
.
.
.
“...Kau tak apa-apa sayang?”
Rigel tersenyum, mengangguki perkataan ibunya “Maaf ya bu, Rigel lagi-lagi merepotkan.”
“Tidak apa-apa, Sunshine. Ayah dan ibu juga ada teman karena si kembar ini.”Pria paruh baya dengan tubuh tegap itu mengusak puncak kepala Rigel “Semoga ujianmu tidak ada hambatan”Ujarnya lagi. Tentu saja, Rigel berdusta. Dia tak mungkin mengatakan masalah antara dirinya dan Jevandres yang lumayan pelik itu.
Rigel mengangguk “Kalau begitu, Rigel pulang ya. Lusa Rigel akan menjemput Caleb dan Calleriu.”
Tepat pukul tiga dini hari, Rigel tiba seorang diri di Rumahnya dengan mengendarai mobil milik Ivan. Setelah perjalanan beberapa jam menghantarkan kedua bayinya kepada kedua orang tuanya di Rotterdam. Rigel memparkirkan mobil milik Ivan didepan rumahnya, dia pun keluar dari mobil itu.
Rumahnya yang gelap, Rigel membuka knop pintu. Secara teknis dia tak begitu sendiri, Ecru bersamanya walaupun dalam mode ‘istirahat’ berupa cincin hitamnya. Sementara cincin pernikahannya bersama Jevandres sudah lama Rigel lepaskan. Cincin itu tak lagi melingkar ditangannya.
Rasanya sepi, rumah itu terasa sepi tanpa suara bayi-bayinya dan suara Jevandres saat dia masih hamil. Kehangatan itu, Rigel merindukannya. Apalagi saat Jevandres sudi repot akan morning sickness dan moodnya yang sering berubah-ubah itu.
Rigel tanpa sadar, tubuhnya merosot dengan lemah. Dia terduduk dipintu ruang tamu dan bersandar disana “Hiks... Hiks... Bodoh! Kenapa aku lemah! Aku bodoh!”Rigel terisak dengan tangisan yang sudah begitu lama dipendamnya itu, dia meruntuki dirinya.
Kedua tangannya tak lepas meremat surai hitam yang sudah memanjang itu, kepalanya pening perasaan perih. Tak salah, dia mencinta. Tapi rasa rindu itu amat sangat menyiksa.
Rigel pun bangkit berdiri, memengangi nakas meja yang ada disekitarnya “Aku tak pernah lupa mengunci pintu rumahku, apa lagi yang kau mau?!”Rigel berkata dengan suara seraknya, tertahan oleh tangisan itu. Bahkan tatapannya menunduk melihat karpet diruang tamu.
Derapan langkah pelan, terdengar mendekatinya “Maafkan aku...”Suara berat itu terdengar tak kalah menderita darinya.
“Apa maumu lagi?! Tak cukupkah! Pergi sana!”Rigel membentaknya dengan kasar. Menahan isak tangisannya yang tertahan dipelupuk matanya. Menjauh, Rigel lebih ingin menjauhinya. Tapi tak pernah bisa lupa, apalagi perasaannya malah menderu dengan hangat.
Tangan besar itu membelai surai hitam panjang Rigel, dia merapikan rambut itu kemudian dengan suka hati mengikatnya. Sempat dikecup tengkuk putih itu dengan perlahan “Ini aku, Rig. Aku susah payah menahannya sementara ini, tapi kau malah mengusirku. Sungguh menyedihkan.”Suara itu sama sedihnya dengan Rigel. Dia yang berdiri dibelakang Rigel memang menghapus jarak, namun masih ragu untuk meraih tubuh kecil itu.
Kedua iris aquamarine itu melihat tangan Rigel yang bergetar, bahkan cincin pernikahan mereka tak dikenakannya “Apakah kau kecewa padaku?”Ujar Jevandres hendak meraih tangan Rigel. Namun...
Plak! Rigel membalikkan tubuhnya bersamaan dengan tamparan keras pada wajah rupawan itu “Jauhi aku! Wajahmu adalah hal yang paling kubenci.”Rigel berkata dengan dusta, padahal sosok itulah yang paling dirindukannya. Wajahnya sudah sembab, penuh dengan air mata dan tatapannya perih akan kecewa.
Jevandres Altair Lascelles, menatap dengan iris aquamarinenya. Dia tak mengelak, dan tak juga menghindar “Kau berkata seperti itu dengan air mata ini?”Ujarnya sambil menyeka air mata itu dari Rigel. Padahal baru dikasari, namun ia tak mengubris.
“Aku benci padamu, Kak Jev! Anak-anak kita, apakah kau tak ingin menemui mereka? Hiks... aku benci padamu... hiks...”
“Aku tahu, maafkan aku.”Jevandres hanya bisa mengatakan maafnya. Dia tahu, gadisnya ini sedang berada pada masa sulit tapi dia tak dapat menemaninya “Kemarilah...”Jevandres berucap sambil menarik tubuh itu, dia mendekapnya. Membiarkan kemeja putihnya basah oleh air mata Rigel.
Rigel terisak disana, dia rindu tubuh yang mendekapnya sedemikian hangatnya ini. Rigel membalas dengan pelukan, meremat punggung tegap itu dengan erat “Aku rindu padamu...”Gumam Rigel dengan wajah sembabnya.
“Aku pun begitu, sangat rindu kalian.”Jevandres menyertakan isteri dan kedua anak-anaknya. Dia pun begitu ingin kembali, bersama gadis bintang biru ini. Seolah lupa akan kebenaran jiwa pada dirinya dan gadisnya. Dia sangat ingin.
Rigel menggeleng, raut wajahnya sudah amat frustasi “Tidak! Siapa yang akan rela melakukan itu.”
Jevandres mengecup Rigel dengan singkat “Aku tahu... aku pun begitu, lusa. Datanglah kediamanku. Kita akhiri semuanya, Rigel.”Jevandres mengulum senyumannya kepada Rigel, dia meraih wajah itu meletakkannya pada dahinya “Aku begitu mencintaimu, Rig”Ungkapnya dengan jujur.
Rigel menggengam kedua tangan besar yang menangkup wajahnya itu “Aku juga, aku sangat mencintaimu...”Rigel memang terisak ‘Tak akan kubiarkan kau lenyap begitu saja’Batin Rigel tak kalah berucap. Katakanlah dia amat egois, tapi Rigel masih memiliki satu cara lagi untuk mendapatkan Jevandresnya kembali. Dia pun kembali memeluk tubuh besar itu,
.
.
.
Sepatu boots hitam itu menghentak kaki pada lantai keramik dengan lantangnya itu, suaranya menggema keseluruh penjuru ruangan. Gadis berwajah manis, berpakaian serba hitam. Kedua tangan bersarung hitam itu menggegam sebuah revolver hitam, sejak pagi tadi dia sudah disibukkan oleh beberapa orang yang mengincarnya. Padahal, dia hanya ingin menemui saudara laki-lakinya di Rumah Sakit ini.
Raut wajahnya jengah, seolah tak perduli akan keributan didalam Rumah Sakit itu “Tch. Serangga-serangga busuk.”Ketusnya sambil menarik pelatuk pistolnya itu.
Ingatkan dirinya seorang pendosa legendaris, iblis tingkat elit. Biar berada didalam tubuh manusia, aliran darah pada dirinya sudah mengakui pendosa ini. Jemarinya dijentikkan, tak hanya waktu namun seluruhnya berhenti oleh kehendaknya.
Bersurai hitam sekelam malam dengan sepasang iris merah lembayung menatap dengan tajam, bibir ranum itu memiringkan senyuman “Pppffffttt... Haha... Mengangumkan. Perasaan ini!”Gadis itu tertawa dengan gila. Menguarkan pendosanya dengan lebar, saat itu pula dia menyerap begitu banyak dosa-dosa kemurkaan “Selamat makan...”Katanya sambil mengecap lidahnya.
“Rigel!”Berseru suara Arcadia Dio yang tiba tergopoh-gopoh. Pria berjas putih itu membulatkan kedua mata merahnya.
Gadis dengan mantel hitam itu, menyibakkan rambutnya. Didepannya ada delapan orang yang sudah mati, semuanya dipersenjatai. Walaupun bukan seperti orang yang amatir, tetap saja. Mereka hanya mati konyol didepan sang Kemurkaan itu “Oh hai, Dio. Aku membersihkan serangga-serangga ini. Di Rumah Sakit tak boleh ada keributan bukan?”Rigel memang berkata dengan tersenyum, namun lebih pantas disebut dengan seringai.
“...Kau makan terlalu banyak. Seingatku kau bukan tipikal yang raku.”
“Oh tentu saja.”Rigel membalikkan tubuhnya, dia berjalan meninggalkan jasad-jasad itu. Lantas langsung berubah menjadi abu yang bertebaran dilantai keramik putih ini “Aku sudah lama puasa karena mengandung anak-anaknya Jevandres.”Sebelah alis Rigel dinaikkan. Cantik dan mematikan, dua hal yang ada pada dirinya sudah kembali.
“Apa yang ingin kau katakan sampai kemari?”
“Besok, kalau kau menyetujui undanganku ini. Besok adalah waktunya.”
Arcadia Dio mengangguk “Aku memang sudah menduganya.”
“Iya... Hubris yang menjijikkan itu, akan segera meninggalkan singasananya.”Ujar Rigel sambil melintasi Arcadia Dio.
.
.
.
Bersambung