Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 13: Mind



Happy Reading~


.


.


.


“Viridian, bereave!”


Jevandres yang baru saja menoleh, seluruh tatapannya sudah menatap dengan kosong mengikuti pendulum yang dipegang oleh Ivan tepat didepan matanya.


“Aku sampai harus berlari melewati anak tangga, karena rencanamu Arca!”Ivan masih tetap berada didepan Jevandres.


“iya..iya salahku mengatakannya mendadakan.”Arcadia Dio berjalan mendekati Jevandres.


Ivan mendengkus kesal “Aku tak mengosongi ingatannya, sekarang giliranmu. Arca.”


Anting berbentuk bel kecil yang hanya ada didaun telinga kanan Arcadia berdenting “Mauve, cari ingatannya.”Ucap Arcadia Dio seraya menjentikkan jemarinya tangan kanannya kepada Jevandres “Biarkan dia mengingat Rigel sebagai isterinya, bukan Binary dan bukan pula Ira. Ketemu!”Arcadia Dio menarik benang halus yang keluar dari punggung Jevandres kemudian memutuskannya dengan mudah “Semua ingatanmu mengenai Ira, sang pendosa kemarahan beserta seluruh kekuatannya akan hilang. Hanya ada Rigel Wijayakusuma Carlin.”


Rigel hanya bisa menyaksikan ‘eksekusi’ dari kedua kakaknya itu, sesekali menguap karena merasa kantuk menghampirinya “Oh ya? Ecru, kemarilah!”Rigel baru menyadari bocah manis yang berdiri diambang pintu itu dengan diam.


Bocah lelaki manis itu berlari menghampiri Rigel “Yang Mulia Ira, apa anda baik-baik saja?”


Rigel mengusap puncak kepalanya “Hm~ aku baik-baik saja”Rigel mengangguk “Mulai sekarang panggil aku Rigel ya, jangan Ira.”Ucap Rigel lagi.


“Baik nona Rigel.”


“Ya bukan nona juga sih, uhm~”Rigel tampak berpikir seraya mengetuk-ngetuk dagunya “Ah iya, panggil Rig saja sama seperti Ivie dan Dio.”Ucap Rigel lagi-lagi mengusap puncak kepala Ecru dengan gemasnya.


Arcadia Dio dan Ivan Tristan memandangi Rigel, keduanya sama-sama mengangguk “Sebentar lagi, Yang Mulia Ares akan sadar dengan mengingatmu sebagai Rigel saja.”Itu Ivan dia menghampiri Rigel dan Ecru “Setidaknya, lain kali jangan ceroboh. Kami kesulitan mencari cara untuk selalu menyembunyikanmu.”Ivan juga turut mencubit hidung Rigel dengan geram.


Arcadia Dio mengangguki ucapan Ivan “Ditambah kemunculan Zuriel, lebih baik kau mengalah saja agar tetap aman Rig.”Dengan mata kantuknya Arcadia kembali melihat ponselnya “Manusia bernama Liu Naufar itu sungguh gigih, berterimakasihlah kepadaku berkas yang memuat kondisi psikologismu akan kuberikan kepadanya. Orang gangguan mental tak akan bisa bersaksi untuk sebuah kasus kriminal.”


Hal itu mengundang amarah bagi Rigel “Dio?! Kau mengataiku gila?”


ketiga bersaudara pendosa itu tampak saling berbicara berdekatan, Rigel sudah mulai kesal. Namun Arcadia masih saja dengan tampang malasnya membalas setiap kekesalan Rigel sementara Ivan hanya memperhatikan Jevandres yang masih belum bereaksi itu.


Kini ketiga kekuatan mereka sudah diketahui. Ecru merupakan senjata kemurkaan milik Ira. Viridian merupakan senjata milik Ivan yang mampu mencuci seluruh pikiran bahkan sampai jiwa seseorang, dulunya sang Invidia menggunakannya untuk membuat wadah manusia menjadi pengadu domba. Sementara Mauve milik sang kemalasan Acedia, mampu mengotak-atik ingatan seseorang dulu ia sering menggunakannya agar seseorang menjadi malas melakukan sesuatu. Dia paling sering memodifiksi rasa ambisi, harapan dan keinginan seseorang menjadi rasa kemalasan. Tapi itu semua hanya sebagian kecil dari kekuatan mereka bertiga, dibandingkan ratusan tahun yang lalu.


Arcadia Dio mendelik acuh “Agar para polisi tidak melakukan penyelidikan kepadamu, tentu saja sementara ini kau dianggap gila.”Raut wajah Arcadia Dio tetap sama, menatap Rigel dengan malas.


Rigel hendak protes, beranjak berdiri, dan memicingkan matanya “Tch.”Dia mendecih ketika Jevandres sudah sadar.


Pria itu sedari tadi berdiri setelah di’eksekusi’ oleh kedua kakak laki-laki Rigel ini, akhirnya sadar dengan merespon sosok Rigel didepannya. Dia juga tampak heran melihat Rigel yang sudah berdiri dihadapannya “Rig?”Raut wajahnya kebingungan.


Rigel masih bersidekap dengan kesalnya, melihat hal itu Ivan mendorong Rigel dengan pelan agar mendekati Jevandres “Wah iya, tuan Lascelles. Saya menyusul Rigel karena cemas dengan keadaannya, tapi kebetulan bertemu Arcadia disini jadi kami mengobrol sejenak sembari menunggu anda selesai dari Toilet.”Ivan tersenyum simpul, kalau masalah berbohong Ivan adalah pria yang begitu tepat.


“Ayo, Rig. Langsung pulang saja, biar istirahat lagi pula keponakan paman pasti lelah seharian ini diluar bukan?”Ucap Ivan dengan senyum sumringannya.


“Euhm iya iya.”Rigel memilih untuk mengalah. Dia pun mendekati Jevandres kemudian menggandeng lengan pria aquamarine itu dengan cepat “Aku tidak mau kembali ke mansionmu ya.”Ucap Rigel lagi.


Saat Jevandres berbalik badan, diam-diam tanpa sepengetahuannya. Rigel dengan cepat merubah Ecru menjadi sebuah cincin hitam yang langsung melingkar dijemari tangan kanannya.


Ivan dan Arcadia memandangi sepasang sejoli yang baru saja keluar dari ruangan ini, sepasang iris merah mereka berdua memandangi keduanya. Ivan yang beranjak lebih dahulu.


“Ini semua rencanamu bukan?”


Arcadia Dio mengangguk “Kita tak bisa berlama-lama lagi, lingkar kehidupan berulangnya harus segera berhenti.”


Ivan memandangi saudaranya itu “Dia semakin menggila, bukan? Satu-satunya kandidat yang bisa melengserkan dia hanyalah Ira seorang.”Ucap Ivan dengan guratan cemas pada parasnya “Jika dibiarkan semakin lama, dunia bawah akan runtuh oleh para malaikat.”Lanjutnya lagi.


.


.


Tok...Tok


.


.


“Ah maaf, dimana nona Aristolochia dan Jevandres?”Liu Naufar kembali lagi keruangan ini, dia berucap dengan santai tanpa mengetahui dua pria berbahaya ini.


Arcadia menatap dengan mata kantuknya “Senjataku Mauve, sedang malas mengurusi manusia ini. Apa Viridian sedang menganggur?”Ucap Arcadia menompang dagu dengan tangan kanannya.


“Tch. Baiklah-baiklah, Viridian. Lahap saja ingatannya, dasar manusia penganggu.”Ivan tanpa rasa kasihan menggeluarkan pendulum hijaunya untuk mengosongkan ingatan pria malang itu.


“Akhhh”Liu Naufar sampai mengejang kesakitan, hingga dia pun menatap dengan pikiran tatapan yang kosong. Selayaknya sebuah boneka tanpa jiwa yang mengisinya.


Ivan menyeringai dengan puas “Ah~ aku lama tak bersenang-senang.”Kedua iris mata merahnya berseri dengan bangga, Ivan hanya memandangi Liu Naufar yang berjalan keluar ruangan tanpa arahnya itu.


“Sudah seharusnya Viridian, Mauve dan Ecru digunakan sebagaimana iblis tertinggi seperti kita. Omong-omong, apa kau tak ingin menguasai dunia bawah?”


“Untuk apa? Terlalu merepotkan, dan aku sudah malas mengurusi dunia bawah.”


“Yah~ Rasanya jika menjadi Ira pasti menyenangkan, Hehe...”Ivan menyeringai. Sosoknya sudah kembali, sepasang iris merah menyalang dengan surai perak yang tergerai lembut.


Arcadia menggeleng “Ira sama sekali tak memiliki ambisi untuk dunia bawah, kau tinggal katakan saja. Dia pasti akan dengan senang hati mengalah.”Arcadia Dio memang benar, diantara tujuh pendosa besar. Hanya Ira yang memiliki kekuatan besar yang malah tak tertarik dengan posisi seharusnya sebagai pemimpin dunia bawah.


Ivan terkekeh pelan “Benar juga, tinggal bilang adik kecil kita saja.”


.


.


.


Bersambung