
Happy reading
.
.
.
“...Mevrouw?”Sosok gadis manis mengedip-ngedipkan kedua matanya, tampak melamun sejenak. Hingga seorang kasir menegurnya dengan lembut, sekiranya dia sudah berdiri selama lima menit menunggu antrian belanjaan namun ketika giliran gadis manis itu dia malah terhanyut lamunannya sendiri.
“Mevrouw, hanya ini saja belanjaanmu?”Wanita tua yang memengang mesin kasir itu tersenyum lembut kepada Rigel. Melihat belanjaan keperluan Rigel yang banyak berisi makanan dan perlengkapan dapur, wanita tua itu lagi-lagi tersenyum melihat Rigel “Berapa usia kehamilannya?”Ucap wanita tua itu tersenyum gemas dengan Rigel.
Rigel tersenyum manis, dia mengusap perut buncitnya itu “Sekitar tiga belas minggu.”Ucap Rigel sambil merogoh dompet dari tas ransel cokelat tuanya itu. Dia pun memberikan beberapa lembar uang untuk membayarnya.
“Anda juga seorang pelajar?”Wanita itu tampak sedikit terkejut, dia tak sengaja melihat beberapa buku didalam tas ranselnya itu.
Rigel mengangguk “Ini juga tahun ketiga saya menyambung perkuliahan yang lalu.”Ucap Rigel sambil mengambil tas tote bag berisi belanjaannya itu.
“Mau dibantu, nona?”Wanita tua itu menatap cemas Rigel yang membawa banyak belanjaan dengan keadaan hamil seperti itu.
Rigel menggeleng “Dank u wel.”Seru Rigel berterimakasih sambil menenteng dua tote bag itu keluar dari minimarket.
Baru saja membuka pintu minimarket itu, sepasang iris kenari Rigel menubruk tatapan aquamarine yang menatapnya dengan memuja. Sungguh, waktu dunia Rigel terhenti kala itu. Sosok tegap yang bersandar pada sebuah mobil ferrari, baru saja menghabiskan satu puntung rokoknya. Asapnya saja belum usai mengepul, buru-buru dimatikannya.
“U-uhm...hai.”Rigel salah tingkah.
Jevandres tak menerima, dia langsung menghampiri Rigel dan meraih seluruh belanjaannya “Sejak kapan kau jadi sangat susah dinasehati, sayang?”Tanpa menerima penolakan, usai menata belanjaan Rigel ke jok belakang mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk kekasih kecilnya ini.
Rigel terbuai oleh sikap manisnya “Aku sekalian lewat setelah pulang dari kampus.”Ucap Rigel sambil memasang sabuk pengamannya “Tuan Jevandres sendiri kenapa masih suka mengutitku?”
Jevandres melihat sabuk pengaman Rigel yang tak tertutup seutuhnya, dia mendekat untuk membenahinya “Bukannya sudah menjadi tugasku untuk mengawasimu, kenapa masih bertanya, Hm?”Akhir ucapan Jevandres mendehem dengan suara berat nan seksinya.
Rigel memerah, langsung memalingkan tatapan ke jendela mobil. Jujur saja, dia malu diperlakukan semanis ini oleh pria nyaris sempurna selayaknya Jevandres Altair Lascelles ini. Bahkan Jevandres rela direpotkan oleh hal-hal aneh semasa kehamilannya. Seperti ingin memakan sesuatu dimalam hari, sering memarahi pria biru itu tanpa tahu sebabnya atau bahkan manja dengan sendirinya. Terutama kedua kakaknya tinggal jauh, keberadaan Jevandres sangat membantunya. Dia selalu siap untuk Rigel.
Sesampainya dirumah Jevandres meletakkan belanjaan diatas meja makan, dia membuka kancing dipergelangan tangannya “Oh iya, nanti malam akan ada acara dikediamanku. Jika tak lelah kau bisa ikut datang bersamaku Rig.”Ujar Jevandres sambil menggulung kemejanya hingga selengannya.
Benar, mereka tak tinggal bersama. Selama ini hanya Jevandres yang sering membantu aktivitas harian Rigel, setelah itu dia akan kembali dimansion lainnya yang ada di Den Haag.
Rigel itu mudah pegal belakangan ini, dia duduk dikursi ruang makan yang menyatu dengan dapur “Memangnya acara apa?”Ujar Rigel sambil menarik tas tote bag belanjaanya. Dia mulai sibuk membongkar isi belanjaannya.
“Acara ulang tahunku.”Jevandres menghidupkan kompor, dia berencana untuk memasak makan siang untuk Rigel “Keluargaku ingin acara ini, mereka mempersiapkannya jadi ya... pria tua ini hanya ingin gadis manisnya menemani selama acara berlangsung.”Ujar Jevandres seraya meletakkan panci berisi air, kemudian berencana merebus ayam dan beberapa sayuran.
Rigel tidak tahu menahu mengenai pria ini, bahkan dia tak pernah bertanya. Selama ini pun Jevandres tak pernah menceritakan apapun tentangnya. Rigel merasa bersalah, kebaikan Jevandres selama ini terlalu besar untuk seseorang yang bahkan sempat menolak keberadaannya. Rigel menyadarinya, dia hanya bisa menunduk dengan sedih.
Jevandres menoleh, mendapati Rigel yang merubah raut wajah sedihnya. Dia pun langsung mematikan kompor “Hey, hey sayang. Tidak mengapa jika kau tidak bisa datang.”Ujar Jevandres menghampiri Rigel.
“Tidak tuan Jevandres, aku akan datang kok! Aku menerima tawaranmu.”Suara Rigel meninggi “M-maaf...”Lirihnya pelan.
Jevandres membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya “Tidak apa jika kau merasa lelah Rig, jangan memaksakan dirimu sayang.”Sesungguhnya Jevandres menahan hasratnya, Rigel cantik dan menggemaskan. Melihat pipinya bersemu merah dengan sepasang mata yang berkaca-kaca merupakan kelemahan Jevandres.
“Aku ingin menemanimu...”
Jevandres tak bisa menolak “Baiklah, nanti malam kita pergi bersama.”Ujar Jevandres sambil mengecup puncak kepala Rigel. Pria itu pun kembali dengan aktivitas masaknya “Mau makan sup?”
Rigel mengangguk antusias “Hm. Mau!”Ucapnya dengan tersenyum manis.
.
.
.
Saat menuruni mobil, Jevandres langsung meraih tangan kecil itu “Yakin tetap mau masuk?”Ujar pria dengan setelan jas hitam formal itu, dua kancing kemeja hitamnya dibiarkan terbuka menambah kesan seksi tak ketara.
Rigel mengangguk saja. Dia menggandeng lengan Jevandres karena merasa sepatu hak tinggi yang dikenakannya membuat kedua betisnya kencang karena pegal.
Tiba dimansion megah dipinggiran Den Haag, dengan dekorasi pesta yang mewah bahkan tamu undangannya pun banyak dari kalangan orang penting. Rigel hanya diam menemani Jevandres yang menyapa rekan-rekan kerjanya, dia setia dengan menggandeng tangan pria itu.
Keluarga Lascelles baru menghampiri putera sulung mereka, Rigel melihatnya. Keraguan muncul disana, siapalah dirinya ini dibandingkan banyaknya wanita cantik yang elegan hilir mudik menghampiri Jevandres. Kini keluarga besarnya malah turut menghampirinya, Rigel gusar dan mengigit bibir bawahnya.
“Binary, nenek lama tak melihatmu. Semakin cantik saja.”Seorang nenek tua meraih kedua tangan Rigel.
“E-eh? Iya terimakasih.”Rigel memaklumi nenek yang memanggilnya dengan Binary, dia juga memiliki nenek yang pikun. Rasanya itu masih bisa dipahaminya.
Sepasanag suami isteri yang Rigel yakini sebagai orang tua Jevandres mendekatinya “Kami sudah memperingatimu, sayangnya hari ini kebahagiaan anakku.”wanita itu berbicara dengan sinis “Sayang, kita sudah bahas ini bukan?”Sepertinya ayah Jevandres membelanya.
“Rig, ayo ikut aku.”Ditariknya dengan lembut pergelangan tangan Rigel oleh Jevandres.
Tepat saat itu, ruangan menjadi gelap dengan lampu sorot khusus. Alunan lagu yang terdengar, seiring dengan beberapa pasangan berjalan ketengah ruangan bersama pasangannya masing-masing. Mulai berdansa dengan pasangannya.
Jevandres memengang pinggang Rigel dan tangan kanannya, dia memimpin gerakan yang pelan dan sederhana. Dia tahu Rigel mudah lelah, namun ini dilakukannya untuk menghindari keluarganya ataupun kerabat lainnya untuk mendekati Rigel.
“Apa perut mu sakit?”
Rigel menggeleng, tanpa disadari tubuhnya mengikuti gerakan Jevandres dengan mudah.
“Apa kau lelah?”
Rigel membalas dengan gelengan.
“Maaf, tak kuceritakan semuanya agar kau tak perlu tahu saja.”Jevandres hanya diam memengangi pinggang dan tangan Rigel “Maaf, merepotkan kalian berdua.”Kali ini tangan kanannya berpindah mengelus perut Rigel yang tampak bulat itu.
“Ku-kurasa isterimu akan marah jika tahu berdansa denganku.”Ucap Rigel sambil memalingkan wajahnya.
Ucapan Rigel itu membuatnya mengkerut heran “Isteriku?”Tanyanya lagi.
“Binary itu isterimu bukan? Kurasa mereka salah mengenaliku.”
Oh, Astaga. Jevandres harus sabar, dia pun menarik Rigel kedalam pelukannya “Kau isteriku, tak ada yang lain. Binary itu hanya bunga tidur, lupakan saat kau bangun. Dia tak nyata, yang ada hanya kau Rigel.”
“Jangan dengarkan kata mereka, memang ini akan memberatkanmu. Tapi percayalah, hanya kau Rigel tidak ada wanita lain selain kau untukku.”Ujar Jevandres sambil meraih punggung tangan Rigel dan mengecupnya.
.
.
.
Bersambung