Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 20 : Forgotten and Empty



Happy Reading!


.


.


.


Diatas rooftop, dibawah angkasa yang gelap. Seolah tahu hal yang sudah terjadi disana, pria bersurai pirang dengan sepasang mata emeral menatap angkasa gelap dengan tatapan menerawangnya. Entah apa yang sudah ditatapnya sejak tadi, puntung rokok ketiganya habis dihisap. Dia pun melempar dengan sembarang. Kemudian meraih batang rokok baru lainnya sembari merogoh korek api dari saku coat panjang berwarna silvernya.


“Hai! Terimakasih sudah memenuhi undanganku, Tuan Lascelles.”Ucapnya sambil menghidupkan api dari koreknya, kemudian menyesap rokok itu dengan nikmat “Bagaimana? Apa kekasihmu baik-baik saja?”


Jevandres berusaha keras untuk tidak termakan amarahnya, masih dengan sepasang iris emas terangnya. Jevandres berusaha menahan gejolak Ares didalam dirinya itu “Rigel, tidak salah apapun.”Ucap Jevandres.


“Tentu tidak, aku tak pernah berniat menyakitinya. Tidak sama sekali.”Emerald miliknya menatap Jevandres dengan sedikit mengejek “Ira, tetaplah Ira. Biarpun dia sudah mati, raganya tetap sama.”Saat menyembut namanya, pria beriris emerald itu merubah ekspresinya. Seperti terselip kesedihan diujung tatapannya itu.


Ivan sang Invidia baru saja tiba diatas rooftop, hal yang harus dilakukannya adalah mencegah perseteruan antara Sang Ares dan Zuriel “Sungguh! Kepalaku nyaris mau pecah. Hentikan Zuriel, dia hanya manusia biasa yang kebetulan dipengaruhi Ares. Ayolah kawan... Lagi pula kalian berdua sudah lama putus.”Ivan berucap konyol dengan tatapan frustasinya.


“Yo hai... Invidia, masih sama pengecutnya dengan yang lalu.”


“Kau—Aish... sudahlah terserah! Dengar. Ira sudah mati, dia benar-benar Adonis. Ira yang menyerahkan jiwa dan raganya kepada Adonis, jadi kumohon hargai pilihannya. Walaupun kami (para pendosa) tidak menyetujuinya, tapi itu semua sudah terjadi.”


Ramone Angeleus, sang malaikat Zuriel. Menatap Ivan dengan sepasang emeraldnya yang bergetar “Aku tak akan salah mengenali Ira ditubuh gadis itu.”


“Benar, dan dia milikku.”Jevandres langsung berucap dengan lantang.


‘Aish... habis sudahlah malam ini.’Ivan tanpa sadar menepuk dahinya. Ivan hanya menghela nafas.


Click...


Rigel baru saja terbangun, kepalanya masih terasa sangat berat. Saat pandangannya mengedar. Dia hanya bisa melihat Arcadia yang tengah mengaduk segelas susu hangat dimeja dapur.


“Ssstttss...”Rigel meringis, perutnya kembali terasa keram.


Arcadia Dio, langsung menghampiri Rigel “Jangan memaksakan dirimu bergerak, ini minumlah.”Ucap Arcadia Dio menyodorkan segelas susu hangat itu kepada Rigel.


Rigel langsung menyambut gelas itu kemudian menegak sedikit cairan hangatnya “Dimana Kak Jev?”Ucap Rigel.


Arcadia Dio merogoh saku celananya, dia mengambil ponselnya itu. Disana dia mendapati informasi keberadaan Jevandres dari Ivan yang bersamanya itu dari pesan singkat.


“Rooftop.”


Raut wajah Rigel menyendu, kedua matanya sayu “Aku harus kesana.”


“Jangan, ingat. Kondisimu.”Cegah Arcadia Dio sambil memengang kedua pundak Rigel.


Rigel mengangguk “Aku tahu, pasti ini perbuatan malaikat itu bukan? Dia tidak jahat kok... rasanya dia hanya ingin bertemu denganku.”


Arcadia Dio menaikkan sebelah alisnya heran “Kau tahu dari mana? Bukannya kau tak mengingat semua ingatan Ira?”


“Benar, aku memang tak ingat. Tapi kedua matanya berkata seperti itu, dia tidak berniat jahat padaku.”Ujar Rigel dengan kedua mata kenari bulat yang berbinar dengan tulus, wajahnya memerah seakan tengah menahan tangisan.


Arcadia Dio tersentak kembali, dia jelas-jelas melihat kedua iris berbeda warna itu berubah mengikuti iris mata kiri aslinya ‘Jangan-jangan...’Arcadia Dio membatin seorang diri.


  Rigel turun dari sofa itu dengan tak perduli, dia meraih coat hitam kebesaran milik Jevandres yang tergeletak dimeja. Kedua iris kenari Rigel mulai berkaca-kaca karena menahan nyeri pada perutnya “Sayang, jangan rewel dulu ya. Ayo kita cari kak Jev.”Ajak Rigel kepada mahluk kecil yang tengah dikandungnya itu seraya mengusap-usap dengan lembut. Rasa nyerinya pun perlahan hilang.


Rigel, tak bisa berpikir dengan jernih. Deru pada dadanya berdegup dengan kencang, ia meremat coat hitam yang dikenakannya itu. Membungkus tubuh kecilnya dengan kebesaran, Rigel menaiki tangga Rooftop. Seolah dia memang harus berjalan kesana.


Click...


Pintu itu berdecit dibukanya, seolah dia pernah berada disini. Saat yang lali berdiri berhadapan bersama si surai hitam seiras Binary bersamanya. Kini kedua pria itu pun sama. Bedanya, kedua pria pirang itu memiliki iris mata berlainan warna itu saling menatap tajam satu sama lain, seolah tengah memperebutkan mangsanya. Bukan sesuatu yang baik, hanya energi tegang yang mencekam. Sampai Ivan yang sering berbicara pun lebih memilih membungkam.


“...Kak Jev.”Panggil Rigel kepada Jevandres. Sepasang iris kenarinya berkaca-kaca, sembab dengan kedua pipi memerahnya menggemaskan “Hiks...”Rigel, entah kenapa hanya ingin menangis dan menghamburkan pelukannya kepada Jevandres.


Luluh, kedua iris emas menyalang Jevandres berangsur-angsur berubah menjadi aquamarine yang lembut. Dia menyambut Rigel dengan kedua tangannya yang direntangkan “Rig...”Ucapnya sambil menyambut pelukan dari tubuh Rigel saat gadis kecil itu menghambur kepadanya.


Pemandangan itu tak lepas dari tatapan emerald Ramone Angeleus sang Zuriel, kedua tatapannya sulit diartikan. Dia hanya mengepulkan asap rokok yang sedari tadi dihisapnya “Rigel Wijayakusuma Carlin. Sampai jumpa lagi, sepertinya ini adalah takdir terakhirmu.”Ucap pria itu sambil berjalan menuju balkon kemudian melompat dengan ringannya.


Kedua iris kenari Rigel, melihat sepasang kepakan sayap putih yang melesat ke angkasa yang gelap itu “...Pria itu tidak jahat, dia hanya ingin memastikanku.”Ucap Rigel yang meremat coat hitam yang dikenakannya.


“Hn. Kemari...”Ucap Jevandres mendekap tubuh kecil Rigel.


Rigel mengangguk, dia membalas dengan kembali mendekap Jevandres.


Ivan memberi kode kepada Arcadia, untuk meninggalkan mereka berdua seperti itu. Keduanya pun kembali menuruni Rooftop “Jiwa Ira sudah sesungguhnya hilang, hanya Ecru dan kekuatannya saja.”Ucap Arcadia dengan suara beratnya itu.


Ivan mengangguk pelan, dia pun turut sedih mengetahuinya “Itulah keinginannya, tinggal bagaimana Rigel bertindak selanjutnya.”Sorot mata merah Ivan tak bisa menyembunyikan sendunya.


.


.


.


Jevandres mengangkat tubuh Rigel, menuju sebuah balkon tepian gedung apartemen yang dikala malam itu. Dia mendudukkan Rigel disampingnya, kemudian menarik bahu Rigel untuk mendekat ke dada bidangnya.


‘Uhm? Di-dia mau apa?’Rigel memerah saat tubuhnya mendekat pada dada atletis itu “Uhm... Kak Jev...”Ucap Rigel pada Jevandres yang hanya memandang datar kedepan. Melihat hiruk-pikuk kehidupan malam, dengan perlip lampu yang tampak disana.


“Diam seperti ini dulu.”Jevandres mengecup kening Rigel “Hari ini kau berhasil membuatku jatuh cinta kepadamu.”Masih menatap kedepan, sepasang iris aquamarine itu hanya serius pada objek yang dipandangnya. Kehidupan malam, lampu jalan menerangi, jauh dari keributan aktivitas lalu lintas. Dibawah angkasa malam, disampingnya bintang supergiant biru Rigel yang masih ia diamkan.


Rigel menunduk, justru menatap lantai semen rooftop yang tak menarik itu “...Aku tak ingat siapa diriku dimasa lalu, aku hanyalah orang lain yang ada ditubuh Binarymu, dan aku juga bukan orang yang bisa kau cintai...”


“Ssstttsss...”Jevandres mendesis, dia mengusap-usap puncak kepala Rigel “Aku tahu. Itu tak masalah. Aku tak perduli.”Jevandres menangkup wajah cantik Rigel yang sudah sembab, ujung sepasang mata kenarinya menggantung tetesan air mata “850 tahun yang lalu, kau adalah bintang paling cerah dilangit malamku.”Ucap Jevandres yang menggunakan ujung jemari besarnya untuk menyeka air mata Rigel.


Rigel tersedu-sedu “Aku tidak mengerti ucapanmu hiks... tapi kedua matamu begitu sedih menatapku. Aku tidak suka hiks...”Rigel semakin nyaring menangis.


“Eh?! Kemana larinya Rigel yang begitu liar itu.”Jevandres tersenyum, dia mengusak puncak kepala Rigel dengan gemas “...Kau hanya tak mengingatnya, tapi aku tetap mengingatmu. Sampai kapan pun.”Jevandres meraih tubuh Rigel untuk didekapnya kembali.


Jevandres menjadi penyabar, lembut dan mengayominya. Rigel hanya merasa, degupan jantungnya semakin berdebar dengan kencang. Perasaan familiarnya kembali muncul. Tanpa sadar terbesit satu nama yang juga turut diingatnya sejak lama ‘Kazuya’Batin Rigel menyebutnya. Namun Rigel lantas menggeleng, dia turut membalas dekapan hangat Jevandres “Kak Jev... Jangan tinggalkan aku, janji?”


“Janji...”Jevandres mengecup kembali kening Rigel. Sepasang aquamarinya menubruk sepasang kenari manis itu.


.


.


.


Bersambung!