
Happy Reading~
.
.
“Eung~”Rigel bangun keesokan paginya, masih dengan tampang kantuknya. Dia beranjak dari tempat tidur sambil menguap dengan kecil. Tampaknya, pemeran utama kita ini masih tak menyadari keberadaannya dimana. Kamar luas dengan cat berwarna hitam, khas seorang Jevandres bahkan seluruh kamar ini hanya tercium aroma maskulinnya.
Rigel baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono, dia tengah mengeringkan surai hitamnya dengan sebuah handuk “Hm, Tunggu. Bajuku... Ini... Astaga?! Bukannya aku—“Rigel setengah berteriak sambil memengangi pipinya yang memanas, merah dan merona malu.
Sebuah ketukan pintu terdengar, Rigel dengan sigap membukanya “Nona, ini pakaian anda.”Seorang pelayan wanita muda memberikan kotak berisi pakaian baru untuk Rigel, bahkan dengan beberapa kotak perlengkapan lainnya. Rigel termangun, menatap tak percaya. Semua merupakan perlengkapan dengan brand ternama.
Butuh waktu sekitar lima belas menit bagi Rigel bersiap-siap, ia keluar kamar dengan gaun selututnya. Atasan baju Rigel dilapisi oleh sweater kebesaran milik Jevandres yang ia dapatkan setelah membongkar isi lemari pria itu. Rigel tak terlalu suka atasan lengan pendek gaun berwarna ivory manis ini. Dia merasa risih jika bagian lengannya terbuka, dan Rigel tak menyukai hal itu. Surai hitam legamnya dibiarkan terurai dengan bebas “Ah iya, hampir saja lupa.”Rigel memungut belati hitam yang tergeletak diatas karpet kamar itu “Ecru sudah lama tak berjumpa. Terakhir memanggilmu sepuluh tahun lalu, saat aku tak sengaja bertengkar dengan Ivie. Hehe~”Ucap Rigel memengangi belati hitamnya itu.
“Uhm~”Rigel tampak berpikir keras memikirkan sesuatu “Tak ada salahnya jika mencoba bukan?”Ucap Rigel sambil meniup belati itu. Dia menggunakan energi kemurkaannya untuk menciptakan sosok iblis dari hembusan energinya. Selang beberapa lama, perlahan-lahan belati itu berubah menjadi sosok anak lelaki kecil yang berusia sekitar tujuh atau enam tahun itu.
“Yeay~ berhasil, selamat datang Ecru.”Rigel bersorak riang. Dia pun mencubiti sepasang pipi gempal bocah lelaki itu “Kau bisa berubah sesuai keinginanku ya, agar tak mencurigakan berubahlah menjadi mahluk dunia bawah yang menggemaskan.”Lanjutnya lagi.
Ecru mengangguk “Baik Yang Mulia Ira.”Bocah itu dengan patuh mengubah dirinya menjadi kelinci putih dengan sepasang mata merahnya.
“Kyaaa~”Rigel gemas sendiri “Tapi... Untuk sekarang berubahlah menjadi cincin saja ya. Manusia itu suka bertindak berlebihan, mereka akan panik ketika melihat perubahan dirimu. Maka dari Ecru, jangan sembarangan berubah tanpa perintahku.”Sepasang iris mata berlainan Rigel menajam.
Kelinci putih itu berubah menjadi cincin hitam yang melingkar dijemari tangan kanan Rigel. Dia terkekeh gemas “Ecru, mulai sekarang kau menjadi pelayan setiaku.”Ucap Rigel lagi.
Rigel yang sudah tampil dengan rapi pun keluar dari kamar itu, dia melangkah dengan ringan menuruni anak tangga “Oh hai nenek.”Rigel menyapa wanita tua yang sedang bersantai dengan secangkir teh hangatnya.
“Rigel kami yang cantik, mau pergi kemana?”
“Ingin menemui kakak angkatku.”Ucap Rigel yang berjalan menuju ambang pintu. Sayangnya, dia langsung dihadang oleh Charlie si pelayan tua yang memengang nampan berisi potongan kue manis.
“Pesan tuan muda, agar nona tetap dimansion selagi beliau pergi.”
Rigel mendengkus sebal “Aku ingin menemui kakakku loh, bukan melarikan diri. Ck.”Kata Rigel. Rasa jengkel Rigel bertambah saat melihat pelayan tua itu tetap kokoh menghadang langkahnya.
“Ecru~released”Dalam sekejap cincin hitam itu bersinar merah, membuat seluruh waktu saat itu mati. Bahkan seluruh object disekiar Rigel turut berhenti. Kekuatan kedua dari tiga kekuatan legendaris sang kemarahan. Ia menghancurkan semua ketenangan, dapat menahan waktu sementara, dan mengendalikan seluruh energi kemurkaan
Rigel berjalan dengan santai keluar gerbang mansion itu, disana sebuah mobil van putih sudah terparkir didepannya. Seolah memang tengah menunggunya “Hai kak!”Sapa Rigel pada pria bersurai perak yang sedang duduk dibangku kemudi mobil.
“Ck. Merepotkan! Kau pikir lucu ha?! Apa-apaan kekuaatan kemarin? Kau melepaskan energimu begitu besar, tinggal tunggu saja kakak tertua kami memburu keberadaanmu.”Ivan mengomel disana.
Rigel mendelik acuh, dia pun membuka pintu mobil itu dan duduk disana “Aku tahu, hanya kau yang akan mengetahui posisiku.”Ucap Rigel sambil memasang sabuk pengamannya.
“Tentu saja, kekuatanmu menguar dengan hebat. Seluruh pendosa bisa merasakannya. Aku tak bodoh menyadari kecerobohanmu lagi dan lagi, masih syukur aku perduli dengan menjemputmu.”
Rigel memilih mengalah “Iya iya terimakasih Ivie...”Ucap Rigel sambil menghela nafasnya.
“Luxie menemuimu kan kemarin?”
Rigel menggeleng “Tidak tuh...”
Ivan memengang stir mobilnya, kemudian menjalankan mobil van itu “Kau bodoh atau bagaimana? Aku saja tahu Luxie pergi ke kediaman Lascelles kemarin malam, atau jangan-jangan kau lupa dengan Luxie?”Ucapnya lagi.
“Hm... tampaknya begitu.”
“Ck. Luxie, si pendosa nafsu. Namanya sekarang, Eriza Smith.”
“Oh dia... iya-iya, wanita cantik dengan riasan menor bukan? Dia sungguh menyebalkan ya.”
Ivan tercengang “Kau—apa sadar berkata begitu? Luxie itu berbahaya.”
“Aku tahu, selain berbahaya dia menyebalkan. Oh iya lupakan saja wanita itu, bisa antar aku ke bandara? Aku ingin pergi kerumah Arcadia.”
Ivan membulatkan kedua mata merahnya “A-apa maksudmu Alecander Arcadia? Dia ada pekerjaan disini, besok saja ikut dia pulang.”
“Uhm~ kalau begitu antar aku kerumahmu saja, aku lelah dan lapar.”Ucap Rigel mengerucutkan bibirnya.
“Kenapa bukan ke apartemenmu?”
“Ck. Pria gila itu akan menyusul kalau begitu.”
Ivan masih menatap jalanan, dia tampak berpikir sendiri “Apa kau yakin mempertahankan mahluk kecil itu?”Tanya ivan kali ini bernada hati-hati. Setidaknya, dia tahu tubuh manusia Rigel akan jauh berbeda, jauh begitu rapuh dan lemah. Ditambah lagi keadaannya saat ini “Batasi kekuatanmu, itu hanya akan berdampak pada mahluk kecil itu. Ingat biar bagaimana pun kau berada ditubuh manusia fana.”Ivan menasehatinya.
Rigel menyunggingkan seyumannya, sekian lama ini berada dalam roda kehidupannya bersama Ivan. Rigel bahkan baru pertama kali ini diberi nasehat oleh pendosa kedengkian itu “Setidaknya setelah bayi ini lahir, baru kubunuh pria itu.”Ucap Rigel menyakinkan tujuan aslinya kepada Ivan.
“Terserah kau saja, katamu tadi lapar bukan? Apa kau mau makan kue di bakery milikku?”
Rigel mengangguk antusias “Mau.”Ucapnya dengan bahagia.
“Kebetulan aku masih ada perkerjaan disana. Kalau begitu sambil menunggu Arcadia, kita langsung pergi saja.”
Mobil van milik Ivan menembus jalanan ramai dikota Seoul, letak bakery toko kue milik Ivan berada dipinggir jalan kota metropolitan itu. Mobil Van itu terparkir didepan toko kue dengan nuansa kuning gading yang manis, senada dengan warna gaun manis yang dikenakan oleh Rigel.
“Hum~ Cheese cake buatan toko Ivan memang menjadi favoriteku hehe~”
Ivan memutarkan kedua bola matanya dengan malas “Iya, apalagi gratis kan?”Celetuk pria jangkung itu.
Rigel mengacungkan kedua jarinya membentuk peace “Ayolah, kikir dan pelit bukan keahlianmu bukan?”Rigel terkekeh pelan seraya mengekori langkah Ivan yang masuk kedalam toko kuenya ini.
“Selamat datang Chef Ivan.”Sambut beberapa waitres dan kasir yang bertugas saat itu.
Ivan mengangguk “Satu cheese cake dan teh Chamomile seperti biasa untuk adikku.”Pesan Ivan pada seorang kasir, dia menoleh kearah Rigel sejenak “Tidak apa kutinggal? Aku harus ke kantorku dilantai dua, kalau ada sesuatu yang kau perlukan naik saja keatas.”Ujar Ivan sambil tetap berjalan menuju anak tangga.
Rigel hanya mengacungkan jempolnya, dia pun memilih duduk dipojok bakery itu yang menghadap langsung pemandangan jalan raya.
Rigel dan Ivan hidup seperti biasa, mereka berbaur dengan manusia bahkan bekerja seperti biasanya. Hal ini hanya mereka bertiga yang melakukannya, Selain itu pendosa kemalasan Acedia turut hidup seperti biasanya. Selain mengawasi langsung sumber-sumber energi mereka dari para manusia kadang mereka bertiga sengaja ikut campur dengan pertikaian yang turut terjadi didunia manusia. Misalnya perang saudara, pemberontakan atau wabah besar ratusan tahun lalunya. Sementara empat saudara mereka lebih suka mengawasi dari dunia bawah, karena Rigel, Ivan dan Arcedia merupakan kubu yang tak begitu setuju dengan sang pemimpin dunia bawah saat ini yaitu saudara tertua mereka. Sang kebanggan, Superbia.
Berbicara soal Rigel, wanita muda yang sedang mengunyah potongan kue manisnya itu senantiasa tersenyum lucu. Dia menikmati makanannya “Enak~”Ucapnya dengan pipi yang menggembung karena sedang mengunyah. Rigel atau Ira, sang kemurkaan. Satu-satunya pendosa yang memiliki kekuatan setara dengan Superbia. Hal ini dia peroleh karena Sang Raja iblis sudah memberikan senjata legendaris miliknya kepada Ira, yaitu Ecru yang kini dia kenakan sebagai cincin dijemari tangan kecilnya.
Saat Rigel sedang asyik memakan cheese Cake-nya dia teringat akan Ecru, ia pun menghentikan waktunya sejenak “Ecru... Ayo berubah.”Ucap Rigel sambil menaikkan tangan kecilnya itu.
Cincin hitam itu perlahan-lahan berubah menjadi sosok bocah lelaki dengan setelan jas rapinya “Baik, Yang Mulia Ira. Ecru akan melayani semua permintaan Yang Mulia.”Ucap bocah lelaki itu dengan datar. Dia manis selayaknya boneka porselen tanpa ekspresi kehidupannya. Ecru adalah senjata iblis yang berbahaya.
Rigel hanya tersenyum seraya mengembalikan waktu itu lagi. Dengan begitu, tak ada satupun orang yang menyadari perubahan Ecru.
Namun dibalik itu semua, Rigel tetap menganggap Ecru bukan sebagai benda ataupun senjata “Tolong, aku pesan satu cheese cake dengan teh chamomile lagi ya.”Pinta Rigel kepada salah satu waiters yang melintasinya.
“Jangan berdiri disana, kemari duduklah.”Ucap Rigel menepuk-nepuk sofa lembut disampingnya kepada Ecru.
“Kau harus coba makan cheese cakenya. Benar-benar enak.”Ucap Rigel menggeser piring berisi sepotong cheese cake kehadapan Ecru, saat pelayan itu memberikan sepiring cheese cake ke meja Rigel.
Ecru dengan patuhnya mengikuti perintah Rigel, dia mulai memotong kue itu dan menyuapkan potongan kecil kue itu kedalam mulutnya serta langsung memakannya. Kedua matanya membulat berbinar, Ecru tak bisa membohongi rasa nikmat dari kue kesukaan tuannya itu.
“Bagaimana?”Tanya Rigel tersenyum lebar.
Ecru mengangguk lucu, kemudian kembali menyuapkan seluruh potongan kue itu dengan lahap.
“Ah~ Perlahan Ecru.”Ucap Rigel dengan gemas seraya mengambil selembar tissue kemudian mengelap ujung bibir Ecru berantakan dengan remahan kuenya.
Rigel menyadari sepasang kaki yang berada diluar kaca jendela bakery milik Ivan ini, perlahan-lahan sepasang mata Rigel mengikuti seluruh sang empunya tubuh “Astaga!”Rigel memang terkejut, namun dia tak berteriak dengan histeris. Hanya kedua iris berlainannya yang membulat sempurna, saat melihat seorang wanita dengan gaun lusuhnya memandangi Rigel dan Ecru dengan tatapan putus asanya.
“Menggerikkan. Eungh~ Sampai aroma busuknya tercium dengan pekat.”Mungkin ini juga dampak dari kehamilannya, membuat Rigel lebih sensitif dengan aroma-aroma tak sedap. Bukan bau busuk berasal dari aura keputusasaan wanita itu yang sudah menggerogoti seluruh hatinya. Benar, Rigel mampu melihat bahkan mencium aroma busuk dari iblis suruhan sang Keputusasaan yang menempeli hati wanita itu. Jika manusia biasa, tak akan ada yang mampu mencium aroma itu. Aroma ini merupakan akibat dari hati manusia yang sudah seutuhnya menggelap. Kadang kala mereka akan kesulitan mengembalikan hati mereka seperti semula “Ecru... Ayo kita pergi, aku tak bisa menggunakan kekuatanku lagi.”Ucap Rigel seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan kanannya. Sementara tangan kirinya sudah meraih pergelangan tangan kecil milik Ecru.
Rigel melangkah lebih jauh kedalam bakery itu, lebih tepatnya berdiri didepan hadapan pegawai kasir yang menatap Rigel dengan bingung “Nona, apakah anda baik-baik saja?”
“Tidak apa-apa. Bisakah kau jangan membiarkan wanita itu masuk kemari?”Ucap Rigel seraya melirik wanita dengan pengaruh keputusasaan itu yang tampak semakin memperhatikannya bersama Ecru.
Pegawai kasir itu menatap ragu “Begini nona, wanita diluar sana isteri dari manager. Dia memang setiap hari kemari, untuk memperhatikan anak-anak yang datang ke bakery ini.”Pegawai itu turut melirik wanita lusuh itu “Dia hanya sedikit gila karena baru kehilangan anaknya, nona. Kasian tuan Park, dia juga frustasi menghadapi isterinya ini.”Ucap pegawai kasir itu.
“Ah, begitu.”Rigel mengangguk paham, namun ia tak ingin ikut campur dengan ‘santapan’ pendosa lain “Aku tak tahu hal itu.”Ucap Rigel tersenyum hambar, sambil sesekali mengibas tangannya karena terganggu dengan aroma busuk ini.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga dengan cepat “Rig! Kau tak apa-apa?! Astaga aku lupa mengabarimu. Soal dia.”Ucap Ivan setengah berteriak. Seolah tahu akan hal yang menganggu Rigel ini.
“Uhm benar.”Rigel menutup mulutnya lagi sembari memengangi perutnya yang terasa mulai sakit.
“Yang Mulia Ira.”Ecru yang ada disebelahnya memengangi lengan Rigel yang tampak menahan rasa sakit.
Ivan sudah berlari kesebelah Rigel sambil memengang bahu Rigel “Ayolah, kuantar ke Rumah Sakit.”Ucap Ivan dengan menompang tubuh Rigel yang sempoyongan itu.
“Tch.”Rigel mendecih sembari mengepalkan kedua tangannya “Aku risih dengan aroma bau ini.”
“Jangan, jika kau lakukan dia akan mati. Sudah tidak ada inti kehidupan lagi, selain keputusasaan saja.”Bisik Ivan kepada Rigel. Ia memperingati Rigel agar tak salah menggunakan kekuatannya untuk mengeksekusi manusia yang sudah terlanjur bersatu dengan keputusasaan itu.
“Aku tahu—“
Suara bell bakery diatas pintu masuk itu pun berdering ketika pintunya dibuka oleh seseorang “Permisi, apakah ada yang tahu keberadaan Tuan Park?”Suara lembut mengalun lembut dengan hangat.
Baik Rigel maupun Ivan sama-sama membulatkan kedua matanya, mereka saling menatap satu sama lainnya “Pssst... Cahaya menyebalkan ini, jangan katakan?”Bisik Rigel juga seraya menoleh kearah pria muda yang berdiri diambang pintu sambil menggengam tangan wanita lusuh itu.
Seorang pria rupawan, beriris mata emerald dengan tatapan hangatnya tengah menubruk pandangannya terhadap iris berlainan warna milik Rigel “Ah nona, maaf. Apakah anda baik-baik saja? Wajah anda sangat pucat.”Suara ramah pemuda membuat siapapun yang mendengarnya terbuai, bahkan seisi wanita yang ada disana sudah mengarahkan atensinya pada pemuda beriris emerald itu.
Rigel menatap jengah, namun ia mencoba bersikap biasa saja “Tidak apa-apa. Lagipula kenapa tuan membawa nyonya ini masuk kemari?”Ucap Rigel sambil merematkan tangan kanannya pada bocah kecil itu. Mereka bergandengan tangan, tadinya ingin segera pergi dari bakery milik Ivan ini.
“Ah benar, nona ini mencari suaminya. Tampaknya, tuan Park bekerja disini.”Ucap pemuda rupawan itu, rasanya dia tampak berkilau dengan hangat.
Ivan menatap Rigel lagi “Tuan Park, sudah tiga hari ini tidak masuk kerja. Ah iya, kebetulan saya pemilik bakery ini. Mungkin, tuan bisa langsung ke kediamannya saja.”Ucap sang kedengkian, yang jauh lebih tenang dari pada Rigel saat menghadapi pemuda ini. Alasannya karena dia...
Malaikat, seorang malaikat yang pernah berseteru dengan Ira beratus tahun lamanya. Mungkin Rigel saat ini lupa mengingatnya, namun Ivan sangat ingat kejadian itu “Saya permisi tuan, seperti yang anda lihat. Adik saya sedang tak begitu dalam keadaan yang baik.”Ucap Ivan sambil memengang bahu Rigel dengan pelan.
“Ayo nak, jangan diam saja disana.”Lanjut Ivan kepada Ecru juga.
Tak baik membiarkan Rigel terus berhadapan dengan pemuda itu, Ivan khawatir kalau sampai Rigel tak sengaja menguarkan kekuatannya. Seperti yang kita tahu, Rigel mudah meledak kapan saja “Perhatikan langkahmu Rig, ingat kau sedang mengandung mahluk kecil itu.”Peringat Ivan yang tampaknya memahami maksud sebenarnya, pemuda malaikat itu.
“Ho~ Tidak seru.”Pemuda itu berseru, dia malah mendorong wanita itu dari dirinya. Sampai-sampai wanita itu jatuh tersungkur “Waktumu sudah habis, erased!”Pria itu menjentikkan jemarinya. Dalam sekali jentikan, seluruh cahaya menyelimuti wanita itu sampai dia berteriak kesakitan. Iblis keputusasaan yang ada padanya memudar dengan cepat, menyisakan wanita itu yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa.
Rigel dulunya seorang mahasiswa kedokteran, dia tak bodoh mengenali hal itu. Wanita bergaun lusuh itu memang sudah menegak racun, hanya saja racun itu baru bereaksi sekarang “Tch.”Rigel mendecih “Apakah beraksi terang-terangan akan membuatku kagum dengan dirimu?”Ucap Rigel tampak tak menyukai hal yang dilakukan pemuda itu.
Tentu saja, karena nyaris seluruh pengunjung dan pegawai toko kue itu panik dan berteriak. Biarpun mereka hanya melihat wanita itu tergeletak jatuh, mereka pun tak dapat melihat aksi eksekusi yang sudah pemuda beriris emerald itu lakukan.
Ivan menghela nafas “Rig, serius?”Ivan hanya bisa memijit pelipisnya sendiri, saat melihat Rigel berjalan menghadapi pemuda beriris emerald itu.
“Hai hai! Semakin cantik saja pendosa kita satu ini.”Ucap pemuda itu yang turut meraih pergelangan tangan Rigel “Lihatlah dirimu, apa kau sudah mengaku kalah setelah mengikuti hidup ini, hn?”Pemuda emerald itu dengan serta merta menarik pinggang ramping Rigel mendekati tubuhnya.
Rigel mengeryit, dia dengan terpaksa menggunakan kekuatannya lagi untuk menghentikan waktu “Menyebalkan, apa dirimu terlalu pengangguran sampai ikut campur urusan orang lain? Yang benar saja mahluk lampu, kau benar-benar menyebalkan.”Tukas Rigel yang tampak memberontak dari pemuda ini.
“Yang Mulia, jangan paksakan menggunakan kekuatan lagi.”Ecru sangat paham ambang batas seorang Rigel. Dia juga merasakan Rigel berangsur-angsur melemah, selain menggunakan kekuatannya. Ia juga ditekan oleh kekuatan pemurnian malaikat itu.
Ivan baru saja hendak melangkah menarik tubuh Rigel, namun hal itu sudah didahului oleh Jevandres. Bahkan pria itu berhasil menghancurkan kekuatan Rigel sekaligus membuyarkan kekuatan pemurnian milik pemuda itu.
“Menyentuh isteri orang lain, bung?”Jevandres tiba-tiba sudah berada dibelakang Rigel, dia tak berkata apapun lagi selain menarik tubuh kecil itu dalam dekapannya “Rigel, apa kau baik-baik saja?”Ucap Jevandres pada Rigel yang ada didalam dekapannya.
Barulah wanita manis itu merasakan nyaman, dia pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jevandres sambil menggeleng kecil. Rigel tak berkata apapun, dia hanya diam dengan tenang.
“Kita ke Rumah Sakit.”Jevandres menggendong tubuh Rigel, lengan kekar kanannya menompang pinggang Rigel sementara lengan kirinya mengangkat kaki Rigel yang menekuk lembut “Terimakasih sudah menjaga, Isteriku tuan?”Ucap Jevandres pada Ivan. Dia tak lagi memperdulikan pemuda beriris emerald itu.
“Ivan Tristan, kakak angkat Rigel.”Ucap Ivan kepada Jevandres seraya tersenyum canggung.
Jevandres mengangguk seraya melangkah keluar bakery ini, hanya saja dia heran dengan bocah kecil yang juga mengikuti langkahnya “Hm?”Jevandres mengeryit dengan heran.
“Ah dia~ anak dari kakak angkatku. Kami memang dekat, Ecru main bersama ayah Ivan dulu ya. Nanti, aku akan menjemputmu setelah dari Rumah Sakit.”Tentu saja Rigel berkata dengan dusta.
Ecru mengangguk patuh, sambil membalikkan tubuhnya kembali kedalam bakery.
“Hei! Kenapa kemari, tuanmu disana.”Ivan tadinya baru saja akan membereskan bekas keributan di Bakerynya ini.
Ecru menggeleng “Yang Mulia Ira, menitipkan Ecru pada Tuan Invidia.”
Ivan menghela nafas “Ya sudah, naik kelantai atas dan duduk manis disana.”Ucapan Ivan langsung diangguki oleh Ecru yang sudah berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
“Telepon ambulance dan polisi.”Ucap Ivan kepada pegawai kasirnya.
“B-baik Chef.”
“Kau, kenapa masih disini jika tak memiliki keperluan lain?”Ivan bersidekap seraya memicingkan kedua matanya “Aku tak memiliki urusan denganmu. Lekaslah pergi selagi aku masih menghormatimu karena berada dialam para manusia, bukan sebagai diri asli milikmu itu.”Tegas Ivan dengan serius.
“Baiklah-baiklah.”Sembari terkekeh pelan, pemuda itu berjalan keluar bakery “Tuan Ivan, aku memiliki nama loh. Namaku Ramone Angelus. Senang berjumpa denganmu, Tuan.”
Ivan, juga menatap kepergian pemuda itu. Sedikit tidak banyaknya, Ivan merasa bersyukur akan kedatangan Jevandres. Jika tidak, Ivan tak bisa membayangkan kelanjutan perseteruan itu “Baiklah~ kita akan sibuk sekarang.”Ucap Ivan sambil meregangkan tubuhnya, sembari membukakan pintu ketika ia melihat dua orang polisi yang datang ke bakery nya ini.
.
.
Bersambung...