
Happy reading
.
.
.
Pukul sepuluh pagi, tepat didalam sebuah coffee shop. Mungkin sudah satu jam setengah tampaknya wanita bermantel cokelat itu duduk disana, dia tengah membaca sebuah buku ditemani secangkir cokelat panas yang masih mengepul dengan panas. Sepatu boots hitam yang dikenakannya, perlahan-lahan diketuk.
Surai hitam panjangnya baru saja dipotong pendek dengan poni yang manis sertaedua pipinya gempal kemerahannya tampak manis, siapa sangka gadis muda ini tengah berbadan dua. Bahkan ia menyembunyikan perut sedikit membulatnya itu melalui jaket tebal yang dikenakannya. Biarpun begitu, sesungguhnya keadaan gadis manis ini memprihatinkan. Besar kandungannya tidak sesuai dengan usianya, itulah yang membuat kehamilannya tak begitu tampak.
“Uhm~”Ia menegak sedikit cokelat panas yang sudah dipesannya ini, rasa hangat dan manis menguar diindera perasanya. Dia mengaduh nikmat. Kemudian, kembali dengan aktivitasnya lagi. Membalikkan lembar halaman lain dari buku tersebut.
Tak lama, Pria bersurai perak itu tiba dengan nampan berisi sepiring potongan Cheese Cake “Rig, ini pesananmu bukan? Tapi, aku tidak bisa menemanimu disini.”
Rigel menggeleng “Sudah mengantarku ke dokter saja aku sudah senang kok. Terimakasih Ivie...”Ucap Rigel diselingi senyumannya.
“Iya, aku masih harus mengurus berkas-berkas kepindahanmu disini bersama pengacaraku. Sayangnya, dia memintaku untuk kekantornya terlebih dahulu.”
“Perlu... aku kesana juga?”
Ivan menggeleng “Kondisimu selama sebulan ini tidak begitu baik, lebih banyak sakit daripada sehatnya. Kita sudah jauh-jauh ke Den Haag dari Rotterdam. Setelah habiskan cheese cake aku meminta Arcadia untuk menjemputmu disini, setelah aku pergi jangan keluyuran nanti bisa kelelahan.”Ivan sudah seperti menasehati anaknya panjang lebar, Ivan jadi lebih ekstra menjaga Rigel bahkan dia mewanti-wanti Rigel agar kebiasaan bandelnya tidak kambuh “Ingat, mahluk kecil itu harus sehat juga.”Ivan tak segan-segan mengacungkan jari telunjuknya kepada Rigel.
“Iya iya. Aku pulang setelah Dip menjemputku kok.”Rigel mengerucutkan bibirnya.
Ivan bukannya tidak memiliki alasan, semenjak sebulan yang lalu Rigel si gadis manis keras kepala itu tetap pada pendiriannya. Dia memberikan separuh energi kehidupannya pada Jevandres yang sekarat itu, kemudian meminta dirinya dan Arcadia menghapus seluruh ingatannya mengenai Jevandres. Semuanya, tidak terkecuali jati dirinya sebenarnya sebagai Ira dan seluruh kehidupan terdahulunya. Beruntung Keluarga Carlin dan dua kakak angkatnya dengan senang hati menyanggupi dan memahami permintaan Rigel.
Kini dirinya hanya seorang gadis biasa yang mengandung dengan suaminya sudah begitu lama meninggal. Bahkan keluarga Carlin menutup rapat kebenaran semua kehidupannya bersama Jevandres. Hal itu yang menyebabkan Rigel mudah untuk kelelahan dan tak begitu sehat. Penyokong kehidupannya yang ‘tak biasa’ menjadi tidak stabil ditambah posisinya yang juga sedang mengandung.
“Rig. Apa perlu kuminta Aria menemanimu?”Ivan yang merasa khawatir menawarkan kekasihnya untuk menemani adik manisnya ini. Benar, mereka juga sudah sama-sama membina hubungan. Ivan sendiri hanya mengatakan pada Aria jika Rigel ingin kehidupan barunya tanpa seorang Jevandres.
Rigel menggeleng manis “Aria ‘kan harus kembali ke Seoul hari ini. Biarkan dia tidak terlalu banyak aktivitas agar tidak terlalu lelah. Aku baik-baik saja kok. Aku cuman hamil, bukannya sakit keras.”Ucap Rigel diiringi kekehan tawa renyahnya.
Entah kenapa, Ivan merasa sedikit lega. Setidaknya Rigel jauh lebih mementingkan dirinya serta menjauhi hal yang akan membahayakan dirinya itu “Baiklah, kalau begitu aku duluan.”Ucap pria bersurai perak yang diikat ekor kuda itu.
“Hn~ hati-hati Ivie...”Rigel melambai-lambaikan tangannya dengan ringan. Pipi gempalnya memerah manis.
Rigel tersenyum manis, kemudian kembali membuka lembar selanjutnya dari buku yang dibacanya. Kedua iris matanya terpaku, saat sebuah secarik kertas kecil terselip disana.
“Hat man viel, so wird man bald
Noch viel mehr dazu bekommen.
Wer nur wenig hat, dem wird
Auch das Wenige genommen. Wenn du aber gar nichts hast,
Ach, so lasse dich begraben —
Denn ein Recht zum Leben, Lump,
Haben nur, die etwas haben.”
Tes...
Bulir air mata itu jatuh pada buku bacaan, membasahi halaman dalam buku yang tengah dibacanya itu. Sementara tangan kecilnya tengah meremat kertas tersebut. Begitu erat.
.
.
.
Den Haag senin pagi akan menjadi senin sibuk seperti kota lainnya. Disebuah ruangan kantor seorang pria muda mendudukkan dirinya pada sebuah sofa panjang disudut ruangan. Sebelah tangan kanannya menutupi sebagian wajahnya sambil menegadah pada sandaran sofa itu.
Pria itu menghela nafas “Haaaa...”Sudah kedua, ketiga dan keempat kalinya. Dasi yang menjerat dilehernya, dilonggarkan dengan asal. Kemudian bunyi dering telepon terdering berulang kali. Namun, ia lebih memilih mengabaikannya.
Tok...tok...
“Permisi tuan Jevandres, saya mencoba menghubu—“
Kilatan dari mata aquamarinenya memicing tajam, seolah menatap seketarisnya itu dengan niat untuk membunuh. Lantas, seketaris itu bergidik ngeri. Ia pun menegak ludahnya sendiri kemudian kembali menutup pintu ruangan sang pemengang saham perusahaan ini.
“Tch.”tampaknya hal itu membuatnya kehilangan mood, pria itu melepaskan dasinya dengan asal. Kemudian meraih mantel hitamnya. Dia pun pergi meninggalkan gedung tinggi pencakar langit ini.
Sekitar dua orang pria bersetelan jas rapih kocar-kacir menyusuli langkah Jevandres yang baru saja keluar dari ruangannya “T-tuan Jevandres, perusahaan milik nyonya Charlotte mengajak kerjasama apakah tuan a—“
“Ignored...”
“Ta-tapi tuan, ini permintaan Tuan Besar Lascelles.”
“Genegeerd.”Ucap Jevandres teramat dingin kali itu.
Dia pun berjalan lagi dengan acuhnya memasuki mobil metalik hitam yang tiba didepan lobi gedung mewah ini. Jevandres tak berkata apapun, wajahnya pun demikian. Sambil menyandarkan diri pada bangku mobil bagian bawah dia pun menghidupkan puntung rokoknya “Charlie, aku ingin minum kopi.”Ucap Jevandres kepada Charlie yang mengemudikan mobil hitam metalik ini.
“Baik tuan, apakah ingin dibuatkan di Rumah atau disuatu tempat?”
Jevandres tampak berpikir sejenak “Ditepian jalan Prinsestraat.”Ucap Jevandres sambil mengepulkan asap rokoknya. Sambil memandangi jalan raya melalui kaca jendela yang sengaja dibukanya.
.
.
.
Bersambung