
Happy Reading
.
.
.
Maret 2017, Seoul
Senja yang nyaris melahap biru, perlahan menggilir gradiensi merah lembayung. Langit tengah tenang sore ini. Hujan pun baru usai mengguyur, udara masih terasa dingin. Terdapat langit dan tanah pijakan bumi, jalan yang dilalui para pejalan kaki yang baru usai bekerja dalam perjalanan pulang, ada pun anak-anak sekolah atau orang kantoran pada kendaraannya masing-masing. Ditengah kota yang menjelang malam, riuh bunyi klakson berlomba-lomba didalam kemacetan. Pencakar langit yang menjulang tinggi mulai menampaki lampu perlip, padahal rona senja saja masih ada. Pemandangan khas kawasan urban.
Setiap trotoar dengan ruko-ruko yang berdempetan, tak jarang banyak yang menapaki jalannya. Bersama dengan kisahnya masing-masing, berlalu lalang tanpa perduli kisah orang lain.
Ada seorang gadis yang hidup bersama kisah riuhnya sendiri. Dia hanya melangkah dengan jalan yang sama, menapaki tepian trotoar seraya berbelok untuk menyeberangi jalan. Menunggu lampu lalu lintas mengizinkannya melintas, kemudian menyeberang bersama segerombolan pejalan kaki lainnya. Sungguh kehidupan biasa yang dijalaninya.
Gadis bersurai hitam itu berjalan mengikut pejalan kaki lainnya, untuk menyeberangi jalan raya seraya menenteng case berbentuk lekuk gitar. Sama seperti individu lainnya, dia turut memiliki kisahnya sendiri.
Dari sorot matanya yang tajam, iris mata merah dan kenari yang berlainan itu menatap lampu jalan yang sudah kembali merah. Kini dia melihat giliran kebanyakan kendara roda empat yang melintas tepat didepannya. Tangan kanannya kini sudah beralih merogoh saku jaket hitamnya, dia merogoh benda kotak pipih itu untuk melihat layar yang memantulkan cahaya sesaat. Kemudian segera beralih menatap seorang wanita yang tengah berjalan diseberangannya, simpul senyuman tipis tampak dari sunggingan bibir ranumnya.
“Ketemu...”Ucapnya dengan singkat.
Sebelumnya...
.
.
.
Secarik kertas yang dipegangnya nyaris sobek, kedua tangan yang terkepal menahan amarah namun raut pada paras cantik itu hanya terdiam tenang. Sepasang iris berlainan warna yang unik miliknya menatap lurus kedepan, surai hitam panjang tergerai begitu saja, dan ia tengah merasakan sakit hati.
Seorang gadis diusianya akan tampak biasa merasakan ketertarikan pada lawan jenisnya atau bahkan membangun sebuah hubungan dengan seorang pemuda. Sayangnya, pada saat ini dia tengah dihadapkan oleh realita kehidupan.
“Tch.”Ia mendecih saat mendapati pemudanya itu tengah berjalan dikoridor fakultas bersama gadis lain sembari menggengam tangan mereka satu sama lainnya.
Apakah itu yang membuatnya kesal? Tentu saja. Gadis itu memilih untuk acuh berlalu, belum usai tentang secarik kertas tadi yang berisi tentang penerimaan beasiswa. Niat hati ingin memberitahu sang kekasih kabar baik ini, tapi kini perasaan sudah usai setelah menatap sendiri sang kekasih yang melesat dengan mesranya bersama gadis lain.
“Rigel...”Panggil seseorang. Suara hangat dengan baritone beratnya.
Gadis itu pun menoleh, dia mendapati seorang pemuda berdiri tak jauh darinya. Simpul senyuman pun tersungging, lengkap dengan lubang kecil dikedua pipinya. Dimples. Sungguh manis dan rupawan secara bersamaan.
“Rigel, kau kenapa diam saja disana?”Ucap pemuda itu yang kini berjalan mendekatinya.
Gadis itu mulai kikuk, dia pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal “Tidak. Tidak ada apa-apa.”
Rupanya pemuda itu turut canggung, karena jeda diam diantara keduanya cukup lama. Dia pun mengusak surai blondenya. Sesekali tersenyum simpul, lagi-lagi menampaki sepasang lesung pipinya “Tumben, tidak bersama Theo?”Tanya pemuda itu dengan kekehan singkatnya.
Gadis itu teringat kembali akan beberapa menit yang lalu, ketika dia melihat sang kekasihnya itu melesat dengan gadis lain. Dia hanya sanggup tersenyum kecil “Tidak tahu. Mungkin bersama kekasihnya.”Ucap gadis itu, apa yang dikatakannya tak salah. Mereka hanya sering bersama, menjalin hubungan bersama namun tanpa ada seorang pun yang tahu. Atau lebih tepatnya Theo tak ingin semua orang tahu hubungan mereka.
“Kau baik-baik saja, Rigel?”
Gadis itu mengangguk pelan “Iya kak, aku baik-baik saja.”
“Ah... tampaknya Rigel kita ini, berhasil lolos beasiswa?”Ujar pemuda itu seraya melirik secarik kertas yang dipegang oleh tangan mungil sang gadis.
“Selamat!”
“A... ini, iya terimakasih!”
“Sebagai ucapan selamat dariku, bagaimana kalau kita makan siang bersama?”
Gadis itu menatap ragu, dia tak menginginkan kebaikan dari orang lain kepadanya “Kurasa tid—“
Seharusnya dia bertindak sedikit keras kepala agar bisa menolak ajakannya, tapi pemuda itu sudi untuk loyal kepadanya. Dia memesan makanan dengan jumlah yang tak sedikit. Cukup menggiurkan, apalagi potongan ayam goreng yang dibaluri saus pedas dengan taburan wijen diatasnya “Kuharap kau tak takut gemuk.”Canda pemuda beriris aquamarine itu kepadanya.
“Sayangnya, aku ini tak perduli soal itu. Kata ibuku tidak boleh menyia-nyiakan rezeki karena itu tidak baik.”Rigel tak membalas candaan pria itu, dia malah berkata benar apanya. Dia tak boleh menolak kebaikan orang lain. Terutama pemuda manis ini. dengan senyuman, Rigel mengambil sumpit yang ada didekat tangannya kemudian menyumpit potongan ayam itu kedalam mulutnya. Setelah sensasi manis, gurih dan pedas itu menyatu dalam indera pengecapnya, gadis berlainan iris mata ini membulatkan kedua matanya “Enak.”Komentarnya sembari memakan potongan ayam lain.
“Sampai saat ini aku tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi kak.”
Pemuda manis itu segera menanggahkan tatapannya, beralih menatap gadis kecil didepannya ini “Ah iya... kamu adik kelasku saat SMA, sekarang kita ketemu lagi di Seoul dengan universitas yang sama denganku mengajar. Aku sempat terkejut melihatmu pada saat penyambutan mahasiswa baru.”Pemuda itu terkekeh pelan sehingga gigi gingsul pada deretan giginya tampak, lagi. Pemuda itu menebar pesona manisnya.
Beda halnya dengan gadis manis yang sedang menunduk ini. Dia tengah menahan debaran pada dadanya sendiri “S-sudah empat tahun yang lalu ya?”Ujar Rigel penuh kehati-hatian.
“Tunggu, Mengajar. Apa jangan-jangan?”Rigel menatap pria beriris aquamarine ini “Apa kak Jevan mengajar disini?”
“Benar, sampai sekarang aku juga tak menyangka masih bisa bertemu denganmu.”
Rigel mengangguk pelan, dia tiba-tiba saja mengingat sendiri masa SMAnya “A...aku minta maaf...”Lirih Rigel dengan pelan.
“Emangnya kamu salah apa denganku?”
“Aku...”Ucapannya terhenti ketika ponselnya bergetar, dia pun merogoh saku celananya kemudian menatap layar pipih itu sesaat “Ternyata aku masih memiliki kelas kak.”Kata Rigel menatap pemuda itu dengan ragu-ragu
Segaris senyuman kecewa tampak dari tampang yang rupawan itu “Tidak apa-apa...”Ujarnya mencoba untuk mengerti “Tapi lain kali kita akan makan siang bersama ya?”Lanjutnya tanpa nada memohon tapi, malah dengan tatapan yang serius. Semoga dengan tatapan ini gadis manis didepannya turut mematuhinya.
Rigel membalas mengangguk “Tentu, terimakasih banyak kak atas makanannya.”Andai saat itu Rigel bisa melanjutkan kata-katanya, sungguh pertemuan yang teramat singkat. Tapi dia rasa tak masalah.
Ketika Rigel melihat pemuda itu membalas dengan senyuman. Rasa tak nyaman hati sedikit berkurang, Rigel sadar dia sudah tidak sopan meninggalkan orang yang mengajak makan siang. Tapi terpaksa, kali ini Rigel harus tega melakukannya kepada pemuda manis itu. Biar bagaimana pun pemuda itu kepingan dari kisah masa lalunya ketika sekolah menengah atas. Cinta pertamanya lebih tepat.
Rigel berjalan tergesa-gesa keluar dari restoran itu, walaupun pertemuannya dengan pemuda manis itu terasa singkat. Ketika tiba diluar restoran itu hari sudah mulai senja yang nyaris melahap biru, hingga perlahan menggilir gradiensi merah lembayung mulai tampak. Langit tengah tenang sore saat ini.
Rigel menghela nafas “Sungguh, kali ini boss tak biasanya memberi perintah dadakan.”Bibirnya mengerucut maju, Rigel merasa kesal karena ‘kencannya’ terganggu. Ia pun berjalan seraya tak henti-hentinya menggerutu seorang diri.
Kali ini, ponselnya kembali bergetar menampakkan sebuah panggilan. Dengan cepat gadis itu segera menyambungkan panggilannya.
Langkahnya terhenti tepat ditepian trotoar didepan sebuah lampu jalan yang memerah itu, masih menempelkan ponsel pada telinganya “Baik. Segera menuju lokasi target berada.”Ujarnya seraya mengakhiri sambungan telepon itu.
Setelah itu dia mendecih sebal, kemudian menendang kerikil batu yang kebetulan ada didepannya “Menunggu itu hal yang menyebalkan.”Dengan gerakan mata yang memutar malas melirik keseluruh pengguna jalan yang menunggu lampu lalu lintas menghijau “Mana sih?! Aku sudah mengatakannya lima belas menit yang lalu?”Ketus Rigel.
“Code name?”Ujar seseorang yang tiba-tiba ada berdiri disebelahnya.
“Cadas.”Sahutnya singkat seraya mendengkus dengan kesal.
“Aku kagum kau bisa menyadariku, semoga misimu berhasil. Berhati-hatilah kali ini.”Orang itu menyerahkan tas case berbentuk lekuk gitar.
“Tch. Kau pikir aku pernah gagal? Tidak akan pernah, apalagi bayaran klien kali ini sangat besar.”
“Terserah kau saja. Kalau begitu, kita berpisah disini.”
Rigel segera meraih case tas gitar itu. Kali ini dia menanti dengan sabar lampu lalu lintas, untuk mengizinkannya melalui, lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Dia pun kemudian menyeberang bersama segerombolan pejalan kaki lainnya. Sungguh kehidupan biasa yang dijalaninya. Gadis bersurai hitam itu berjalan mengikut pejalan kaki lainnya, untuk turut menyeberangi jalan raya seraya menenteng case berbentuk lekuk gitar. Sama seperti individu lainnya, dia turut memiliki kisahnya sendiri.
Dari sorot matanya yang tajam, iris mata merah dan kenari yang berlainan itu menatap lampu jalan yang sudah kembali merah. Kini dia melihat giliran kebanyakan kendara roda empat yang melintas tepat didepannya. Tangan kanannya kini sudah beralih merogoh saku jaket hitamnya, dia merogoh benda kotak pipih itu untuk melihat layar yang memantulkan cahaya sesaat. Rigel kembali fokus pada jalan yang tengah dilewatinya, sepasang iris berlainan warna itu menatap setiap orang yang berlalu lalang. Tampaknya petang ini aktivitas kota cukup ramai, deru kendaraan roda empat menjadi sorot tatapannya setelah mengekori gerakan seorang wanita muda yang tengah berjalan diseberangannya, bagai memenangkan lotre,raut senangnya sudah menampaki simpul senyuman tipis yang tampak dari sunggingan bibir ranumnya.
“Ketemu...”
.
.
.
Bersambung