
Happy Reading~
,
,
,
Rigel bangun saat hari sudah mulai malam, dia mengusak kedua matanya. Kemudian menguap kecil “Uhm~ lapar.”Ucap Rigel masih dengan wajah kantuknya, dia pun berjalan menuju pintu kamar dan membukanya.
“Woah~ harum masakan siapa?”Kedua mata berlainan Rigel berbinar, dia pun segera menuruni tangga “Yeayyy makan!”Rigel berseru layaknya anak berusia lima tahun, dia langsung duduk dikursi meja makan ketika Jevandres meletakkan peralatan makan diatas meja.
Masih mengenakan kemeja dan apronnya yang belum dibuka “Cuci tanganmu dulu.”Ucap Jevandres sambil mengambilkan nasi kedalam piring Rigel.
“Hihi~”Rigel tertawa kecil, dia pun menuju westafel untuk segera mencuci tangannya kemudian dengan cepat melesat duduk dihadapan makan masakan Jevandres yang tampak begitu lezat ini.
Jevandres membuka apronnya, dengan lengan baju yang masih tergulung dia duduk didepan hadapan Rigel “Bagaimana?”Tanyanya ketika melihat Rigel dengan lahap menyuapkan setiap makanan yang ada dipiring penuhnya itu.
“Hum~ swangat enwak...”Pujinya dengan mulut menggembung penuh dengan makanan.
Jevandres juga menyendoki makanan yang dimasaknya ‘Rasanya aku tak pernah bersikap seperti ini dulunya.’Jevandres membatin dalam diam, dia ingat. Selain pertengkaran, hubungannya bersama ‘Binary’ seperti dua orang asing yang tinggal bersama. Beda dengan sosok seiras ‘Binary’ didepannya ini dengan kepribadian uniknya dan begitu berbeda dengan sebelumnya. Cerah bagai mentari yang menyinari kehidupan.
Rigel menelan makanan yang dikunyahnya “Kenapa? Apa aku jelek saat makan?”Rigel bahkan tak sadar sudah mengangkat kedua kakinya bersila diatas kursi, ujung bibirnya bahkan penuh dengan sisa makanan. Mungkin sangking enaknya masakan Jevandres, sampai ia tak perduli dengan sikap ‘acuh’nya itu.
Jevandres terkekeh pelan “Dasar, makanlah perlahan.”Ucap Jevandres sambil mengelap ujung bibir Rigel.
“Hehe~ abisnya enak.”Rigel tersenyum gembira, dia bukan gadis pemalu yang mudah tersipu seperti Binary. Jevandres tahu itu. Dia hanya mengamati melalui aquamarine indahnya.
‘Aku tahu, kau tengah membandingkanku.’Rigel menubruk pandangan aquamarine sang samudera dalam yang indah itu. Sepasang iris batu permata laut itu enggan mengalihkan tatapannya kepada Rigel hingga Rigel pun membalas dengan senyuman “Terimakasih, makananmu benar-benar enak kak Jev. Lain kali masakkan aku cemilan yang lain ya hehe~”Rigel tak ragu memintanya, dia tak enggan dan merasa nyaman bersama Jevandres. Rigel tak mempungkiri semua itu.
Jevandres mengangguk, dia selesai makan lebih dulu “Jangan terlalu banyak aktivitas diluar, kau bisa kelelahan.”Ucap Jevandres sambil menaruh piring bekas makan itu kedalam westafel.
“Uhm tidak kok.”Rigel membantu Jevandres mengemasi peralatan makan itu.
Keduanya sama-sama membasuh peralatan makan itu, walaupun Jevandres sudah berulang kali meminta Rigel menghentikannya. Dia takut Rigel kelelahan, namun Rigel sama keras kepalanya dengan Jevandres. Akhirnya keduanya membasuh piring bersama walaupun diselangi kejahilan Rigel dengan mencolekkan busa-busa sabun pada paras tampan tiada dua milik suaminya.
“Bocah! Kemari...”Jevandres mulai gemas, dia pun meraih pinggal kecil Rigel dan menggelitiknya.
“Haha... Hentikan hehe..”Rigel tergelak tawa, sesekali membalas Jevandres dengan cubitan kecil dilengan kekarnya itu.
“Aduh...duh...”Jevandres merintih nyeri, cubitan Rigel memang menyakitkan. Dia pun tertawa kemudian mengecup puncak kepala Rigel.
Rigel membulatkan kedua matanya, sekujur tubuhnya langsung terasa kaku. Dia merasakan aura energi yang berlawanan darinya. Menekannya semakin kuat, sampai kedua lutut Rigel bergetar dengan lemas “Kak Jev!”Panggil Rigel sambil meremas tangan lebar Jevandres dengan tiba-tiba.
“...Rig. Kenapa?”Jevandres jelas panik, apalagi wajah Rigel semakin memucat.
“Dengar.”Jevandres menangkup wajah Rigel “Aku disini, bersamamu.”Ucapnya menyakinkan Rigel.
“Eungh~”Rigel merasa sesak yang teramat berat, udara disekitarnya menipis. Cincin hitam yang melingkar dijemarinya merespon dengan kilau cahaya kemerahan. Rigel meremat kerah kemeja Jevandres, menyalurkan rasa sakitnya disana ‘B-burung sialan.’Umpat Rigel saat itu.
Brakkk...
Pintu apartemen mereka dibuka dengan paksa, disana menampaki Arcadia dan Ivan yang tiba tergesah-gesah. Seolah tahu hal ini akan terjadi, Arcadia yang tiba lebih dahulu menyuntikkan obat tidur kepada Rigel “...Maafkan aku.”Ucap Arcadia. Dia hanya menatap Jevandres dengan penuh penyesalan “Dia akan seperti itu, jika musuhnya menekan Rigel dengan kekuatan pemurniannya.”Jelas Arcadia yang bisa melihat raut amarah Jevandres melalui sepasang iris emasnya yang menyalang.
“Siapa?”Geram Jevandres.
Ivan yang mulai merapalkan mantera, membuat cahaya kehijauan menjadi barrier tipis disekitar Rigel “Jika kami katakan, Rigel pasti tak akan setuju.”Ucap Ivan memandangi wajah lemas seorang Rigel.
“Siapa?! Biar kubunuh sekalian orang itu!”
“Kami tahu.”Ivan menyela “Tapi... Isterimu ini bukanlah sosok yang seharusnya menyokong sebuah kehidupan.”Sorot mata Ivan menyendu, dia hanya menatap Rigel yang sudah pulas tertidur didalam dekapan Jevandres. Dia bisa menatap kesungguhan Jevandres ketika ia begitu marah dengan hal yang menimpa Jevandres, bahkan kali pertamanya Ivan melihat Rigel begitu riang belakangan ini “Biarpun, aku sudah benar-benar tak ingat akan Aphrodite dan Ares bahkan. Aku... tak tega dengan nyawa kecil ini.”Ucapan Rigel saat itu terulang dibenaknya, dia bahkan bisa melihat tatapan lembut seorang kemurkaan untuk kali pertamanya sejak seratus tahun lamanya.
“...Ivan kau dengar ucapanku?”Itu suara Arcadia, dia mengguncang pundak Ivan dengan keras.
“Eh? Iya apa?”
Arcadia Dio mendelik dengan malas “Mau kau atau aku yang menemuinya?”Ucap Arcadi sambil menguap.
Ivan menatap Rigel dan Jevandres bergantian “Aku bersama Jevandres saja, kau dokter biar bagaimana pun kau yang paling mengerti tubuh manusia Rigel.”
“Kita baru membenahi ingatannya kemarin.”Arcadia hendak protes, namun kemudian dia menghela nafas “Repot juga kalau sampai suaminya tidak tahu, kita tak bisa selalu bersama Rigel.”
Ivan mengangguk “Sekarang terserah denganmu tuan Lascelles, sekali kau melihat kebenaran dari kami. Hidup dan mati Rigel ada ditanganmu.”Ucap Ivan “Karena saat ini Rigel masih akan begitu lemah untuk balas dendam.” Lanjut Ivan dalam hati.
Jevandres diam dengan tenang, justru itu yang bahaya. Apalagi warna iris matanya belum berubah, seiring itu sebagai tanda jika dia tengah dipengaruhi oleh Ares. Sang Dewa Perang. Pria tegap itu berdiri sambil menggendong tubuh Rigel kemudian membaringkannya disofa ruang tamu. Tanpa berkata apapun, Jevandres berjalan keluar apartemennya.
Ivan gelagapan memandang Arcadia “B-bagaimana? Dia seolah sudah tahu!”Raut wajah Ivan panik, dia tahu dewa dan malaikat tak seharusnya bertemu. Kedua kekuatan itu akan menyeramkan.
“Ya sudah datangin saja. Zuriel pasti mengenalimu.”Ucap Arcadia sambil memengang denyut nadi pergelangan tangan Rigel.
Ivan mengangguk, dia pun berlari menyusul langkah Jevandres.
.
.
.
Bersambung