Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 44: Crave



Kalau saya buat cerita baru, ada yang mau baca gak ya? uhm tapi udah ada spoiler loh di episode 41 hehe... >.<


.


.


.


.


Happy Reading


.


.


“Aku mendambakan hidup seperti itu.”Gadis beriris merah lembayung itu berkata kepada seorang wanita cantik bersurai pirang dengan indah “Aku sudah menceritakan semua kehidupanku kepadamu, Humilitia... Ini senjatamu, dia lumayan membantu ternyata.”Rigel meletakkan knuckle itu didepan wanita ini.


Wanita cantik itu tersenyum lembut “Ira... Adikku sudah mengatakannya, tidak perlu sungkan. Aw... lihat bayi kecil ini, dia begitu lembut.”Ujar wanita itu sambil menimang-nimang Caleb “Energinya mirip denganmu... Tegas, kuat dan dalam.”


Rigel yang menggendong Calleriu yang tengah tertidur itu hanya bisa mengulum senyuman “Mereka berdua mewarisi keduanya, hanya masih begitu kecil.


“Aku paham, pasti berat. Tapi kita pun tak dapat membiarkan salah satu dari kita tidak seimbang Ira, kau pun pasti tahu bukan? Hitam akan berdampingan dengan putih.”


Rigel mengangguk “Maka dari itu, dunia bawah tak boleh dipimpin oleh Hubris Superbia dan tak juga olehku.”


Tatapan wanita itu menyendu, dia pun mengecup pipi Caleb dengan lembut “Kau harus menang, demi kedua bayi-bayimu. Ira.”


“Aku tahu... Terimakasih Humilitia, siapa sangka dimasa depan seperti ini kita berdua justru mengobrol seperti teman lama.”


“Ah, tak perlu sungkan. Zuriel mengatakan jika kau begitu baik, memang sejak dulu kau seperti itu. Raja kegelapan yang memiliki hati bijaksana, kau kunci dari keseimbangan ini. Ira...”


“Humilitia, jangan berlebihan. Spesialisku bukan berbangga diri...”Rigel terkekeh pelan kepada Humilitia, sang Rendah Hati. Malaikat yang dengan senang hati mampir kekediamannya.


Humilitia meletakkan Caleb pada ranjang kasurnya “Oh iya, aku ada hadiah kecil-kecilan. Semoga bisa bermanfaat untuk mereka.”Humilitia memberikan dua buah liontin perak kemudian memasangkan liontin berbandul perak itu kepada masing-masing bayi kembar pasangan Jevandres dan Rigel itu “Akan menyusahkan bukan? Jika paman dan bibinya mengincar pahlawan yang kelak akan membela keadilan ini.”Gadis itu menggembangkan senyumannya.


Rigel mengangguk dengan hormat, dia tahu kedua liontin itu adalah senjata suci berkemampuan barrier atau sebagai pelindung terhadap energi-energi jahat. Hal ini tak terpikirkan oleh Rigel, apalagi dia akan meninggalkan bayi-bayinya ini sementara waktu “Aku tak memikirkan hal itu, Humilitia aku berhutang budi.”Ucap Rigel.


Gadis itu menggeleng “Tidak, tidak kok. Anggap saja sebagai hadiah kecil untuk kelahiran mereka. Kalau begitu aku permisi ya, aku yakin Zuriel tak lama lagi tiba.”


“..Eh? kak litia? Mau kemana?”Benar saja, pria beriris emerald itu baru tiba dengan sekantung berisi makanan. Pria bernama lain Ramone Angelus itu hanya memasang wajah bingung.


“Kembali, keberadaanku hanya untuk menemui bayi-bayi lucu itu. Kalau begitu sampai jumpa lagi, Ira.”Ujar gadis itu sambil keluar dari rumah Rigel.


Ramone mendekati Rigel, dia masih menyusui bayi Caleb “Wah menggagumkan, begitu ya manusia memberi makan anakknya.”


Rigel naik pitam, dia langsung melempar Ramone dengan bantal “Keluar kau! Mesum!”Ujar Rigel setengah teriak sampai kedua bayi-bayinya terkejut dan menangis.


Ramone pun keluar dari kamar Rigel, dia menghela nafas. Kemudian menuju dapur untuk menata beberapa makanan yang dibelinya. Kebanyakan makanan cepat saji, seperti ayam goreng, kentang goreng dan hamburger.


“Ah... Melelahkan...”Ramone duduk dikursi makan. Dia masih didapur. Sesekali melihat jendela dapur yang sudah gelap karena malam itu.


Seorang bocah manis, seperti boneka porselen. Dia menghampiri Ramone “Tuan, nona Rigel bilang tunggu sebentar sampai tuan muda Caleb dan Calleriu tidur.”Ujar Ecru.


Ramone hanya mengangguk. Tak begitu lama, Rigel pun tiba sudah mengenakan piyama berwarna merah mudanya. Gadis itu masih dipandangnya, mengusap puncak kepala bocah kecil yang diberi raga dan jiwa olehnya.


“Tidurlah... temani Caleb dan Calleriu.”Ujar Rigel. Bocah itu mematuhinya, dia langsung bergerak pergi.


Rigel beralih memasak air, dia akan membuatkan dirinya dan Ramone kopi panas “Anak itu, jiwa yang kubebaskan dari iblis. Kebetulan cocok dengan senjataku, jadi dia menawarkan diri untuk itu.”


Ramone terkekeh “Tidak, hanya saja kau memperlakukannya seperti anakmu sendiri.”


Rigel tak langsung menjawab, dia menuangkan air panas itu untuk kedua cangkir “Memangnya tidak boleh?”Ujar Rigel sambil meletakkan kedua cangkir itu diatas meja makan, dia mencomot kentang goreng dan memakannya.


“Terus, kenapa kau kemari?”


Ramone menegakkan tubuhnya, pria itu tak kalah rupawan dari Jevandres. Tapi terkadang sifatnya masih pecicilan dan tengil “Menemui mantan kesayanganku.”Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rigel menghela nafas “Aku hanya seorang manusia, kau malaikat. Cari saja malaikat lain.”


“Siapa bilang? Kau manusia yang bisa mengendalikan pendosa legendaris dengan baik. Rigel, apa kau benar-benar ingin melakukannya?”Kini mereka sudah masuk ke pembicaraan sesungguhnya.


Rigel mengangguk pelan, dia meraih cangkir itu dan meneguk kopi panasnya “Semoga saja aku menang melawannya, kemudian kembali untuk mengurus anak-anakku. Jika memang tak bisa, kuminta kau mengawasi kedua anakku sampai mereka dewasa.”


“Aku bisa membantumu jika kau mau.”


Rigel kembali menggeleng “Ini urusan para pendosa, kau tak boleh ikut campur. Tenanglah, aku akan menyelesaikannya.”


“Kenapa?”


“Lakukan.”


Rigel pun mengulurkannya, dia diberikan sebuah lonceng kecil dengan pita diatasnya.


“Aku tak boleh ikut campur bukan? Tapi aku boleh memberi logistik padamu, ini lonceng kuda milikku. Setelah kau selesai, dia akan menghantarmu.”


Rigel menyunggingkan senyuman, rupanya banyak orang yang mengkhawatirkannya “Terimakasih, ingin kutolak tapi kau pasti memaksa bukan?”Rigel terkekeh pelan.


“Kau tahu aku...”


Rigel beranjak berdiri “Ada tamu tak diundang, mereka ya... Kalau energi pendosa tak sanggup menyentuh anak-anakku. Nekat sekali menyuruh serangga busuk ini.”Ujar Rigel sambil berjalan menuju ruang depan.


“Apa kau tak keberatan untuk mengawasi Caleb dan Calleriu?”Pinta Rigel pada Ramone, pemuda itu pun mengacungkan jempolnya.


“Baiklah”Rigel meregangkan tubuhnya. Ingat akan peralatannya yang hampir semuanya ada diapartemen lama di Seoul. Rigel pun tetap berjalan menuju pintu ruang tamu yang sudah tampak bergetar-getar itu, seperti hendak dibobol dari depan “Ah... Ivan bisa marah kalau rumah ini lecet sedikit.”Rigel pun meraih gagang itu, dia membuka pintu.


Bukan satu atau dua orang, tapi lima belas pria menyeramkan dengan otot besar itu berdiri didepan rumah Rigel “Ah baiklah kalian... selesaikan diluar. Anakku sedang tidur!”Rigel berkata dengan santai.


.


.


.


Bruk. Brak... Brughh....


Suara gaduh itu terdengar. Ramone terkekeh samar, dia pun berjalan kekamar kedua bayi itu berada “Caleb, Calleriu... kalian tidur yang nyenyak ya? Ibu kalian sedang bersih-bersih diluar.”Ujar Ramone sambil duduk dipinggiran ranjang kasur. Dia pun menyelimuti tubuh bayi kembar dan bocah laki-laki yang tampak pulas tertidur itu.


Rigel baru memasuki kamarnya, noda darah menempel diwajah dan piyama pinknya itu “Aku mau mandi dan ganti baju, Ah iya. Kedua kakakku juga kebetulan baru pulang.”Ujar Rigel sambil mengambil beberapa helai pakaiannya “Aku mandi dikamarmandi dilantai dua, kalau kau mau beristirahat. Kamar tamu ada dibawah tangga.”Rigel pun kembali keluar.


“Tetap saja, Rigel menyeramkan.”Ramone bergidik ngeri.


Dia pun berjalan keluar dari kamar bocah-bocah kecil itu berada, dia mendapati Ivan Tristan dan Arcadia Dio yang berdiri diruang tamu sambil membuka mantel yang mereka kenakan “Oh, hai... Aku kebetulan mampir.”


Ivan menatapnya dengan sinis “Kau tak aneh-anehkan dengan Rigel?”


Ramone menggeleng polos “Tidak, kami hanya ngopi dan makan kentang goreng.”


“Ivan... bagian diluar, kau yang urus ya...”Arcadia Dio melintasi saudaranya dengan tampang malas.


“Ha?! Aku lagi! Itukan tugasmu, bodoh!”


“Mereka tak mati, kau tinggal menyuruh pegawai-pegawai iblismu mengembalikan mereka.”


“Ck. Tapi mereka babak belur dokter!”


Begitulah isi rumah ini, hanya keributan Ivan dan Dio yang berdebat. Sementara Ramone yang paling netra hanya terkekeh hambar, tidak setelah kedua bayi kembar itu menangis akibat pertengkaran paman-pamannya.


“Lihatlah! Kedua anakku bangun lagi!”Rigel mengganti bajunya dengan sweater cokelat dan celana pendek, kaki jenjangnya yang mulus tampak menuruni tangga.


Walaupun wajah itu marah, namun Rigel tetap berusaha sabar “Tidakkah kalian mengerti akanku? Sulit menenangkan mereka berdua secara bersamaan, aku ini hanya seorang ibu tanpa suami sendirian...”Kadang Rigel pun merasa sedih, itulah yang membuatnya lebih senang bertiga dengan anak-anaknya ditambah Ecru. Sendiri membuat Rigel dengan leluasa mengeluarkan emosionalnya, dia dapat sedih kapanpun.


Ivan dan Arcadia melihat raut wajah murung Rigel saat gadis beriris merah lembayung itu melintasi mereka. Keduanya pun merasa bersalah “Baiklah, aku yang membereskan diluar.”Final, Ivan. Dia kembali keluar rumah.


Sementara Arcadia Dio, dia pun dengan santainya merebahkan diri disofa “Hari ini, kami memburu dosa-dosa manusia. Kemudian membersihkan kawasan didekat rumah ini dari iblis-iblis rendah yang dikirim oleh saudara kami.”Ucap Arcadia Dio kepada Ramone.


“Iya, aku tahu. Energi itu begitu terasa disekitar sini, namun sudah lebih baik. Mereka merasakan energi dari kedua bayi itu. Jadi wajar saja.”Ramone duduk disofa didepan Arcadia.


“Tapi kakakku Humilitia, Dia memberikan senjata suci berkemampuan barrier untuk kedua bayi itu. Jadi jangan terlalu khawatir.”


Arcadia Dio memejamkan kedua kelopak matanya “Humilitia... Apakah dia masih suka tersenyum seperti dulu?”


Ramone terkekeh pelan “Tentu. Kakakku masih sama, Acedia tidakkah kau ingin menemui kakakku?”


“Entahlah...”Ujar Arcadia Dio.


.


.


.


Bersambung