
.
.
.
Cincin dengan bandul batu rubi, berwarna merah lembayung seperti sang empunya jari manis. Menatap dengan haru, akan sosok pria bersetelan jas putih yang ada didepannya itu. Keningnya terasa dikecup pelan, penuh dengan cinta.
“Terimakasih... Terimakasih Rigel. Rigelku, dan milikku.”Ujarnya kepada Rigel yang mengenakan gaun putih panjang, biarpun tengah hamil besar. Dia tetap cantik.
Rigel mengangguk, dengan kedua mata yang berkaca-kaca “Hm~ aku juga. Jevandresku, milikku.”
Hari itu, pagi yang cerah. Mereka berdua baru usai melangsungkan pernikahan yang sederhana. Walaupun hanya dihadiri oleh keluarga dekat, biarpun awalnya mengatakan semua kebenaran itu akan menjadi lelucon bagi keluarga besar Lascelles, terlebih dengan keluarga Aristolochia yang tak datang. Mereka tampak menghindar dengan berbagai alasan, memang begitu aneh semenjak anak bungsu Aristolochia itu meninggal. Tapi bukan Jevandres jika tak bisa menyakinkan keluarga besar Lascelles, jika keluarga Carlin. Mereka sudah tahu anak-anak mereka memang bukan manusia ‘biasa’. Bagi Rigel yang ada ditubuh Binary, kini dia dia pun resmi menjadi isterinya Jevandres Altair Lascelles.
Memang tak berlangsung lama, Rigel sudah begitu kelelahan. Mereka berdua pun pulang diantar oleh mobil yang dikendarai oleh Ivan dan Arcadia, kedua pendosa ini tentu sudah mengetahui semuanya dari Rigel. Mereka memang sudah menduga, hanya menunggu Jevandres mengatakan dengan sendirinya.
Ivan melirik pada kaca mobil yang memantulkan Rigel yang tidur dengan nyaman dipangkuan Jevandres dibangku penumpang “Kami, akan menjaga Rigel beberapa hari ini. Semoga kau tak terganggu. Adik Ipar.”Ivan sengaja menekan ucapan terakhirnya.
“Ivan, Rigel akan sedih jika kau terus begitu...”Berbeda dari Ivan, sejak awal Arcadia memang sudah mendukung apapun pilihan Rigel. Termaksud pria yang dipilih dicintainya ini.
Ivan menghela nafas “Terus, kapan kau akan memberikan wadahmu?”
Jevandres memandangi wajah pulas Rigel “Rigel akan sedih jika mengetahuinya, kebetulan hari itu terjadi lusa. Seperti kata dokter kandungan Rigel, anak-anak kami pun akan dilahirkan lusa.”Jevandres membelai surai hitam itu dengan pelan “Aku tak bisa menemani Rigel dihari yang amat kunantikan itu, maka dari itu Invidia dan Arcedia. Semoga kalian berkenan untuk menjagakan Rigel disaat kelahirannya, setelah Hubris Superbia bisa kukendalikan. Hidup dan jiwaku, akan kuserahkan kepada Rigel...”Ujarnya memandang sendu tubuh kecil yang hamil besar itu, dia juga mengusap-usap pelan perut Rigel.
“Anak-anak papa, jangan nakal dengan mommy kalian ya. Papa mencintai kalian semua, sampai kapanpun.”Ujar Jevandres.
Hal itu dilihat oleh Ivan dan Arcadia. Mereka berdua saling melirik satu sama lain, tanpa diminta pun mereka akan mengaja Rigel dan keponakan mereka.
“Kami akan melakukannya tanpa kau minta.”Celetuk Ivan.
Arcadia menoleh dengan tersenyum kecil “Rigel, dia akan kembali untuk mengambil kehidupan dan jiwamu. Agar kutukannya dan saudara tertua kami sama-sama sirna, demi melindungi anak-anak kalian, apa begitu tuan Lascelles?”
Jevandres mengangguk “Seluruh kehidupan Rigel dan anak-anak sudah menjadi tanggung jawabku. Ini, kutitipkan surat ini kepadanya. Isinya kunci berkas-berkas penting, aset dan beberapa pesanku untuknya. Dokter Dio, berkenankah untuk menyampaikannya ketika aku sudah pergi?”Jevandres memberikan amplop cokelat kepada Arcadia.
“Tentu, Tuan Lascelles.”Pria beriris merah itu menerima amplop cokelat yang Jevandres berikan.
“Terimakasih banyak...”Jevandres hanya menatap Rigel dengan sendu.
.
.
.
.
.
.
“Ivan... Syukurlah!”Gadis bersurai merah itu berlari kearah prianya, dia menghamburkan pelukan teramat erat “Ivan, rindu.”Gumamnya dengan malu-malu.
Ivan Tristan, pendosa kedengkian, cemburu dan iri. Turut membelai surai merah lembut gadis bermata emerald, yang sudah menjadi kekasih fananya selama setahun ini “Oh iya, Rigel ada diruangan perawatan.”Ujar Ivan.
“Eh iya, kalau begitu aku menemui nona Rigel ya.”Seru gadis bergaun selutut cream peach itu sambil tersenyum sumringan, dia sempat mengecup pipi Ivan dulu “Bagaimana? Apa bayinya sehat?”Ujar Aria menggandeng Ivan untuk berjalan bersamanya.
Ivan bersemu samar “Bayi kembar laki-laki, lucu dan sehat.”
“Ah... aku ingin punya satu juga.”Aria berkata dengan polos, sambil tetap menggandeng pria bersurai perak yang diikat ekor kuda itu “Eh? Maksudku bayi itu lucu.”Aria terkekeh pelan.
Ivan turut menyunggingkan senyumannya “Jika ingin satu kenapa tidak bilang? Aku dengan senang hati menjadi ayahnya.”
Blush. Aria memerah sempurna “A-anu... Nanti saja, b-bahas hal itu.”Aria memalingkan wajah memerahnya.
Saat tiba didepan ruangan itu, Ivan yang membuka gagang pintunya. Disana sudah berada Rigel yang sedang menimang bayi kecilnya. Sementara bayi satunya lagi sedang tidur dibox bayi yang ada disebelahnya.
“Eh! Aria...”Sapa Rigel tersenyum dengan manis. Rigel semakin cantik, bahkan begitu cantik.
Aria sudah menatap gemas bayi kecil yang menggeliat dalam timangan Rigel, sementara bayi yang lain tengah tidur dibox bayi. Kedua bayi itu memiliki perpaduan kedua orang tuanya yang begitu seiras, tampan dan lucu “Hai! Tampan sekali, hihi menggemaskannya.”Aria berucap sambil menyentuh pipi gempal bayi itu dengan ujung jemarinya.
“Lucu bukan? Namanya, Caleb Nawasena Lascelles dan yang tidur itu Calleriu Natasena Lascelles. Halo aunty Aria...”Ucap Rigel sambil menggoyang-goyangkan tangan mungil bayinya kepada Aria.
Aria biar bagaimana pun dapat melihat tatapan sendu itu. Dia sudah tahu semuanya dari Ivan, bahkan Aria baru memiliki kesempatan untuk menemui Rigel di Indonesia. Dia sengaja menyembunyikan keberadaannya lagi dari Jevandres Altair Lascelles. Atas permintaan Jevandres itu sendiri.
“Nona Rigel apakah aku boleh menggendongnya?”
Rigel tersenyum, dia pun memberikan bayi kecil itu untuk Aria gendong “Pegang erat bagian kakinya, yah begitu... kepalanya biarkan pada lenganmu.”Rigel bahkan mengajarinya dengan baik.
“Mau istirahat? Tampaknya Caleb juga sudah kenyang sampai tenang begitu?”Tawar Ivan kepada Rigel.
Rigel menggelengkan kepalanya “Bagaimana? Dia masih belum mengetahui keberadaanku, bukan?”
Ivan mengangguk “Tenang saja, aku dan Arcadia akan melakukannya dengan baik. Dirimu dan bayi-bayi ini akan aman-aman saja.”
Rigel menggeleng, dia mengusap-usap cincin hitam pada tangan kirinya. “Aku tak akan menundanya, tapi aku sedikit ingin hidup lebih lama.”Ujar Rigel menatap bayi yang digendong Aria. Tatapannya sendu, Rigel melalui masa melahirkannya seorang diri. Setelah mengetahui pahitnya kenyataan itu.
Bayi yang digendong Aria menggeliat tak nyaman, kedua kelopak mata merah lembayungnya terbuka dengan berkaca-kaca kemudian menangis dengan nyaring. Diikuti saudara kembarnya yang semula tampak tenang di box malah turut menangis
Rigel langsung menggendong kedua bayi itu, mengecup sayang keduanya secara bergiliran “Ssstttss... sayang, sayang. Mommy disini.”Ujar Rigel. Bayi-bayinya pun kembali tertidur dengan pulas.
“...Bayi-bayi kecilku, yang tak tahu apa-apa? Kak Jev, bukankah dia amat ingin melihat anak-anaknya?”
Rigel menahan linang air matanya yang hendak jatuh “Walaupun aku tahu ulah Hubris, hanya saja aku harus sanggup dengan semua ini. Nah, Ivan... Aria... aku sangat mencintai bayi-bayi ini. Anakku, yang tumbuh didalam diriku selama ini. Jika sesuatu yang buruk terjadi... Jaga Caleb dan Calleriu dengan baik ya?”
“...karena sang kebanggan tak akan mungkin menyerahkan diri lebih dulu.”
Kedua mata Ivan membulat sempurna “Jangan katakan?!”
Rigel mengangguk pelan “Demi Caleb dan Calleriu, bahkan aku yakin. Diantara kita bertujuh tak akan ada yang mampu meladeni Hubrish.”
“Kau melakukan ini semua seorang diri Rig!”
Rigel mengangguk “Aku tahu, maafkan aku.”
“Jadi kau akan melakukannya? Kutukan itu?”
“Uhm~”Rigel mengecup pipi bayinya yang pertama sangat senang untuk tidur, disana dia baru menyadari sesuatu “Uhm~ anak mommy, matamu mirip seperti papa ya?”Rigel menitikkan air mata harunya, mungkin bercampur dengan kepedihannya sendiri.
Kedua sejoli itu, membantu Rigel yang pulang kerumah saudari ibunya untuk sementara waktu. Selagi menunggu kepulihan Rigel dan bayi-bayi kecilnya berteduh dengan aman. Tiba disebuah rumah sederhana, bercat putih dengan arsitektur masa kolonial tempo dulu. Rigel menyunggingkan senyuman kecilnya, teringat akan kenangan lalu.
Rigel menggendong Caleb, bayi dengan iris mata merah lembayung sepertinya. Sayangnya kedua bayinya itu dominan mewarisi tampang ‘bule’ dari ayahnya. Terutama Calleriu yang digendong oleh Aria, iris mata aquamarine semakin mirip dengan Jevandres seperti melihat Jevandres versi mini.
“Rige!”Seorang wanita cantik, walaupun surai hitamnya sudah seluruhnya beruban. Tubuh yang masih tetap bugar itu, menghampiri Rigel.
“Oh ya, Ivan! Sudah besar...”Wanita itu pun mencubit pipi Ivan dengan gemas. Padahal pria bersurai perak yang diikat ekor kuda itu masih repot mengeluarkan tas-tas perlengkapan bayi.
“Tante Tasya, Ivan sudah dewasa. Rigel saja sudah melahirkan.”
Wanita itu terkekeh “Waktu sudah berlalu ya? Oh iya, dimana Dio?”
“Dio menyusul tante, dia baru sampai dibandara.”Rigel berucap sambil menimang-nimang bayi kecilnya itu.
“Ayo masuk, Rigel beristirahat saja disini. Sampai suamimu selesai bertugas, toh tante juga sendiri. Jadi bisa bantu-bantu si kecil ini...”
Rigel, tiba-tiba saja menatap sendu. Kenyataannya tidak begitu, jika bukan Ivan yang sempat menelpon sang tante dan terpaksa mengatakan kebohongan. Hal menyangkut Jevandres hanya ia dan kedua saudaranya ditambah Aria yang tahu, karena gadis itu sudah menjadi kekasihnya Ivan. Selain itu, keluarga besar Jevandres pun tak mengetahuinya.
Rigel menatap rumah yang terasa hangat ini, dia duduk dipinggiran ranjang kasur dengan kedua bayinya yang sama-sama tertidur pulas “Lumayan, menggendong kalian bergiliran untuk menyusu. Hehe... kak Jev, kalau disini juga pasti kerepotan.”Gumam Rigel berbicara seorang diri.
Dia sudah membaca surat yang ada didalam amplop cokelat itu, dia tahu semua isinya. Kebenaran akan semuana, dan Rigel tak mempungkiri. Dia pun berbaring disamping kedua bayinya, mengecup bayi-bayi itu dengan pelan “Kalian begitu menggemaskan, aku tak menyangka. Mengeluarkan kalian berdua, jadi anak yang baik ya Caleb, Calleriu... tidak ada salahnya berdiri disamping manusia. Menjadi pahlawan yang membela kebajikan...”
“Oh, apa kau membutuhkan suami baru? Aku masih available loh Rig.”Suara itu terdengar mengejek.
Rigel menoleh, mendapati Romane dan Arcadia berdiri diambang pintu “Ckck. Tampaknya ada yang masih merindukanku ya, sampai-sampai masih melajang.”
Ramone Angelus, pria beriris emerald itu juga menenteng sebuah parsel perlengkapan bayi lengkap dengan sekotak kue cheese cake “Hey, hey. Aku ini godfather untuk memberi berkah bayi-bayi kecil ini. Ayolah sambut aku dengan manis sedikit, Rigel.”Ujar pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rigel terkekeh pelan. Dia juga menatap Arcadia Dio yang memandangi bayi-bayinya yang tengah tertidur itu dengan kedua mata yang berbinar. Wajahnya menatap penasaran.
“B-bayi... wangi... lembut...”Gumam Arcadia Dio, yang biasanya berraut malas.
“Mau gendong?”Tawar Rigel pada kedua pria itu.
Rigel tertawa “Kalau begitu, kemarilah.”Rigel menepuk-nepuk ujung ranjang yang masih kosong itu.
“Dio... jangan kaku ya, letakkan kepalanya dilengan. Nah begitu...”Rigel meletakkan bayi Calleriu yang lebih tenang itu kepada Arcadia Dio, dia menimangnya dengan kaku walaupun tak membangunkan tidur si kecil.
Kemudian, Rigel meletakkan Caleb pada lengan kekar Ramone yang mengenakan kaos oblog lengan pendek berwarna putih itu. Tampaknya Ramone jauh lebih mahir menimang bayi. Terbukti dari Caleb yang bergerak lebih aktif itu malah tidur dengan nyaman “Oh ya? Lihat anak-anakmu mengenali ayah lainnya.”Jahil Ramone.
Rigel langsung menggeplak kepala Ramone dengan enteng “Ucapanmu itu! Hanya Jevandres ayah mereka. Tch.”Sebelah alis Rigel menaik.
Ramone terkekeh dengan santai “Terus, kapan kau akan menemuinya?”
Rigel mengubah tampang seriusnya “Yang pasti tak akan lama lagi. Hal yang kucemaskan adalah anak-anakku. Mereka memang manusia, tapi...”Rigel mengigit bibir bawahnya. Benar, energi mereka berdua bercampur pada anak-anaknya. Caleb dan Calleriu mungkin yang pertama. Bukan sebagai demigod, justru lebih dari itu. Hanya saja mereka masih begitu kecil, belum terasa akan energi yang mereka miliki. Namun Rigel yakin, pendosa lainnya juga mengincar anak-anaknya.
“Rigel, apa yang kau cemaskan? Kau memiliki Invidia dan Arcedia, mereka saudaramu. Dan aku, Zuriel. Kau tahu siapa aku, tapi untuk kedua bayimu yang murni ini. Mereka akan dalam penjagaanku. Tenang saja.”Ramone berucap sambil mengecup pipi gempal bayi Caleb “Sudah kubilangkan? Aku Fairy Godfather mereka, hehe...”
Rigel mengulum senyuman “Terimakasih, jika waktu itu terjadi. Aku titip bayi-bayiku kepada kalian.”
“Benar, karena jika saat itu tiba. Kami juga akan terlibat, karena tak mungkin Hubris bertindak sendiri. Ingatkan Avaritia, Luxie dan Guilia yang ada dipihak Hubris, mereka pasti akan bertindak juga Rig.”Ivan berkata sembari bersandar diambang pintu “Aku benci mengakui ini, tapi menitipkan Caleb dan Calleriu pada Zuriel adalah pilihan yang tepat. Kalian, para malaikat. Tahu bukan, kedua bayi itu masih murni.”
Ramone terkekeh geli “Tentu saja kami tahu, kami tak mungkin menyakiti manusia. Lagipula itu keuntungan bagi kami melihat pertengkaran kecil kalian itu. Hehe...”
“Kau—“Sebelah alis Ivan menaik.
Rigel menghela nafas “Ramone... sudahlah jangan menjahili Ivan.”Ujar Rigel sambil memijit kepalanya yang pening.
“Kau hanya harus menuntaskan urusanmu Rigel, tetap saja kedua bayi ini membutuhkanmu sebagai ibu mereka.”Ramone memperingati Rigel, dia tahu. Wanita manis itu kadang tak memikirkan dirinya sendiri, apalagi untuk seseorang yang dicintainya. Sebagai yang sudah mengenal Ira dengan cukup lama, Rigel dan Ira biarpun Adonis yang mendominasi. Mereka tetap sama, rela berkorban tanpa pamrih.
.
.
.
Bersambung