
Happy reading
.
.
.
“Seperti yang diharapkan dari tuan Kim, berkenan menerima undangan makan malam dikediaman kami yang sederhana ini.”Ujar Rigel sambil memotong daging steak diatas piringnya.
“A-ah iya... Jevandres rekan kerjaku, teman semasa kuliahku juga. Benar kan Jev? Tak kusangka kau memiliki mansion lain di Amsterdam.”
Jevandres menegak secangkir wine yang baru saja Charlie tuangkan “Benar, aku hanya senggang pada saat itu untuk mengambil pekerjaan sebagai pengajar.”Ujar Jevandres setelah menegak winenya dengan elegan.
Disamping Jevandres, sosok manis bersurai hitam kelam tak usai-usai tersenyum dengan manis kepada tamu jamuan makan malam mereka malam ini “Oh iya, bukankah kita menunggu satu tamumu lagi. Kak Jev?”
Jevandres mengangguk “Iya. Dia memang terbiasa telat, mungkin sebentar lagi tiba.”Jevandres berucap dengan tenang.
Benar saja ucapan Jevandres, salah seorang pelayan baru saja tiba bersama seorang pria yang tiba dengan gelagat anehnya. Dari kedua matanya pancaran kehidupan pun hilang, selain tampangnya yang lusuh dan berantakan. Sesuatu didalam dirinya sudah diberi kutukan.
Rigel mengetahui keanehan itu, dia pun menghela nafas “Ecru... hentikan waktu sejenak.”Ujar Rigel kepada Ecru yang baru saja tiba sambil menggendong boneka teddy bearnya itu.
“Dengar, dewa sepertimu akan mudah menembus kekuatan kami didunia ini. Pertama aku minta maaf, itu perbuatan kedua kakakku. Invidia dan Acedia, mereka melakukannya karena temanmu bersih keras menjelidiki soalku, sert—“
Tatapan aquamarine Jevandres teduh dan hangat “Aku tahu, aku sudah tahu. Dokter Dio pernah mengatakannya, selain kau tidak ada yang melepaskan kutukan itu. Pendosa manisku.”Bahkan dia sengaja menoleh kearah Rigel sambil menompang dagu tirusnya itu.
“Tapi jika itu melelahkanmu, tidak perlu dilakukan.”
“Aku, masih bisa melakukannya. Bukankah rencana awal kita hanya untuk membuat Theo mengakui perbuatannya?!”
Jevandres tak tahan melihat wajah manis yang tengah panik itu, dia pun menoleh menghadap Rigel dan mengecup puncak kepalanya “Ini wilayahku, Theo tak akan berbuat macam-macam. Dua orang polisi sedang dalam perjalanan kemari... Jangan panik.”
“Eum~”Rigel mengangguk, sang bintang biru bermata merah itu mengayunkan tangannya dalam sekali jentikan. Kutukan pada Liu Naufar langsung sirna.
“Ecru... kembali kekamar, sudah malam. Sebelum itu minum susu terus sikat giginya ya?”Ujar Rigel sambil mengusap-usap puncak kepala bocah kecil itu.
Dia mengangguk patuh, langsung berjalan menuju kamarnya. Seriring dengan perginya bocah kecil itu, waktu kembali berjalan.
Liu Naufar tampak lebih sehat, namun melihat keberadaan temannya. Dia hanya meregangkan tubuhnya “Wah! Maaf telat, rasanya belakangan ini kerjaanku banyak... Yo! Apa kabar nona Bina? Apa kehamilanmu mengalami masa yang sulit?”Pria itu kembali berisik.
Rigel menatap pria yang memilih duduk disebelah Theo dengan santainya “Tuan Liu, senang mendengarnya. Yah, kehamilanku memasuki akhir trisemester kedua. Dia semakin aktif didalam sini.”
“Theo?! Apa kabar? Kukira kau masih di Seoul dengan pacar beliamu itu.”Celetuk Liu Naufar dengan santainya.
“Ah... tidak...”Theo tergagap bicara.
“Oh ya? Setelah dipikir-pikir kita pernah bertemu diuniversitas, saya lihat anda memiliki hubungan baik dengan para mahasiswanya.”Rigel menyunggingkan senyumannya.
“Yah begitulah...”
“Jika dipikir-pikir adik bungsuku baru saja meninggal, kasihan dia. Masih begitu muda. Usianya malah tak panjang...”
“EH?! Benarkah? Aku baru tahu hal ini, nona Bina? Setelah dipikir-pikir adikmu yang bernama Luna bukan? Oh, bukankah itu pacarmu Theo? Kita pernah bertemu digangnam bukan?”
Rigel mengulum senyuman ‘Seperti yang diduga, Liu Naufar memudahkanku dengan sifat blak-blakannya’Batin Rigel sambil memandangi Theo dengan kilatan dari kedua iris merah lembayungnya.
“Ku-kupikir kau salah lihat Naufar, kekasihku bukan anak-anak seperti Luna.”
“Oh begitukah tuan Theo? Terus seperti apakah kekasihmu?”
Theo gelapan, apalagi melihat sepasang iris merah lembayung yang tajam itu. Tapi raut wajahnya malahan menatap dengan tenang “Di-dia, gadis pendiam dan sekarang menghilang.”
“Sayang sekali... Padahal jika Luna masih hidup, dengan senang hati memperkenalkannya kepadamu.”
“Tuan Kim, apakah anda baik-baik saja? Anda berkeringat berlebihan?”
Itulah yang menyeramkan dari tatapan seorang gadis yang duduk diseberangannya, iris mata merah lembayungnya meledek sekaligus mengintimidasi. Kemudian pria itu mencoba melirik Jevandres yang duduk disebelah istrinya dengan santai menegak wine dari gelas sloky itu.
Rigel menghela nafas sambil memengangi perutnya “Ah~ sebenarnya Luna itu anak yang selalu menceritakan masalah kesehariannya kepadaku, bahkan kudengar dia tengah hamil. Jika tidak baby kita pasti punya teman bermain kan?”Nada bicaranya sengaja didramatisir.
Pria itu membulatkan kedua matanya tak percaya, bahkan garpu dan sendok bergetar dipegangnya. Keringat berkucuran dan wajah pucat pasi.
‘Heee~Ekspresi yang bagus!’Batin Rigel sambil melirik pria itu.
“Wah nona Bina! Jika dia menceritakan semuanya, berarti anda juga tahu seluruh masalah kehidupannya sebelum meninggal?”Liu Naufar, bertanya blak-blakan.
Rigel mengulum senyuman menatap Kim Theo dengan tajamnya “Yah... tentu saja tahu. Semuanya~”
Brak! Meja makan itu dipukul oleh pria bernama Kim Theo itu “Aku mengaku! Aku menyewa jasa pembunuh bayaran disitus website gelap! Wanita itu, kesehariannya hanya mengamuk dan menyebut namamu, aku lelah hidup bersamanya.”Teriak Theo dengan nada frustasinya.
Rigel menatap dengan rasa menyesal, jika bukan karenanya. Luna pasti masih hidup walaupun tetap bersandiwara dengan manipulasi sifat manisnya “...Begitu ya?”Gumam Rigel dengan pelan.
Jevandres usai menegak segelas wine-nya “Inspektur Joseph, apa anda sudah dengar semuanya?”
“Ap-apa?! Apa-apaan ini!”Kim Theo berucap tak percaya, dia bahkan hendak melarikan diri.
Tidak setelah, Liu Naufar sengaja menrentangkan kakinya sampai Kim Theo jatuh tersungkur “Eh? Mau melarikan diri ya Theo? Kau itu di Seoul juga sudah menjadi incaran kami, sebagai pengedar obatan terlarang.”
Kim Theo pun ditangkap dengan dibawa oleh mobil polisi, pria paruh baya itu kembali menunduk hormat.
“Terimakasih Hertog Lascelles (Duke) tak kusangka, nyonya muda dapat menekan suspect dengan begitu mudah untuk mengakuinya. Kesaksian nyonya sangat kami butuhkan saat interogasi.”
Rigel terkekeh pelan “Tentu. Hanya menduga saja tuan Joseph. Aku ini hanya firasat karena adikku memang sedang menjalin hubungan dengan pria itu.”Rigel meraih tangan besar Jevandres dan menggengamnya “Maka dari itu, aku meminta suami baik hatiku ini untuk mengusutnya. Sebaliknya terimakasih tuan Joseph mau datang malam ini dikediaman kami.”Ujar Rigel dengan senyuman manisnya.
Sekali lagi pria paruh baya itu menunduk hormat sambil pamit untuk segera pergi. Rigel dan Jevandres yang berdiri dihalaman depan hanya menatap mobil polisi itu sampai keluar dari rumahnya.
“Apa kau lelah?”Jevandres memeluk tubuh kecil itu, melingkari tangannya pada perut bulat Rigel.
Rigel menggeleng pelan “Tidak terlalu, tapi sedikit lelah.”
“Jev! Aku pamit pulang dulu, rasanya aku harus ikut mengetahui kasus ini. Terimakasih atas jamuan makan malamnya.”Liu Naufar sempat menatap jahil sahabatnya Jevandres. Namun dia segera menuju mobil hitamnya yang terparkir dihalaman depan.
“Terimakasih tuan Liu.”Rigel melambaikan tangannya.
Dibalas anggukan oleh Liu Naufar, kemudian pria itu pun bergegas meninggalkan mansion megah miliki Jevandres Altair Lascelles ini.
“Ayo masuk.”
“Iya. Oh, astaga. Ini sudah malam dan kau masih bermain bola disana, huh?”Rigel memengangi perutnya yang terasa tendangan samar didalam sana. Dia senyum sumringan.
Jevandres turut memengangi perut bulat Rigel “Wah~ mungkin dia senang dengan ibunya yang jenius ini?”
“Kebetulan! Kita beri nama dia Sherlock saja?”
Jevandres langsung memasang raut wajah masamnya “Sayang, masih ada nama lainnya. Bagaimana dengan Andreas? Sirius? William?”
Rigel tak kuasa menahan tawanya “Haha... Serius? Kenapa pilihanmu itu begitu kolot, kak Jev. Aku bercanda... Kupikir Calleryn untuk perempuan dan Caleb bagaimana?”Ujar Rigel yang berjalan sambil dituntun oleh tangan besar Jevandres.
“Bagus juga. Kalau begitu Calleryn Lascelles dan Caleb Lascelles ya?”
Rigel mempoutkan pipinya “Enak saja. Dia anakku tahu, ya Carlin nama belakangnya.”
“Sayang, tapi dia tak akan ada jika bukan karenaku.”Jevandres berkata dengan memelas.
“Iya iya. Terserah kak Jev saja.”Rigel itu, kadang mudah luluh jika Jevandres memelasnya.
Pria pirang itu pun memeluk Rigel dengan gemas “Ah... Aku tidak sabar menantikannya lahir.”Ujar Jevandres sambil mengecup seluruh permukaan wajah Rigel dan merangkul pinggangnya. Bahkan mereka berdua disaksikan oleh maid dan butler yang masih beraktivitas dimansion itu.
Margareta hanya terkekeh pelan melihat Rigel dan Jevandres “Jarang-jarang tuan Lascelles begitu... Wajahnya terlalu sering serius dan dingin.”
Charlie yang baru saja tiba ikut mengangguk “Selama menemani tuan muda, sejak kecil dia memang sudah belajar profesional dengan sikap dan etikanya sebagai bangsawan. Tidak heran kehadiran nona Rigel cukup merilekskan kehidupannya...”
“Oh iya? Tuan Charlie, aku saja tak menyangka seperti itu.”
“Nona Barons baru bekerja beberapa tahun disini, tapi nyonya Barons ibu nona pasti juga mengenal tuan muda dengan baik.”
Margareta mengangguk “Ya sudah, selamat malam Charlie. Besok pagi masih harus menemani keseharian nona Rigel.”Margareta Barons, memang ditugaskan oleh Jevandres untuk menjadi maid pribadi Rigel. Kebetulan usia mereka yang tak begitu jauh akan memudahkan Rigel dalam kesehariannya. Mereka tak akan canggung, ditambah dengan kepribadian Rigel yang periang.
.
.
.
Like
.
.
Vote
.
.
.
Comment
.
.
.
Bersambung...