Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 10 : Brother’s



Happy Reading


,


,


,


“Uhm... Kak Jevandres...”Ragu-ragu Rigel menatap pria tampan bersurai pirang itu. Dia merasakan tubuhnya yang diletakkan kedalam ranjang kasur dengan lembutnya.


“Istirahat. Sudah malam.”Ucap pria berwajah rupawan layaknya pahatan patung yunani itu, karena memang itulah perwujudan aslinya “Tak perlu bertanya apapun lagi.”Lanjut Jevandres sambil menyelimuti tubuh Rigel, saat itu sepasang iris aquamarinenya menatap tubuh kecil Rigel yang dibalut piyama tidur kebesaran ini. Sebenarnya, tubuh Rigel tidak dikategorikan kurus. Beberapa daerah tubuhnya tampak berisi dengan sexy. Jevandres menelan ludahnya, ia pun segera menggeleng untuk menepis pikiran nakalnya.


Rigel menatap pria itu, dia jelas melihat cahaya kemerah mudaan dari sosok Jevandres ditambah sepasang iris aquamarinenya yang menatap dengan penuh gairah “Kyaaa~”Rigel berteriak sambil mendorong tubuh Jevandres sampai terdengar bunyi brukk... yang sangat kuat.


Jevandres terjatuh dilantai kamarnya sendiri, dia menatap Rigel dengan menyalang “YAK!”Sulutnya dengan marah.


Rigel menaikkan seluruh selimutnya menutupi sekujur tubuhnya “Apa?! Dasar mesum, Pedophill!”Pekik Rigel tak mau kalah.


Jevandres tak habis fikir dengan tenaga Rigel yang tak main-main ini, walaupun cukup kesal tapi Jevandres tak bisa memarahinya. Jujur saja, Rigel yang seperti ini begitu manis baginya “Hufftt...”Jevandres beranjak berdiri sambil menepuk-nepuk celana trainingnya yang berdebu “Apa kau puas sudah menjahili suamimu ini? Hn?”Ucap Jevandres tepat didepan Rigel.


Bibir Rigel mengerucut “Yah~ habisnya Kak Jevan selalu begitu sih.”Ucap Rigel menatap iris aquamarine milik Jevandres.


“Apa saja yang kau bisa?”


“Ha?!”Rigel mendelikkan tatapannya “Aku tak mengerti.”Ucap Rigel lagi.


Tampaknya Jevandres mulai kesal karena merasa Rigel terus menerus menutupinya, dia pun menghela nafas dengan memejamkan kedua kelopak mata yang tertutup. Detik selanjutnya ia pun membuka kelopak mata emasnya yang tajam. Benar, aquamarine itu berubah menjadi emas yang menyala.


“Aku tak suka kekalahan. Mengaku atau hidupmu akan berakhir, bocah.”Jevandres bersidekap. Dia memandangi Rigel dengan tajam. Aura sekujur tubuhnya berubah menjadi pekat khas seorang Ares saat dimedan perang, dingin, hitam dan penuh kebengisan.


‘Owah~ Rasanya seperti berhadapan dengan dewa kematian—perang lebih tepatnya’Rigel menyunggingkan senyumannya. Dia pun beranjak berdiri, kemudian melangkah dengan ringan menghadap pria beriris emas menyala itu “Ingatanmu masih disegel sayangku, walau kuceritakan kau tak akan mengerti.”Ucap Rigel seraya membelai dada bidang Jevandres dengan jemari lentiknya.


Sebuah bulu sayap berwarna hitam jatuh melayang tepat didepan Jevandres, melalui kedua mata emasnya yang menyalang. Dia melihat kepakan sayap hitam yang lebar “Hm. Aku tak mengenalmu.”Ucapnya pada sosok manis yang berdiri didepannya dengan sepasang sayap hitamnya. Jangan lupakan, kedua iris merah lembayung sempurna yang menatap Jevandres dengan seringai kecilnya.


“Sungguh? Tak mengenalku? Sedihnya~”Rigel memajukan tubuhnya, balutan gaun berwarna hitam tubuhnya ikut mengeliuk kecil saat sang empunya tubuh membenahi posisi berdirinya “Tapi aku sungguh membencimu, sangat ingin membunuhmu agar dendamku dapat terbalaskan.”Ucap Rigel seraya mengayunkan sebuah belati yang muncul dari tangannya. Dia bisa mengubah senjata itu sesuai keinginannya, jika bukan berupa senjata Rigel bisa memanggilnya menjadi semua hal yang dikehendakinya.


Srayysshh...


Jevandres menyeringai, bibir tipisnya tampak sexy menyunggingkan senyum miringnya itu “Aku suka dengan tantanganmu.”Ucapnya menangkis belati tajam itu dengan tombah bermata perunggu miliknya. Senjata, yang memang menjadi anugerah seorang Ares sesungguhnya.


Keduanya, sama-sama tak mau mengalah. Biarpun hanya sama-sama menggertak satu sama lainnya. Rigel mengeluarkan sosok aslinya bahkan Jevandres menggeluarkan jati diri aslinya pula. Kedua kekuatan yang besar itu, tentu saja tak boleh bertemu apalagi sampai berseteru. Akibatnya, seluruh alam turut merasakan guncangan kekuatan salah satu dari tujuh pendosa besar dengan seorang dewa yang tak kalah kuatnya itu. Seharusnya tak ditakdirkan bersama, seharusnya tak harus kenal atau bahkan terjerat dengan rasa lainnya. Tapi terlambat, tanpa mereka sadari. Keduanya sudah melanggar hal yang tak seharusnya terjadi.


Sang personifikasi Ira menatap Jevandres aka Ares-nya. Kedua iris merah lembayung itu melihat tombak perunggu yang masih menangkisnya dengan kokoh, Rigel mendorong belatinya namun tatapannya berubah menjadi sendu “Apa kau masih tak mengingatku?”Pertanyaan itu terlontar dari bibir ranum Rigel.


Jevandres menatapnya dengan aura pembunuh khasnya “Menurutmu?”


Akhirnya, Rigel. Menurunkan belatinya itu, dia berjalan mundur beberapa langkah dari Jevandres “Kalau begitu apa kau ingat, Adonis?”Ucap Rigel seraya berjalan dengan menuju ranjang kasurnya bahkan sepasang sayap lebarnya turut menyapu lantai mengikuti langkahnya, kemudian dia pun duduk disana.


“Ck. Manusia lemah itu? Tentu saja aku ingat.”


“Kau sudah membunuhnya bukan?”


“Tentu saja, serangga kecil seperti itu harus dibasmi.”


“Apa aku harus memperkenalkan secara gamblang diriku lagi?”Ujar Rigel seraya bersidekap “Namaku Ira, Sang pendosa kemurkaan, kemarahan, dan dendam. Dulunya, Adonis.”Ucapnya diakhiri kekehan pelan “Seratus tahun hidup dan mati, dengan ratusan kehidupan yang berbeda dengan nama yang terus berbeda. Salam kenal, Yang Mulia Ares.”Rigel tak bisa menahan tawanya.


“Apa—m-maksudmu?”


Rigel tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah terkejut bercampur bingung seorang Jevandres, dia tanpa seraya memainkan ujung belatinya seraya berkata “Kau terka saja sendiri, Bodoh. Apa kau tak menyadarinya, bagaimana bisa seorang manusia biasa begitu mudah pindah ketubuh ini? Aphrodite-mulah yang memilihku, tentu bukan tanpa alasan bukan? haha...”


Jevandres tersulut api amarahnya, berkat perkataan Rigel. Dia mengepalkan kedua tangannya itu “Diam.”Dia berkata demikian dinginnya seraya mendorong tubuh Rigel dengan kasar keatas kasur. Tangan kirinya kembali mengunci kedua tangan Rigel.


Belati Rigel sampai terjatuh ke kesembarang arah “Dua kali menindihku? Apa kau tak ingat jika tubuhmu berat.”Rigel berhenti tertawa dan mengganti raut wajah datarnya “Kau marah hanya karena aku mengatakan hal yang sebenarnya? Atau kau lebih senang berada didalam indahnya kebohongan?”Ucap Rigel dibawah kungkungan pria bertubuh kekar itu, ucapan Rigel memang benar, hanya Jevandres yang tak menyadari apapun selama ini. Semua itu karena segel yang ada pada dirinya.


“Kubilang. Diam.”Jevandres menekan setiap katanya dengan menodongkan ujung tombak perunggunya ke leher jenjang seorang Rigel ‘Kenapa, dia berkata seolah tahu semuanya?’Jevandres beradu dengan dirinya sendiri. Dia tak habis pikir dengan kejutan-kejutan lain dari seorang ‘Binary’ yang lemah dan turut selalu mematuhinya, kali ini Jevandres yakin jika ‘sosok’ lain yang baru menampaki wujudnya itu adalah jiwa yang saat ini menempati tubuh wanitanya.


“Kau—“Baru saja Jevandres kembali menoleh untuk menatapnya, dia hanya mendapati dengkuran halus dari seorang Rigel yang sudah larut dalam tidur lelapnya. Jevandres menghela nafas “Dasar.”Ucapnya sambil memandangi sepasang kelopak mata yang terpejam dengan damai, paras cantiknya tak bisa Jevandres ragukan. Walaupun dia sering bertemu banyak wanita cantik, lagi-lagi Rigel didalam sosok Binary ini justru jauh lebih menarik. Diam-diam Jevandres sudah mulai menyelidiki wanita muda yang tengah tertidur ini, karena ia pun menaruh curiga.


Dia pun mengangkat tubuh Rigel dengan niatan membenahi posisi tidurnya.


Tok..Tok..


“Siapa?”Ucap Jevandres.


“Tuan muda, ini saya Charlie. Didepan ada Tuan Liu yang ingin bertemu.”


Jevandres membuka pintu kamarnya, dia mendapati pelayan paruh baya itu berdiri disana sembari memberikan secarik surat kepadanya “Selagi aku pergi, urus semua keperluan Rigel disini. Jangan biarkan dia keluar Mansion, Charlie.”Perintah Jevandres sambil menutup pintu kamarnya lagi.


Pria paruh baya itu hanya mengangguk paham, surat yang ada ditangannya masih ia pegang. Pria itu pun pergi menuruni tangga.


“Rigel. Jangan bertingkah, ya.”Jevandres berucap seraya mendekatinya, sangking pulasnya tidur Rigel saat telapak tangan kasarnya mengelus lembut perut datar itu. Ia sama sekali tak terbangun, malah mengerang kecil dengan nyaman.


Kini pria bertubuh kekar itu berjalan menuju lemari besarnya, ia melepaskan kaos hitamnya, sambil bertelanjang dada. Jevandres menoleh kearah Rigel lagi, memastikan jika wanita bersurai legam itu tidak terusik tidur lelapnya dengan aktivitasnya ‘Ck. Bisa-bisanya dia malah tidur saat aku menekannya.’Jevandres menggeleng, dia kembali mengganti setelan jas rapih pada tubuh atletisnya itu.


Klik...


Jevandres menutup pintu kamarnya, dia meninggalkan Rigel yang masih tertidur dengan lelapnya itu.


“Liu, bagaimana?”Tanya Jevandres saat langkahnya berakhir menuruni anak tangga yang tepat berada dilantai dasar ruang tamu, dia melihat pria berwajah oriental itu dengan beberapa berkas ditangannya.


“Bro! Seperti katamu, tubuh gadis yang kau cari memang ada di Rumah Sakit. Oh jangan cemas, temanku sudah membantu penyelidikan ini disana. Kau ingat Alec bukan?”Ucap pria bersurai hitam itu sambil sumringan.


Jevandres hanya menatap dengan raut datarnya “Arcadia Dio, ya bagaimana lupa? Dia mantan pacar isterimu bukan.”Sindir Jevandres tak perduli. Dia merampas berkas ditangan Liu dengan cepat, disana beberapa foto jenazah Rigel sesungguhnya tergeletak diatas Rooftop apartemen lamanya yang sebelumnya mereka tinggali “Tidak ada yang meliput ini bukan?”Tanya Jevandres dalam tatapan tajamnya.


Liu, walaupun sudah lama berteman dengannya. Dia masih bergidik ketika Jevandres menatap dengan tajam “Sudah, tenang saja Bro. Kasusmu sangat rapat di kepolisian, karena ini ada hubungannya dengan organisasi gelap yang rahasia.”Ujar Liu.


Pelayan tua itu tiba mendatangi mereka, seolah dia tahu permintaan tuannya ini “Tuan Muda, ini kunci mobilnya. Mobil anda sudah dipersiapkan.”Ucap pelayan itu seraya menyerahkan kunci mobil melalui tatakan berlapis keramik itu, pria itu bahkan menunduk dengan hormat.


“Mengocehmu nanti saja, ayo kita pergi Liu.”Ajak Jevandres bersama temannya itu. Liu hanya mengangguk “Aku saja yang menyetir, percaya atau tidak ini jam satu dini hari dan kedua matamu berkantung dengan berat.”Ucap Liu balik merampas kunci mobil dari Jevandres “Charlie, tidak perlu repot-repot pakai supir ya. Hari ini aku jadi supir pribadi tuan muda. Haha...”Canda Liu sambil menyiku lengan Jevandres.


Charlie, pelayan paruh baya itu hanya bisa mengangguk dengan senyum “Baik, Tuan Liu Naufar. Berhati-hati dijalan.”


Pria berprofesi sebagai polisi sekaligus detektif itu hanya mengacungkan jempolnya, dia merangkul Jevandres dengan santai sembari berjalan ke garasi mobil “Hey, bagaimana? Kudengar dari Charlie... Isterimu hamil ya? Wah pasti sulit mengatasi ngidamnya, percaya atau tidak Laras semasa hamil juga membuatku bergadang sepertimu.”Ucap Liu pria campuran Indonesia-Tiongkok itu juga terkekeh pelan.


“Ngidam?”Jevandres hanya heran. Jujur saja, dia tak mengetahui persoalan kehamilan wanita.


Saat tiba digarasi, Liu masuk kedalam Lamborgini hitam itu lebih dahulu “Ayolah, kau tak tahu? Seperti, mual muntah atau menginginkan sesuatu. Kata ibuku hal itu harus dituruti, jika tidak anak kalian bisa ileran.”Ucap Liu sambil menghidupkan mesin mobil hitam itu.


“Apa bahaya jika dibiarkan?”Polosnya Jevandres berkata sambil duduk disebelah Liu yang akan menyentir itu.


Liu melirik Jevandres, kemudian sekelebat ide jahilnya muncul “Oh Ya Tuhan, pastinya Jev! Anak kalian bisa lahir dengan liur kemana-mana, makanya jika isterimu ingin sesuatu turuti saja.”Liu berucap, dia tidak tahu saja jika ‘Binary’ sama jahilnya dengan dirinya ini. Liu terkekeh pelan, melihat wajah tak tahu menahu tuan muda Lascelles ini “Senang rasanya, saudaraku ini akan menjadi sosok ayah.”Lanjut Liu lagi sambil tersenyum pada sahabat dekatnya ini.


.


.


Bersambung