
Hai hai
.
.
.
Seorang gadis berparas manis sedang menapaki tangga. Langkah ringannya menaiki satu-demi persatu tangga yang menuju lantai teratas. Dia yakin gedung apartemen tua ini adalah koordinat membidik yang sempurna. Benar, gadis yang sedang menenteng case gitar ini bukanlah seorang amatiran. Dia sudah lama berada didunia kelam ini, semuanya demi sebuah alasan besar yang hanya bisa dipikul olehnya seorang diri. Beresiko dan mencengkam. Kapanpun nyawanya dipertaruhkan, tetapi bakat yang dimilikinya memang luar biasa.
Indera yang dimilikinya memiliki keseimbangan diluar rata-rata. Sehingga memudahkannya dalam pertarungan jarak dekat ataupun menggunakan beberapa senjata jarak jauh. Apalagi ditambah iris merah kiri yang mempesona. Menyeramkan memang, apalagi jika bakat itu digunakan dengan tidak bijaksana seperti ini. Tetapi dia terpaksa melakukannya, ada seseorang yang lebih penting daripada keselamatannya melalui kehidupan pahit ini.
“Lantai apartemen nomor lima.”Ucap Rigel. Gadis itu sudah berada didepan jendela yang menghadap sebuah gedung apartemen yang beberapa belas meter jauh darinya.
Dia segera bersiap-siap dengan membuka tas gitar itu. Seperangkat senjata didalam case gitar ada didepan matanya, sepasang tangan mungilnya merakit dengan cepat. Sebuah kaliber hitam dengan panjang 368,3 mm serta memiliki berat 3,0 kilogram setelah sepasang tangan kecilnya memasukkan beberapa butir peluru kedalamnya. Usai memasang visir untuk membidik, diarahkan senapang kaliber hitam itu menghadap pada sebuah jendela yang tengah terbuka.
Salah satu matanya tengah mengawasi pergerakan orang yang ada didalam apartemen itu, dia melihat melalui visir yang ada pada kaliber. Matanya menangkap sosok wanita cantik yang tengah mengadahkan tangannya serta tampak duduk tak berdaya dipinggiran ranjang kasur tersebut. Paras cantiknya tampak penuh dengan keputusasaan, apalagi setelah dia tampak baru saja mengakhiri telepon dari seseorang melalui ponselnya itu. Dia terisak dengan tangis pilunya, perlahan tangannya merambat memengangi perut ratanya.
“Tidak... jangan katakan...”Kedua mata gadis bersurai hitam ini membulat sempurna, seharusnya dia segera mengakhiri pekerjaannya dengan cepat. Bukan malah turut mengikuti pergerakannya, apalagi sampai menerka yang tengah terjadi. Benar, dia malah ikut terlarut dengan kepedihan wanita itu.
Rigel segera menatap visirnya lagi, betapa ia terkejut ketika tak mendapati keberadaan wanita itu “Dimana dia?”Ujarnya dengan gusar.
Sepasang iris berlainan warna itu kembali membulat dengan raut wajah terkejutnya. Ketika arah pandangannya mendapati wanita itu yang baru saja tiba diatap tertinggi apartemen itu. Rigel tak ingin menduga-duga. Bukannya menjalankan pekerjaannya untuk segera mengakhiri kehidupan wanita itu. Gadis ini malah mengemasi senapangnya kedalam tas gitar, beruntung case gitar ini memiliki belt sehingga memudahkannya menyelempang pada punggung sempitnya, tanpa menunggu apapun lagi ia segera melesat menuju tangga. Dia tak lagi menuruni tangga dengan pelan, justru lebih seperti berlari menuruninya. Sebelum melesat keluar dari apartemen itu, Rigel sudah mempersiapkan sebuah pistol kecil yang terselip dibalik jaket hitamnya.
“Tidak... tidak boleh! Aku harus segera mengakhirinya.”Gumam gadis itu sedikit dengan bibir bergetar.
Dia berdoa agar tak terlambat, bahkan sejak tadi tubuh kecilnya melesat dengan gesit melewati kerumunan orang yang berlalu lalang. Dia berhasil menaiki tangga gedung apartemen wanita itu, yang seharusnya menaiki lift. Tetapi karena lift sudah penuh, dia pun memilih melesat dengan cepat menaiki tangga. Beruntung ketangkasannya memang sudah terlatih, biarpun harus beratraksi selayaknya parkour dia pun rela melakukannya. Asalkan target yang diminta berakhir seperti permintaan kliennya. Benar, itu memang menyeramkan.
“YAK!”Teriak Rigel dengan nafas yang memburu.
Wanita yang membelakanginya itu tengah berdiri dengan tenang, angin membelai surai hitamnya yang tergerai dengan lembut “Aku berdoa kepada Tuhan, agar ada seseorang bisa menggantikanku untuk melindunginya.”Ucap gadis itu seraya membalikkan tubuhnya untuk menoleh pada gadis yang berdiri dibelakangnya ini
Angin berhembus lembut turut membiarkan membelai surai hitam gadis yang sudah menatapnya dengan tajam “Kukira kau akan terkejut nona?”Ukir seringai kecil tampak dari bibir ranumnya.
“Ah... lihatlah dirimu, cantik dan tangguh. Andai saat itu kau tiba lebih dulu, pasti kau lebih pantas mendampinginya daripadaku.”
Rasanya ucapan wanita itu terdengar seperti lelucon diakhir kematiannya, iris berlainan mata Rigel kembali menatapnya. Dari tatapan hampa serta raut khas sehabis menangis itu, Rigel sedikit menduga jika wanita ini tengah mengalami depresi yang berat “Koreksi kembali kata-katamu nona, ketika tahu aku ini pendosa yang lebih sering mengambil nyawa seseorang.”Lanjut Rigel dengan segera memotong kalimatnya.
Kedua wanita itu saling diam, hanya suara gemersik angin yang terdengar dikala itu. perbedaan pada keduanya, gadis yang memiliki tatapan hampa itu malah berangsur-angsur menatap lembut iris tajam yang berlainan warna ini.
“Aku tahu...”Lirihnya ringan diakhir dengan senyuman.
“Lakukanlah, karena hanya kau satu-satunya orang yang bisa membebaskanku dari belenggu cinta ini.”
“Kumohon... kau bisa membunuhku tapi selamatkan dia.”Wanita itu mengelus perut ratanya. Bahkan ketika dia melakukan itu, ada pancaran senyum yang cerah darinya “Nona?”Ucapnya seraya menerjapkan kedua matanya.
“Rigel. Namaku Rigel Wijayakusuma Carlin.”
Wanita itu tersenyum setelah mendengar ucapan dari gadis yang menatapnya dengan tangan yang memengani pistolnya itu “Senang berkenalan denganmu Rigel. Nama yang indah untuk bintang seterang dirimu, kalau aku. Namaku Binary Rui Aristolochia dulunya...”Ujarnya dengan tersenyum simpul.
Rigel menatap dengan paham, dia mulai mengerti perasaan wanita muda itu “Maaf... Kau tak bisa melihat hari esok lagi.”
“Tak masalah, lakukan saja. Tak akan ada orang yang menangisi kepergianku, aku akan segera bebas dan aku berdoa semoga seseorang sepertimu bisa menggantikanku. Jika bisa, kau sendiri pasti sanggup.”
“Apa kau tak bertanya siapa yang menginginkan kematianmu?”
Wanita yang bernama Binary itu menunduk sejenak, menunduk untuk melihat perutnya kembali. Setelah itu dia kembali menatap gadis yang berdiri tangguh didepannya ini, walaupun Rigel berusaha untuk mengeluarkan aura intimidasinya untuk Binary. Entah kenapa, Binary tak merasakan takut kepadanya “Kau, biarpun aku menyangkalnya dari sosok lain yang ada pada dirimu, aku tetap tahu itu kau. Adonisku yang mekar dengan indah”Ucap Binary seraya memejamkan kedua kelopak matanya sejenak.
Rigel tersentak, dia terdiam seribu bahasa. Tak mengerti namun merasa paham. Seakan ini merupakaan rekaan ulang dikehidupan terdahulunya.
“Aku tak perduli pada siapapun yang memintamu untuk mengakhiri kehidupanku, karena aku bersyukur karena bisa bertemu denganmu kembali.”
Rigel tersentak seraya menerjabkan kedua matanya. Dia tak pernah melihat tatapan serapuh itu dari siapapun, kecuali pada wanita yang akan menjadi korbannya beberapa detik kedepan ini. Bahkan, misi ini adalah pandangan terbaru Rigel menghadapi korbannya yang sangat menerima kematian ditangannya “Baiklah, aku mencoba untuk mengerti ucapanmu. Aku juga mencoba agar langsung mengenai titik vital dirimu Binary, agar kau tak merasakan kesakitan.”Nada ucapannya dingin. Disinilah saatnya, untuk seorang Rigel menyelesaikan pekerjaannya. Tanpa berlama-lama, jemari lentiknya langsung menarik pelatuk itu mengenai jantungnya.
“Pergunakan diriku ini sebaik-baiknya.”
“Waktu akan terus berjalan, seiring dengan hal itu... Takdirmu pun sudah berubah.”
Didetik terakhirnya, wanita itu tersenyum dengan raut wajahnya teramat sangat bahagia. Rigel bisa melihatnya, dan untuk pertama kalinya dia merasakan gemetar pada kedua tangannya. Rigel tak mengenal wanita itu, bahkan tak pernah bertemu dengannya/
“A-apa yang sudah kulakukan?”Lirihnya pelan. Tetapi, tubuhnya sampai ambruk terduduk menahan kepedihan yang turut dirasakan wanita itu. Untuk pertama kalinya, Rigel menitikkan air mata dalam misi yang dijalankannya “Maafkan aku... maafkan aku...”Gumam Rigel berulang kali. Sampai-sampai kepalanya turut merasakan berat yang tak ketara, selain pusing yang berat, pernafasannya juga menderu tak karuan.
Ponsel disaku jaketnya bergetar, bukan sekali namun berkali-kali. Bahkan tampak menampilkan notifikasi dari sang boss untuk misi yang berhasil dilakukannya.
Tetapi sang pemilik, masih duduk mematung. Merasakan sensasi tak karuan dari tubuhnya sendiri, Rigel meremas dadanya sendiri. Hingga didetik selanjutnya, tubuhnya pun ambruk tak sadarkan diri.
Angin sore berhembus pelan, diatas atap sebuah gedung. Dua orang wanita sama-sama terbaring tak sadarkan diri. Bedanya, salah satu dari mereka sudah tak bernyawa dengan rembesan darah yang mengalir dengan deras. Sementara satu jiwa lain harus menerima jawaban atas doa seseorang. Sampai malam menelan senja, hanya saksi bisu atas apa yang terjadi diantara keduanya.
Bersambung