Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 15 : The Avid Team



Happy Reading~


.


.


.


“Mau makan malam diluar?”Tawar Jevandres yang baru keluar dari kamar mandi kepada Rigel yang duduk diatas ranjang kasur, sambil memainkan game online dari ponsel genggam keluaran terbaru milik Jevandres.


Kedua iris matanya tampak sibuk menatap layar ponsel itu “Uhm~”Rigel berdegung sendiri “Aku pengen makan burger sih, kentang goreng tampaknya enak ah atau ayam goreng.”Sepasang iris berlainan matanya masih fokus pada layar ponsel itu, Rigel tampak asik memainkan game ini.


Sepasang iris aquamarine milik Jevandres hanya menatap Rigel, raut wajahnya tampak datar namun kharismanya tak main-main “Sehabis berpakaian, kita pergi makan malam.”Ucap Jevandres seraya memakai kaos hitam berlengan panjang pada tubuh maskulinnya itu.


“Yeay~”Rigel berseru sendiri saat ia berhasil memenangkan game online yang dimainkannya itu “Apa kau sud—“Kedua mata berbeda iris itu membelalakkan matanya. Blushing, kedua pipinya merah merona, karena menatap tubuh atletis Jevandres yang begitu besar itu saat dengan santainya mengenakan kaos berlengan panjangnya.


Rigel melempar guling bantal kearah Jevandres “Bo-bodoh! Pakai baju dikamar mandi!”Ujar Rigel sambil menutup kedua matanya.


“Iya...iya. Aku mengganti celana didalam kamar mandi. Dasar.”Pria rupawan itu dengan santai membawa celana jeans cokelatnya masuk kembali kedalam kamar mandi.


Degupan jantung Rigel menderu “Ish dasar Jevandres Mesum Altair tidak tahu malu Lascelles.”Ucap Rigel dengan memerah.


“Aku dengar ucapanmu Rigel.”Seru Jevandres dari dalam kamar mandi.


.


.


.


Keduanya berjalan beriringan memasuki restoran cepat saji atas permintaan Rigel, gadis yang meminta memakan makanan cepat saji ini hanya tersenyum dengan riang setelah duduk disebuah kursi bersama Jevandres didepannya. Kedatangan mereka berdua kedalam restoran cepat saji itu mengundang pemandangan dari para gadis yang turut ada disana, kebanyakan mereka fokus menatap seorang Jevandres yang berjalan dengan tenangnya itu. Hal ini karena memang Jevandres memiliki paras rupawan dengan penampilan yang menarik.


Rigel terkikik sendiri. Dia tentu menyadari percikan energi pendosa kedengkian dari kebanyakan pengunjung wanita itu.


Hal itu mengundang rasa penasaran seorang Jevandres “Kau kenapa?”


Rigel menggeleng, kemudian merematkan jemari-jemari tangan kanannya pada tangan lebar Jevandres “Uhm~hanya sedikit lelah.”Ucap Rigel berbohong. Dia hanya ingin memanas-manasi gadis lain.


“Dua cheese burger, orange jus, dan kentang regular. Ah iya... Ayam goreng juga.”Rigel memesan makanan setelah seorang waitres menghampiri mereka.


Jevandres menatap Rigel, dia menompang dagu tirusnya itu “Apa kau tak menyukaiku?”Tanyanya tiba-tiba.


“Tidak kok.”Rigel menyeringai jahil “Kenapa aku harus tidak menyukaimu kak Jev?”Rigel juga menompang dagu kecilnya itu. Kemudian, mengedipkan matanya dengan genit.


Jevandres tersenyum kecil “Lihat, siapa yang mencoba menggodaku?”


“Oh tentu saja bukan aku.”Elak Rigel sambil mengeluarkan lidahnya. Kemudian meledek Jevandres yang duduk dihadapannya itu.


Seorang waitres sedang membawa pesanan mereka dengan nampannya, dia berjalan dari dapur restoran menuju meja makan yang ditempati oleh Jevandres dan Rigel.


Rigel menyadari hal lain. Ingat, dia memiliki indera yang begitu baik. Rigel merasakan bunyi Click... dari sebuah visir yang baru saja dipasang ‘Hm? Tidak mungkin ditempat keramaian.’Rigel membatin namun dengan iseng melihat jendela kaca disebelahnya. Dia pun memperhatikan gedung yang berseberangan dengan restoran ini.


Rigel menoleh dengan pelan, dia tahu seseorang tengah mengawasinya dengan visir dari senapang laras panjang ‘Amatir’Rigel pun menoleh tepat kearah seseorang yang mengawasinya dengan visir itu. Kemudian Rigel menyeringai kecil menatapnya.


‘Hm? Masih gigih juga ya.”Rigel tetap menatap melalui sepasang iris berbeda warnanya itu, walaupun dalam jarak yang jauh diatas gedung berseberangan dengan restoran cepat saji ini. Tetap saja, penembak itu bersiap dengan senapangnya ‘Sudah ketangkap basah tapi tetap bersih keras, apa kinerja Black Ash merosot semenjak aku dikeluarkan?’Rigel menganalisa pergerakan penembak itu, dia mulai merasa was-wasan ‘Yang benar saja? Ini  tempat keramaian. Apa dia berniat untuk menarik perhatian publik pada Black Ash?’Benak Rigel sudah bergemuruh sendiri, sangking kerasnya dia berpikir sambil terus menerka yang akan dilakukan penembak itu pada targetnya . Siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri, satu-satunya mantan Black Ash yang masih bisa menghirup udara segar kehidupan hari ini.


Gurat kecemasan tampak dari paras cantik nan manis itu, tak luput dari perhatian Jevandres Altair Lascelles “Rig, apa perutmu sakit?”Ucap pria itu dengan memperhatikan Rigel.


“Ah tidak.”Rigel tersenyum hambar. Mungkin, ia akan tetap tenang jika saja masih bisa menggunakan kekuatan pendosanya untuk menghukum manusia itu. Namun mengingat Jevandres yang dengan mudah masuk kedalam lingkar penghentian waktunya tempo waktu lalu, membuat Rigel ragu untuk menggunakan kekuatannya ‘Sial, malah membidik.’Rigel menyadari, suara pelatuk yang tengah ditarik dengan pelan itu.


Rigel. Sontak, menoleh kearah puncak gedung tinggi itu. Malam berkat cahaya bulan yang terang, visir penembak itu terpantul oleh cahayanya. Biar pun gelap tengah merajai penglihatannya, Rigel tak akan terkecoh melihat seorang gadis muda yang sudah bersiap dengan senapangnya ‘Tidak.’Rigel tanpa segera melindungi perutnya dengan kedua tangannya yang terlipat sembari menunduk dengan pasrah.


Dor... Brakkk...


Jendela kaca itu pecah, suara teriakan pembeli meriuh sementara Rigel tak lagi berpikir dengan jernih.


Hangat. Sangat hangat. Rigel merasa didekap oleh seseorang yang sudi menjadi tameng kehidupannya lagi. Untuk kali keduanya, bahkan bekas luka tembakan dilengannya belum seutuhnya sembuh. Kali ini pria beriris aquamarine itu menjadi tameng bagi seorang Rigel. Dia mendekap, dia memeluknya dan dia melindunginya.


Tes... air mata Rigel menitik “K...kak Jev!”Suara Rigel bergetar. Kedua tangannya berusaha meraih punggung lebar itu, dia merasakan basah pada punggung kekar Jevandres yang masih diam memeluknya. Bayang-bayang seorang Kazuya terlintas begitu saja, hatinya semakin teriris saat menyadari cairan basah itu adalah darah yang sedang mengalir dengan deras.


“K...Kak Jev.”Rigel sadar, Jevandres tak meresponnya walaupun deru nafas hangat Jevandres masih terasa diceruk lehernya.


Jevandres, mengeratkan pelukannya “Tenanglah... Aku disini, melindungi kalian berdua.”Ucap Jevandres seolah sudah tahu akan apa yang terjadi.


Rigel terisak, dia tak kuat lagi “Kau... Terluka.”


“Tidak boleh, mati.”


“Aku tak akan mati, sebelum melihat bayi kita.”


Rigel semakin terisak akan tangisannya, saat mendengar ucapan itu dari seorang Jevandres. Dia menggeleng, menolak takdir buruk yang akan menimpanya “Maafkan aku... Maafkan aku...”Gumam Rigel dengan deraian air matanya.


“Ssstttss...”Jevandres dengan tenangnya menyentuh bibir Rigel dengan jari telunjuknya “Rig, kau harus keluar dari sini. Jika tidak mereka akan tetap berusaha membunuhmu.”Ucap Jevandres dengan suara paraunya, dia tengah menahan rasa sakit itu dengan simpul senyuman dari paras tampannya.


Rigel menggeleng “Hiks... Aku disini. Aku disini bersamamu.”Rigel tak kuasa menahan tangisnya, dia pun menyentuh permukaan wajah Jevandres “Aku terlalu egois kepadamu, maafkan aku.”Ucap Rigel lagi.


“Tidak ada waktu, Charlie akan menjemputmu diluar. Pergilah tanpaku, aku akan mengalihkan mereka agar kau bisa keluar dari sini dengan aman.”Jevandres meremat tangan Rigel, tubuhnya pun perlahan-lahan merosot pada lantai “Kumohon, aku akan baik-baik saja.”Ucapnya juga sambil meraih tangan Rigel dan mengecup punggung tangan kecil itu.


Rigel memejamkan kedua kelopak matanya, hatinya bergemuruh dengan amarah yang pekat ‘Jika memang ini pengorbanannya, jangan sia-siakan.’Rigel membatin. Ketika kedua matanya kembali terbuka, dia melihat sosok Jevandres yang semakin pucat itu “Kau melindungiku dengan sosok manusiamu, Terimakasih.”Akhirnya Rigel mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Ia pun tak sengan mendaratkan ciuman kepada Jevandres.


“Ck. Bocah. Kenapa baru sekarang?”Jevandres terkekeh lemah.


Rigel tersenyum simpul “Karena aku baru sadar, sudah jatuh cinta padamu.”Ucap Rigel sambil melingkarkan kedua lengan kecilnya pada leher jenjang Jevandres “Maafkan aku Ivie... maafkan aku Dio...”Gumam Rigel masih memeluk kekasihnya itu dengan erat.


“Bayi kecilku, aku yakin. Kau pasti kuat... Kali ini bantu ibu untuk berjuang melindungi ayahmu ya.”


“Rigel, apa yang akan kau lakukan?!”


Rigel mengulum senyuman “Istirahatlah disini.”Ucap Rigel dengan cincin hitamnya yang perlahan-lahan berkilau kemerahan “Hanya untuk melawan manusia, aku hanya perlu mengeluarkan sedikit kekuatanku. Sekarang istirahat ya...”Rigel menotok tengkuk belakang Jevandres, pukulannya dengan tepat mengenai saraf disana. Hanya untuk membuatnya tak sadarkan diri sementara. Rigel tersenyum, ada untungnya juga mempelajari ilmu bela diri manusia.


“Aku hanya perlu menyentil mereka sedikit bukan?”Ucap Rigel sembari beranjak berdiri “Mantan timku sungguh sudah keterlaluan. Beginikah cara mereka menyambut kapten mereka?”Rigel menyeringai dengan kedua mata merah lembayungnya.


Langkah kakinya yang ringan itu menuju keluar restoran, disana seharusnya sudah tergeletak beberapa jasad para polisi yang tak bersalah itu. Rigel tak lagi heran, Black Ash memang tak pernah ragu ‘Mensterilkan wilayah, eh?’Rigel menatap keadaan yang tampak sunyi itu.


Dorr... dorr...


Rigel hanya bergerak menghindarinya, dia tak menggunakan kekuatannya. Sekuat tenaga Rigel tak menggunakannya, karena dia juga khawatir dengan mahluk kecil yang tengah dikandungnya itu.


“Amatir.”Rigel meraih pistol milik salah satu petugas polisi yang tergeletak dijalan itu. Dan... Dorr..dor.. Rigel menarik pelatuknya dengan cepat, mengenai sasaran dengan tepat.


Biarpun tak begitu yakin sudah membunuh penembak itu. Rigel tahu, paling tidak dia sudah berhasil melukainya ‘apa sudah berakhir? Aku harus cepat kembali menyelamatkan Jevandres.’Baru saja Rigel hendak beranjak. Dia mendengar langkah kaki mendekatinya.


Rigel menoleh “Apa kau lupa, prinsip menyerang sesunyi malam?”Rigel berkata dengan sinis.


“Tidak Capt.”


Rigel membalikkan tubuhnya “Aku tak memiliki waktu untuk meladeni kalian. Suamiku tengah terluka parah.”Ucap Rigel dengan nada suara yang dingin. Dia mengepalkan kedua tangannya ‘Jika bukan mantan timku, kalian pasti sudah kuhabisi.’Rigel meninggalkan orang itu dengan acuh, saat ini dia tak bisa meladeni ex-team yang pernah dipimpinnya itu. Jevandres jauh lebih berharga saat ini. Begitulah pikiran Rigel.


“Nona Cadas!”Langkah yang cepat terdengar seperti langkah larian itu melaju tepat dibelakangnya “Kami menunggumu! Kenapa kau meninggalkan unit tim kami! Kenapa kau malah menjalankan misi seorang diri...”Suara teriakan wanita muda itu tampak bergetar, nyaris seperti menahan isak tangisannya.


“Sudahlah, Tiger... Captain Cadas tak akan kembali ke unit kita.”


“Apa maksudmu Griffin!”


“Captain Cadas, kami bahkan tak sanggup untuk membunuhmu.”


Rigel membalikkan tubuhnya, dia mendengar suara riuh dari tiga orang itu terhadapnya “Aku tahu...”Ucap Rigel sambil menyelipkan surai hitamnya kedaun telinganya “Maaf, aku tak bisa bersama kalian lagi.”Ucap Rigel.


Seorang pria yang sedari tadi membungkam mulai berbicara “Inikah alasanmu bersembunyi di Seol dengan mengganti nama dan identitas?”


Rigel ingin tertawa mendengarnya ‘Bagaimana bisa, kalian tidak tahu saja kalau aku bukan manusia.’Rigel terkekeh pelan, dia pun mendekati pria itu sambil menepuk bahunya dengan pelan “Well... Boss sudah mengeluarkanku, anggap saja aku ini ingin cuti dari ‘dinas’ku kemudian memiliki kehidupan baru bersama keluarga kecil kami.”Ucap Rigel sambil mengulum senyuman.


“Nona Cadas!”Wanita yang jauh lebih muda dari Rigel menghampirinya. Dia menggengam tangan Rigel “Unit Avid begitu sepi tanpamu Capt. Kami benar-benar merasa setiap misi hanya semakin tidak terkendali. Kami ingin keluar dari Black Ash.”Ucap wanita berkacamata itu tampak berkaca-kaca.


Rigel menggeleng “Tiger... kau tahu bukan konsikuesni keluar dari Black Ash? Kalian akan dilenyapkan.”Ucap Rigel dengan pelan sambil mengusap-usap puncak kepala bersurai merah bata itu “Patuhlah pada Griffin dan Volt. Aku tak lagi bisa melindungi kalian, bahkan aku pun tak tahu sampai kapan akan tetap hidup.”


Gadis muda itu memeluk tubuh Rigel “Nona Cadas...”Gadis itu melepaskan pelukannya dan memberi hormat pada Rigel diikuti oleh dua pria berbeda usia dihadapannya.


“Tiger, Griffin dan Volt.”Rigel membalas hormat itu juga “Aku tak pernah tahu nama kalian sesungguhnya, tapi biarkan aku mengenalkan kembali diriku yang sesungguhnya ini. Namaku Rigel Wijayakusuma Lascelles. Senang, selama ini bisa bekerja sama dengan kalian didalam tim Avid.”


“By the way capt, kau menghabisi anak baru rekrutan Black Ash. Ternyata kemampuanmu masih hebat”Pria dewasa bersurai cokelat tua itu merangkul Rigel “Bahkan dalam keadaan hamil...”Lanjut pria berjenggot tipis itu.


“Eh?!”Tiger dan Griffin berteriak bersamaan.


Rigel tersipu malu “Uhm... Aku tak menyangkal perkataanmu oldman.”


Bersambung...