Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 41 : Did you Gave Everything to Me?



Happy reading


.


.


.


 


 


“Berbesar kepala, aku tak perduli.”Ucap Rigel dengan alis bertautan kesal.


Dia tengah berada disebuah pelelangan lukisan, tadinya bersama Jevandres karena ini agenda formalnya. Namun pria iris biru itu sedang menyapa rekan-rekan kerjanya sejenak, sekaligus mengambilkan Rigel segelas air.


“Oh nona, kami hanya mengomentari. Lagipula dari penampilanmu itu kami tahu hanya dari kalangan orang biasa.”Sekiranya tiga orang wanita bergaun mewah berdiri didekatnya, didepan sebuah lukisan berjudul Brair Rose. Pasalnya ketiga wanita ini tengah menggunjing karya lukisan itu.


“Tahu apa nona ini soal seni?”


“Bahkan tak seperti bangsawan yang harus diundang kemari, fufufu.”


Rigel tersenyum miring, dengan melipatkan kedua tangan diatas perut bulatnya “Setidaknya, pelukis itu mampu menghasilkan sebuah karya dari tangannya. Kalian pun belum tentu dapat melakukannya. Tch, apakah manusia sudah kehilangan empatinya terhadap sesama.”Ujar Rigel sambil melangkah pergi dari sana. Sebelum rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.


“Nona...”


Dia pun menoleh, dari sebuah suara yang terlontar dengan lembut “Terimakasih, pembelaan anda atas lukisan saya yang tak seberapa ini.”Ujar seorang gadis bersurai hitam dan sepasang iris violetnya. Mengenakan gaun berwarna hijau tua dengan senyum yang menggembang manis. Cantik dan murni.


Rigel menyunggingkan simpul senyumannya “Apakah lukisanmu masih bisa kupinang? Nona...”


“Valyria. Namaku Valyria Soga Kinaru, seseorang yang kebetulan melukisnya.”


“Ah, bagus... Mari kita lihat lagi lukisanmu.”Ajak Rigel sambil berjalan bersamaan dengan gadis beriris violet itu kembali ketempat lukisannya diletakkan.


Rigel menunjuk lukisannya “Briar Rose, gadis yang senang tidur. Tapi lihatlah lukisan yang kau buat. Seorang gadis bersurai hitam dengan sepasang mata merah. Begitu cantik, seolah kau ingin mengatakan ‘puteri yang lama terlelap sudah bangun’ begitu?”


Gadis itu tersenyum “Benar, lukisan ini hanya pesan kecil yang mungkin akan saya ucapkan. Jika, terlena dengan dunia pun bukan hal yang baik. Bisa saja selama ini kita dibuat bermimpi indah oleh iblis.”Katanya sambil tersenyum kepada Rigel.


Rigel mengangguk. Dia masih menikmati lukisan itu.


“Saya sangat kagum dengan analisa anda yang begitu tepat nona?”


Rigel memiringkan sebelah kepalanya sambil tersenyum “Rigel, Rigel Wijayakusuma Lascelles.”


Sontak, beberapa wanita yang turut berdiri disana berbisik-bisik riuh. Tahu jika gadis bergaun putih sederhana ini merupakan isteri seorang duke yang berpengaruh.


Rigel mengabaikannya, ketika melihat pria pirang-nya tiba dengan langkah terburu-buru “Sayang, maaf. Meninggalkanmu lumayan lama, bagaimana? Apa kelelahan? Perutmu sakit?”Tanya Jevandres bertubi-tubi.


Rigel menggeleng “Oh iya, aku ingin lukisan ini. Apa boleh?”


“Tentu saja, dengan senang hati akan kutebus untukmu.”Ujar Jevandres sambil tersenyum menatap isteri chubby-nya ini.


Malam itu, setelah pulang dari pelelangan lukisan. Rigel merasa lelah dan mengantuk, dia pun hanya bersandar pada dada bidang sang Lascelles didalam mobil yang mereka naiki. Charlie, yang mengemudi mobil hitam metalik itu.


“Apa kau kelelahan?”Ujar Jevandres sambil mengusap-usap pipi gempal Rigel dengan ujung jemarinya.


Rigel mengangguk “Membawa mereka kemana-mana rasanya berat juga.”


“Eh? Mereka?!”


Rigel menggembungkan pipinya “Salah sendiri, kenapa kemarin malah terlalu sibuk? Iya anakmu ini ada dua jenis kelamin mereka laki-laki. Kembar, itulah mengapa perutku besar. Sibuk saja terus, biarkan aku melahirkan sendiri.”Rigel merajuk masam. Sesungguhnya dia kesal, bahkan kemarin melakukan pemeriksaan bukan ditemani sang suami namun Margareta, pelayannya.


“Aku kan cuman surrogate mom, tapi aku menyayangi mereka.”


Jevandres langsung mendekap tubuh itu “Maaf, maafkan aku lagi. Urusan itu mendadakan sekali kemarin. Maafkan papa ya anak-anak.”Ujar Jevandres pula sambil mengusap-usap perut bulat Rigel, kemudian mengecup seluruh permukaan wajah Rigel “Kau ibunya. Bukan surrogate mom, kau satu-satunya isteriku dan hentikan mengatakan hal itu.”Kini, Jevandres berucap dengan lembut.


“Hm... aku mengantuk.”


Jevandres mendekapnya, sambil mengusap-usap perut bulat Rigel “Tidurlah, kalau sudah sampai akan kugendong kekamar.”


Rigel menatap sayu dan mengangguk. Dia pun memilih untuk tidur.


Selang tak berapa lama, seharusnya Rigel tak mendengar apapun. Namun dalam tidurnya dia mendengar suara decitan mobil yang pilu. Sontak, kedua kelopak mata itu terbuka. Melihat mobil yang mereka kendarai sudah hancur lebur dipenghujung jalan, namun tubuhnya sudah digendong oleh Jevandres yang menatap mobil itu dari jarak yang lumayan jauh. Tatapannya mengarah tajam, dengan kedua iris emas yang menyalang.


“Huh? Charlie! Charlie masih didalam!”Kedua mata Rigel membelalak ketika melihat tangan Charlie terkulai lemas dibangku pengemudi “Jevandres!”Dia melihat suaminya, bahkan suaminya itu terluka dibagian pelipis kanannya. Darah menetes disana.


“Jika aku menyelamatkan Charlie, siapa yang akan melindungimu dari dia.”Ucap Jevandres teramat dingin. Sambil menatap lurus kedepan. Tak berapa lama mobil itu meledak. Menampaki seorang pria yang berdiri disana.


“Ssstttss...”Rigel meringis, perutnya nyeri. Mungkin kedua bayinya tahu jika sang ibu sedang cemas. Rigel tak akan segan jika bukan dalam kondisi hamil, tapi dia harus menahan seluruh kekuatannya demi kebaikan bayi-bayi yang dikandungnya ini.


Jevandres langsung menengok Rigel, setelan jas mahalnya sudah banyak sobekan “Sayang, apa kau baik-baik saja?”Cemas Jevandres, dia tahu. Kehamilan Rigel sudah begitu mature. Bayi-bayi mereka dapat keluar kapan saja.


Rigel menggeleng didalam gendongan Jevandres yang mengangkatnya dengan ringan.


“Yo~ hai adik bungsu kami, Ira sang Red Crimson. Anak kesayangan dada...”Sapa pria seiras dengan Jevandres itu.


“Kau bukan anak dada! Jangan mengaku-ngaku! Kau, hanya bocah manusia yang kebetulan Dada temukan. Jadi, jangan sampai kau menyentuh seujung tubuhku.”Rigel berkata tegas, cincin hitam dijemari manis kirinya pun mengkilap. Jika bukan hamil, Ecru sudah menjadi senjata paling kuat yang akan mendampingi Rigel bertarung dengannya.


Pria itu menyisir rambut pirangnya kebelakang “Oh, Sang kemurkaan sudah berubah lebih lunak ternyata. Adik kecil kami, kau diperdaya oleh wadahku. Bukan begitu Jevandres? Dewa yang meminta menjadi yang tak tertandingi oleh saudarimu Athena. Ingatkah kau memintaku seperti itu?”


Bohong. Rigel memikirkan satu kata itu didalam benaknya, dia tahu sang dosa kesombongan. Hubris Superbia. Bahkan begitu tahu penampilan murninya hanya berupa bayangan hitam yang begitu angkuh. Dia tak memiliki tubuh, seperti keenamnya. Karena Rigel sendiri yang sudah menghancurkan tubuh aslinya “Kak Jev... Semoga yang dikatakan pembual besar itu hanya kebohongan.”Rigel berucap dengan pelan, dia meremat jas hitam Jevandres dengan erat. Tatapannya pun tertunduk, begitu sakit perasaannya.


Jevandres diam tak bergeming, melalui tatapan keemasannya dia melihat Rigel yang memasang raut sendunya. Sepasang iris merah lembayung itu sudah berkata, dia kecewa dan sedih. Atas kesalahan lama seorang Jevandres yang malah tak menduga takdir seperti ini.


“Ayo, dia mengakuinya. Ira. Kau pasti tahu bukan konsekuensinya?”Pria itu boleh saja memiliki rupa dan raga yang sama, namun sikap dan jiwanya berbeda. Angkuh, licik dan menjijikkan.


Rigel semakin meremat jas Jevandres “Aku... berusaha mati-matian agar Ira tetap memiliki perasaannya sendiri, tapi kau—hiks...”Rigel tak menyangka, dia jatuh hati pada aquamarine ini. Kutukannya, sumpahnya dan keinginannya sudah sirna “Jika kau melakukan hal yang sama, JIWA ASLIMU AKAN HANCUR! Bodoh! Apa yang sudah kau pikirkan! Hiks...”


Jevandres menatap sendu, iris emasnya perlahan-lahan berubah menjadi aquamarine. Dia pun beralih menatap pendosa yang sudah melakukan kontrak kepadanya, iblis. Sang pendosa keangkuhan.


“Hahah... adik kecilku yang sangat diperdaya. Ira, kontrak kita berisi aku yang memberikan kekuatan pendosaku kepadanya dan dia yang memberikan kehidupanmu untukku.”


Deg. Dunia Rigel runtuh, masa dan waktunya terhenti. Dia beralih menatap Jevandres yang masih membungkam.


“A-apa?”Tatapnya tak percaya. Sosok yang dicintainya.


“Tch.”Jevandres mendecih pada pendosa gila itu. Dia pun membawa Rigel yang ada didalam gendongannya melompat, begitu tinggi meninggalkan jalanan sepi itu.


Dia berlari dengan cepat dengan Rigel yang ada didalam dekapannya, sudah sejak lama menggunakan kekuatan aslinya. Pada malam yang temaram dengan bulan yang terang, dengan iris emas yang menyalang. Dia membawa Rigel yang membungkam itu pulang kemansionnya.


Keadaan keduanya sudah berantakan, Rigel yang begitu diam didalam gendongan Jevandres dan Jevandres yang menatap sendu isterinya itu. Saat pintu mansion dibukakan oleh Margareta, gadis itu pun tak berkata apa-apa.


Jevandres menaiki tangga kelantai dua, tiba dikamar dan meletakkan Rigel diatas ranjang kasur. Tatapannya sendu dan datar, namun ia bergerak untuk membukakan sepatu flat yang Rigel kenakan. Kemudian keluar dari kamar.


Rigel yang mematung, tampak diam dengan tatapan kosongnya. Dia sedang terguncang, dengan wajah sembab sehabis menangis.


Jevandres kembali tiba dengan wadah berisi air hangat beserta dengan handuk, dia yang sudah mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sesikunya. Mulai membukakan baju Rigel, mengelap tubuh itu hingga bersih. Bahkan sempat merasakan tendangan samar dari perut buncit itu. Setelah menggantikan Rigel dengan setelan piyama, dia duduk dipinggiran ranjang tanpa berkata apapun.


“Kapan?”Akhirnya Rigel bersuara. Namun suaranya kecil dan lirih.


Jevandres menatap iris merah lembayung yang sedih itu, kelopak mata bawahnya memerah akibat sehabis menangis “Sudah begitu lama, maaf... bahkan maaf pun tak bisa menggantikan apapun.”Ujar Jevandres sambil membelai wajah cantik itu.


Rigel menggeleng, dia meraih tangan lebar Jevandres “Itu fatal, aku Adonis. Tapi Ira begitu baik, dia tak mau menguasai tubuh ini. Memberikan kekuatannya tampa pamrih, namun jika Hubris. Kenapa kau lakukan itu?”


“Tenanglah, ketika itu tiba. Kau tinggal membunuhku bersamaan dengan Hubris yang ada didalam tubuhku. Rigel...”


Rigel menggeleng, dia yang awalnya berbaring. Langsung duduk dan meraih tubuh Jevandres kemudian memeluknya “Jangan...”


Jevandres mengusap puncak kepala itu “Kita tak punya pilihan lain, membiarkannya hidup malah akan menghancurkan dunia ini. Duniamu dan dunia tempat anak-anak kita tumbuh kelaknya.”


“Kau bodoh! Hiks...”


“Iya, maafkan aku... maaf aku amat mencintaimu. Kumohon Rigel, lakukan hal itu jika saatnya tiba. Demi anak-anak kita... Semuanya, semuanya akan kuberikan padamu. Jadi kumohon. Jangan ragu melakukan itu.”Jevandres menangkup wajah Rigel. Dia melihat wajah memerah padam yang penuh dengan linangan air mata itu.


“Hiks, bodoh! Hiks...”Malam itu, Rigel meraung dengan tangisannya yang kencang. Pada akhirnya, kutukannya tetap harus dilakukan. Entah bila, saat itu hadir. Hanya menunggu waktu yang berbicara.


.


.


.


.


 


 


Bersambung.