Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 14 : Dream has Told about Truth



Happy Reading ^-^


.


.


 


 


 


 


Pernahkah seorang Ira bertemu Ares dimasa lampau mereka? Tentu saja, hanya salah satu dari keduanya tidak menyadarinya. Kini disaat sore temaram berwarna citrus yang lembut, Rigel hanya duduk tepat didepan sebuah jendela yang dibiarkan terbuka. Dia berada diapartemen lama milik Jevandres, sebuah jendela tepat seperti sebelumnya sosok ‘Binary’ yang ia tangkap melalui visir senjatanya. Ironinya, kini dialah yang berada ditempat itu.


Rigel menghela nafas, ia merasakan angin yang berhembus masuk melalui jendela. Membiarkan hembusan angin itu membelai surai hitamnya yang tergerai bebas, selagi angin bertiup lembut Rigel hanya menutup kedua kelopak matanya. Memejamkan kedua iris berlainan warna itu dengan damai.


Rigel ingat... Sensasi seperti ini. Angin bertiup lembut, disore hari dengan senja yang sama. Dia berdiri disana, perlahan-lahan Rigel membawa dirinya untuk mengingat kenangan dimasa lalunya.  Kenangan yang mungkin sudah berpuluh tahun lamanya, bahkan sore tak berhembus setenang ini.


Kedua kelopak matanya masih terpejam, Rigel rindu saat-saat itu. Rigel rindu pada sore ditepian pantai yang menderu ombak dengan lembut. Angin yang laras bertiup dengan tenang. Dia rindu akan semuanya dimasa itu, dia pernah bersama dengannya. Benar-benar hanya Rigel dan dirinya, penuh akan kenangan manis walaupun berujung pahit.


“Eungh~”Rigel melenguh, dia mengerang pelan. Kemudian sepasang iris mata berlainan itu terbuka dengan menampaki tatapan yang begitu sendu. Sorot matanya sudah disuguhkan oleh matahari yang akan tenggelam itu, citrus terang pada langit temaram. Rigel memeluk dirinya sendiri, dia menarik nafas, dan ia amat ingat kenangan ini.


“Diabolus...Somnium.”Bibir ranum itu bergumam pelan menyebutkan sebuah mantera sihir terlarang. Sihir gelap yang hanya bisa dirapalkan  oleh iblis tertinggi sepertinya, para saudaranya pun tak akan tahu. Namun, tetap saja. Dengan wadah rapuh nan fana milik manusia tentu selalu memiliki konsikuensinya ‘Aku tak perduli, aku ingin menyudahinya’Batin Rigel bergemuruh. Perlahan sepasang iris berlainan warna itu mulai berkaca-kaca.


“Hanna!”


Suara itu, Rigel amat mengenalinya. Sontak, ia pun menoleh kearahnya “Kazuya!”Pekik Rigel dengan kencang, seolah tak akan sudi ombak yang bergulung dari laut akan meredam suaranya “Kazuya... Kazuya... Kazuya...”Ulang Rigel dengan rindu yang amat sangat meruah dengan sempitnya.


Rigel merentangkan kedua tangannya, dia menatap pria berkemeja putih yang berlari-lari kecil menyusul dirinya ini. Rigel akan selalu menyambutnya, kapan pun dan sampai kapan pun. Rigel akan selalu menyambut pertemuannya ini.


“Ya Tuhan!”Permuda yang surai emas miliknya tertiup oleh angin membuat surai emas itu bergerak hilir kesana kemari dengan lembut “Kau bisa masuk angin, Hanna.”Sepasang iris aquamarinenya menatap dengan teduh “Kemari.”Ucapnya lagi sambil menarik tubuh kecil milik Rigel kedalam dekapannya, pria itu turut menciumi puncak kepala Rigel berulang kali.


Rigel mengadahkan kepalanya, dia menatap semestanya ini dengan dalam “Kazuya... Selama ini, hanya kau yang kucintai.”Ucap Rigel sambil meraih permukaan wajah rupawan itu kemudian menyentuhnya dengan pelan “Aku, tak bisa...”Dari sepasang iris berlainan warna antara merah lembayung dan kenari, bulir-bulir tetes air mata turun disana. Membuat riak air mata tak tertahannya tumpah meruah.


Pria beriris aquamarine itu mengulum senyuman “Kau pasti bisa, Hanna.”Lagi, diraihnya puncak kepala Rigel kemudian dikecupnya lagi dengan lembut.


Reka kenangan itu kembali terputar untuk menayangkan siluet pria yang amat dicintai seorang Rigel dimasa lampaunya.


Tes...Tes...


Air mata Rigel mengalir dengan deras, seolah tak ingin berhenti menangisinya. Apalagi ketika bayang-bayang pria itu semakin lama perlahan-lahan sirna dari pandangannya.


Masa itu, Rigel tahu. Dia pun turut menjadi ulah tak disengajai sebagai pendosa yang lekat akan perbuatan manusia “Diabolus...Somnium.”rapal mantera yang menyaksikan ulang rekaan pada dataran yang hangus oleh api. Lautan tangisan, jeritan dan malam penderitaan tak berakhir ‘Kau lenyap tanpa menyisakan jasad apapun.’Gumam Rigel memandangi bumi yang rata akibat ledakan bom pengguncang dunia. Kekasihnya, ada disana. Sebagai abu yang bertiup diantara percikan api yang perlahan-lahan memadam.


Rigel berdiri ditengah-tengah kehancuran itu ‘Semuanya sia-sia.’Gumam Rigel yang menatap kematiannya tanpa sempat menemui sosok yang amat dicintainya itu. Rigel tak pernah tahu, jika ujung perasaannya turut menjadi perih. Dia hanya bisa menangis, meruntuki nasib fana kekasihnya serta menyangkal kepergiannya yang teramat cepat.


Hingga...


“...Nona, nona Rigel.”


Tubuhnya digoyangkan dengan pelan oleh seseorang “Nona Rigel, bangunlah. Anda belum makan apapun sejak pagi.”


“Hn~”Rigel perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat itu, bahkan kedua matanya sudah begitu sembab “Ecru...”Ucapnya pada bocah yang tengah duduk dipinggiran ranjang kasur sembari membawa nampan berisi semangkuk bubur yang masih mengepul dengan hangat.


“Anda, menggunakan mantra diabolus untuk tertidur.”


Rigel mengangguki ucapan Ecru “Hanya kelelahan, dan sulit untuk tidur.”


“Tidak bisa nona, anda hanya menekan energi tubuh anda. Itu akan berdampak pada kehamilan anda juga.”Ecru mencoba menasehati tuannya dengan pelan.


Rigel menduduki tubuhnya, ia bersandar pada sandaran kasur besar ini “Bagaimana jika Jevandres sampai tahu, kau berubah seperti ini?”Ucap Rigel dengan cemas.


Ecru menggeleng “Tuan Jevandres, sudah pergi sejak tadi siang setelah mengantar nona Rigel kemari. Juga, ada Yang Mulia Invidia dan Acedia diruang tamu.”


“Bagaimana mereka bisa masuk?”


Ecru mengangguk “Tuan Jevandres yang meminta Yang Mulia Invidia dan Yang Mulia Acedia menemani nona.”


Lagi-lagi Rigel memasang raut wajah sendunya, diliriknya saja semangkuk bubur itu “Aku tak bernafsu makan.”Ucap Rigel kepada Ecru “Jangan bilang pada mereka, aku menggunakan mantera terlarang pada diriku sendiri.”Lanjut Rigel.


Brakkk...


Rigel tersentak kaget, saat Ivan membuka pintu itu dalam sekali sentakan. Malah terdengar seperti mendobrak pintu itu “Serius?! Apa kau ingin aku melahirkan saat ini juga?”Rigel mendengkus kesal.


“Aku bersusah payah memasak bubur untukmu, Sekarang makan ibu hamil.”Ivan merampas semangkuk bubur yang ada dipegangan Ecru “Kau harus memiliki energi Rig. Atau kau memang berniat membunuh mahluk kecil itu?”Ucap Ivan duduk dipinggiran ranjang kasur sambil menyendoki bubur itu kemudian mengarahkannya kepada Rigel.


“Tidak juga, mungkin iya.”Rigel pun memakan bubur itu “Aku bisa sendiri.”Ucap Rigel mengambil semangkuk bubur itu dari Ivan.


“Ecru...”Rigel menepuk-nepuk sisi kanan kasurnya.


Ecru yang mengerti langsung mengangguk paham, dia pun merangkak menuju sisi kanan kasur Rigel kemudian duduk bersila disana.


Hal itu tak luput dari perhatian Ivan “Kau seperti ibunya, dari pada tuannya.”Sarkas Ivan.


“Baiklah-baiklah, kemudian kenapa wajahmu sembab? Apa kau habis menangis?”


Rigel menyeringai jahil “Kau seperti nenek dari ‘mahluk kecil’ yang selalu kau ucapkan ini, apa sebegitu perdulinya pada ‘mahluk kecil’ ini sampai kau bertanya hal itu? Ivie~”Rigel itu hanya menggoda Ivan, memang karena pemuda bersurai perak itu jarang memperhatikannya malah terkesan acuh tak acuh selama ini.


Ivan memerah “B-bukan! Yah, bi-bisa jadi. Argh terserah kau saja.”Ucap Ivan yang pada akhirnya keluar dari kamar apartemen ini.


Disaat Rigel terkekeh pelan, langkah kaki lain terdengar. Disana kepala bersurai hitam milike Arcadia giliran menyembul masuk “Yo! Bagaimana keadaanmu?”Ucap Arcadia Dio tanpa masuk kedalam kamar itu.


Rigel mengangguk “Baik, oh iya. Dimana kak Jev?”


“Dia pergi menemui pria detektif tadi.”


“Kenapa dia bisa menyuruh kalian kemari?”


“Well, aku memang kebetulan mengenal tuan Lascelles karena pekerjaanku saat ini. Dia tengah menyelidiki kasus kematianmu, tapi sekarang tenanglah. Tidak ada siapapun yang akan tahu hal ini. Aku dan Ivan akan menghapus ingatan staff anggota polisi lainnya, kemudian menghancurkan seluruh dokumen mengenai dirimu. Rig.”Ucap Arcadia dengan tampang malas, namun untuk ukuran orang yang memiliki raut malas Arcadia Dio cukup banyak bicara.


Rigel mengangguk “Terimakasih Dio, lagi-lagi aku hanya merepotkanmu.”Tertunduklah Rigel setelah mengucapkan hal itu kepadanya. Hal seperti ini memang sudah sering dilakukan kedua pria muda itu kepadanya, mereka sering menghapus jejak Rigel jika identitas aslinya terbongkar.


“Tak masalah.”Ucap Arcadia “Kau hanya harus cepat pulih dan melahirkan mahluk kecil itu, agar bisa dengan mudah membalaskan dendammu. Kemudian kita bertiga akan melanjutkan ‘rencana’ utama kita didunia bawah. Kami membutuhkanmu, Rig.”Lanjut Arcadia lagi. Pria bersurai hitam itu menutup perlahan pintu kamar apartemen “Aku kembali ke Rumah Sakit lebih dulu, dibawah ada Ivan dia akan menunggu sampai Jevandres pulang. Apa kau tak masalah, Rig?”Kata Arcadia sebelum benar-benar menutup pintu itu.


“Tidak apa-apa. Hati-hati dijalan Dio.”Ucap Rigel dengan senyum yang mengembang manis bersama ucapannya yang terdengar begitu hangat.


Arcadia Dio tersentak ‘Cantik’dia membatin memuji paras rupawan sang Ira saat itu. Akhirnya, dia pun mendeham sambil menutup pelan pintu kamar itu.


Sepeninggalan Arcadia, Rigel hanya memakan buburnya itu. Usai memakan bubur itu, dia memilih untuk beranjak mandi “Stttssss...”Rigel meringis pelan karena dirasanya perutnya kembali nyeri. Beruntung disana ada sosok manis Ecru, dia membantu seluruh aktivitas Rigel saat ini.


“Aku, seperti orang konstipasi ya?”Rigel melihat pantulan dirinya dari cermin kaca didalam kamar mandi, perutnya itu sedikit membuncit samar. Rigel tampak berpikir tapi kemudian dia terus melanjutkan membasuh wajahnya.


Rigel keluar kamar mandi dengan kimono handuknya “Ecru, kembalilah menjadi cincin. Aku takut Jevandres tiba-tiba datang.”Ucap Rigel kepada Ecru.


Bocah manis itu pun hanya mengangguk, dalam sekejap cincin hitam itu sudah melingkar ditangan kiri Rigel.


Dia memilih untuk mengenakan celana training hitam beserta kaus panjang berwarna merah muda, Rigel menemukan pakaian itu dari lemari berwarna putih yang ada dikamar apartemen ini. Jika dia menerkanya, itu adalah lemari milik Binary.


Rigel keluar dari kamarnya, dia menuruni anak tangga menuju ruang tamu dilantai bawah. Disana ia melihat Ivan yang sedang berbincang dengan Jevandres, kedua alis Rigel mengkerut saat melihat Jevandres yang mengenakan kemeja putih dengan jas berwarna grey yang disematkan pada lengannya. Atas kerah kemeja itu terbuka, biarpun samar. Namun Rigel bisa melihat bercak merah disana ‘Ck. Dasar’Rigel mendengkus kesal, kemudian melanjutkan berjalan menuju kakak angkatnya itu.


“Ivie~”Panggil Rigel dengan manja.


Sementara Ivan membalasnya dengan tatapan horror “Engh... ah hai! Tuan Jevandres sudah pulang, jadi aku kembali ke bakery dulu ya. Jika perlu sesuatu hubungi aku ataupun Arcadia, jangan kelelahan kemudian istirahat yang benar.”Ivan berbicara panjang lebar kepada Rigel.


Sekali lagi, Rigel melirik noda kemerahan dileher Jevandres. Dia tentu saja tahu noda itu melekat dileher kemudian tak sengaja mengenai kemeja putihnya. Rigel malah menjadi kesal, dia pun menatap Ivan “Apa aku boleh menginap diapartemenmu?”Ucap Rigel tiba-tiba.


Kedua iris merah Ivan membulat, kemudian dia tertawa hambar “Haha... Aku tahu kau merindukan aku dan Arcadi, tapi jadilah isteri yang .Baik. ya...”Ivan sengaja menekan kata baik pada akhir kalimatnya.


Hal itu diangguki oleh Rigel, walaupun seraya menunduk. Rigel bergulat dengan pikirannya sendiri ‘Apakah dia baru saja bersama wanita lain?’ ‘Kenapa dia tak mengatakan apapun sebelum pergi?’ ‘Apa dia merasa tak menyukaiku juga’ ‘Apakah Jevandres sengaja?’ Banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Sampai-sampai Rigel tak sadar jika Ivan sudah diantar kepintu apartemen oleh Jevandres, kemudian pria itu kembali berjalan menghadapi Rigel.


“Rig...”Jevandres berdiri dihadapan Rigel, dia menunduk untuk menyamai tinggi tubuh Rigel yang lebih rendah darinya “Rig, apa kau sakit?”Ucap Jevandres sambil mengarahkan tangan lebarnya untuk memegang kening Rigel.


Plakkk....


Rigel dengan cepat menepis tangan pria itu “Apa wanita itu lebih menggiurkan dari pada aku?!”Kedua iris mata Rigel menyalang, namun berkaca-kaca. Wajah hingga hidungnya merona merah, Rigel menahan isak air matanya “Terserah kau saja!”Pekik Rigel seraya berlari menuju anak tangga.


‘Aku benci’pandangannya mengabur oleh ulah air matanya yang sudah mengalir keluar, bahkan dia tak melihat anak tangga yang dinaikinya. Tubuhnya pun oleng dari keseimbangan.


Tiba-tiba kedua lengan kekar Jevandres dengan sigap menangkap tubuh Rigel “Bodoh.”Umpat Jevandres itu “Bagaimana kalau kau sampai jatuh.”Bahkan pria itu membiarkan jas grey dan tas jinjingnya berserakan dilantai.


“Hiks... Pergi sana, hiks... menjauh dariku.”Ucap Rigel sesenggukan.


Jevandres menatapnya. Dia melihat paras cantik itu memerah manis, dia pun menjadi tak tega melihat Rigel, oleh karena itu Jevandres membawa tubuh mungil Rigel kedalam dekapannya “Maaf... apa kau salah paham dengan noda merah ini?”Ucap Jevandres seolah membaca pikiran Rigel.


Rigel mengangguk pelan, dia membenamkan wajahnya pada dada bidang Jevandres “..Bodoh.”Cicit Rigel dengan pelan.


“Ini bukan seperti pikiranmu, Rig. Ini ulah Eriza dia hanya menjahiliku. Ayolah, aku tak akan melakukan hal itu Rig.”


“...Bodoh.”


“Iya iya, kau bebas mengumpatku. Asal jangan menangis lagi ya?”


“Tidak tahu...”


Jevandres pun dengan gemas, menggendong tubuh kecil Rigel “Ya sudah... Sekarang istirahat lagi ya.”Ucapnya sambil mengecupi puncak kepala Rigel, tentu membuat si manis itu tersipu malu.


.


.


 


Bersambung