
Happy Reading
.
.
.
Ironi rasanya. Sambil mengunyah semangkuk berisi buah strawberry, Rigel dengan nyaman duduk seorang diri pada sebuah balkon dilantai dua mansion megah ini. Menghadap tepat ke kebun bunga halaman belakang, kini dia tengah mengingat-ingat terdahulu.
“Kalau diingat-ingat, dulu aku sempat frustasi karena mengandungmu. Maaf ya.”Rigel berkata sendiri. Seolah tengah berbicara dengan bayi kecil yang dikandungnya itu.
“Hap.”Rigel memasukkan buah strawberry itu dan mengunyahnya.
Angin bertiup dengan dingin, pada hamparan langit gelap dengan bulir-bulir bintang yang melimpah ruah. Rigel hanya mengenakan piyama kemudian melapisi piayamanya dengan sweater berwarna cokelat muda dengan logo polar bear yang sangat imut.
“Rigel, disini ternyata.”Suara baritone berat itu berasal dari belakangnya.
Rigel. Si manis itu menoleh, mendapati pria bertubuh atletis dengan piayama dan jubah tidur berwarna biru tuanya. Rambut pirangnya masih basah, sehabis mandi. Rigel melihat sepasang iris aquamarine itu menatapnya dengan teduh “...Hehe, sedang ingin makan strawberry. Apa kau mau?”Tawar Rigel dengan gamplang.
Jevandres itu terkekeh pelan. Semenjak mengenal Rigel, dia lebih sering berekspresi. Dia menyukai Rigel yang seperti itu. Gadis yang memperlakukannya dengan seperti biasa, bukan seperti seorang Lascelles terhormat.
“Aku ingin mencobanya.”Ujar Jevandres sambil mendekati Rigel.
Disangkanya, Rigel sudah menyodorkan satu buah strawberry. Hendak menyuapi sang blonde sexy itu, namun dia malah dicium oleh Jevandres dengan singkat. Rigel sampai menganga. Melongo tak percaya, mematung mencerna hal yang sudah terjadi kepadanya.
“Manis.”Komentar Jevandres tersenyum dengan jahil.
Jevandres meraih tangan kanan Rigel, mengecup punggung tangan itu dengan pelan “Aku ingin kau tinggal bersamaku, bukankah itu lebih memudahkanmu. Rig?”Ujar Jevandres.
Rigel meletakkan mangkuk berisi strawberry itu diatas nakas meja, yang ada didekatnya. Dia pun beranjak berdiri melangkah mendekati pria pirang itu “Aku mau saja, asalkan kebiasaanmu menerima tamu dimalam hari sudah dihilangkan?”Rigel menyunggingkan senyumannya.
Sekali lagi Rigel, berhasil menebak pria itu.
“Haha... Maafkan aku.”Jevandres tertawa, gadisnya itu sungguh menarik.
Rigel membuka pintu kamarnya “Atau harus aku yang mengusirnya?”Rigel tak marah, sebaliknya dia berucap dengan santai.
Jevandres berjalan mendekati Rigel, kemudian merangkul pinggang berisinya itu dengan pelan “Tuan rumah harus menyambut tamunya dengan baik, bukan?”Elak Jevandres, dia memicingkan kedua iris aquamarinenya. Mencoba menguji gadis berpipi gempal itu.
“Heee~ Tamumu yang kumaksud ini, yang satunya loh. Tamu-tamu nakalmu, sa-yang-ku.”Nada bicara Rigel sedikit mengejek, dia pun menuruni tangga lebih dahulu.
Baru saja berada dipertengahan, Rigel terkekeh memandangi seorang wanita cantik bersurai pirang yang tengah duduk diruang tamu “Ah~ pantas saja Margareta terkejut dengan interaksiku terhadap Jevandres. Wanita-wanitanya saja berkelas, woah...”Rigel membatin. Dia pun tak ingin ikut campur, hanya turut tersenyum sambil melintasi ruang tamu itu untuk menuju kamar awalnya. Benar, Rigel telah mendatangi kamar Jevandres dengan semangkuk strawberrynya. Tadinya ingin sekedar bermanja, namun semua itu diuruangkan.
Margareta tampak panik saat melihat Rigel, dia yang terbiasa dengan ‘tamu-tamu’ Jevandres hanya ingin menjaga perasaan Rigel yang baru menuruni tangga saat ini.
“A-ah... selamat malam Nona, a-apa anda ingin tidur, ayo mari Margareta antarkan.”Ujar Margareta sesekali melirik wanita cantik yang mengenakan make up glamor itu.
Rigel menggandeng tangan Margareta dengan santainya “Margareta, tak perlu gelagapan. Aku sudah tahu, dia wanitanya Jevandres bukan?”Ujar pelan Rigel tepat disamping telinga Margareta.
“Uh-um... Maaf nona. B-benar. Dia yang paling sering kemari.”
Rigel mengangguk “Dugaanku benar, wajar saja. Sudah sejak dahulu kala pria itu begitu.”Yang dimaksud Rigel ini adalah Ares. Memang Ares sangat mencintai Aphrodite sekalipun dia bukan pasangan tetapnya, tapi Rigel yang terlanjur mengetahuinya tak ingin ambil pusing. Ada rasa cemburu, namun dia juga tengah menguji Jevandres.
Senyumannya memiring tipis “1...2...3...”Rigel berhitung.
“Eh?! Kenapa berhitung nona?”
“4... 5... 6... 7... 8... 9...”
“RIGEL. Siapa yang menyuruhmu tidur tanpaku, sayang?”Suara baritone bernada posesif itu terdengar.
Rigel tersenyum puas “Lihatkan? Dia pasti memanggilku.”
Rigel pun membalikkan tubuhnya, dia kembali berjalan menuju ruang tamu. Menatap sang suami yang duduk disofa dengan menyilangkan kakinya, sendal rumahan itu pun tampak dikenakan Jevandres yang keseringan mengenakan sepatu mengkilap bersamaan penampilan formalnya.
“Memanggilku, Kak Jev?”Rigel sengaja berlagak polos. Dia pun hanya berdiri.
Jevandres memasang tampang malasnya kepada wanita cantik bersurai pirang itu “Lihat? Isteriku sedang hamil, bukankah sudah kuputuskan kontrak denganmu?”Dia berucap dengan dingin.
“T-tidak mungkin? Tuan bukankah berjanji hanya mencintaiku saja?!”
“Ah, mulai lagi.”Rigel memutarkan kedua bola matanya dengan malas.
Jevandres hanya menyeringai kecil “Ketahuilah posisimu Nona Wilson, jika bukan anak dokter Wilson. Aku sudah menolakmu dengan tidak toleran.”
“K-kita pernah menghabiskan malam bersama!”
Rigel. Dia tersentak, biarpun sudah menduga. Namun mendengar penuturan wanita itu cukup membuatnya sesak, tanpa dia sadari. Dia sudah menundukkan kepala dan tatapannya, menatap perut buncitnya dan juga karpet mahal yang tengah dipijaknya. Kedua matanya terasa panas, walaupun logikanya sudah memperkirakan seluruh adegan yang akan terjadi. Perasaannya pun diawal sudah siap dengan mantap.
Kedua tangannya dirematkan satu sama lain, sementara keributan itu sudah tak didengarnya. Atau lebih tepat, menulikan semua pernyataan wanita itu bahkan untuk seluruh wanita yang mengaku mencintai prianya.
Rigel justru mengingat kejadian itu, nostalgianya terhadap wanita lain yang sempat menjalin kisah cinta mirip sepertinya “Lakukanlah, karena hanya kau satu-satunya orang yang bisa membebaskanku dari belenggu cinta ini.”Terngiang ucapan Binary kepadanya, ucapan lama yang ditujukan untuk sosok yang amat dicintainya juga.
“..Rig?”
“Rigel.”
Kedua tangan yang dirematkannya itu sudah digenggam oleh tangan lain yang lebih besar dan hangat “Aku sudah memanggilmu untuk ketiga kalinya, apa perutmu sakit? Mana yang sakit, katakan kepadaku?”Ujar Jevandres khawatir.
“Eh?! K-kemana wanita itu?”
“Sudah Charlie antar keluar dari rumah ini.”
“Begitu...”Rigel menyahut seadanya. Tatapannya mulai ragu, untuk melangkah mundur pun terlambat. Pasalnya Jevandres, tak akan melepaskannya semudah itu.
Rigel menanggahkan kepalanya, menubruk langsung tatapan aquamarine itu “Kita juga belum menikah, jadi belum terlambat. Kau bisa memutuskannya sesukamu.”Rigel mencoba mengatakan pertanyaan terburuknya. Biarpun dia tahu, Jevandres akan menolaknya dan kembali menyakinkan diri untuk seorang Rigel jika dia tak akan berkhianat. Rigel sudah menduga, hanya kembali mengujinya.
Sebelah alisnya menukik keatas. Dia menatap Rigel dengan berbagai raut yang tertahan, namun rasa kecewanya lebih mendominasi. Tampak menahan amarah “Kenapa, kau sulit mempercayaiku?”Ujarnya dengan dingin.
“Eh?!”Rigel tak menyangka, dugaan malah salah.
“Kau senang menguji kesabaranku rupanya, apa kau rindu dengan atraksiku dimedan perang? Apa kau ingin dikasari agar percaya?”Sepasang iris aquamarine Jevandres berangsur-angsur berubah keemasan.
Rigel terkekeh tak menyangka pria itu tersulut amarah juga “Aku memang tak mempercayaimu.”Rigel melipatkan kedua tangannya didepan dada, bersidekap dengan perut buncitnya.
“Sudah kukatakan, aku tak pernah menyukai orang lain selain kau. Rigel.”Jevandres mengehela nafas dengan panjang. Seharusnya dia sudah paham dengan sifat Rigel yang memang suka ‘memberontak’ dan ‘tak bisa diatur’ ini. Sejak awal Rigel memang sulit ditaklukkan.
Rigel. Secara tidak sadar, menekan naluri aura kemarahannya. Kedua iris mata merah lembayungnya turut menampaki kilatan murka, namun wajahnya berraut tenang. Begitu kalem dan tenang.
“Apa kau ingin memberikan pembelaanmu, Jevandres?”
“Jika kau bis—akh!.. aduh... duh...”Rigel meringis, perutnya terasa berputar-putar. Tampaknya bayi kecil mereka mencoba menghentikan pertengkaran ayah dan ibunya.
Jevandres langsung memengangi kedua tangan Rigel, membopong tubuh itu agar duduk disofa ruang tamu “Iya iya. Papa minta maaf, sudah nakal. Jangan siksa mommymu lagi ya?”Jevandres seolah mengerti. Dia pun mengusap-usap lembut perut Rigel yang dirasa sangat terik.
“Ugh...ha...”Rigel hanya mengatur nafasnya, merasakan sakit diperutnya berangsur-angsur mereda dengan ajaib seiring dengan sentuhan yang Jevandres berikan “Kadang, aku tak mengerti interaksimu dengan mahluk kecil ini.”Jika sedang kesal, Rigel akan menyebut bayi yang dikandungnya dengan ‘Mahluk kecil’ ini.
Jevandres tertawa canggung “Haha... sama keras kepalanya sepertimu.”Sarkas halus Jevandres.
“Ingin kembali bertengkar?”Rigel memicingkan kedua matanya.
“Yang Mulia?”Itu suara Ecru yang memanggil pelan, dia yang berada digendongan Charlie mengucek-ngucek matanya yang sayu “Kenapa?”
Dibandingkan dengan dirinya, Rigel jauh lebih khawatir dengan panggilan Ecru terhadapnya “Ahaha... Charlie? Apa menjemput Ecru diperpustakaan? Yah... anak kecil suka bermain raja dan ratu, kurasa dia terlalu mengantuk sampai meracau dengan asal. Iyakan, Ecru?”
Ecru mengangguk dengan wajah kantuknya “Maaf, mama...”Beruntungnya Ecru pandai menyesuaikan.
“Tidak masalah Nyonya Lascelles, tuan muda Ecru tampak mengantuk diperpustakaan. Izinkan Charlie menghantarnya kekamar.”Ujar pria paruh baya itu.
“Tentu, tolong Charlie.”Jevandres menyahut.
“Apakah ibunya ingin dihantarkan tidur juga? Atau ditemani tidur?”Bisik Jevandres terhadap Rigel.
Rigel memalingkan wajahnya “Benar, hukumanmu. Gendong aku juga sampai kekamar kemudian usap-usap kepalaku sampai aku tidur!”
“Iya-iya. Akan aku lakukan, Yang Mulia.”Ledek Jevandres sambil mengangkat tubuh Rigel.
“Cepatlah! Apa tenagamu berkurang karena semakin tua?”
“Iya iya.”
Pertengkaran kecil itu dilihat oleh Margareta dan beberapa maid yang tak sengaja berpas-pasan dengan Charlie. Mereka melihat interaksi keduanya yang unik.
“Mansion Duke Lascelles lumayan ramai ya?”Ujar Margareta.
“Benar, lama ditinggalkan dengan sepi. Sekarang tiap hari akan ramai dengan suara nona Rigel. Nona, benar-benar gadis yang unik, sangat hidup.”
“Ah Selama malam tuan Charlie. Menghantar tuan muda?”
“Benar, tuan muda sudah tertidur.”
“Ah, lucunya. Wajah tertidur tuan muda Ecru begitu polos.”
“Kalau begitu permisi, selamat malam.”
.
.
Bersambung