
Happy Reading~
.
.
.
"Sudah berapa kali? Berapa kali takdir mempermainkanku. Hey Ira! Sang kemurkaan, kau senang bercanda dengan kehidupanku ya?"
"Aku lelah... Setidaknya sekali saja, mengalahlah padaku."
.
.
.
“Aku harus melakukannya.”Kedua tangan kecilnya mengepal, menahan murka yang tak lagi berarti baginya “Ira... Aku akan menggantikan kematiannya.”Lirihnya dengan sorot mata yang tak lagi berbinar cerah.
“Tidak! Kau gila?! Kau tak akan ingat caranya Rig, lagi pula. Ini semua pilihanmu. Menjadi manusia.”
“Tapi Kak Jev akan tetap diambang hidup dan mati seperti itu.”
“Kau tak bisa seenakanya Rig. Setelah memilih untuk balas dendam terhadap Ares sekarang kau ingin menyelamatkan kehidupannya? Ckck.”
“Seharusnya tugasmu lebih mudah, dia sudah sekarat tinggal kirim saja ke neraka.”
Rigel termagun, semua suara dalam hati dan batinnya memburu. Sementara kedua pria muda ini bersih keras menyakinkannya, sudah sejam sekiranya berdebat akan semuanya. Rigel tak sanggup, dia pun membaringkan tubuhnya sejak tadi hanya duduk dipinggir ranjang kasur perawatan.
“Aku lelah...”Lirih Rigel.
Wajah mengeras Ivan perlahan-lahan luntur walau tak semuanya, dia mendekati Rigel untuk menyelimuti gadis kecil itu “Baiklah, istirahat saja dulu.”Ucap Ivan yang juga mengajak Arcadia untuk meninggalkan Rigel diruang perawatannya sendiri “Arcadia ayo, Rigel akan istirahat sejenak.”
Rigel yang memiringkan tubuhnya, tak ingin menatap kedua kakaknya itu. Kondisinya memburuk, lemah dan frustasi. Bahkan memakan sesuap nasipun tak bernafsu “Aku mau kak Jev...”Rigel menutup wajahnya dengan kedua tangan kurusnya. Air matanya pun kembali mengalir, menemui suaminya pun sulit. Selain kedua kakaknya yang melarang, jam besuk unit perawatan intensive juga terbatas. Untuk wanita hamil dengan kondisi lemah seperti Rigel pasti akan sulit menemuinya. Kini hanya rindu yang dirasakannya “Hiks... Aku ingin menemuimu... Aku benci denganmu, Ira...”Rigel meremat ujung selimutnya.
Lama-lama Rigel pun tertidur karena kelelahan menangis, saat ia tengah sendiri. Cincin hitam yang dikenakannya berubah sendiri menjadi sosok Ecru, bocah manis yang memiliki raut wajah datar. Sedikit ekspresi.
Ecru sudah seperti itu sejak lama, ia akan diam-diam berubah menjadi sosok manusianya untuk menjaga Rigel yang terlelap “Yang Mulia, tidur yang nyenyak...”Ecru duduk dipinggiran ranjang dengan kedua kaki yang menggantung, kemudian diayun-ayunkannya dengan ringan. Sesekali memperhatikan gerakan diagfragma dada Rigel yang naik turun dengan damai.
“Ecru.”Baritone suara berat terdengar.
Ecru melompat kecil, ia turun dari ranjang kasur. Kemudian berlari kecil membukakan pintu ruang perawatan itu “Yang Mulia...”Ecru menunduk hormat.
Sebuah tangan besar mengusap puncak kepala bocah itu “Kerja bagus.”Ucapnya sambil berjalan masuk kedalam ruang perawatan itu.
Pria bertubuh besar itu, menatap Rigel yang tengah tertidur. Sepasang matanya melihat wajah sembab Rigel, air matanya mengering diujung kelopak mata yang terpejam itu. Dia pun berjalan mendekati Rigel, kemudian duduk disampingnya. Hanya kedua iris mata yang memandanginya dengan dalam, perlahan-lahan ditundukkan kepalanya untuk mengecup kening Rigel dengan lembut.
“Engh~”Rigel mengerang kecil, kemudian terlelap lebih nyaman.
_o0o_
Rigel bangun dikeesokan harinya, dia mengusak kedua mata kenarinya dengan tangan kanan yang dimelekat sepasang set infus. Entah kenapa, Rigel terdiam sejenak. Tangannya pun diarahkan untuk menyentuh dahinya itu, Rigel mengeryit heran. Kemudian dia menggeleng acuh.
“Uhm~”Rigel meregangkan kedua tangannya, dia merasa jauh lebih baik saat ini.
Click...
Rigel menoleh, dia mendapati Ivan yang masuk keruangannya bersama Aria. Si gadis berkacamata dengan surai merah batanya. Rigel masih diam, tak langsung berbicara.
“Nona Rigel, b-bagaimana keadaanmu?”Aria berucap dengan hati-hati. Dia tahu keadaan Rigel.
Rigel tersenyum “Baik, kebetulan kau datang. Kemari...”Ucap Rigel menepuk-nepuk sisi kosong pada ranjang kasurnya.
Aria langsung memeluk Rigel “Senang, melihatmu kembali nona Rigel.”Ucap gadis muda itu kepada Rigel.
Rigel mengangguk “Terimakasih, Aria...”
Ivan diacuhkan oleh dua wanita cantik ini, Akhirnya Ivan pun memilih duduk di sofa yang ada didekat ranjang kasur Rigel. Dia mendengkus kesal seorang diri.
“Aku baru saja sampai di Den Haag pagi tadi, setelah Jin dan Valentino sudah berada disini tiga hari yang lalu. Misi, kali ini misi kami aneh. Hanya mengawasi seorang komisaris terkenal.”
“Aku... turut sedih dengan hal yang menimpamu nona Rigel, semoga Tuan Jevandres lekas pulih.”Aria, memang cukup akrab dengan Rigel. Dia mengangumi Rigel selayaknya panutan didalam tim. Aria pun mengenggam erat tangan Rigel.
Rigel mengangguk pelan, tidak tahu harus berkata apa. Hanya bisa diam dengan perasaan hancurnya “Aku... masih merasa bosan, maukah kau menemaniku keluar? Aria...”Pinta Rigel kepada Aria. Memandangnya dengan serius.
Aria, jelas tahu tatapan Rigel. Dia mengangguk “Tuan Tristan, bolehkah aku menemani nona Rigel mencari udara segar diluar?”Ucap Aria menatap Ivan dengan tatapan memohonnya yang manis.
Ivan, jadi salah tingkah. Sebenarnya ia melarang Rigel untuk terlalu banyak bergerak atau sampai menemui Jevandres yang ada diruang perawatan berbeda “Iya iya. Asal jangan terlalu jauh.”Akhirnya Ivan mengalah, ia tak bisa disuguhkan tatapan memohon Aria Abraham yang sangat manis itu.
“Serahkan saja padaku, nona Rigel pasti aman.”Aria tersenyum, ia pun langsung meminta kursi roda dari nurse station untuk membawa Rigel. Karena Aria tahu, Rigel pasti masih lemah untuk menggerakkan tubuhnya.
“Kami pergi dulu~”Ucap Aria seraya mendorong kursi roda Rigel.
“...Terimakasih, Aria.”Ujar Rigel yang mengenakan piyama rumah sakit dengan cardigan rajut yang juga menjadi tambahan lapisan pakaiannya. Kedua tangan Rigel dirematkan bersamaan, sebenarnya ia memiliki maksud lain. Hanya Aria yang bisa membantunya.
Aria tersenyum “Ingin menemui tuan Jevandres bukan?”Seru Aria dengan riang, gadis berkacamata itu memang polos namun cukup peka dengan perasaan orang lain. Bahkan sejak mendapat kabar dari Ivan mengenai Rigel, benar hubungan mereka mulai dekat sejak bertemu di bakery milik Ivan beberapa minggu lalu. Aria yang sering bertukar pesan pun akhirnya memutuskan untuk segera menemui Rigel. Anggap saja Rigel sebagai kakak seniornya yang begitu disayanginya.
“Kau tahu? Ah... pasti kalian sudah begitu dekat.”
Aria hanya malu-malu menanggapi perkataan Rigel “B-bisa dibilang begitu.”
“Keluarga kak Jev dan kedua kakakku mulai mencoba menjauhkan kami.”Ucap Rigel tiba-tiba “...Aku tahu, ini demi kebaikan kita berdua. Jika diingat-ingat kembali. Kak Jev sudah dua kali melindungiku, sementara yang kemarin. Pasti seseorang memang sengaja ingin melenyapkannya.”Suara Rigel semakin lirih.
“Jangan dilanjutkan, jika itu memberatkanmu nona Rigel.”Ucap Aria sambil terus mendorong kursi roda Rigel, mereka berbelok menuju koridor rumah sakit “Kami, pasti membantumu untuk mencari pelakunya.”Aria tak tega menatap Rigel. Sosok yang dulunya begitu kuat, tak pernah kenal belah kasihan dan jenius. Malah menjadi begitu rapuh dan lemah “Jangan bersedih lagi, pikiranmu akan mempengaruhi bayi kecilmu nona Rigel.”Aria memengangi pundak Rigel dengan lembut.
“Kita sampai...”Ucap Aria lagi, mereka berada tepat didepan ruang perawatan intensive.
Arcadia Dio disana, bersama seorang dokter yang tampak seusianya. Sepasang iris merahnya membulat menatap Rigel “Sebentar.”Ucap Arcadia Dio dengan nada malasnya. Dia berlari kecil menghampiri Rigel “Bukankah seharusnya istirahat?”Arcadia Dio langsung sedikit berjongkok, menghadap langsung Rigel saat itu.
Rigel hanya menatap Arcadia Dio dengan sepasang iris mata berkaca-kaca, dia mengigit bibir bawahnya. Enggan berbicara.
“Ha~”Arcadia Dio menghela nafas “Yasudah, aku antar menemuinya.”Arcadia mengambil alih untuk mendorong kursi roda Rigel “Terimakasih nona, biar Rigel bersamaku saja.”Ucap Arcadia Dio kepada Aria.
Aria langsung berucap “Seorang kakak pasti sayang dengan adiknya, tuan. Biar dihadang bagaimana pun nona Rigel malah membuat kondisi nona Rigel memburuk. Mereka...”Aria menatap Rigel “Mereka berdua hanya merindukan tuan Jevandres.”Tegas Aria saat itu, bahkan ucapannya didengar oleh tuan dan nyonta Lascelles saat mereka baru saja tiba didepan ruang perawatan intensive.
Arcadia Dio menelisik Aria ‘Pantas saja Ivan sampai suka padanya.’Arcadia Dio tak mampu melihat dosa kedengkian padanya, hati gadis bernama Aria Dio itu hangat dan bersih “Akan kupertimbangkan.”Ucap Arcadia Dio sambil mendorong kursi roda Rigel memasuki ruangan itu.
Setelah masuk kedalam ruangan perawatan intensive, Arcadia Dio dengan jubah pelindung diri lengkap juga memasangkannya pada Rigel “Kau tahu bukan?”Ucapnya.
Rigel mengangguk “Sebentar saja. Dio...”
Arcadia Dio pun paham, dia hanya menghantarkan gadis kecil itu disebelah ranjang Jevandres yang terbaring dengan seluruh alat bantu hidup ditubuhnya “Aku akan meninggalkamu selama lima belas menit, tidak apa-apa?”Arcadia Dio tahu, adiknya ini ingin ‘ruang’ diantara keduanya.
Rigel kembali mengangguk pelan, sepasang kenarinya pun menatap Jevandres serta tak menghiraukan Arcadia yang keluar dari ruangan intensive ini ‘Sudah berapa kali? Berapa kali takdir mempermainkanku. Hey Ira! Sang kemurkaan, kau senang bercanda dengan kehidupanku ya?’Rigel membatin, kedua iris kenarinya bergetar menatap kekasihnya yang tak berdaya itu.
Tubuh kaku Jevandres terbaring, dengan beberapa selang ditubuhnya. Kedua aquamarinenya itu menutup rapat, bahkan begitu rapat. Tak lagi mendekap atau mencium puncak kepala Rigel.
“Kak Jev... Aku tahu kau pasti kuat, kau Ares bukan? Biarpun tubuhmu sama sepertiku, manusia. Pasti kau bisa...”Lirih Rigel sambil meriah tangan lebar itu, kemudian mengecup punggung tangan Jevandres “...Aku rindu padamu, dia juga.”Ucap Rigel sambil membiarkan tangan Jevandres menyentuh perut sedikit bulatnya itu.
“...Aku, tidak akan diam. Kak Jev sudah berbuat banyak padaku, sekarang giliran aku yang berbuat sesuatu untukmu.”
.
.
Bersambung