar ‘tamu’ yang datang itu, namun Rigel sudah menyadari keberadaannya “Jangan dibuka.”Celetuk Rigel dari arah dapur yang tengah membasuh piring.
“Rige...”Sang nenek tampak heran, namun melihat gelagat Rigel. Dia pun tersenyum paham. Wanita itu membelai-belai surai rambut Ecru yang tertidur dipangkuannya pada sofa. Dia pun mengabaikan bel dari apartemen itu.
Tettt...tett....
Sebelah alis Rigel menaik, tanda ia tengah emosi. Berjalan dengan pelan sambil memengangi pinggangnya yang pegal akibat perut buncitnya itu, Rigel berjalan membuka pintu. Dia menatap malas, pria beriris aquamarine itu.
“Rigel. Aku ingin bicara...”
Rigel menatap iris aquamarinenya ‘oh, sudah tenang rupanya dia.’Batin Rigel sambil berusaha menutup pintu itu lagi, kemudian ditahan dengan cepat oleh pria itu.
Rigel menghela nafas “Nenekku sudah tua, tidak baik mendengar masalah kita. Didalam pun Ecru sedang tertidur. Sebaiknya berbicara diluar.”Ujar Rigel sambil menutup pintu apartemen itu kembali.
Rigel yang memimpin jalan, dia melangkah lebih dahulu. Biarpun pinggangnya pegal dan perutnya terasa berat. Rigel seolah lupa, dia masih kesal dengan pria pirang ini. Rigel berhenti didepan apartemen, dia membalikkan tubuhnya menatap pria bermarga Lascelles itu “Katakan. Aku mengantuk, lelah dan tubuhku pegal.”Celetuk Rigel dengan cepat.
“...Maafkan aku.”
“Tidak akan. Semuanya berakhir, aku menolak ajakanmu.”Rigel melepaskan cincin yang Jevandres berikan. Dia menyodorkan cincin itu kepadanya “Kata-katamu meragukan bayi ini, memang tak salah. Aku sendiri ada ditubuh ini sudah dalam keadaan berbadan dua, selain kau dan Binary sendiri. Aku pun tak tahu kehidupan sebelumnya.”Kedua mata Rigel benar-benar sayu. Tidakkah Jevandres melihat pengorbanan gadis kecil ini? Mengandung dengan semua resikonya sebagai ensensitas pendosa yang besar. Meredam dan menahan energi kemurkaan yang ada ditubuhnya, hanya demi bayinya Binary dan Jevandres yang dikandungnya.
“Rigel. Aku tak bermaksud seperti itu!”
“Teruslah seperti itu... Kau bahkan mengabaikanku, tiba dengan secarik foto yang bahkan aku tak kenal siapa pria itu, kemudian mengatai anakmu sendiri bukan bagian darimu? Ya sudah, tidak masalah. Dari awal aku pun tak pernah memaksamu.”
“Ambil cincin ini, kita sudahi saja.”Rigel menyodorkan cincin itu kepada Jevandres.
Jevandres menatap iris merah lembayung yang datar itu. Pancarannya lelah dan letih, Jevandres memang salah. Sejak secarik foto itu tiba dikantornya, pikirannya malah menjadi kacau. Sifat buruk Ares menyimpulkan semuanya dengan gegabah malah menguasai hasratnya. Rigel menjadi korbannya.
“Rigel... Sayang, dengarkan aku. Ini semua salahku, maafkan aku... maaf.”Jevandres tak tahan untuk menarik tubuh itu kedalam pelukannya, mendekapnya, merengkuh seluruh tubuh itu. Puncak kepala Rigel kembali diciumnya.
Rigel hanya terdiam, tidak merespon dan terenyuh dalam perasaan acak ini “Seharusnya, kau tahu. Kenapa kau malah tega mengatai bayi yang sangat kucintai ini?”Gumam Rigel didalam dekapan Jevandres.
“Itu salahku, maafkan aku. Maafkan papa...”Ujar Jevandres seraya mengusap-usap perut buncit Rigel yang langsung terasa getaran samarnya itu.
Tubuh Rigel yang bergetar samar berusaha menahan isak tangisannya “Kau membuat lelucon yang konyol, bodoh! Kau pikir aku tidak merindukanmu beberapa hari ini! Datang-datang malah menuduhku! Dasar Jevandres Bodoh!”Rigel pun menangis didalam pelukan Jevandres, meremat punggung tegap itu dengan erat.
Jevandres tersenyum simpul. Mengusap-usap punggung sempit Rigel yang bergetar samar, kemudian menggendong tubuh itu “Istirahat, aku akan menghantar keapartemen nenekmu lagi.”Ucap Jevandres sambil menggendong Rigel dengan mudah, ternyata. Wanita manis itu sudah kelelahan menangis, malah tertidur dengan pulas.
“Kebiasaan Rigel.”Jevandres terkekeh pelan. Wajah sembab sehabis menangis yang tertidur pulas itu, memerah sangat manis. Jevandres sampai menunduk untuk mengecupnya dengan pelan “Maaf, kali ini aku keterlaluan.”Katanya lagi.
Bersambung...
Saya bercerita, anda membaca.
Vote, like dan comment. Biar apa? Tidak ada, hanya membantu rasa senang bercerita saja :)
Spesial Episode selanjutnya ^-^
nantikan...