
.
.
.
Disaat waktu terhenti, disana dia pun berharap takdirnya berhenti bergulir. Sejak awal, sepasang iris aquamarine yang menatapnya mengulurkan tangan kepadanya. Ah, dia sudah tahu hal itu. Tapi malah tenggelam semakin jauh.
“Tak perlu khawatir...”Angin dingin pada bulan desember, salju yang mulai turun dengan deras. Rasanya kemarin, baru meninggalkan mansion itu. Kini kedua kakinya berpijak pada anak tangga yang mengarah kedalam. Rupa mansion ini bagai ditinggal begitu lama, seakan termakan oleh usia.
Mulutnya terbuka, bibir itu akan mengucapkan kata-kata. Namun dia enggan menyebutkannya kembali, dipegang gagang pedang yang bergantung dipinggang rampingnya.
Kedua mata merah lembayung itu menatap isi ruangan kosong, dia ingat. Dia pernah bertengkar diruang tamu ini, dia pernah menaiki tangga ini dan dia pernah tidur dikamar yang sama dengannya. Di mansion yang sudah terbengkalai ini. Dindingnya penuh dengan lumut, beberapa tanaman liar turut menjalar dipegangan tangga itu “Ah, ulah Guilia... Rakus sekali melahap kehidupan disini.”Kata gadis bermantel hitam itu, menaiki tangga hingga kelantai dua.
Hanya dirinya sendiri disini, pada seluruh isi ruangan yang dingin dan lembab. Terkenang dengan hari-harinya “Dimana kau? Aku sudah datang memenuhi undanganmu.”
“Tutup kedua matamu... My Dear Ira”
Kedua kelopak mata itu dipejamkannya, beberapa detik kemudian terbuka dengan perlahan. Kini ia sudah berada didepan sebuah pintu yang besar, kedua tangannya mendorong pintu itu.
Disana, enam pendosa sudah duduk dikursinya masing-masing. Pada sebuah meja bundar dengan tatanan makanan diatasnya, dibuat seolah menjadi nuansa makan malam keluarga yang rukun.
“Datang juga! Ira kemari, duduk. Kita makan malam...”Suara itu, wajah itu dan tubuh itu. Semuanya milik Jevandres namun tak dengan jiwanya yang terasa begitu tipis, begitu terasa jauh dirasanya.
Rigel dengan wajah datarnya duduk sebuah bangku yang kosong, hanya dia seorang yang baru tiba bahkan Ivan dan Arcadia sudah duduk dikursinya “Sama seperti saat bersama Dada... Tapi terasa menjijikkan saat bersamamu.”Bibir Rigel mengucapkan kata-kata yang pedas. Tatapannya pun tak sudi melihat pria itu, sungguh berat menatapnya.
Jevandres, tidak. Hubris Superbia terkekeh mendengar penuturan Rigel “Menggemaskan, wajah cantikmu itu tak seharusnya berkata kasar. Ira.”
“Dia sudah mati, bodoh!”
Detik selanjutnya, raut wajah Jevandres berubah menjadi dingin. Perkataan itu lumayan membuatnya kecewa “Aku mengundangmu untuk makan malam, saudari kecil kami. Ira.”Katanya bernada dingin bahkan pendosa lain selain Rigel sendiri tak berani membantahnya.
Rigel meraih garpu mengkilap yang tersedia didekatnya, dijejerkan dengan set makanan lain “Ini terlihat menjijikkan.”Rigel pun berkata sambil melemparkan garpu itu kearah Hubris Superbia. Namun Luxie yang duduk disebelah Hubris Superbia dengan rela menghadang garpu itu untuk menancap pada tangannya. Rigel mendecih kecil “Dasar murahan...”Ketus Rigel sambil menatap Hubris Superbia tak kalah tajamnya.
Apakah Hubris Superbia perduli dengan perlakuan Luxie? Tentu tidak. Dia mengabaikannya, biarpun Luxie sampai terluka atau bahkan mati karena melindunginya. Dia tak akan perduli. Baginya Rigel, adalah ambisi besarnya.
“Kak...”Guilia, menatap iba. Dia menarik tangan Luxie yang dipenuhi oleh darah itu.
Hubris Superbia hanya melirik “Bodoh, siapa yang memintamu melindungiku?”Decih diakhir kalimatnya.
Rigel terkekeh, dia melihat interaksi saudara ‘palsu’ itu “Menjijikkan... Kalian semua Avaritia, Guilia dan Luxie. Apa kalian bodoh? Kalian tak lebih dari pion yang dia gunakan, percuma loyalitas. Dia tak akan sekalipun menganggap kalian, hey kau... anak pungut!”Rigel menunduk dengan dagunya “Aku tak panjang lebar, kembalikan suamiku.”Ujar Rigel dengan mata merah lembayung menyalangnya.
Ivan dan Arcadia kompak menahan tawa ketika ucapan Rigel mengenai ‘anak pungut’ itu terdengar begitu dramatis. Untuk pendosa selegendaris Superbia sang kebanggaan.
“Tersulut amarah, eh?”Senyum mengejek, kala Rigel melihat raut ekspresi ‘Jevandres’ meradang dengan amarahnya.
Sontak, ruangan itu sudah berpindah. Hanya ada Rigel dan Hubris yang duduk saling berseberangan pada sebuah ruangan serba hitam ini.
Hubris Superbia beranjak berdiri, dia meraih segelas wine itu bersamanya “Aku bisa menghabisi semua yang kau punya saat ini Rigel.”
Rigel tersenyum miring “Semua yang kau lakukan ini? Apa yang kau mau dariku? Bukankah selama ini aku tak menganggu kekuasaanmu. Walaupun singasana itu bukan ditakdirkan untukmu.”Rigel beranjak berdiri juga, dia berjalan mendekati Hubris Superbia. Berdiri dihadapannya. Raga Jevandres dengan jiwa sang kebangaan.
“Apa... hal yang fana ini kau menyukainya juga?”
“Benar, kau dan dirimu. Menyatulah denganku, kita kuasai dunia bawah dan menjarah para malaikat.”
“Terdengar menggiurkan.”Rigel tertawa kecil “Tapi itu menjijikkan...”
Hubris Superbia langsung hendak mencengkeram leher Rigel, namun Rigel langsung menangkisnya dengan pedang hitam yang bergantung diikat pinggangnya. Bahkan pedang itu belum terbuka dari sarungnya.
“Kenapa kau memihak kepada manusia? Memiliki anak yang tak seharusnya terjadi?”
“Bahkan kau sedang berbicara dengan manusia itu sendiri.”
Hubris Superbia mengarahkan tangannya, serangan itu akan terjadi disana “Kau benar-benar pemberontak kecil, Ira.”Ujar Jevandres dengan jiwa Hubris itu.
Rigel menangkisnya dengan pedang Ecru “Aku memang tak suka diatur.”Ujar Rigel membuka sarung pedang hitamnya dan bergerak melesat mendekati Hubris Superbia dengan cepat. Sayang pria itu menahan pedangnya dengan tangan kosong.
“Kau tak bisa mengalahkanku...”
Rigel tersenyum miring, dia menjentikkan jemarinya kemudian berputar untuk memberi pukulan pada Hubris Superbia. Tepat ketika waktu itu kembali.
Mereka saling menghantam, namun Hubris Superbia terdorong dengan keras “Kau—“Ucapannya terpotong semenjak melihat knuckle perak yang sudah dikenakan pada tangan kanan Rigel “Penipu kecil... kau menggunakan trick licik.”Ujar Hubris Superbia, mengelap ujung bibirnya yang terdapat darah yang keluar. Pukulan Rigel tak main-main.
“Dengar, aku tahu... tak seharusnya begini. Ares apakah kau disana? Atau kau juga sudah lenyap bersama Jevandres?”Tatapan merah lembayung itu dengan sendu, secercah harapan dia ucapkan untuk pria yang ada didepannya itu. Iris aquamarine yang dirindukannya, amat sangat dia inginkan.
Kenangan, hal itu terbesit lagi dipikirannya. Kini ada kehidupan yang ingin Rigel pertahankan. Ah, dia merasa lemah dengan kedua iris merah lembayung yang mulai bergetar itu “Aku—“Bugh... Tubuhnya terpental, akibat serangan yang Hubris Superbia berikan. Rasanya sakit, saat punggungnya harus mengenai kerasnya dinding. Rigel sampai terbatuk mengeluarkan darah.
“Manusia yang iblis jerumuskan dalam dosa, kita hanya perlu memakannya. Keberadaanmu sekarang ini bahkan sebuah larangan, Aku Hubris Superbia Raja dunia bawah akan menghukummu.”
Rigel bangkit berdiri, tertatih biar bagaimana pun tubuhnya tetap manusia. Bisa merasakan sakit dan perih “Haha... Kau tak mau keluar juga rupanya ya?”Rigel tertawa dengan deraian air mata yang mengalir deras. Sesungguhnya dia pun putus asa, akan jalan yang harus ia tempuh untuk membebaskan jiwa Jevandres. Rasanya tak pernah ada, tidak ada cara mengembalikannya.
Rigel menatap raga Jevandres dengan tatapan sayunya, mengarahkan belati dari pedang yang sudah dirubahnya ini kepada dadanya sendiri “Aku begitu mencintaimu, kak Jev...”Rigel tersenyum, kedua matanya sampai menyipit akibat bibirnya yang ditarik tersenyum dengan lebar. Kedua pipinya merah bersemu.
Dia mengayunkan belati itu untuk menusuk pada jantungnya, dia akan mati. Dengan begitu Hubris Superbia tak akan memiliki ambisinya lagi “Ah, ini akhir dari kehidupanku... Maafkan mommy anak-anak...”Batin Rigel berucap. Masih terbayang wajah lucu kedua anak-anaknya yang amat dicintainya itu.
.
.
.
Bersambung